
" Bukankah kau Jelita ? " tanya seorang koki yang ada di restoran itu.
" Diego ? Kau beneran Diego ? " tanya Jelita sembari menatap pria itu.
" Iya benar. Aku Diego teman SMAmu," sahut Diego sembari duduk di depan Jelita. Pria itu berkali-kali melirik ke arah Fino. Dua bulan yang lalu Diego mendapatkan kabar kalau gadis itu batal menikah karena Mila. Saat mendengar itu , hatinya langsung bahagia, tapi sekarang hatinya kembali sakit melihat Jelita bersama pria lain. Harapannya langsung pupus begitu saja.
" Kau bekerja di sini ? Bukankah kau tinggal di luar negeri ? " tanya Jelita dengan raut wajah penasaran.
" Aku baru sebulan di sini. Dan ini adalah restoranku sendiri ," sahut Diego sembari terus menatap gadis itu. Dari dulu pria itu menaruh hati pada Jelita , tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya . Dulu dia hanyalah orang miskin yang selalu di pandang rendah oleh Mila. Setiap ingin menyatakan perasaannya pada Jelita , Mila pasti datang menghinanya, hingga Jelita menjadi kekasih Dion. Akhirnya dia memilih memendam perasaannya . Diego juga tahu kalau Dion selingkuh dengan Mila. Setiap ingin mengatakan perselingkuhan mereka pada Jelita, Mila dan Dion pasti datang mengancamnya. Hingga akhirnya dia bertekad ingin menjadi orang sukses dan ingin merebut Jelita dari pria bajingan itu. Karena mendapatkan beasiswa , dia akhirnya bisa kuliah di luar negeri, bekerja di sana beberapa bulan , lalu bisa membuka restoran sendiri.
Entah bagaimana reaksi Jelita jika tahu kalau Diego dari dulu sudah tahu mengenai perselingkuhan Mila dan Dion ?
" Kau hebat sekali. Aku masih ingat kalau dulu kau suka sekali memasak dan ingin sekali memiliki restoran sendiri. Sekarang akhirnya keinginanmu itu terwujud juga. Selamat ya Diego. Kau memang hebat," ucap Jelita sembari tersenyum bangga pada Diego.
" Andai kau tahu kalau aku bisa seperti ini karena berkatmu, tapi sekarang harapanku telah hancur setelah melihatmu bersama pria lain," batin Diego dengan raut wajah sedih. Gadis itu tidak pernah tahu kalau Diego selama ini mencintainya.
" Terima kasih. Apa kau bekerja di kantor itu ? " tanya Diego sambil menunjuk kantor yang ada di depannya. Diego pernah mendengar kalau pemilik perusaahan itu adalah orang paling kaya di kota ini.
" Iya benar. Oh iya , aku hampir lupa. Kenalkan ini sepupuku , namanya Fino. Dia juga satu kantor denganku," ucap Jelita sambil melirik Fino yang ada di sampingnya. Pria itu terlihat cemburut karena Jelita dari tadi asyik mengobrol dengan temannya.
" Kau selalu begitu, selalu melupakanku," balas Fino yang tetap memasang wajah cemberut.
" Maaf , aku benar-benar lupa kalau saat ini sedang bersamamu," jawab Jelita yang merasa sangat bersalah pada sepupunya.
Raut wajah Diego yang tadinya sedih dalam seketika langsung berubah ceria setelah mendengar kalau pria yang ada di samping Jelita ternyata adalah sepupu gadis itu.
__ADS_1
Tiba- tiba Alex datang dan menghapiri Jelita yang tengah asyik mengobrol.
" Alex ? " ujar Jelita. Perasaan gadis itu mendadak jadi tidak enak. Dia sudah dapat menebak kalau Alex mencarinya pasti karena di suruh oleh Angga.
" Nona, tuan Angga memanggil anda," ucap Alex sembari menatap gadis itu. Dari tadi bosnya terus marah-marah padanya ketika tahu kalau istrinya pergi ke restoran yang ada di depan kantornya.
"Diego , maaf ya ? Aku harus kembali ke kantor," ucap Jelita dengan sopan.
" Iya tidak apa-apa. Jika ada waktu datanglah kemari. Aku akan membuatkanmu makanan yang sangat enak," balas Diego sambil tersenyum.
" Baiklah , aku akan datang jika ada waktu," sahut Jelita yang kemudian meninggalkan Diego.
