Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
William


__ADS_3

" Kau habis dari mana ?" tanya Tio sembari menatap pria itu dengan raut wajah terkejut.


"Aku habis dari luar,Pa,"balas pria itu seraya menjatuhkan pantatnya di sofa. Setelah itu dia menoleh ke arah Jelita sambil tersenyum.


" Keluar ? " ujar Tio dengan raut wajah yang semakin terkejut .


" Memangnya kenapa ? Apa aku tidak boleh keluar ? " tanya pria itu


" Apa aku sedang bermimpi ," pikir Tio sambil menatap pria itu.


" Hai cantik , " ucap pria itu dengan mulut melengkung membentuk senyuman.


" Apa kepalamu habis terbentur sesuatu ? Kenapa tiba-tiba kau jadi aneh begini ? " tanya Tio dengan raut wajah yang bingung.


" Aneh ? Memangnya aneh kenapa ? " ujar pria itu sambil menoleh kearah Tio


" Semenjak kedua orang tuamu meninggal , kau tak pernah mau keluar rumah. Semua pekerjaan kau kerjakan dari rumah. Bahkan kau juga mengurus perusahaan almarhum Papamu hanya dari rumah saja. Tapi sekarang, tiba-tiba saja kau malah keluar rumah. Apa itu tidak aneh ?" ujar Tio sembari melihat pria itu yang yang terus menatap Jelita.


" Jelita, perkenalkan ini adalah William. Dia adalah putra dari almarhum sahabat Papa. Kedua orang tuanya telah meninggal saat William berusia sebelas tahun. Sebelum meninggal , mereka menitipkan William pada Papa , karena mereka sudah tidak memiliki keluarga lagi," terang Tio pada putrinya . Tio menceritakan semuanya pada Jelita agar tidak ada kesalahpahaman.


"Salam kenal , William," kata Jelita dengan sopan.


" Kau benar-benar sangat cantik," puji William yang terus menatap Jelita. Sedangkan Jelita merasa tidak nyaman dengan tatapan William.

__ADS_1


" Apa pria ini gila ? Dari tadi dia hanya menatapku sambil senyum-senyum sendiri. Kalau pria ini benar-benar gila , seharusnya Papa membawanya ke rumah sakit jiwa. Dasar pria gila, " umpat Jelita di dalam hatinya.


" William ? Jangan bertingkah aneh seperti itu ! Nanti putriku tidak nyaman tinggal di sini ," terang Tio . Dia bisa melihat kalau Jelita tak nyaman di tatap seperti itu.


" Tenang saja ,Pa. Aku akan membuat gadis cantik ini nyaman berada di sini," sahut William yang terus tersenyum.


" Entah terbentur apa kepalamu , kau jadi aneh seperti ini," sahut Tio beranjak dari tempat duduknya sembari menggelengkan kepalanya.


" Jelita, ayo Papa antar ke kamar. Mandilah dulu ,lalu setelah itu kita makan bersama," kata Tio pada putrinya.


" Iya ,Pa," sahut Jelita yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Papanya.


Setelah Jelita berada di kamarnya , Tio memanggil Yudi.


" Selamat malam. Oh iya, apa kau tahu apa yang terjadi pada William ? Semenjak kedua orang tuanya meninggal, dia tak pernah mau keluar rumah. Tapi baru kali ini dia mau keluar rumah. Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan dia pergi keluar. Apa kau tau apa yang terjadi pada William ? " tanya Tio seraya menatap Yudi dengan raut wajah bingung. Tadi dia memperhatikan kalau William seperti orang gila, dia terus menatap Jelita sambil tersenyum. Sebenarnya ada apa dengan anak itu ?


" Saya kurang tahu secara pastinya ,Tuan. Saat Anda dan Nona pergi ke rumah Nenek Dewi , Tuan muda mengikuti Anda," terang Yudi


" Mengikutiku ? " ujar Tio dengan kedua mata membulat.


" Kenapa William mengikutiku dan Jelita ? " tanya Tio seraya menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada William ? Kenapa dia mendadak jadi aneh seperti itu ?


