Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Kau lebih penting.


__ADS_3

Tak terasa jarum jam bergerak dengan cepat hingga saat ini sudah pukul sebelas malam. Angga menguap sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Matanya mulai terasa panas dan pandangannya kabur.


" Vina, sebaiknya kita lanjutkan besok pagi saja. Aku sudah tidak sanggup menahan rasa kantuk, " ujar Angga lalu menyesap kopi dari cangkir yang sudah dingin karena sejak tadi di biarkan begitu saja.


" Baiklah." Vina menghembuskan nafasnya kasar lalu melakukan hal yang sama seperti Angga yaitu menyesap kopinya. Meskipun tak terlalu suka tapi malam ini dia meminumnya demi Angga.


" Uhuk...uhuk..." Baru saja Vina menyeruput beberapa tetes kopinya, dia langsung menyemburkannya keluar dari dalam mulutnya.


" Kenapa rasanya pahit ? " gerutu Vina sambil menjulurkan lidahnya keluar.


" Minumlah ini." Angga menyodorkan segelas air putih pada Vina  dengan alis yang saling bertautan.


" Seharusnya Alex tahu kalau aku tidak suka kopi pahit," umpat Vina dengan raut wajah yang sudah marah.


" Sepertinya minuman kita tertukar karena milikku rasanya cukup manis." Angga agak merasa heran karena Alex tak mengatakan apapun mengenai kopinya. Dia juga seperti pernah mencicipi tingkat rasa manisnya.


Satu hal lagi yang semakin membuatnya curiga adalah cemilan yang dibawakan oleh Alex. Baru kali ini Alex melakukan sesuatu tanpa mengatakan apapun padanya.


Angga segera mengambil kantong plastik lalu memeriksa isinya. Matanya membulat sempurna melihat cemilan yang terdiri makanan ringan favorit Jelita. Apakah istrinya datang kemari ? Tapi kenapa Alex tidak mengatakan hal ini ?


" Angga, ada apa ? " tanya Vina . Dia bisa melihat wajah Angga yang terlihat panik.


" Tidak apa-apa , kau pulanglah dulu. Aku ada urusan dengan Alex sebentar," kata Angga dengan perasaan yang sudah tidak menentu.


Vina mengangguk lalu keluar terlebih dahulu meninggalkan Angga di ruangannya.


Tak berselang lama Alex kembali ke dalam ruangan setelah mendapatkan telepon dari Angga.


" Alex , apakah Jelita datang ke kantor ?" tanya  Angga dengan nafas memburu.


" Ya, Tuan . Sudah hampir dua jam yang lalu. Aku sudah memberi isyarat pada Anda tapi Anda malah mengejekku," ungkap Alex dengan jujur. Kali ini sedikit berani karena semua itu bukan kesalahannya.


" Kenapa kau tidak bilang terus terang ? Lalu di mana sekarang Jelita ? " tanya Angga sambil mengusap rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


" Nona pergi ke restoran yang ada di seberang sana. Dia sedang melihat temannya memasak. Aku baru saja dari sana untuk mengawasinya," tutur Alex.


" Apa ? " teriak Angga dengan suara yang cukup lantang. Pikiran Angga semakin kacau karena sudah bisa menebak Jelita sedang bersama dengan Diego.


Brak....


Angga melangkah pergi lalu membanting pintu kuat-kuat.


Alex sampai terkejut sekaligus bergidik ngeri mendengarnya.


" Seharusnya Tuan menemani istrinya di rumah. Punya istri cantik tapi malah di biarkan sendiri.  Semoga tidak ada perang yang terjadi," gumam Alex sambil mengusap dadanya.


Dengan langkah lebar Angga berlari keluar dari gerbang kantornya. Dia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Alex tentang Jelita benar adanya. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak tadi? Rasa sesal mulai terbayang-bayang di dalam benaknya. Dua jam menunggu bukanlah waktu yang singkat.


Seharusnya Jelita menghubunginya. Tidak seperti ini, menunggu dalam diam. Berulangkali Angga merutuki dirinya dengan penuh rasa sesal.


Nafas Angga terengah-engah ketika sampai di depan pintu restoran yang sudah diberi tanda tutup. Namun di dalam lampunya masih dinyalakan.


