
Kediaman Wijaya.
Dari tadi pagi Yuni tak henti-hentinya tersenyum. Hatinya begitu senang setelah mendengar kabar dari Tio kalau anak dan menantunya tak jadi bercerai. Mereka saat ini sedang pergi berbulan madu. Memang sulit memisahkan orang yang masih saling mencintai. Walau sebesar apapun masalah yang datang , kalau mereka berjodoh pasti akan tetap bersama. Dia sangat yakin kalau setelah ini hubungan mereka pasti akan semakin kuat. Kali ini pasti akan sangat sulit memisahkan mereka.
Wanita itu melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan di mana Papa mertuanya berada. Dari kemarin Papa mertuanya terus menghubunginya dan memintanya agar datang ke rumahnya. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh Tuan Jaya , dia sendiri juga tak tahu. Dia juga tak pernah dekat dengan Papa mertuanya. Semenjak dulu beliau menamparnya , dia tak lagi tinggal di rumah ini. Saat itu dia dan Rangga terpaksa membeli rumah agar tidak ada lagi pertengkaran antara dirinya dan mertuanya.
Dulu mertuanya selalu berusaha memisahkan dirinya dengan Rangga. Mereka tak menyukainya lantaran dia hanya anak seorang petani. Dulu begitu banyak masalah datang dalam rumah tangganya karena ulah mertuanya. Yang sangat menyakitkan baginya adalah ketika Mama mertuanya ingin memisahkannya dengan Angga. Setiap hari mertuanya selalu menghinanya , namun dia berusaha untuk bersabar . Untung saja Rangga selalu setia dengannya dan selalu menghiburnya agar bersabar menghadapi mereka.
Tok...tok...tok...
Yuni mengetuk pintu ruangan itu berkali-kali sambil memanggil nama Papa mertuanya.
__ADS_1
" Masuk ! " ucap Papa mertuanya dari dalam.
Yuni menyentuh gagang pintu lalu membukanya dengan pelan. Setelah pintu terbuka dia melihat Papa mertuanya sedang membawa sebuah foto. Dia sangat yakin kalau itu pasti adalah foto milik almarhum Mama Dewi. Beliau sangat mencintai almarhum istrinya. Tak pernah sedikitpun dia menyakiti hati istrinya. Selama ini apapun yang istrinya minta pasti dia kabulkan.
" Selamat pagi , Pa . Apa kau sudah sarapan ? " tanya Yuni seraya menatap punggung Papa mertuanya.
" Duduklah ! Aku ingin bicara sesuatu yang penting denganmu ," ucap Tuan Jaya dengan raut wajah yang datar.
Ternyata sikap Papa mertuanya masih sama seperti dulu. Padahal dia begitu berharap Papa mertuanya menerimanya. Dia juga ingin mengurus beliau , mengobrol , atau mengajaknya jalan - jalan. Dia yakin beliau pasti bosan karena semenjak almarhum Mama mertuanya pergi beliau selalu mengurung diri setiap hari.
" Kenapa kau membiarkan Angga pergi mencari istrinya ? " tanya Tuan Jaya dengan tatapan yang sangat tajam. Dia tak suka Angga dan Jelita berbaikan. Kali ini dia sangat membenci Jelita , karena gara-gara gadis itu istrinya jadi meninggal. Padahal semua masalah yang terjadi bisa diselesaikan secara kekeluargaan , tapi Tio malah melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib. Mereka memang sangat keterlaluan. Sampai kapanpun dia tak akan menerima Jelita sebagai menantu di keluarga Wijaya.
__ADS_1
" Kenapa Papa bicara seperti itu ? Mereka adalah sepasang suami istri. Tidak baik sepasang suami istri tinggal terpisah terlalu lama. Apalagi saat ini Jelita sedang hamil. Wanita hamil sangat membutuhkan perhatian dari suaminya," terang Yuni menjelaskan . Keluarga Wijaya memang sangat aneh. Mereka tak pernah membiarkan anak-anaknya menentukan pilihannya sendiri. Mereka selalu berusaha mengatur kehidupan anak mereka. Padahal sang anak berhak menentukan pilihannya sendiri. Di keluarga ini hanya suaminya yang tak pernah mengikuti semua ucapan orang tuanya. Rangga tak ingin hidupnya diatur-atur. Apalagi kalau berhubungan mengenai masalah hati. Karena itu dia tak pernah memaksa apapun keinginan putranya. Dia selalu membebaskan Angga menentukan pilihannya sendiri. Dia hanya ingin anaknya bahagia dan tidak tertekan.
