
Alessia yang berbaring di sofa tiba-tiba menatap tubuh William yang begitu membuatnya tergoda. Dia menatap William seperti melihat sebuah makanan lezat . Alessia lalu mendekati William yang sedang berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi.
Alessia bergerak cepat , dalam hitungan detik dia lantas mendaratkan ciuman lembut di bibir William.
William berusaha mendorong Alessia , dia tak ingin melakukannya dalam keadaan seperti ini. Dia ingin pergi kamar mandi untuk berendam , tapi Alessia malah menarik tangannya lagi dan mendaratkan ciuman di bibir William. Alessia ******* bibir William dengan lembut dan dalam .
" Sayang ," panggil Alessia dengan tatapan berkabut. Sejak tadi dia sudah berusaha menahan sesuatu yang berkobar di dalam tubuhnya.
"Untung aku hanya meminum minuman itu sedikit saja. Aku harus bisa menahannya, karena kalau aku melakukannya maka Alessia pasti membenciku," pikir William yang masih memiliki sedikit kesadaran.
William berusaha membopong Alessia yang tampak sudah tidak terkendali karena beberapa kali hendak membuka seluruh pakaiannya . Dia membawa wanita itu ke sofa.
" Sayang , jangan pergi ! Alessia menarik tangan William cukup kuat ketika dia hendak beranjak.
" Aku tidak akan ke mana-mana. Aku hanya ingin mengatur agar suhu di ruangan ini terasa jauh lebih dingin," ucap William seraya memijat kepalanya yang semakin terasa sakit.
Alessia menyandarkan kepalanya di bahu William sambil meraba dadanya yang bidang. Seulas senyum nakal terukir dari bibirnya.
" Sayang ,apakah kau tidak menginginkanku ? " ujar Alessia dengan tatapan sayu.
William menahan pergelangan tangan Alessia yang sudah bergerak nakal.
" Alessia , jangan lakukan ini ! " seru William dengan lembut.
Walaupun Alessia dalam keadaan sadar bicara seperti itu, dia tetap akan menolaknya. Dia hanya akan melakukannya jika wanita itu sudah sah menjadi istrinya.
William mencoba menghubungi Papanya , namun Tio sama sekali tak menjawab telepon darinya. Bahkan dia sampai sepuluh kali menghubunginya
" Apa kau tak mencintaiku ? " tanya Alessia. Pikirannya sudah semakin kacau , tidak ada hal lain di dalam benaknya selain keinginan untuk bercinta. Sedangkan William berusaha menahan keinginannya itu.
William memijat ujung pelipisnya. Sejenak mencari cara agar Alessia cepat tersadar.
" Alessia , lebih baik kita berendam dulu di kamar mandi." William bangkit dari tempat duduknya lalu membantu menegakkan tubuh Alessia yang sempoyongan. Berkali-kali dia dan Alessia terjatuh , tapi dia kembali bangun dan membantu Alessia.
Alessia menggelengkan kepalanya dengan tatapan berkabut.
__ADS_1
" Aku tidak mau, aku hanya menginginkanmu," tolak Alessia sembari mencebikkan bibirnya.
" Setelah kau sadar kita akan melakukannya selama yang kau mau," terang William berbohong.
Pria itu berusaha membawa Alessia ke dalam kamar mandi. Hanya itu satu-satunya cara agar Alessia lebih cepat tersadar. Sedangkan cara yang lain belum bisa dilakukan.
" Dengan berendam di air dingin seperti ini tubuh kita tidak akan terasa terlalu panas," terang William lalu menghidupkan kran untuk mengisi air bathtub.
" Apakah kau tidak mau mandi bersamaku ?" Alessia kembali menarik tangan William dengan kuat hingga jarak wajah mereka cukup dekat.
William mengerjapkan kelopak matanya. Jantungnya seketika berdetak kencang akibat nafas Alessia yang menerpa wajahnya.
Belum sempat William beranjak menjauh , Alessia sudah terlebih dahulu menyatukkan bibirnya. Menggerakkan lidahnya dengan agresif karena meminta balasan dari William.
Sebagai pria normal , William akhirnya membalas lum*tan bibir Alessia. Namun sebisa mungkin dia mengontrol pikirannya agar tidak bertindak lebih jauh dari itu. Dia bisa merasakan ciuman Alessia yang sangat agresif. Sepertinya obat perangsang itu sangat menyiksa persaannya.
William menarik diri, berusaha melepaskan ciuman mereka.
