
" Mau pergi ke mana ? " tanya William mengingat sudah lima belas menit mobil melaju tapi Jelita tak mengatakan ke mana tujuan mereka.
" Entahlah, "sahut Jelita seraya menghela nafas panjang. Dia lantas menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Mengingat lagi semua yang telah terjadi.
" Kenapa dia tak bisa percaya kepadaku ? " kata Jelita pada dirinya sendiri.
" Jika masih ingin marah , kau bisa meluapkan semuanya. Jangan dipendam terlalu lama," ucap William.
" Tidak semua yang aku rasakan bisa diluapkan begitu saja," sahut Jelita dengan kesal.
Tanpa mengatakan apapun atau meminta persetujuan dari Jelita, William melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat. Setiap wanita yang sedang dirundung masalah biasanya membutuhkan tempat yang dapat memanjakan mata mereka dan tempat yang bisa menenangkan perasaan. Meski tidak dapat menyelesaikan masalah, tapi setidaknya mampu menghibur perasaan mereka.
Jelita terlalu sibuk atas pikirannya sendiri hingga dirinya tak menyadari kalau mobil sudah berhenti di depan sebuah taman yang berada di pusat kota.
" Kenapa berhenti ?" tanya Jelita sembari memandang William dengan dahi berkerut.
" Aku pikir kau perlu tempat yang sejuk dan tenang . Di sini kita bisa memanjakan mata sehingga pikiranmu bisa tenang," terang William lalu keluar dari mobil terlebih dahulu. Tak perlu menjelaskan terlalu detail, biarlah Jelita sendiri yang nantinya menikmati tempat itu.
" Ayo keluar," ajak William sembari membukakan pintu untuk Jelita.
Jelita yang awalnya masih duduk akhirnya keluar juga dari mobil setelah melihat taman yang ada di depan matanya. Benar saja, melihat hamparan dedaunan yang tumbuh subur dan hijau menyebabkan kedua mata sejuk dan perasaannya sedikit tenang.
" Aku tak ingin masuk, " tolak Jelita meski hati kecilnya begitu ingin masuk ke dalam sana.
" Kenapa ? Apakah kau takut kalau aku mungkin melakukan sesuatu yang tidak senonoh padamu ? Kalau aku menginginkannya, mungkin aku sudah melakukannya saat berada di rumah," terang William seraya mendengus.
" Ugh," gerutu Jelita sembari memutar bola matanya.
" Lagi pula buat apa kau memikirkan laki-laki seperti itu? Besok Papa akan mengumumkan kalau kau adalah putri kandungnya. Papa juga akan meminta Bibi Murni untuk menjelaskan semuanya pada media. Hasil tes DNA juga sudah keluar. Aku yakin setelah suamimu melihat berita itu, dia pasti akan langsung mencarimu dan mengucapkan kata maaf," kata William yang berusaha menghibur Jelita.
Jelita hanya diam saja. Tak ingin mendengar celoteh William yang menyebabkan dadanya terasa sakit, Jelita melangkah terlebih dahulu menuju pintu masuk taman.
__ADS_1
" Dia memang wanita yang langka," kata William sambil tersenyum.
Jelita terus melangkah melewati berbagai jenis tanaman pada sisi kanan dan kirinya. Seandainya saja datang ke sana bersama orang yang kita cintai pasti jauh lebih menyenangkan. Bisa bersandar di pundaknya sambil bergelayut manja.
Wanita itu menarik nafas pelan. Dia tak bisa terus-menerus mengingat Angga.
Jelita mempercepat langkahnya , tak peduli dengan William yang entah pergi ke mana. Tak berselang lama, dia sudah sampai di pinggiran kolam luas yang ada di taman tersebut.
Jelita lantas duduk pada salah satu kursi yang ada di bawah pohon untuk berteduh. Berhubung cuaca siang ini cenderung panas seperti hatinya.
Wanita itu mengambil kerikil kecil di tanah ,lalu meletakkannya di genggaman. Kemudian dia melemparkannya satu persatu ke dalam kolam.
" Minumlah, tak baik duduk melamun seorang diri," ujar William seraya menyodorkan sebotol air mineral pada Jelita lalu duduk di sebelahnya.
