Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Rindu


__ADS_3

Kediaman Tio


Angga meletakkan jari telunjuknya di bibir wanita itu lalu kembali mengambil alih dengan bibirnya. Mem*ngut kembali dengan irama menggebu.


Jelita tak bisa mengelak , tidak ada alasan lagi mengatakan kalau dirinya sedang marah. Karena pada dasarnya dia sudah memaafkan suaminya. Dengan berpangku pada kedua tangannya , Jelita berusaha menopang tubuhnya agar tidak berbaring ketika menerima serangan-serangan ciuman Angga yang kali ini lebih dalam dan agresif.


Lima menit berlalu , Angga mendorong tubuh Jelita pelan-pelan hingga wanita itu berbaring kembali di ranjang agar memudahkannya untuk melakukan sesuatu yang lebih lanjut lagi.


Dengan gerakan pelan Angga melepas pakaian yang membalut di tubuh Jelita . Aroma parfum yang begitu khas mampu membuatnya tenang. Pikirannya semakin berkelana bersamaan dengan perasaan tubuhnya yang semakin ingin terbang melayang di atas langit ke tujuh.


Bibir Angga semakin bergerilya , menghi*ap bagian dada Jelita yang sudah terpampang nyata di depannya.


Memberikan tanda-tanda kepemilikan di setiap inci pada kulitnya yang putih mulus. Tangan Jelita kini meremas rambut Angga. Menjambaknya kuat-kuat untuk menyalurkan gelayar aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Suara des*han dari kedua insan mengalun merdu. Saling bersahutan dengan nyanyian daun-daun ranting yang saling bercengkrama. Langit yang tampak mendung ditambah dengan udara yang dingin sangat cocok dengan apa yang mereka lakukan. Tubuh jadi begitu hangat dengan keringat yang terus mengalir diiringi dengan nafas yang memburu.


Sesekali Angga mengusap dahi Jelita yang dipenuhi oleh keringat. Nafasnya juga terdengar memburu di sela desah*n yang tidak bisa ditahan.


Punggung Jelita sampai melengkung ketika merasakan puncak-puncak asmara yang semakin dekat dirajut. Begitu memabukkan meski hanya sekilas dan beberapa waktu. Semuanya berpadu dengan cinta-cinta yang tumbuh bersemi semakin kuat.


Amarah yang sempat dirasakan oleh Jelita kini sudah terhempas, terbawa oleh angin segar yang terus bertiup dengan sepoi-sepoi. Kini mereka hanya menikmati indahnya rajutan cinta berdua yang semakin dalam.


Ranjang terdengar berderit , ingin menjerit karena menahan dua insan yang terus bergerak tanpa henti di atasnya.


Beberapa jam kemudian , Jelita berbaring miring sembari menatap wajah Angga yang terlelap hanya menggunakan selimut tebal sebagai penghalang tubuhnya. Setelah puncak-puncak cinta mereka, pria itu langsung tertidur pulas.


" Seharusnya kita tidak melakukan hal ini karena kau baru keluar dari rumah sakit," cibir Jelita sembari memanyunkan bibirnya. Dia memang begitu lemah kalau berhadapan dengan Angga. Tak dapat dipungkiri, asmara mereka memang selalu menggebu setelah hubungan mereka buruk.

__ADS_1


Jemari Jelita membelai pipi Angga yang ditumbuhi bulu-bulu yang terasa sedikit kasar ketika disentuh. Cukup menggelikan ketika tadi sempat bersentuhan dengan kulit di wajahnya.


" Kenapa ? Apakah kau menyesal ? " celetuk Angga dengan suara tanpa membuka kelopak matanya. Selama jauh dengan Jelita dia begitu kesulitan memejamkan mata karena memikirkan wanita itu , tapi mulai sekarang dia tak akan kesulitan tidur lagi , karena wanita yang dia pikirkan selama ini sudah ada di sampingnya.


" Sepertinya kau melupakan sesuatu. Bukankah seharusnya kau memberikan sesuatu padaku ? " tanya Jelita seraya menatap Angga.


Angga mengangkat alisnya sembari berpikir. " Apa kau menginginkan sebuah hadiah ? Kalau memang benar katakan saja apa yang ingin kau inginkan. Apapun yang kau inginkan pasti akan aku belikan, " ujar Angga.


