
" Teruslah mendes*h, Sayang. Aku suka suaramu yang terdengar sangat seksi, bisik Angga. Tangannya terus bergerilya mengusap titik-titik sensitif tubuh Jelita agar nantinya gadis itu lebih rileks lagi.
Jelita tak bisa mendengar ucapan Angga lagi karena sentuhan Angga sangat memabukkan.
Tubuh Jelita tersentak ketika sebuah benda keras menyeruak masuk ke dalam dinding-dinding yang belum tersentuh sebelumnya. Rasanya teramat sakit hingga air matanya perlahan mengalir dari pipinya.
Angga mengerutkan keningnya, merasakan sesuatu yang sempit membuatnya terheran. Apakah ini pertama kali bagi Jelita ? Ternyata apa yang di katakan istrinya memang benar. Istrinya memang wanita baik-baik.
" Sakit," erang Jelita sembari meringis menahan rasa nyeri yang tidak biasa di bagian inti tubuhnya.
" Apakah ini pertama kali bagimu ?" akhirnya Angga bertanya untuk memastikannya.
" Tentu saja, kau pikir aku wanita nakal yang sudah mengorbankan keperawananku pada pria yang belum tentu jadi suamiku ? " gerutu Jelita diiringi dengan isak tangis lirih guna meredam rasa nyeri. Benda asing itu terlalu sesak di dalam sana.
Angga justru tersenyum lebar, dia sangat bahagia mengetahui dirinyalah yang pertama bagi Jelita.
" Sudah , jangan menangis. Aku janji akan melakukannya dengan pelan-pelan," ujar Angga seraya mengusap air mata yang menetes di pipi Jelita dengan jarinya. Dia jadi kasihan melihatnya.
Pelan-pelan Angga mulai menghujam tubuh Jelita hingga wanita itu kembali memekik pelan. Untuk meredakan rasa sakitnya, Angga segera membungkam bibir Jelita kembali.
__ADS_1
Lambat laun Jelita sudah mulai rileks atas apa yang Angga lakukan pada tubuhnya.
Hanya suara desah*n dan lenguh*n menggema di ruangan itu. Nafas keduanya terengah-engah dengan keringat yang terus keluar membanjiri tubuh mereka.
Tak ada rasa sakit di bagian inti tubuh Jelita, yang ada kini hanyalah rasa seperti melayang di udara. Menginginkan lebih dan lebih lagi.
Beberapa jam kemudian, akhirnya Angga terkapar tepat di sisi tubuh Jelita setelah pergulatan panas yang terjadi. Nafasnya memburu dengan tubuh yang terasa mulai lemas.
Sedangkan Jelita hanya mampu menutup matanya. Meski cukup melelahkan tapi semua tergantikan dengan apa yang dia dapatkan.
" Lelah ? " tanya Angga.
" Sangat," sahut Jelita dengan bibirnya yang bengkak akibat Angga yang kelewat agresif. Bibirnya sebenarnya terasa perih tapi dia sudah terlalu lelah sehingga memilih pasrah.
" Tidurlah." Angga mengecup kening Jelita terlebih dahulu lalu merentangkan tubuh mereka yang sudah basah oleh keringat yang mengalir deras.
Ingin membersihkan diri tapi tenaganya sudah tak sanggup lagi meski hanya sekedar berjalan menuju kamar mandi yang hanya berjarak beberapa meter saja. Malam ini dia harus istirahat terlebih dahulu agar tenaganya terisi lagi.
" Hmm," sahut Jelita dengan suara lemas.
__ADS_1
Perlahan keduanya terlelap dengan posisi Angga memeluk tubuh Jelita dari belakang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besoknya di kediaman Pak Andi.
" Mila, apa kau yakin akan menikah dengan Tio ? " tanya Pak Andi seraya menatap Mila yang sedang mengambil makanan.
" Yakin ,Pa. Dia adalah pria yang sangat baik. Kalau Tio tidak membantuku, aku pasti masih berada di penjara. Apalagi Papa juga tidak bisa mengeluarkan aku dari penjara," ujar Mila
" Tapi usianya terpaut sangat jauh denganmu," kata Papa Andi . Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak ketika putrinya ingin menikah dengan Tio. Apalagi tadi malam tiba-tiba saja dia bermimpi kalau tubuh Mila penuh berisi darah. Apakah Tio seorang pria baik-baik ? Atau dia membantu Mila karena ada tujuan tertentu ? Sebenarnya dia tidak setuju Mila menikah dengan Tio , tapi putrinya sangat keras kepala. Istri dan Ibunya juga mendukung ke inginan putrinya tersebut.
" Memang kenapa dengan usia Tio ? Jangan lihat usianya, tapi lihat kebaikannya. Apalagi dia sangat kaya. Tapi menurut Ibu dia terlihat masih muda kok," bela Nenek Anggi. Dia sangat setuju kalau Mila menikah dengan Tio.
" Lihat kebaikannya ,Pa. Kalau bukan karena Tio Mila pasti masih berada di penjara," kata Riska sembari mengambilkan nasi untuk suaminya.
" Yang di ucapkan sama Nenek dan Mama memang benar , jadi Papa tidak usah khawatir. Aku pasti akan bahagia hidup bersama Tio," sahut Mila sembari tersenyum senang. Dia sudah tidak sabar menikah dengan Tio . Setelah menikah dia bisa bebas shopping karena Tio adalah pria kaya.
Pak Andi menghela nafas." Baiklah, Papa mengizinkamu menikah dengan Tio , tapi dengan satu syarat setelah menikah kamu harus berhenti menganggu kehidupan Jelita. Papa tidak mau kamu mendapat masalah lagi dari keluarga Wijaya. Kalau kamu di penjara lagi maka usaha suamimu yang akan hancur," terang Pak Andi sembari menatap putrinya.
__ADS_1
" Iya ,Pa. Aku janji," sahut Mila dengan wajah cemberut. Padahal dia berniat ingin mengganggu Jelita lagi agar kakaknya itu tahu kalau suaminya juga seorang pria kaya. Tapi Papanya malah melarangnya.