
"Mama, terima kasih karena kau sudah mengeluarkanku dari tempat terkutuk ini. Aku takut sekali berada di sini," ujar Mila sembari memeluk Riska dengan begitu erat. Dia merasa beruntung karena Mamanya segera datang dan menolongnya.
" Sayang, bukan Mama yang menolongmu , tapi ada seorang pria kaya yang menolongmu. Dia yang menemui Angga. Pria itu jatuh cinta padamu dan ingin menikah denganmu," terang Riska sembari menatap wajah Mila yang terlihat sangat terkejut.
" Pria kaya ? Siapa dia ? " tanya Mila seraya menaikkan sebelah alisnya. Dia merasa penasaran siapa pria itu.Apakah dia mengenal pria itu ?
" Mama juga baru mengenal pria itu. Saat Mama ingin minta tolong dengan teman Mama , tiba-tiba ada seorang pria menghampiri Mama," ucap Riska berbohong.
" Aku jadi penasaran. Lalu di mana pria itu ? " tanya Mila seraya celingak - celinguk mencari pria yang di maksud Mamanya .
" Nama pria itu adalah Tio. Saat ini Tio menunggu kita di tempat parkir. Kalau begitu lebih baik kita temui Tio. Kasihan dia dari tadi menunggu kita sendirian di sana," terang Riska seraya menggandeng tangan Mila dan mengajaknya keluar.
Tak berselang lama mereka telah sampai di tempat parkir.
" Itu dia Tio, " ucap Riska sembari menunjuk seorang pria yang sedang memegang ponsel.
" Hah ? Dia orangnya ? " tanya Mila dengan mata membulat.
" Iya sayang, memangnya kenapa ? " tanya Riska dengan raut wajah bingung.
" Apa Mama tidak salah orang ? Wajahnya sih tampan, tapi dia terlihat seperti Om Om," ujar Mila sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Memangnya apa masalahnya ? Yang penting dia pria kaya,"
" Jangan-jangan dia sudah memiliki istri , dan aku hanya ingin di jadikan wanita simpanannya saja," tebak Mila.
" Jangan berpikir negatif dulu. Tio sama sekali belum perah menikah. Kebetulan Mama sudah menyelidiki semua tentang Tio. Jangan pikirkan usianya, tapi lihat ketulusannya. Coba kalau tidak ada Tio, mungkin kamu saat ini masih tetap berada di penjara, "terang Riska yang berusaha meyakinkan Mila
" Mama memang benar. Yang penting dia kaya. Dan aku juga akan menunjukkan pada Jelita kalau suamiku juga pria kaya," ujar Mila seraya menatap Tio yang saat ini menghampirinya.
" Apa kalian akan pulang sekarang ? " tanya Tio sembari menatap Mila.
" Iya, kami akan pulang sekarang. Sebaiknya kau juga ikut bersama kami. Nenek dan Papanya Mila ingin berkenalan dan mengucapkan terima kasih padamu," ucap Riska.
" Baiklah ,aku akan ikut ke rumah kalian . Oh iya Mila, mulai sekarang berhentilah mengganggu kehidupan kakakmu. Aku sudah mempertaruhkan bisnisku agar bisa menolongmu," terang Tio. Dia sangat yakin setelah ini Mila pasti tidak akan mengganggu kehidupan kakaknya lagi .
__ADS_1
"Terima kasih karena kau telah menolongku. Aku janji mulai sekarang aku tidak akan mengganggu kehidupan Jelita lagi. Aku takut berada di tempat ini lagi," ujar Mila sembari menatap Tio.
" Walaupun Tio sudah tua , tapi ternyata dia sangat macho," pikir Mila seraya terus menatap Tio.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Villa
Jelita melemparkan sandal dan tasnya ke kursi yang ada di kamar Angga lalu membuka pintu lebar-lebar. Dalam seketika angin langsung berhembus masuk hingga menerbangkan rambutnya yang panjang. Bibirnya merekah melihat bulan purnama yang tampak jelas dari sana.
Jelita menghirup udara dalam - dalam lalu menghembuskannya pelan. Dia berdiri di dekat pagar pembatas balkon. Menikmati angin segar yang menerpa wajahnya.
" Bagaimana ? Bukankah sangat indah ?" tanya Angga seraya meletakkan dua cangkir teh hangat bersama dengan cemilan di atas meja.
