Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Kau akan menjadi istriku...


__ADS_3

Jelita meringkuk di bawah selimut dengan tubuh polosnya yang tak berbalut pakaian. Kenapa dia masih hidup ? Kenapa dia tidak mati saja sehingga tidak akan merasakan hal seperih ini dalam hidupnya.


" Jelita, sejak siang kau belum makan . Sekarang makanlah dulu. Aku sudah memasak untukmu," ujar Angga diikuti dengan ketukan pintu hingga beberapa kali.


Bukannya menjawab, Jelita justru menutupi kepalanya dengan bantal karena tidak ingin mendengarkan apapun. Pikirannya terlalu stress memikirkan hal menyedihkan yang menimpa hidupnya.


" Jelita , ayolah ," bujuk Angga kembali. Namun Jelita tidak menjawab sama sekali.


Angga menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil meluruskan kedua kakinya. Ingin masuk ke dalam kamar tapi dia khawatir Jelita mengusirnya seperti tadi lagi. Terlebih lagi matanya juga sudah mulai mengantuk.


Di dalam kamar, Jelita memegangi perutnya yang semakin lama terasa semakin perih. Dia sudah berusaha menahan rasa lapar di perutnya , tapi sepertinya tidak bisa.


Jelita ingin keluar tapi dia merasa malu sekaligus kesal jika bertemu dengan Angga. Menurutnya , tidak seharusnya pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan sehingga bisa melihat tubuhnya dengan leluasa.


" Dasar pria mesum," gerutu Jelita sambil membungkus tubuhnya kembali dengan selimut. Kepalanya terasa berat, suhu tubuhnya juga jauh lebih hangat dari biasanya. Sepertinya dia mau demam karena terlalu lama berada di air.


" Aku merasa menyesal sudah menerima perjodohan itu," gumam Jelita. Air matanya kembali menetes.


Dia kira Raka berbeda dengan Dion , namun ternyata dugaannya salah.


" Aku lelah menangis sepanjang hari," rengek Jelita lalu menyingkap selimut dari kepalanya. Dia menegakkan tubuhnya untuk duduk lalu menyeka air mata dari pipinya.


Jelita mulai tersadar, apa yang di lakukan olehnya hanya membuang-buang waktu. Apakah dengan menangis bisa mengembalikan semuanya ?


Setelah mengenakan pakaian, Jelita keluar dari kamar Angga. Bibir Jelita mengerucut saat melihat Angga masih duduk di sofa.


Dengan langkah pelan Jelita mendekati Angga yang diam dengan kedua tangan terlipat di dada. Dia menduga jika pria itu sedang tidur.


" Ingin sekali aku menghajarnya," Jelita merasa geram melihat wajah Angga yang terlelap.


Jelita berdiri tepat di depan Angga sambil berkacak pinggang. Apakah tidak apa-apa jika ingin meninju wajahnya untuk melampiaskan rasa kesalnya ?


" Ugh." Jelita sudah bersiap mengangkat tangannya yang mengepal. Dadanya naik turun berusaha menahan ke inginannya untuk meninju wajah Angga.


" Pukul saja wajahku jika itu bisa membuat amarahmu reda." Tiba-tiba saja Angga membuka matanya lalu mencekal pergelangan tangan Jelita.


Jelita gelagapan, terkejut karena Angga tidak tidur. Hendak pergi tapi tangan Angga terlalu kuat menahan tangannya.

__ADS_1


" Lepaskan," ujar Jelita sambil menarik tangannya.


" Kenapa ? Bukankah kau berniat meninju wajahku ? Lakukanlah sesuka hatimu asalkan kau tidak bertindak bodoh lagi seperti tadi," ujar Angga sambil mengarahkan tangan Jelita yang mengepal semakin dekat ke wajahnya.


" Mulai sekarang jika kau marah pada siapapun pukul saja aku. Jangan pernah mencoba untuk bunuh diri," kata Angga


Jelita memalingkan wajahnya ke arah lain . Dia merasa malu pada Angga.


" Aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Aku akan memanaskannya sebentar," ucap Angga yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.


" Tidak usah sok peduli denganku," balas Jelita dengan ketus.


" Aku sangat mencintaimu. Sudah pasti aku peduli padamu. Duduklah ! " perintah Angga


Jelita akhirnya duduk karena tubuhnya mulai sempoyongan.