" Apa kau tidak minta izin pada calon suamimu saat akan pergi ? " tanya Fino dengan raut wajah penasaran.
" Pasti calon suamimu saat ini sedang marah. Seharusnya kau minta izin dulu saat akan pergi ke restoran. Apalagi calon suamimu itu cemburuan sekali. Pasti setelah ini kau akan di hukum," kata Fino menakut-nakuti Jelita. Mendengar ucapan Fino, Jelita merasa merinding membayangkannya.
" Apa Angga akan menghukumku ? Apalagi pria itu kalau marah sangat menakutkan sekali," batin Jelita dengan perasaan takut. Jelita sering melihat Angga marah-marah pada Alex dan karyawan lainnya. Melihat itu dia sangat ketakutan.
Setelah sampai di ruangannya , Jelita langsung memeriksa beberapa jadwal kegiatan Angga selama seminggu ke depan. Dia pura-pura tidak menyadari kalau Angga saat ini berdiri di depannya.
" Habis dari mana ? " tanya Angga dengan raut wajah datar.
" Kau pasti sudah mengetahuinya dari Alex ," sahut Jelita dengan ketus. Dia tak berani menatap pria itu. Dia yakin kalau Angga pasti sangat marah padanya.
" Kenapa tidak memberitahuku kalau mau pergi ke restoran depan ? Aku bisa menemanimu," ucap Angga yang terus menatap gadis itu.
__ADS_1
" Aku ke restoran karena Mila mencariku. Dan aku juga keluar tidak membawa ponsel ," jawab Jelita yang terus menunduk.
" Kenapa terus menunduk ? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ? " tanya Angga yang kemudian berlutut di depan gadis itu. Dia terus menatap Jelita yang saat ini duduk di kursinya , namun gadis itu tak mau menatapnya. Angga lalu mengangkat tubuh Jelita.
" Angga turunkan aku. Nanti ada yang datang, " ujar Jelita dengan perasaan tak tenang. Angga membawanya ke sofa. Pria itu duduk di sana sedangkan Jelita duduk di pangkuannya.
" Kenapa tidak mau menatapku ? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ?" tanya Angga lagi dengan alis mata terangkat. Pria itu merasa penasaran melihat tingkah Jelita yang tiba-tiba aneh begitu.
" A_aku hanya takut di marahi olehmu. Aku takut melihat wajahmu saat marah. Kau terlihat sangat menakutkan jika sedang marah," jawab Jelita dengan jujur.
" Apa wajahku semenakutkan begitu ? Bahkan calon istriku sampai takut padaku," batin Angga sembari menatap gadis itu.
" Sayang, aku sangat mencintaimu. Semakin lama bersamamu , aku juga semakin mencintaimu. Mana mungkin aku memarahimu hanya masalah seperti itu. Itu tidak mungkin," sahut Angga.
Wajah Jelita tampak terkejut mendengarnya. Dia kira akan di marahi habis-habisan oleh Angga. Karena dulu saat dia bersama Dion , salah sedikit saja gadis itu pasti di marahi. Terlalu lama menunggu juga dia di marahi . Tapi ternyata Angga berbeda.
Tubuh Jelita membeku ketika merasakan hembusan nafas Angga, bahkan matanya berlahan terpejam. Hati dan pikirannya tidak pernah sejalan. Terlebih lagi tubuhnya selalu berkhianat setiap Angga menyentuhnya. Dia tidak pernah bisa menolak sentuhan Angga. Ada gelayar aneh yang mulai menjalar dari ujung kepalanya.
Angga mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan Jelita. Sebelah tangannya mulai bergerak menelusuri pipinya yang mulus. Mengamati setiap inci wajahnya dengan seksama.
" Aku merindukanmu. Nanti malam kita pergi ke rumah orang tuaku untuk membicarakan pernikahan kita. Aku sudah tidak sabar ingin menikah denganmu," terang Angga.
Angga lalu menyerang bibir tipis Jelita yang berwarna merah muda dengan sangat agresif. Melum*tnya dengan sangat lembut. Jelita melenguh, pikirannya ingin menolak justru pikirannya lemas. Jelita mengalungkan kedua tangannya di leher Angga.
Suhu udara yang terasa hangat kini semakin memanas akibat ciuman panas yang mereka lakukan.
__ADS_1