
Saat William ingin menghubungi orang suruhannya, tiba-tiba dia mendapatkan pesan Wa dari Tio yang langsung membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Mata William langsung basah sambil menatap layar ponselnya. Air matanya jatuh bercucuran tiada henti.
William lalu menghubungi orang suruhannya untuk menanyakan apa yang telah terjadi di rumah Andi. Ketika anak buahnya menjelaskan semuanya, dia akhirnya mengerti kenapa Papanya meminta dia datang ke rumah sakit.
Kenapa harus adiknya yang meminum minuman beracun itu ? Kenapa Tuhan begitu tega pada adiknya ? Tidak bisakah Jelita hidup bahagia untuk sebentar saja ?
" Seharusnya Papa mendengarkan ucapanku. Tapi dia malah begitu keras kepala. Sekarang begini sudah jadinya. Jelita pergi untuk selamanya karena rencana Papanya sendiri. Maafkan kakak , Jelita. Seharusnya Kakak tidak membiarkanmu pergi," gumam William yang terus meneteskan air matanya. Dia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ternyata Tio menghubunginya berkali-kali, tapi William tak mengangkat telepon dari Papanya. Dia langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju ke rumah sakit. Dia ingin melihat wajah adiknya untuk yang terakhir kalinya.
William mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sama sekali tak memikirkan keselamatannya karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Jelita.
Setengah jam kemudian , William akhirnya sampai di rumah sakit. Dia langsung berlari mencari keberadaan Jelita dan Papanya. Hingga akhirnya dia melihat Papanya sedang duduk sendirian di depan sebuah ruangan.
" Pa , bagaimana keadaan Jelita ? Apa dia bisa di selamatkan ?" tanya William dengan raut wajah yang begitu sedih.
Tio menghela nafas sambil menatap putranya yang terlihat sangat sedih. Pasti William mengira kalau Jelita telah meminum racun itu. Padahal tadi dia sudah berkali-kali menghubungi William untuk mengatakan agar putranya tak usah datang ke rumah sakit karena Jelita baik-baik saja, tapi William malah tak mengangkat telepon darinya.
" Kenapa kau tidak mengangkat telepon dari Papa ? " tanya Tio seraya menatap putranya.
" Memangnya untuk apa Papa menghubungiku ? Apa karena ingin mengatakan kalau Jelita sudah meninggal ? Ini semua gara-gara Papa . Coba Papa mendengarkan kata-kataku, mungkin semuanya tak akan jadi seperti ini," teriak William seraya menatap Papanya dengan raut wajah yang sangat marah.
" William, pelankan suaramu. Ini di rumah sakit. Lebih baik kau duduk dan tenangkan dirimu dulu," kata Tio seraya meminta William agar duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Aku tidak ingin duduk. Aku ingin melihat adikku," sahut William dengan raut wajah tanpa ekspresi.
" Seharusnya tadi kau angkat telepon dari Papa agar kau tahu kebenarannya. Sebenarnya adikmu baik-baik saja. Tadi Papa kira minuman beracun itu di minum oleh Jelita, karena tiba-tiba saja adikmu mengatakan kalau kepalanya sakit. Tapi ternyata adikmu sakit kepala karena tekanan darahnya rendah. Sekarang Jelita sedang pergi ke kamar mandi," terang Tio .
" Beneran , Pa ? Papa tidak bohong kan ? " tanya William dengan raut wajah penasaran.
" Ya , benar. Memangnya untuk apa Papa harus berbohong ? " tanya Tio seraya menaikkan sebelah alisnya.
Mendengar hal itu William akhirnya bisa bernafas lega. Berkali-kali dia mengucapkan syukur pada Tuhan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kediaman Andi.
Mila dan nenek Anggi tertawa cukup keras setelah Tio dan Jelita meninggalkan rumahnya. Dia sangat senang ketika melihat keadaan Jelita tadi.
" Kalau begitu kita harus merayakan semua ini. Sekarang ayo kita habiskan semua makanan ini," ajak nenek Anggi yang tidak henti-hentinya tertawa.
" Nenek memang benar. Kita harus merayakan kemenangan ini. Aku sangat senang karena akhirnya Jelita mati juga," ucap Mila yang terus tertawa. Mereka lalu melanjutkan kembali makan malamnya yang tadi sempat tertunda.
Andi dan Riska yang baru saja mengantar Tio ke depan langsung kembali ke ruang makan untuk menanyakan semua yang telah terjadi kepada Mila.
