
Apartemen
Angga dan Jelita sudah sampai di apartemen dua jam yang lalu. Sebelum ke apartemen mereka sempat mampir ke klinik untuk mengobati gatal-gatal Angga. Namun gatal-gatal di tubuh Angga bukannya membaik malah terlihat semakin parah. Jelita mondar-mandir di depan kamar Angga karena gelisah memikirkan pria itu. Jika di biarkan dia khawatir semakin fatal akibatnya.
" Angga, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," ajak Jelita dengan raut wajah cemas.
" Sayang ,aku baru saja minum obat yang di kirimkan oleh Fajar. Percayalah , obatnya pasti sangat manjur . Mungkin butuh waktu untuk bereaksi, jadi kau tidak perlu cemas begitu ya ? " ujar Angga sembari menatap Jelita yang dari tadi tidak tenang.
Jelita menghempaskan tubuhnya di samping Angga. Menurutnya Angga memiliki sifat yang sangat keras kepala , jadi sangat sulit membujuk pria itu.
" Sayang, bagaimana kalau besok kita berkunjung ke rumah orang tuaku. Mereka ingin sekali kau datang ke rumah," ajak Angga
" Terserah kau saja , asalkan kau sudah sembuh," jawab Jelita
" Tadi kau bilang ingin keluar bertemu Lili ? Kenapa tidak siap-siap ? " tanya Angga dengan raut wajah penasaran.
" Keadaanmu kan seperti ini , mana mungkin aku tega meninggalkanmu. Kalau aku pergi lalu siapa yang merawatmu ? " tanya Jelita dengan sorot mata khawatir.
Angga seperti ingin melompat kegirangan karena mengetahui Jelita mencemaskannya. Inilah yang pria itu harapkan.
" Apakah kau yakin tidak ingin pergi menemui Lili ? " tanya Angga lagi
Jelita menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dia sudah memikirkan semuanya. Selama ini Angga selalu ada untuknya. Merawatnya saat sakit dan bahkan menyelamatkan dirinya. Sekarang dia ingin membalas semuanya.
" Aku bisa mengurus diriku sendiri jika kau berniat ingin pergi . Aku hanya kasihan karena kau sudah lama tidak pergi jalan-jalan bersama temanmu itu," terang Angga.
" Tidak masalah, aku sudah mengatakan pada Lili kalau aku sedang merawatmu," terang Jelita
Jelita menatap Angga yang sampai sekarang tidak bisa mengenakan baju.
" Akan sampai kapan kau tidak mengenakan baju seperti ini ? " tanya Jelita karena merasa kasihan pada pria itu.
" Sampai sembuh,karena jika berkeringat kulitku terasa semakin gatal," ungkap Angga.
" Oh iya aku hampir lupa. Aku mau ke laundry dulu sebentar. Pakaian kotorku sudah menunpuk karena tidak sempat mencucinya. Mana pakaianmu ? Biar aku bawa sekalian," ujar Jelita yang saat ini sudah berdiri.
" Ada di kamar mandi, kau ambil saja," sahut Angga. Dia begitu senang karena Jelita sangat peduli dan perhatian padanya.
Jelita menganggukkan kepalanya lalu ke luar dari kamar itu dan masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu bergidik ngeri ketika melihat ****** ***** milik Angga yang di tumpuk menjadi satu dengan pakaian lainnya.
__ADS_1
" Angga, kenapa kau menumpuk celana dalammu dengan pakaian lainnya ?" gerutu Jelita. Dia lalu membawa keranjang itu ke kamar dan meletakkannya di depan Angga.
" Tentu saja aku tumpuk jadi satu. Untuk apa aku pisahkan ?" sahut Angga masih dalam posisi berbaring.
" Lebih baik kau masukkan sendiri pakaianmu. Aku tidak mau mengambilnya karena di sana ada celana dalammu," perintah Jelita
" Sayang , lihatlah kondisiku sedang seperti ini. Kau pisahkan saja ****** ********. Nanti setelah menikah kau juga akan sering melihat celana dalamku. Lagian aku saja tidak jijik melihat celana dalammu, bahkan aku mencucinya sendiri," sahut Angga dengan suara yang dibuat selemah mungkin.
" Ugh ," gerutu Jelita. Meski jijik dia terpaksa mengambil pakaian kotor itu lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik. Jika Angga tidak sakit, dia tidak akan mau melakukanya.
" Aku pergi dulu," pamit Jelita .
" Hati-hati," kata Angga. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat tingkah Jelita.
" Akan aku buat kau jatuh cinta padaku," gumam Angga dengan senyum penuh arti.
○○○○○○○○○○○○○○
Malam harinya
Karena gatal-gatal di tubuh Angga tidak membaik , gadis itu terpaksa menghubungi Fajar.
