
Alessia syok saat William menautkan bibir mereka dalam waktu beberapa detik. Pikirannya terasa kosong hingga perlahan mendengar suara orang berteriak. Mata Alessia mengerjap, langsung tersadar dari lamunan panjangnya kalau mereka saat ini masih di acara pesta. Beruntung dia tidak membalas ciuman William.
Tak hanya William yang terkejut, Vivi dan tamu undangan yang berada di sana sampai ternganga melihatnya. Tidak menyangka kalau mereka akan di suguhkan dengan pemandangan yang tidak semestinya terjadi.
"Bagaimana ? Apakah kalian sudah percaya kalau aku adalah calon suami Alessia ? " tanya William dengan dahi berkerut. Dengan santai dia memandang Vivi dan teman-temannya yang salah tingkah sendiri.
" Ya , kami percaya ," kata Vivi terbata.
" Dan aku dengar kalau kalian selalu menuduh calon istriku sebagai seorang pelakor hingga dia mengalami trauma berat. Apakah kalian punya bukti kalau Alessia pelakor ? Atau apakah kalian pernah melihat Alessia merayu seorang pria ? Padahal kekasih kalian yang duluan merayu Alessia, tapi kalian malah langsung menuduh Alessia sebagai pelakor," ucap William dengan raut wajah merah padam sembari menatap mereka satu persatu.
" Calon istrimu memang seorang pelakor," tuduh Lia seraya menatap William.
" Aku sudah melaporkan kalian kepada pihak yang berwajib. Karena ulah kalian nama baik Alessia jadi buruk dan dia juga sampai mengalami trauma berat," kata William seraya tersenyum menyeringai.
" Kalau Alessia memang seorang pelakor maka tunjukan buktinya kepada polisi," ucap William lagi sembari menggenggam tangan Alessia.
Mata teman-teman Alessia langsung melotot dan mulutnya juga terbuka lebar karena terkejut mendengar ucapan William.
" Alessia , kenapa calon suamimu mesti melakukan itu ? Tolong ,bicaralah padanya agar tidak membawa kasus ini kepada pihak yang berwajib, tadi kami hanya bercanda saja denganmu," terang Lia dengan raut wajah ketakutan.
Namun Alessia hanya diam saja dan tak memperdulikan ucapan Lia.
" Sayang , lebih baik kita pergi dari tempat ini," ajak William sembari menarik tangan Alessia yang masih termangu di tempatnya seperti orang linglung.
Alessia hanya menurut dan mengikuti langkah kaki William yang mengajaknya pergi dari tempat itu. Dapat diakui kalau William memang sangat jantan, meski caranya sedikit ekstrim untuk membuktikan hubungan mereka.
Semua orang hanya memandang kepergian William dan Alessia tanpa berkomentar. Mereka tidak percaya kalau Alessia sudah menemukan kebahagiaannya.
" Apakah aku bermimpi ? " ujar Vivi. Mulutnya tadi sempat terbuka lebar memandang William yang sangat tampan.
__ADS_1
" Lalu sekarang kita harus bagaimana ? Aku tak mau berada di penjara ," kata Lia dengan raut wajah semakin ketakutan.
William menggenggam tangan Alessia dengan erat. Guratan senyum kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Puas hatinya sudah mengumumkan kepada semua orang kalau dia adalah calon suami Alessia.
" Sayang , kenapa kau harus melakukan itu ? " tanya Alessia sambil mengusap bibirnya. Pikirannya masih melayang antara tersadar atau tidak sadar. Ada banyak hal yang memenuhi kepalanya saat ini.
" Itu adalah salah satu cara untuk membungkam bibir mereka agar tidak seenaknya sendiri berbicara. Setelah ini tidak akan ada lagi orang yang mencibirmu apalagi menganggap kalau kau sangat menyedihkan," terang William dengan santainya.
Alessia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Haruskah dia senang karena William sangat berani menciumnya di depan umum dan membalas perbuatan temannya ? Entahlah, pikirannya sekarang masih sangat kacau.
Namun tiba-tiba , langkah keduanya terhenti saat mereka dihadang oleh seorang pria. Pria itu memandang mereka dengan sorot mata memerah. Ada rasa amarah yang tergambar di matanya.