Wajah Jelita langsung cemberut setelah mendengar ucapan Angga. Bisa-bisanya pria itu melupakan apa yang dia inginkan secepat itu.


Angga langsung tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya yang menurutnya sangat lucu.


" Sayang , kemarilah! " Angga menepuk dadanya , meminta Jelita untuk bersandar di sana.


Dengan senang hati , Jelita menggeser tubuhnya lalu meletakkan kepalanya di dada pria itu. Kulit mereka kembali bersentuhan membuatnya kembali memanas. Dada bidang dan otot-otot Angga selalu saja menggoda untuk diraba.


" Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi ? " tanya Jelita semakin cemberut.


" Aku hanya ingin bersamamu sebentar karena aku begitu merindukanmu. Bukankah kau juga begitu merindukanku ? " tanya Angga seraya menatap wanita itu.


Jelita menganggukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh Angga memang benar. Dia memang sangat merindukan suaminya.


" Kalau begitu aku ingin mandi. Tubuhku sudah sangat lengket, setelah itu aku akan makan mangga muda yang kau petik," ucap Jelita seraya beranjak dari tempat tidurnya.


" Baik, kita mandi sama-sama," ujar Angga yang juga ikut beranjak dan mengangkat tubuh Jelita lalu membawanya ke kamar mandi.


" Angga , turunkan aku ! Kau ini baru keluar dari rumah sakit. Kalau nanti keadaanmu jadi semakin parah bagaimana ? " tanya Jelita dengan raut wajah khawatir

__ADS_1


" Kau tenang saja aku sudah sembuh kok. Setelah bertemu denganmu tubuhku langsung terasa sehat dan segar , " jawab Angga dengan jujur.


Angga menurunkan tubuh Jelita di dalam bak mandi. Setelah bak terisi penuh dengan air , Angga kemudian ikut masuk di dalamnya. Ingin menikmati mandi berdua selagi ada waktu luang karena sedang tidak memikirkan pekerjaan.


Keduanya saling bertatapan lalu mengulum senyum.


" Kenapa senyum-senyum sendiri ? Mau mengulang lagi ? " tanya Angga sembari mengedipkan sebelah matanya.


" Tidak ," sahut Jelita seraya mengusap tangannya.


" Setelah ini aku ingin pergi berbulan madu denganmu. Kemarin kita menunda bulan madu kita karena banyaknya pekerjaan. Tapi kali ini aku tak akan menundanya. Aku masih merindukanmu. Aku ingin berdua denganmu. Aku ingin melakukannya beberapa ronde lagi. Apa kau mau ? " tanya Angga dengan entengnya.


" Dasar mesum ! " Jelita memutar bola matanya lalu mengambil air dengan telapak tangan dan menyiramkan ke wajah Angga.


Mereka saling membalas dengan tawa renyah keluar dari bibir keduanya. Sesekali Jelita menggunakan telapak tangan untuk menutupi wajah agar terhindar dari serangan Angga yang terus menyiramkan air tanpa henti di tubuhnya.


" Angga , cukup, " kata Jelita. Dia mengangkat tangan tanda menyerah.


Angga akhirnya menghentikannya lalu mengacak-acak rambut Jelita yang basah. Istrinya memang selalu saja menggemaskan.


" Aku tidak ingin terlalu lama di kamar mandi," ujar Jelita seraya bangkit berdiri karena tubuhnya sudah mulai kedinginan. Namun belum sempat keluar, tangannya sudah ditarik oleh Angga hingga kembali terduduk tepat di pangkuan pria itu.


" Angga, tubuhku sudah kedinginan," protes Jelita.


" Aku akan mengganti airnya dengan air hangat. Aku pasti akan menghangatkanmu." Angga langsung membuka penutup yang ada di sudut bak mandi hingga airnya perlahan mengalir keluar.


Jelita menghembuskan nafasnya kasar. Akhirnya berdiam diri sampai bak kembali terisi penuh dengan air hangat.

__ADS_1


" Sebentar lagi, aku bahkan belum merasa puas mandi bersamamu. Jarang sekali kita melakukan hal ini. " Angga mendekap tubuh Jelita dari belakang lalu menyembunyikan kepala di ceruknya. Pria itu sesekali menghirup aroma tubuh Jelita yang selalu saja menggodanya.


__ADS_2