Alessia mengerucutkan bibirnya , kesal karena belum puas tapi William sudah mengakhiri ciumannya.
William menjauhi Alessia , dia lantas duduk di bawah shower dan mulai menghidupkan shower. Dia membiarkan air membasahi tubuhnya.
Satu jam kemudiam.
William dan Alessia masih berada di dalam kamar mandi sambil memijat kepalanya yang berdenyut. Keadaannya sudah jauh lebih baik sekarang.
" William, apa yang kau lakukan padaku ? Kenapa aku jadi seperti ini ? " teriak Alessia dengan raut wajah berapi- api. Air matanya mengalir tiada henti , dan tubuhnya gemetar dengan hebat. Dia sungguh kecewa dengan William.
" Aku kira kau berbeda dengan pria lainnya , tapi ternyata kau sama saja dengan mereka," teriak Alessia yang terus meneteskan air matanya.
" Alessia, aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sama sekali tidak melakukan itu. Aku juga tak tahu kenapa bisa seperti ini. Setelah meminum minuman itu , tiba-tiba keadaan kita seperti ini. Aku mohon percayalah padaku," terang William dengan raut wajah sedih.
" Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu ? Aku tadi hanya meminum minumanmu, aku yakin pasti kau sendiri yang menaruh sesuatu ke dalam minuman itu," teriak Alessia lagi.
" Aku bahkan tidak terlalu ingat apa yang terjadi ," pikir Alessia sembari menjambak rambutnya sendiri kuat - kuat.
__ADS_1
" Tapi aku bicara jujur , Alessia. Percayalah padaku ! " kata William.
" Hacihhh ... " Terlalu lama berendam di dalam air dingin, Alessia merasa kurang enak badan. Sejak tadi dia sudah bersin-bersin karena hidungnya terasa gatal.
" Apakah kau sakit ? Apakah kau masih pusing ? " tanya William dengan raut wajah cemas sambil mengamati hidung Alessia yang memerah.
" Bukan urusanmu," sahut Alessia dengan ketus. Bagaimana mungkin dia tidak pusing ? Walaupun keadaannya sudah membaik tapi kepalanya masih sedikit terasa pusing.
" Gantilah bajumu dengan bajuku ini," ucap William seraya memberikan baju miliknya pada Alessia .
Alessia memgambil baju itu tanpa menatap William sedikit pun. Dia benar - benar marah pada pria itu.
"Alessia, aku mohon percayalah padaku ! Aku akan membuktikannya kalau aku benar- benar tidak tahu apa-apa," kata William yang kemudian meninggalkan Alessia di dalam kamar mandi.
Setelah William keluar, Alessia langsung menumpahkan air matanya.
" Kenapa kau harus melakukan ini padaku ? Padahal kita sebentar lagi akan menikah. Aku sudah merasa nyaman berada di sampingmu tapi kau malah melakukan semua ini," gumam Alessia seraya menangis terisak -isak.
Beberapa menit kemudian Tio dan Angga datang setelah William menghubunginya lagi.
" William , apa yang terjadi ? " tanya Tio seraya menatap putranya dengan raut wajah cemas.
" Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi, Pa." William lalu menceritan semuanya dari awal hingga berakhir seperti sekarang.
" Jadi sekarang Alessia marah padamu ?" tanya Angga seraya menaikkan alisnya.
" Iya, sepertinya dia sangat membenciku," sahut William dengan raut wajah sedih.
" Sepertinya ada yang menaruh obat perangsang ke minumanmu . Lebih baik kita panggil pelayan itu," ujar Tio yang kemudian keluar dari ruangan William dan pergi untuk mencari pelayan yang membuatkan minuman untuk William.
Tak berselang lama Alessia keluar dari kamar mandi . Dia sangat terkejut saat melihat Angga ada di ruangan William.
" Angga ? Kau ada di sini ? " tanya Alessia seraya menatap Angga.
" Iya , aku baru saja datang untuk menyelidiki semuanya. Apakah kau baik-baik saja ? " tanya Angga .
__ADS_1
" Aku baik-baik saja. Angga , bisa tolong antarkan aku pulang ? " tanya Alessia lagi. Dia sama sekali tidak ingin di antar oleh William . Bahkan dia pun tak mau menatap calon suaminya itu.
" Baiklah , " sahut Angga yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Nanti dia akan coba bicara dengan Alessia , dan mudah-mudahan wanita itu percaya kalau semua ini bukan perbuatan William.