" Mila , sebenarnya apa yang terjadi ? Apa kalian sedang merencanakan sesuatu ? Apakah kalian menaruh sesuatu ke dalam minuman Jelita ? " tanya Andi seraya menatap dengan tajam Mila dan Ibunya secara bergantian. Dia sangat yakin kalau Mila dan Ibunya sedang merencanakan sesuatu untuk Jelita , karena tidak mungkin Tio berbohong apalagi wajahnya terlihat sangat panik. Sebenarnya apa yang ditaruh oleh Mila dan Ibunya di dalam minuman Jelita ?
" Kita memang sedang merencanakan sesuatu untuk Jelita. Aku dan nenek menaruh racun ke dalam minuman Jelita. Karena itu dia tiba-tiba merasakan sakit kepala. Dalam beberapa menit Jelita pasti akan mati, " terang Mila sambil tertawa senang.
__ADS_1
Kedua mata Andi dan Riska terbelalak lebar mendengarnya. Ternyata ucapan Tio memang benar. Mila dan Ibunya hanya pura-pura saja meminta maaf karena ingin menjebak Jelita. Mereka pun dibohongi oleh Ibu dan putrinya sendiri. Andi dan Riska mengira kalau Mila dan Ibunya benar-benar sudah bertobat tapi ternyata mereka sedang merencanakan sesuatu.
Lalu bagaimana keadaan Jelita saat ini ? Apakah Jelita telah meninggal ? Dia sungguh merasa bersalah dengan Jelita dan Tio. Setelah ini Tio dan William pasti akan balas dendam dengan keluarganya. Mereka pasti akan menghancurkan keluarganya. Kenapa Mila dan Ibunya tak pernah berpikir ke sana ? Tio adalah pengusaha yang sangat sukses dan memiliki segalanya , dia pasti akan menggunakan uangnya untuk menghancurkan keluarganya.
" Andi , Riska , kenapa kalian malah diam saja ? Ayo duduk dan rayakan kemenangan kita," ajak Nenek Anggi dengan raut wajah yang sangat senang.
PLAK !
Andi mengangkat tangannya dan langsung menampar pipi Mila dengan cukup keras.
" Kau memang sangat keterlaluan sekali. Padahal dia adalah saudaramu sendiri. Kau dan Jelita terlahir dari rahim yang sama. Selama ini Jelita begitu baik denganmu , tapi kau malah membunuhnya. Aku begitu menyesal memiliki putri sepertimu. Lebih baik sekarang kau pergi dari rumah ini," usir Andi dengan raut wajah yang sangat kecewa.
" Kalian sudah membuat masalah besar. Aku yakin setelah ini Tio dan keluarganya pasti akan balas dendam dengan kita. Apa kalian tak takut akan hal itu ? Aku yakin setelah ini Tio dan putranya pasti akan membunuh kalian," kata Riska dengan raut wajah ketakutan. Dia tahu betul bagaimana sifat Tio dan putranya.
" Andi , apa yang kau lakukan ? Berani sekali kau menampar cucuku ,"teriak nenek Anggi dengan raut wajah yang merah padam.
Mila langsung diam saja. Yang dikatakan oleh Mamanya memang benar. Tio dan keluarganya pasti akan balas dendam. Apalagi dulu Angga pernah hampir membunuhnya. Membunuh Jelita sama saja dengan membunuh dirinya sendiri. Kenapa dia tidak berpikir ke sana sebelum melakukan sesuatu ? Sekarang apa yang harus dia lakukan ? Tio pasti akan membunuhnya setelah ini.
Tiba-tiba Mila merasakan kepalanya teramat sakit. Bahkan dia sampai tak kuat menahan rasa sakit itu dan langsung jatuh pingsan.
Mereka begitu terkejut ketika melihat Mila pingsan. Nenek Anggi berusaha membangunkan cucunya. Ketika Mila telah sadar wanita itu tiba-tiba saja kejang-kejang dan setelah itu keluar busa dari mulutnya.
Kedua mata Nenek Anggi membulat melihat Mila yang seperti itu. Bukankah Jelita yang meminum racun itu ? Lalu kenapa malah Mila yang jadi seperti ini ?
" Ya Tuhan apa yang terjadi dengan Mila ? " ujar Riska seraya meneteskan air matanya.
__ADS_1
Andi mengangkat tubuh Mila dan akan membawanya ke rumah sakit , namun baru saja mereka keluar dari pintu utama Mila sudah menghembuskan nafas terakhirnya.