Jelita yang saat ini ada di dalam tersadar kalau dia sudah cukup lama berada di sana. Matanya juga sudah mulai berat.


" Kau pulang sendirian ? Mau aku antar ? " tawar Diego


" Tidak, aku bawa mobil," balas Jelita.


" Kalau ada waktu, besok malam datanglah kemari," ujar Diego.


" Tentu," sahut Jelita.


Wanita itu kembali mengenakan sweater untuk menghangatkan tubuhnya dari suhu udara yang cukup dingin di luar. Apakah Angga sudah menyelesaikan pekerjaannya ?


" Hati-hati di jalan," seru Diego.


" Ya," sahut Jelita tanpa menoleh. Terlalu asik mengobrol dengan Diego, dia jadi lupa tujuan utamanya datang ke kantor.

__ADS_1


Saat Jelita pamit, Angga sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan restoran itu untuk mengambil mobilnya.


" Angga ? " ujar Jelita saat melihat sang suami ada di depan restoran.


" Sayang , maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau datang ke kantor. Kau pasti bosan menungguku selama itu ? Seharusnya kau memberitahuku . Aku pasti akan langsung menemuimu," terang Angga. Sebenarnya dia marah melihat istrinya bersama Diego, tapi dia juga merasa kasihan pada istrinya karena terlalu lama menunggunya.


" Aku hanya tidak ingin mengganggumu bekerja," jawab Jelita dengan jujur.


" Kau tidak pernah menggangguku. Kau lebih penting dari pekerjaanku. Sekarang lebih baik kita pulang," ajak Angga sembari mencium kening Jelita.


*************


Besoknya, di kediaman Pak Andi.


Mila yang baru saja datang wajahnya terlihat sangat cemberut.


" Sayang , ada apa ? " tanya Riska dengan raut wajah penasaran karena melihat putrinya datang dengan wajah cemberut. Seharusnya Mila merasa senang karena bertemu dengan Tio, tapi wajahnya malah cemberut. Apa yang terjadi pada mereka ? Apa Tio melalukan sesuatu pada Mila ?


" Tio marah-marah padaku gara-gara kemarin aku dan nenek mengganggu Jelita," terang Mila dengan sedih.


" Kan sudah Papa bilang berkali-kali, berhenti mengganggu Jelita. Ibu juga sama, tidak pernah mendengarkanku," ucap Pak Andi dengan marah.


" Tapi Tio tahu dari mana kalau kita mengganggu gadis pembawa sial itu ? " tanya Nenek Anggi dengan raut wajah bingung.


" Aku juga tidak tahu ,Nek. Mungkin dari anak buahnya. Ternyata Tio sangat kaya raya. Dia lebih kaya dari Angga. Aku yakin kalau Tio tahu dari anak buahnya," tutur Mila.


" Wah, cucuku memang sangat beruntung karena mendapatkan calon suami yang lebih kaya dari Angga. Sepertinya pernikahanmu akan diadakan secara meriah. Lebih baik tidak usah bersedih begitu. Seharusnya kau gembira karena akan menikah dengan pria kaya," sahut Nenek Anggi dengan tersenyum senang.


" Aku sedih karena Tio seperti melindungi Jelita. Dia kan calon suamiku, seharusnya dia ada di pihakku. Tapi dia selalu melarangku mengganggu Jelita dan bahkan mengancamku. Dan satu lagi, pernikahanku juga tidak diadakan


secara meriah. Dia ingin pernikahan ini di hadiri oleh keluarganya dan keluarga kita saja," terang Mila dengan kesal


" Mungkin calon suamimu malu karena usianya hampir sama dengan Papa. Seharusnya kamu mengerti dia. Dan masalah Tio yang melarangmu mengganggu Jelita itu ada benarnya. Papa juga tidak ingin berurusan dengan Jelita," ucap Pak Andi menasehati Mila.

__ADS_1


" Papa sama saja. Seharusnya Papa membelaku," balas Mila yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.


" Biarkan saja dia sendiri dulu. Mungkin dia sedih karena Tio tadi marah padanya. Nanti biar aku yang bicara pada Mila," kata Riska


__ADS_2