" Makanlah, setelah ini minum obat." Angga meletakkan mangkuk di meja lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Jelita hingga beberapa detik.


"Aku tidak mau," tolak Jelita dengan sengit.


" Jika kau berani melakukannya, aku akan membunuhmu," ancam Jelita dengan pipi memerah.


" Memangnya kenapa ? Aku bahkan sudah sering melihat tubuh polosmu," ujar Angga sembari tersenyum .


" Angga , diamlah ! " teriak Jelita semakin geram.


Angga akhirnya diam lalu menarik kursi untuk duduk. Posisi mereka saat ini saling berhadapan.


Jelita berdecak kesal , wajahnya memerah menahan malu karena Angga terus mengamati dirinya yang sedang makan. Terlebih lagi kondisi wajahnya saat ini sedang berantakan.


" Angga menyandarkan dagunya di atas meja dengan berpangku pada kedua tangannya. Melihat Jelita yang sedang makan membuatnya terlihat sangat lucu. Mata sembab, bola mata yang memerah semakin menambah kelucuannya.


" Tidak bisakah kau memandang ke arah lain ? " gerutu Jelita sambil mengerucutkan bibirnya.


" Tidak ," sahut Angga sambil mengulum senyum.


" Ugh," gerutu Jelita tanpa mau memandang wajah Angga yang terlihat menyebalkan di matanya.

__ADS_1


" Kau sangat cantik," ucap Angga seraya tersenyum.


Wajah Jelita langsung merona mendengarnya.


" Tolong izinkan aku tinggal sini untuk beberapa hari sampai aku mendapatkan tempat tinggal," kata Jelita dengan wajah memohon.


" Tidak usah mencari tempat tinggal . Kau bisa tinggal di sini bersamaku," terang Angga.


" Aku tidak mungkin tinggal di sini terus menerus. Aku tidak ingin mendapatkan gosip aneh-aneh," balas Jelita yang saat ini sudah menghabiskan makanannya.


" Kalau begitu menikahlah denganku," ujar Angga seraya menatap gadis itu.


"Aku sangat membencimu. Aku yakin kau mengajakku menikah agar ada yang membersihkan rumahmu ini, " tuduh Jelita seraya menatap tajam ke arah Angga.


" Kau selalu saja berpikir negatif tentangku. Akan aku pastikan dalam waktu dekat ini kau akan menjadi istriku," ucap Angga dengan kata-kata yang tegas.


" Dasar gila. Jangan pernah bermimpi. Aku mau tidur ," kata Jelita lalu bangkit dari duduknya.


" Jelita, minum dulu obatnya," ujar Angga.


Jelita duduk kembali beberapa menit untuk minum obat penurun panas. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia lantas masuk ke dalam kamarnya.


Angga mengamati pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Dia kembali duduk di sofa dan membuka laptopnya. Ingin tidur tapi dia masih khawatir Jelita berbuat nekat. Paling parahnya mungkin dia bisa saja lompat dari atas gedung ini.


Dari pada perasaannya tidak tenang lebih baik dia mengerjakan pekerjaan kantor sambil menjaga Jelita.


Di dalam kamar, Jelita mengambil ponsel lalu mengaktifkan kembali nomernya. Satu pesan langsung masuk.


📱[ Kak Jelita, walaupun kau saat ini sudah pergi dari rumah, tapi jangan lupa untuk datang ke pernikahanku. Papa memintamu datang ke pernikahanku .Kalau kau sudah tidak menganggap kami keluargamu , maka anggap saja datang ke pernikahan temanmu. ] Mila.


Nafas Jelita langsung memburu ketika membaca pesan itu. Tangannya mencengkram erat hingga kukunya yang panjang menusuk sprei di bawahnya.


" Masih berani dia mengirim pesan padaku. Dasar wanita tidak tahu malu," cibir Jelita lalu melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


Jelita berjalan menuju balkon kamarnya. Ingin menikmati dinginnya malam agar pikirannya jauh lebih tenang. Wanita itu duduk di kursi sambil menaikkan ke dua kakinya di atas meja. Matanya memandang sekeliling gedung yang sudah sepi.


" Aku tidak boleh diam saja," gumam Jelita

__ADS_1


__ADS_2