" Alessia , kenapa kau malah ingin menikah dengan pria ini ? Padahal aku sudah dari dulu mengejar cintamu. Apa sebenarnya yang kurang dariku ? " tanya Jio seraya menatap Alessia.
" Maaf, Jio . Aku tidak pernah mencintaimu. Dan kau juga sudah memiliki tunangan. Lebih baik kau tak usah dekat-dekat denganku, nanti tunanganmu mengira kalau aku yang menggodamu terlebih dahulu," kata Alessia sembari menggenggam dengan erat tangan William.
" Pergilah, berhenti mengganggu Alessia . Kalau kau terus mengganggu calon istriku maka kau akan tahu akibatnya," ancam William dengan nada datar dan tatapan tidak suka. Perasaannya selalu saja was-was setiap Alessia berhadapan dengan seorang pria.
" Kenapa ? Apa kau iri ? Jika kau mau, lakukan saja dengan tunanganmu," ujar William seraya mendengus.
Tangan Jio mengepal erat. Percuma saja dia melawan William karena dia tidak akan pernah menang sampai kapan pun. Dia sudah menyelidiki siapa pria yang ada di depannya.
" Jaga sikap kalian, ingat ini tempat umum," kata Jio lagi.
" Setidaknya dia adalah calon istriku. Apa yang kami lakukan tidak ada urusannya denganmu," sahut William sembari berkacak pinggang.
Jio langsung bungkam mendengarnya tapi tatapannya tak beralih pada Alessia.
" Alessia , aku ingin bicara denganmu," pinta Jio dengan raut wajah memohon.
__ADS_1
" Tidak bisa, kami sudah mau pulang," tolak William dengan tegas. Tak akan dia biarkan calon istrinya bicara dengan orang yang sudah menyebabkan Alessia mengalami trauma.
" Tak ada yang perlu kita bicarakan," kata Alessia lalu menarik lengan William agar beranjak pergi dari tempat itu.
" Alessia, tunggu," kata Jio lagi.
" Tidak usah mengikuti kami. Lebih baik kau urus tunanganmu,"ucap William sambil berbalik. Dia menatap dingin Jio agar mengurungkan niat untuk mengikuti mereka.
Jio akhirnya menghentikan langkahnya, dia hanya mampu melihat kepergian Alessia yang sudah semakin jauh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sebuah Hotel.
" Pa, besok kita akan bersembunyi di mana lagi ? Anak buah Om Tio sudah ada di mana-mana. Kepalaku rasanya pusing sekali melihat mereka ada dimana-mana . Aku bahkan tidak bisa pergi ke mall , ke salon dan pergi ke restoran ," gerutu Kayra dengan raut wajah sedih.
"Dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan semua itu ? Seharusnya kau pikirkan keselamatan kita. Apa kau mau berada di penjara ? "ujar Handoko dengan raut wajah yang kesal.
" Tidak , Pa. Aku tidak mau berada di penjara. Lalu kita harus bagaimana ? " tanya Kayra sambil menatap Papanya.
" Besok subuh kita harus pergi dari hotel ini. Papa berencana akan pergi ke kampung Nenekmu. Papa yakin anak buah Tio tidak akan bisa menemukan kita di sana," terang Handoko dengan sangat yakin.
" A_apa ? Ka_kampung ? " tanya Kayra dengan terbata - bata. Dia paling benci tinggal di kampung. Menurutnya orang-orang kampung sangat jorok. Di sana juga tidak ada mall, dan restoran.
" Iya , memangnya kenapa ?" tanya Handoko sembari menaikkan sebelah alisnya karena merasa bingung.
" Aku tidak mau tinggal di kampung, nanti bisa-bisa kulitku jadi semakin hitam," keluh Kayra dengan cemberut.
" Tapi hanya ini yang bisa kita lakukan saat ini. Lagian kita juga di sana cuma sebentar. Setelah keadaan di sini sudah aman, kita kembali lagi menjalankan rencana kita. Bagaimana ? " tanya Handoko lagi
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu, " ucap Kayra dengan pasrah.
" Kalau begitu sekarang kau tidurlah!" ucap Handoko yang kemudian meninggalkan Kayra.