Jelita terkesiap, tubuhnya berbalik menoleh pada Angga yang menyunggingkan senyum hangat padanya. Betapa tampan Angga malam ini tapi cukup malu untuk mengakuinya.
" Hmmm," sahut Jelita dengan raut wajah antusias. Bibirnya senantiasa merekah sambil menatap pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.
" Kenapa kau tidak tinggal di Villa ini ? Dan kenapa mesti membeli apartemen lagi ? Padahal kau sudah memiliki Villa sebagus ini," ujar Jelita seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Iya juga sih," sahut Jelita
Angga merasa senang melihat wajah cantik istrinya yang terlihat bahagia. Dia lantas berjalan mendekati dan berdiri di belakangnya. Hanya ada mereka berdua di Villa itu, seketika hatinya berdesir. Sedikit gugup saat ingin menyentuh jemari Jelita yang sedang memegang pagar balkon.
Baru saja Angga hendak menggenggam jemari Jelita, gadis itu sudah beralih mengusap lengannya. Sepertinya dia mulai kedinginan akibat angin berhembus cukup kuat. Angga segera melepaskan jasnya lalu menyampirkannya di pundak Jelita.
" Malam ini udara terasa jauh lebih dingin," kata Angga.
Jelita mengangkat bahunya sedikit lalu mengangguk pelan. Berada berdua seperti ini membuatnya jadi canggung, bingung sendiri apa yang harus mereka bicarakan agar suasana tidak terlalu kaku.
" Mau minum teh ? " tawar Angga setelah suasana terasa sunyi dan senyap hingga beberapa saat. Hanya debaran dada mereka yang terdengar nyaring di telinga masing-masing.
" Boleh ," sahut Jelita.
" Kita duduk di sana saja , tidak nyaman minum sambil berdiri," ajak Angga sambil menunjuk pada sebuah kursi panjang dan sebuah meja yang ada di balkon.
__ADS_1
Jelita mengikuti ucapan suaminya. Pasangan itu duduk berdampingan dengan jarak beberapa sentimeter saja karena kursi yang yang mereka duduki memang tidak terlalu panjang. Hanya cukup untuk berdua saja.
" Minumlah," ucap Angga seraya memberikan secangkir teh pada Jelita.
" Kenapa jadi terbalik seperti ini ? Seharusnya aku yang menyeduh teh untukmu, bukan malah sebaliknya," kata Jelita dengan perasaan tidak enak hati.
" Memangnya kenapa ? Apakah ada yang salah ? Seorang suami yang baik juga harus melayani istrinya," balas Angga.
" Tidak juga, aku hanya seperti sedang menyalahi aturan," sahut Jelita seraya terkekeh.
" Tidak benar," bantah Angga. Apapun akan dia lakukan untuk sang istri.
Jelita menyeruput teh buatan Angga secara perlahan. Rasa manisnya sangat pas di lidahnya, mampu melegakan tenggorokannya yang tadi sempat kering.
Angga menggeser tubuhnya sedikit hingga mereka saling menempel.
" Apa yang kau lakukan ?" tanya Jelita merasa bingung.
Angga merengkuh pundak Jelita dari samping agar lebih intim lagi.
" Aku begitu merindukanmu." Angga semakin mengeratkan pelukannya.
Jelita menoleh beberapa detik ke arah Angga lalu meletakkan cangkir di atas meja. Jantungnya sudah seperti hendak melompat dari dadanya. Tubuhnya juga semakin meremang saat merasakan usapan lembut tangan Angga di lengan bagian atasnya.
" Apakah tidak nyaman duduk seperti ini ?" tanya Angga.
Jelita menggigit bibir bawahnya, bingung sendiri bagaimana dia akan menjawabnya.
" Mau duduk lebih nyaman lagi ? " tawar Angga sembari menatap istrinya.
Tanpa sadar Jelita menganggukkan kepalanya begitu pelan. Meski belum mengerti arti dari pertanyaan Angga. Bibirnya memekik pelan ketika merasakan tubuhnya melayang di udara beberapa detik.
Dengan sigap, Angga mengangkat tubuh Jelita. Memindahkannya dari kursi kayu ke pangkuannya. Tidak terlalu berat mengangkat tubuh Jelita yang ramping.
Mata Jelita membulat karena begitu terkejut melihat apa yang Angga lakukan.
__ADS_1