" Langsung saja masuk ke dalam. Angga saat ini ada di kamar ," kata Jelita sembari membuka pintu kamar . Fajar lalu masuk ke dalam kamar sambil menatap Angga yang tengah berbaring di tempat tidurnya.
" Kalau begitu aku permisi dulu, aku harus ke dapur," ucap Jelita lagi.
" Iya ,silahkan," sahut Dokter Fajar sembari tersenyum.
" Fajar ? Untuk apa kau datang kemari ?" ujar Angga sembari menaikkan sebelah alisnya memandang pria yang mengenakan baju khas dokter.
" Tentu saja ingin memeriksamu. Istrimu menghubungiku . Dia terlihat sangat khawatir jadi aku langsung kesini. Tapi kenapa ruam-ruam di tubuhmu tak kunjung membaik ? Apakah kau tidak minum obat yang aku berikan ? " tanya Fajar sembari menatap ngeri tubuh Angga yang jauh lebih parah dari bayangannya. Melihat kondisinya , Fajar sangat yakin kalau Angga tidak minum obat.
" Aku memang sengaja tidak minum obat agar bisa menunda kesembuhanku," jawab Angga dengan jujur.
" Apa maksudmu ? Apakah kau sudah bosan hidup ? Kau pikir tidak berbahaya ? " Fajar semakin geram hingga dia berkacak pinggang menatap Angga.
" Aku hanya ingin di manja dan di perhatikan oleh istriku," ungkap Angga sembari menatap nanar Fajar. Memang agak berisiko tapi dia sudah memikirkannya.
" Jadi hanya karena cinta kau rela merasakan panas dan perih sepanjang hari ? Kau memang gila." Fajar hanya menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan tingkah konyol sahabatnya itu.
__ADS_1
" Memangnya kenapa ? Kalau kau kesini hanya ingin mengejekku sebaiknya kau pergi dari sini," usir Angga dengan perasaan dongkol.
" Kau harus di suntik sekarang juga. Berhentilah bertindak bodoh , jangan sampai kau mati hanya karena hal ini. Kalau kau mati , maka aku yang akan mendekati istrimu," ujar Fajar sembari mengeluarkan peralatan medis dari tasnya.
" Mana ada orang mati hanya karena ini ? Kalau kau berani mendekati istriku , maka aku akan membuat perhitungan padamu." Angga akhirnya menurut.
Beberapa menit kemudian Jelita masuk ke kamar dengan membawa minuman. Dia melihat Angga dan Fajar sedang mengobrol.
" Silahkan di minum dulu," kata Jelita sembari meletakkan nampan berisi minuman di atas meja.
" Kau tidak perlu repot-repot begini," sahut Fajar.
" Tidak apa-apa. Kau kan tamu di sini. Lalu bagaimana keadaan Angga ? " tanya Jelita dengan raut wajah penasaran.
" Suamimu seperti ini karena sengaja tidak minum obat . Lebih baik kau awasi dia saat minum obat," terang Fajar dengan jujur.
Angga melotot tajam ke arah Fajar yang sudah membeberkan rahasianya.
" Aku pasti akan mengawasinya mulai sekarang," sahut Jelita sambil menyipitkan matanya memandang Angga.
" Kalau begitu aku pamit dulu. Jangan lupa sebelum tidur Angga harus minum obat yang aku berikan tadi," saran Fajar sebelum meninggalkan rumah itu.
" Baik , Dokter," sahut Jelita. Gadis itu lantas mengantar kepergian Fajar sampai depan pintu.
Di kamar , Jelita tak berhenti menatap Angga dengan tatapan menyelidik. Pantas saja tidak membaik , ternyata karena tidak minum obat.
" Kenapa obatnya tidak kau minum ? Apakah kau sudah bosah hidup sehat ? " tanya Jelita dengan suara meninggi.
" Bukan begitu ," sanggah Angga dengan cepat.
" Lalu apa ? "
Angga sontak menarik tangan Jelita hingga wanita itu duduk di pangkuannya. Dia mendekapnya dengan erat tanpa ingin melepasnya.
" Aku melakukannya karena ingin di manja dan di perhatikan olehmu. Aku sangat mencintaimu," ungkap Angga sembari menyembunyikan wajahnya di leher Jelita. Menghirup aroma parfum yang di kenakannya hingga membuat pikirannya melayang kemana-mana. Dia melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
Jelita langsung bungkam mendengar alasan Angga. Dia tidak menyangka kalau Angga sampai melakukan hal itu. Angga menatap Jelita ,lalu mencium bibir gadis itu. Jelita pun membalas ciuman Angga yang membuat pria itu tersenyum.
" Lain kali jangan lakukan ini lagi ya ? Kau sudah membuatku sangat khawatir ," ucap Jelita sembari memukul dada Angga.
__ADS_1
" Aku janji ," sahut Angga yang langsung mengecup kening gadis itu.