" Apa kau lupa , gara-gara menantu kesayanganmu itu Mama mertuamu jadi meninggal ? Wanita itu tidak pantas menjadi menantu keluarga Wijaya. Setelah anak yang ada di dalam kandungan Jelita lahir , suruh Angga menceraikan wanita itu. Dan jangan biarkan wanita itu mendekati bayinya," ucap Papa mertuanya yang langsung membuat Yuni begitu terkejut.
Tega-teganya dia ingin memisahkan anak dan menantunya . Sampai kapanpun dia tak akan membiarkan Angga dan Jelita berpisah. Kebahagiaan putranya ada pada diri Jelita. Memisahkan mereka sama saja membuat Angga menderita. Orang tua yang baik pasti akan berusaha membantu agar rumah tangga mereka tidak hancur , bukan malah sengaja membuat rumah tangga mereka hancur.
" Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan anak dan menantuku berpisah. Mama mertua meninggal bukan karena Jelita , tapi itu semua murni karena kesalahannya sendiri. Sudah berkali-kali dia merencanakan ingin menyakiti Jelita , tapi menantuku selalu memaafkannya. Saat Mama mertua melakukan hal itu kenapa Papa hanya diam saja ? Seharusnya Papa berusaha memberitahu Mama mertua agar tidak melakukan hal seperti itu. Bukannya malah mendukung semua yang dilakukan oleh almarhum Mama mertua," terang Yuni yang berusaha membela menantunya.
" Dasar kau wanita miskin . Kau selalu saja melawan . Kalau kau tak mau membuat Angga dan Jelita berpisah maka perusahaan keluarga Wijaya tidak akan pernah aku berikan pada Angga. Dan aku akan memberikannya kepada cucuku yang lain, " ancam Papa mertuanya.
" Aku tidak takut dengan ancamanmu. Apa Papa lupa kalau Angga telah memiliki perusahaan sendiri ? Selama ini dia tak pernah menggunakan uang keluarga Wijaya. Dan apa kau lupa dengan identitas Jelita ? Menantuku itu adalah putri Tio . Jadi dia tak membutuhkan perusahaanmu itu. Yang aku dengar, Tio telah memberikan setengah kekayaannya kepada putrinya. Dari dulu sifat Anda tak pernah berubah. Selalu merasa kalau diri Anda adalah orang yang paling kaya. Padahal kenyataannya masih ada orang yang lebih kaya dari Anda? " sahut Yuni. Mertuanya dari dulu selalu merasa dirinya paling kaya di dunia ini. Dan terkadang mereka selalu menghina orang miskin seperti dirinya.
__ADS_1
" Kalau begitu mulai sekarang kalian keluar dari keluarga Wijaya. Mulai sekarang dan seterusnya , jangan pernah injakan kaki kalian di rumah ini. Aku tak sudi memiliki keluarga yang tidak mau mengikuti setiap ucapanku. Dan mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah memanggilku dengan sebutan Papa. Dan jangan lupa kau beritahu juga anak dan suami," kata Papa mertuanya dengan wajah berapi-api. Wajahnya terlihat sangat marah karena Yuni selama ini tak pernah mau mendengarkan ucapannya. Tak hanya Yuni, Rangga pun juga begitu , anaknya itu juga selama ini tak pernah mendengarkan apapun yang dia dan istrinya katakan. Ketika dulu Yuni dan Rangga menikah, dia juga tak pernah setuju dengan pernikahan mereka karena Yuni hanyalah wanita yang terlahir dari anak seorang petani miskin. Namun putranya sama sekali tak pernah mendengarkan ucapan kedua orang tuanya. Rangga tetap melaksanakan pernikahan walaupun tak ada kedua orang tuanya. Dan sekarang sifat Rangga sangat mirib dengan Angga. Cucunya tersebut juga seperti itu , dari SMA Angga memilih ingin tinggal sendiri karena tidak suka kehidupannya diatur-atur.
" Tidak masalah . Dengan senang hati kami akan keluar dari keluarga Wijaya. Kalau begitu aku permisi," ucap Yuni yang langsung meninggalkan Papa mertuanya.