Lamunan Jelita seketika buyar. Dia mengira William mungkin sudah menghilang tapi ternyata pria itu masih menyusulnya. Tak ingin terlalu dekat dengan William, Jelita menggeser bokongnya sedikit menjauh hingga di kursi.
" Duduklah dengan tenang. Aku tidak akan menyebarkan virus negatif untukmu. Kau justru akan merasa nyaman duduk di sebelah pria tampan seperti diriku," tutur William.
" Kenapa kau peduli padaku ? " tanya Jelita . Mereka berkenalan kemarin malam, aneh saja ada orang yang tiba-tiba peduli kalau tidak ada suatu tujuan tertentu.
" Haruskah aku menjelaskan alasannya ? " William menoleh, memandang wajah Jelita yang kebetulan sedang melirik ke arahnya. Wajah manis itu selalu menarik perhatiannya dari dulu.
" Tentu saja, kita baru kemarin bertemu dan belum saling kenal. Apa yang membuatmu peduli padaku ? " tanya Jelita dengan pandangan menelisik.
William menggigit ujung kukunya beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan Jelita.
" Aku menyukaimu," celetuk William. Tak ada kata-kata lagi yang bisa dia ucapkan saat ini.
Bukannya senang apalagi berdebar, Jelita justru memutar bola matanya lalu berdecak. Apakah pria itu pikir dirinya begitu mudah bisa ditipu ? Siapa yang akan percaya kalau seseorang bisa jatuh cinta untuk pertama kalinya ?
" Kenapa ? Apakah aku terlihat seperti seorang penipu ? " tanya William dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
" Ya, kau memang penipu,"sahut Jelita
" Kau harus tahu kalau dirimu sangat spesial di mataku," sahut William yang terus memandang Jelita.
Perut Jelita bergejolak. Terasa mual mendengar omong kosong William yang tidak masuk akal. Siapa yang akan percaya ? Jatuh cinta tanpa adanya saling mengenal hanyalah sebuah omong kosong. Terlebih lagi dirinya masih bersetatus istri Angga.
" Berhentilah membual kalau tidak aku akan memukulmu hingga babak belur," ancam Jelita.
" Bahkan jika kau mau, aku rela babak belur asalkan kau mau bersamaku." William berucap dengan santai.
" Dasar pria gila .Aku sudah memiliki suami. Dan seandainya aku bercerai , aku juga sudah memutuskan tidak ingin menikah lagi. Lebih baik tidak usah mengucapkan itu lagi," terang Jelita.
" Aku akan terus mengucapkan kata cinta hingga kau bisa menerimaku," kata William.
Jelita geram sendiri berbicara dengan William. Jika dilanjutkan maka dia yang akan gila sendiri.
" Jangan ikuti aku, aku ingin sendiri." Jelita bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan William seorang diri.
" Kenapa kau tidak mengingatku ? Padahal aku begitu merindukanmu. Aku ingin sekali memelukmu seperti waktu dulu . Saat aku akan pergi , kau menangis begitu kencang dan memohon agar aku tidak meninggalkanmu. Dulu aku pernah berjanji di makam Ibumu kalau aku akan menikahimu dan membahagiakanmu," gumam William di dalam hatinya. Dulu dia selalu menemani Jelita dan membantu gadis itu sebisanya. Dia selalu memeluk dan menghapus air mata gadis itu. Terkadang kotak obat selalu ada di dalam tasnya agar bisa mengobati tubuh Jelita jika gadis itu di pukul orang tuanya.
Dia lalu menyusul Jelita yang masih menikmati indahnya pemandangan di sana.
" Ayo pulang , ini sudah sore. Papa pasti mencemaskanmu," ajak William seraya menengadahkan wajahnya menghadap langit.
" Pulanglah. Aku bisa pulang sendiri," sahut Jelita.
" Aku tak bisa meninggalkanmu di sini sendiri," balas William. Dia menatap Jelita dengan raut wajah yang penuh kerinduan.
" Aku merindukanmu," ucap William yang sontak membuat Jelita terkejut dan langsung menatap pria itu.
" Dasar gila," sahut Jelita semakin kesal.
__ADS_1