
Tiba-tiba ponsel Jelita bergetar , dan ternyata yang menghubungi adalah sahabatnya. Jelita mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya.
Sedangkan Angga merebahkan tubuhnya. Di saat sedang bersantai seperti ini, dia ingin menghabiskan waktu untuk istirahat. Melupakan sejenak masalah pekerjaannya yang menumpuk.
Mata Angga terpejam. Semalaman dia tidak tidur karena perasaannya gelisah. Hatinya selalu saja tidak tenang setiap ingin memejamkan matanya. Dia selalu saja kepikiran pada Jelita.
Sepuluh menit kemudian Jelita akhirnya selesai mengobrol dengan sahabatnya . Lili mengatakan kalau kemarin Angga sangat khawatir ,dan bahkan hingga meneteskan air mata. Jelita menatap Angga yang saat ini sedang tertidur.
" Apakah dia beneran tidur atau hanya pura-pura ?"gumam Jelita. Dia mengamati wajah lelah Angga yang sedang terlelap dengan damai.
" Apakah aku sudah menyia-nyiakan pria yang benar-benar peduli padaku ? " gumam Jelita lagi sambil menghela nafas pelan. Jika di bandingkan dengan Dion , Angga memang jauh lebih perhatian. Meski sikapnya terkadang menjengkelkan tapi dia sangat pengertian. Pria itu selalu memperhatikan dirinya.
Jelita memangku dagunya, matanya tak berkedip memandang wajah Angga yang tertidur pulas. Pikirannya jauh melayang ke belakang, membayangkan kembali kejadian-kejadian yang mereka alami.
Pandangannya kini terpaku pada bibir Angga. Dia jadi ingat ketika bibir mereka bersentuhan.
" Ugh , kenapa hatiku berdebar seperti ini ? " gumam Jelita sambil mengusap dadanya karena degupnya terdengar sangat jelas. Nafasnya sampai memburu karena gugup. Padahal dia hanya memandang wajahnya saja, bukan melakukan tindakan yang lain.
Terlalu terpaku pada pikirannya sendiri, Jelita tidak menyadari ada seekor hewan yang sedang berjalan merayap di lengannya. Rasanya agak menggelikan hingga wanita itu bergidik.
Penasaran dengan apa yang menempel di lenganya. Dia lantas menoleh, kedua matanya langsung terbelalak lebar melihat ulat bulu berwarna hijau yang menempel di lengannya.
" Angga ada ulat ! " teriak Jelita dengan suara kencang. Refleks dia langsung mengibaskan tangannya dan naik ke perut Angga hingga pria itu terbangun dari tidurnya.
Angga merasa perutnya berdenyut ketika menopang beban tubuh Jelita.
" Jelita , ada apa ? " tanya Angga dengan wajah panik.
" Ada ulat, aku takut sekali dengan ulat." Bukannya beranjak dari perut Angga, wanita itu justru menyandarkan kepalanya di dada Angga. Menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena ketakutan melihat hewan melata tersebut.
Angga memijat pelipisnya , baru saja tidur beberapa menit tapi Jelita sudah mengganggunya. Namun tidak masalah baginya, karena keberuntungan seperti sedang berpihak padanya.
__ADS_1
" Di mana ulat bulunya ?" tanya Angga masih tetap dalam posisi telentang karena Jelita masih meringkuk di dadanya.
" Di sana , aku tidak ingin melihatnya," ujar Jelita dengan tubuh gemetar dan nafas yang memburu. Dia menunjuk ke sembarang arah di mana dia sempat melihat hewan menggelikan itu di rumput.
Angga menoleh ke sisi tubuh Jelita untuk mencari ulat bulu tersebut. Ternyata benar ada hewan melata itu di sana. Dia lantas meraihnya meski tahu kalau di sekujur tubuhnya tumbuh bulu-bulu yang cukup panjang dan membahayakan.
" Apakah hewan ini yang kau takutkan ?"tanya Angga sembari mengulum senyum. Lucu juga melihat Jelita yang tampak ketakutan.
Jelita meregangkan jari-jari tangannya. Sontak dia langsung menepis tangan Angga hingga ulat di tangannya terpental.
" Jauhkan hewan itu dariku ! " teriak Jelita dengan suara yang cukup memekakan teliga.
Angga saja sampai menutup lubang telinganya dengan telapak tangan karena tak mampu menangkal suara Jelita.
Jelita mulai memukuli dada Angga, dia kesal pada pria itu karena sudah menakutinya.
