
Kayra sungguh kaget ketika mendapat telepon dari rumah sakit yang mengatakan kalau Papanya meninggal dunia. Dia sungguh - sungguh tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Badannya langsung menjadi lemas dan tidak memiliki kekuatan sama sekali. Air matanya langsung tumpah dengan begitu saja tanpa dia sadari. Dengan tenaga yang masih tersisa , Kayra langsung pergi ke rumah sakit.
Dengan air mata yang masih deras mengalir dari pelupuk matanya, Kayra terus berlari di lorong rumah sakit dengan pakaian yang berantakan dan peluh keringat yang membasahi. Dia ingin secepatnya sampai di ruangan Papanya.
Rasanya dia tak mampu menerima kenyataan ini. Mana mungkin dia bisa hidup tanpa Papanya ? Dari kecil dia selalu dengan Papanya karena Mamanya meninggal saat melahirkan dirinya. Dia selalu ikut kemanapun Papanya pergi . Apapun yang Papanya katakan dia pasti akan langsung menurutinya asalkan Papanya bahagia.
Setelah sampai di depan ruangan Handoko , Kayra langsung masuk dan melihat Papanya yang sudah di tutup oleh kain putih.
" Papa , kenapa kau meninggalkanku secepat itu ? Kau adalah Papaku yang luar biasa. Kau merawatku dengan baik selama ini. Bukankah kau sudah berjanji akan menemaniku hingga aku menemukan pasangan hidupku ? Lalu kenapa Papa malah ingkar janji ? " teriak Kayra tanpa membuka kain putih yang menutupi wajah Papanya. Air matanya terus menetes tiada henti.
Sedangkan Handoko langsung tersenyum mendengar perkataan putrinya. Dia merasa terharu dengan apa yang di katakan putrinya. Ternyata Kayra begitu menyayanginya.
Beberapa menit kemudian , pintu ruangan itu terbuka. Tampak dua sosok pria masuk ke ruangan itu. Dia adalah Tio dan William. Mereka tampak tersenyum melihat Kayra yang sudah datang.
" Akhirnya kau datang juga ," ucap Tio sembari tersenyum lebar.
Begitu pun dengan William , dia juga tersenyum melihat Kayra. " Selamat datang Kayra," kata William sambil menatap Kayra dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Kedua mata Kayra terbelalak lebar menatap Tio dan William. Dia terkejut melihat Tio dan William yang sudah ada di ruangan Papanya. Kenapa mereka bisa ada di sini ? Sejak kapan mereka mengetahui kalau Papanya ada di rumah sakit ini ? Apakah mereka datang ingin membawanya ke kantor polisi ?
Begitu banyak pertanyaan muncul di pikiran Kayra. Terlihat dengan jelas raut wajah ketakutan di wajah Kayra. Dia takut di bawa ke kantor polisi oleh Tio dan William. "Ke_kenapa kalian bisa ada di sini ? " tanya Kayra dengan perasaan yang tidak tenang.
__ADS_1
" Tentu saja aku datang karena ingin menangkap seorang penjahat," sahut Tio seraya tersenyum menyeringai. Akhirnya dia bisa menangkap dua penjahat yang sudah dia cari selama beberapa hari ini. Setelah mereka di penjara maka pernikahan William dan Alessia akan segera di laksanakan.
Mendengar hal itu Handoko langsung beranjak bangun dari tempat tidurnya hingga membuat Kayra terlonjak kaget dan hampir jantungan.
Kayra sangat terkejut melihat Papanya yang sudah berdiri di sampingnya. Apa yang terjadi ? Bukankah Papanya meninggal ? Lalu kenapa dia baik - baik saja ? Apa yang sebenarnya terjadi ?
" Pa_pa , kau tidak apa- apa ? Apa kau baik - baik saja ? " tanya Kayra dengan terbata - bata dan sedikit menjauh dari Papanya karena merasa takut. Kayra mengira Papanya hidup lagi .