" Saya tidak tahu,Tuan. Tapi setelah Anda dan Nona Jelita meninggalkan rumah Nenek Dewi , Tuan muda masuk ke rumah itu lalu memukul Tuan Angga hingga babak belur," tutur Yudi. Dia memang tidak mengerti kenapa William mendadak jadi aneh seperti itu, dan apalagi hingga memukul Angga.

__ADS_1


" Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi," kata Tio. Setelah itu dia pergi ke kamar William. Karena pintu kamar William tidak di tutup , Tio akhirnya masuk begitu saja.


Dia melihat William sedang berbaring di tempat tidurnya sambil senyum-senyum sendiri. Bahkan pria itu tak menyadari kedatangan Tio.


" William ? " panggil Tio. Namun William sama sekali tak mendengar panggilannya.


" Apa dia gila ? " gumam Tio sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


"William , " panggil Tio lagi sembari menyentuh kaki William.


"Papa ? " ujar William dengan raut wajah terkejut. Pria itu langsung beranjak dari tempat tidurnya.


"Papa ingin bicara denganmu," kata Tio yang langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa yang ada di kamar William.


William mengikuti Tio lalu duduk di sampingnya.


" Ada apa ,Pa ? Apa ada masalah ? " tanya William dengan raut wajah bingung. Melihat raut wajah Tio, William dapat menebak kalau saat ini sedang ada masalah.


" Seharusnya Papa yang bertanya denganmu. Sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa tiba-tiba kau keluar rumah ? Padahal semenjak kedua orang tuamu meninggal kau tak pernah mau keluar rumah. Bahkan Papa berkali-kali membujukmu agar kau mencoba keluar dari rumah ini, tapi kau sama sekali tak pernah mau. Lalu sekarang kau tiba-tiba saja keluar dari rumah. Papa jadi bingung dengan keadaanmu saat ini," terang Tio dengan raut wajah murung.


" Maaf ,Pa. Aku sudah membuatmu khawatir. Sebenarnya aku seperti ini karena Jelita," sahut William menunduk.


" Jelita ? Memangnya ada apa dengan putriku ? " tanya Tio dengan mata membulat . Dia begitu terkejut mendengarnya. Apa William jatuh cinta pada putrinya ? Tapi itu tidak mungkin , karena ini pertama kalinya Jelita datang ke rumah ini.

__ADS_1


" Sebenarnya saat almarhum Papa dan Mama masih hidup , kami tinggal di sebelah rumah Jelita. Dan Jelita adalah teman dekat di masa kecilku. Aku mulai mengenalnya saat usiaku enam tahun. Lalu ketika usiaku sepuluh tahun , aku berpisah dengannya karena Papa dan Mama harus kembali ke inggris. Aku sangat mengenal Jelita karena kami dulu selalu bermain bersama. Aku juga tahu bagaimana kehidupan Jelita dulu. Setiap sepulang sekolah Jelita tak pernah makan , alasannya karena makanannya sudah habis dan Ibunya tidak mau membuat makanan untuk Jelita. Saat itu aku selalu mengambil makanan di rumahku, kemudian memberikan makanan itu pada Jelita. Mereka tak ada yang peduli pada Jelita. Setiap hari Jelita pergi ke sekolah menggunakan sepatu robek dan baju sekolah yang kekecilan. Setiap hari dia selalu membawa kantong plastik untuk menyimpan buku-bukunya ketika hendak bersekolah. Karena keluarganya tidak mau membelikan Jelita tas sekolah . Waktu itu Mama kasihan pada Jelita dan membelikan Jelita tas sekolah , akan tetapi Jelita malah dipukul oleh Papanya. Lalu menyuruh Jelita agar mengembalikan tas itu. Setiap Jelita menangis ,aku selalu datang menghiburnya. Saat Papa dan Mama mengajakku ke inggris , aku begitu berat hati meninggalkannya. Lalu setelah Mama dan Papa meninggal aku kembali ke indonesia. Waktu itu kau sendiri yang menjemputku. Aku pernah mengajakmu pergi ke rumahku yang lama karena ingin mencari Jelita , tapi keluarga Jelita saat itu sudah pindah rumah. Dan kami tak pernah bertemu lagi. Hingga akhirnya aku bertemu dengan teman masa kecilku di rumah ini, namun sayang sekali dia tak mengingatku," tutur William.


__ADS_2