" Jelita ,hentikan ," ujar Angga sambil meringis menahan nyeri. Tak hanya dadanya, tapi perutnya juga terasa tertekan akibat Jelita yang duduk di perutnya dan terus bergerak.
" Makanya lain kali jangan membuatku takut," gerutu Jelita dengan cemberut
Mata Angga terpejam dengan dada yang naik turun karena terengah-engah.
" Angga , kau tidak mati kan ? Kau tidak sedang meregang nyawa kan ? " tanya Jelita dengan hati-hati. Dia lantas mendekatkan jari telunjuknya ke depan hidung Angga untuk memastikan pria itu masih bernafas atau tidak. Jelita akhirnya merasa lega karena masih bisa merasakan deru nafas Angga.
Angga menggerakan tubuhnya ketika merasakan ada sesuatu yang berjalan merayap di perutnya.
" Angga , ada apa ? " tanya Jelita dengan wajah yang sangat panik.
Angga langsung duduk dan melepaskan jas yang membalut tubuhnya. Bagian perut hingga ke dadanya terasa sangat gatal. Semakin di biarkan , semakin dia tidak bisa menahannya.
" Bantu lepaskan kancing kemejaku. Perutku terasa gatal, " kata Angga. Tak puas rasanya dia menggaruk kulitnya tapi terhalang oleh kemeja.
__ADS_1
" Baiklah," jawab Jelita
" Cepatlah," desak Angga dengan tangan yang gemetar. Jelita mulai melepaskan satu per satu kemeja Angga. Meski ini bukan yang pertama kalinya melihat dada Angga, tetap saja dia tak mampu menghentikan deberan jantungnya.
" Cepatlah,sepertinya ulatnya masuk ke dalam bajuku," desak Angga kembali. Namun Jelita malah melamun.
" Kenapa malah melamun ? Kau malu ? Tidak usah malu , nanti setelah menikah kau akan setiap hari melihatku tanpa baju," goda Angga
Jelita mulai tersadar dari lamunannya. " Menikah ? Tapi aku kan belum menyetujui keinginanmu itu ? " ujar Jelita sembari melepaskan satu per satu kaitan kancing kemeja Angga. Benar saja, ternyata ada ulat bulu yang menempel di dada Angga. Wanita itu lantas beringsut mundur. Melihatnya saja sudah bergidik ngeri. Apalagi sampai menyentuhnya.
" Cepat buang," perintah Jelita sambil mengusap tengkuk dan menggerakan lehernya.
" Ugh , binatang ini , " gerutu Angga lalu menyingkirkan hewan berbulu itu dari dadanya.
" Aku sudah menceritakan semuanya pada orang tuaku, dan sekarang dia meminta kita agar segera menikah karena dia sudah terlanjur menyukaimu. Bahkan mereka sudah menyiapkan semuanya dan kita tinggal menikah saja," terang Angga seraya terus menggaruk tubuhnya.
" Tapi aku takut di sakiti lagi. Kau kan tahu sendiri aku sudah dua kali gagal menikah. Tidak gampang melupakan semua itu," balas Jelita menunduk.
" Aku janji tidak akan pernah menyakitimu dan akan membuatmu jatuh cinta padaku," ujar Angga yang berusaha meyakinkan gadis itu.
" Baiklah aku setuju , " jawab Jelita seraya menganggukkan kepalanya. Selama ini dia memang sudah melihat ketulusan pria Angga.
" Terima kasih ,sayang," sahut Angga yang langsung mencium kening gadis itu. Wajah Jelita langsung merona.
Tak berselang lama, kini kondisi perut dan dadanya sudah bentol merah-merah.
" Itu salahmu sendiri karena sudah bermain-main dengan binatang itu," gerutu Jelita sambil mengusap lengannya.
Angga tak mendengarkan celoteh Jelita. Dia sibuk menggaruk tubuhnya karena kulitnya terasa gatal dan panas. Tidak seharusnya dia bermain-main dengan binatang itu karena kulitnya akan bereaksi berlebihan.
" Jangan di garuk ,nanti gatalnya semakin melebar. Kulitmu juga bisa terluka," kata Jelita. Dia kebingungan sendiri dan tidak bisa berbuat apa- apa.
__ADS_1
Mata Angga mulai memerah di ikuti dengan bersin-bersin.
" Lebih baik kita ke klinik terdekat sekarang ," ucap Jelita yang langsung menarik tangan Angga.