" Papa baik - baik saja. Papa tadi pura - pura meninggal karena mengikuti rencana Tio," ungkap Handoko dengan mata melotot. Dia lalu menjelaskan semua rencana Tio sebelumnya. Tapi dia baru sadar kalau ternyata dirinya dijebak oleh Tio. Kenapa dia sebodoh itu ? Dia bahkan langsung percaya dengan apa yang di katakan oleh Tio. Dia sama sekali tidak merasa curiga dengan Tio. Dia kira Tio percaya dengan apa yang dirinya katakan. Ternyata pria itu sangat pintar.
Handoko menatap Tio dan William dengan tatapan mata yang berapi-api. Andai dia tahu kalau ini adalah jebakan , mungkin dia tak akan mau mengikuti rencana Tio. Walaupun dia berhasil di tangkap namun dia tak akan membiarkan putrinya ikut di tangkap. Dia tak masalah berada di penjara asalkan putrinya tidak ikut di tangkap. Dia tak tega melihat putrinya berada di dalam penjara. " Tio , apa maksud dari semua ini ? Apa maksud dari perkataanmu tadi ? " tanya Handoko lagi dengan raut wajah yang merah padam dan tangan yang sudah mengepal.
William tersenyum licik mendengar pertanyaan Handoko. " Apakah yang di ucapkan oleh Papaku masih kurang jelas ? Kami kesini karena ingin menangkap seorang penjahat dan penjahat itu adalah kalian," terang William dengan tegas.
Raut wajah Handoko semakin marah mendengarnya. "Kalian memang licik dan tak punya hati," teriak Handoko yang tak bisa menerima semuanya. Namun dia juga tak bisa melawan mereka.
" Pa , aku tidak mau berada di penjara," rengek Kayra sambil menatap Handoko dengan raut wajah sedih dan ketakutan. Air matanya pun kembali menetes tanpa dia sadari.
Handoko menatap putrinya. Dia tak tega melihat putrinya yang tampak ketakutan. " Tio, tolong jangan bawa putriku juga. Kau boleh membawaku dan aku juga rela di hukum seumur hidupku , tapi biarkan putriku pergi," kata Handoko dengan raut wajah memohon.
" Kalau aku membiarkan putrimu pergi maka dia pasti akan merencanakan sesuatu untuk membalas semua ini. Aku tahu betul dengan sifat orang seperti kalian," jawab Tio dengan tegas.
__ADS_1
William keluar dari ruangan itu dan beberapa menit kemudian dia datang dengan membawa seorang polisi.
" Pak , cepat tangkap mereka ! " seru William sembari menatap Kayra dan Handoko.
" Tolong, maafkan kami ! Kami janji tak akan melakukan kejahatan seperti kemarin ," ucap Handoko dan Kayra seraya berlutut.
" Pak , bawa mereka ! Mereka berdua sudah banyak melakukan kejahatan," kata Tio lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kediaman Andi.
Setelah mengetahui kalau putrinya bersama dengan kakek dan neneknya , Gilang memutuskan untuk tinggal bersama mereka. Dia akan menganggap Riska dan Andi seperti orang tua kandungnya. Sedangkan nama putrinya kini sudah di ganti dengan nama Mala .
" Gilang , cepat habiskan sarapanmu ! Ini sudah jam delapan pagi, nanti kau terlambat pergi kekantor," kata Riska sembari mengambilkan sarapan untuk Gilang.
" Iya, Bu. Oh iya , apakah Mala sudah bangun ? " tanya Gilang sembari menatap Riska yang saat ini sedang duduk di sampingnya.
" Sudah , saat ini dia sedang bersama dengan kakeknya. Memangnya kenapa ? Apakah kau rindu dengan Mala ? " tanya Riska dengan suara yang lemah lembut. Beberapa hari ini Gilang memang selalu lembur karena baru saja naik jabatan. Karena itu dia jadinya tidak bisa bermain dengan putrinya. Setiap dia pulang dari bekerja , Mala pasti sudah tidur.
" Kalau kamu merindukannya lebih baik setelah selesai makan temui Mala dan gendong sebentar," terang Riska sembari tersenyum.
__ADS_1
" Iya , Bu , " jawab Gilang dengan sopan.