
" Riska , kenapa kau menangis ? Lalu di mana Mila ?" tanya Nenek Anggi seraya menatap sang menantu yang pulang sendiri sambil menangis.
" Ibu , tolong bantu Mila ! Dia pasti sangat ketakutan saat ini. Mila di bawa ke kantor polisi karena masalah pencemaran nama baik Jelita," tutur Riska seraya menangis sesegukan.
" A_apa ? " ujar Nenek Anggi dengan mata terbelalak lebar karena begitu terkejut mendengarnya. Bahkan gelas yang dia bawa hingga terjatuh .
" Iya ,Bu. Rencana kita gagal . Aku sudah minta maaf dan memohon pada Angga agar mencabut laporannya , tapi dia tidak mau ,Bu. Kita sekarang harus bagaimana ,Bu ? Aku kasihan pada Mila . Dia terus menangis dan mengatakan takut berada di sana," terang Riska dengan air mata yang terus mengalir.
" Jelita memang gadis pembawa sial. Tega sekali dia pada adiknya sendiri. Awas saja kau Jelita, aku akan membalas semua ini," gerutu Nenek Anggi dengan raut wajah merah.
Tiba-tiba Pak Andi datang dan menghampiri mereka," Riska, kenapa Mila bisa berada di kantor polisi ? Tolong jelaskan padaku ! " ujar Pak Andi sembari menatap istrinya.
Riska langsung menceritakan semua yang terjadi selama di sana sambil menunduk. Dia tidak berani menatap wajah suaminya. Dia sangat yakin kalau suaminya pasti akan marah, karena sebelumnya Pak Andi sudah melarang mereka mengganggu kehidupan Jelita. Pak Andi tidak ingin berurusan dengan keluarga wijaya yang sangat terkenal itu, tapi ternyata keluarganya tidak mendengarkan apa yang dia katakan.
" Bukankah sebelumnya aku sudah meminta kalian agar tidak mengganggu kehidupan Jelita lagi ? Apalagi saat ini calon suami Jelita adalah orang paling kaya di kota ini. Aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Tapi kalian malah tidak mendengarkan perkataanku sama sekali. Lalu sekarang kita harus bagaimana ? Aku juga tidak punya uang untuk membebaskan Mila," terang Pak Andi dengan raut wajah bingung dan cemas.
" Maafkan, Ibu. Sebenarnya Ibu yang meminta Mila untuk melakukan semua itu. Ibu tidak terima kalau Jelita bahagia. Gadis itu sudah merebut kebahagiaan Ibu. Gara-gara dia Ayahmu meninggal," ucap Nenek Anggi seraya meneteskan air matanya. Dulu saat Jelita baru lahir, sang suami selalu menghabiskan waktunya bersama Jelita. Bahkan suaminya tidak pernah ada waktu untuknya. Dari baru bangun hingga malam hanya Jelita yang dia temani. Padahal dia ingin sekali duduk bersama sambil mengobrol. Bahkan setelah Mila lahir , suaminya tetap lebih peduli dengan Jelita di bandingkan Mila. Bahkan ketika kecelakaan , sang suami lebih memilih menyelamatkan Jelita di bandingkan dirinya. Itu yang membuat Nenek Anggi begitu membenci Jelita.
" Bu, tidak hanya Ibu yang membenci Jelita tapi aku juga. Karena itu aku berusaha mencari cara agar gadis itu pergi dari sini. Setiap melihat wajahnya aku selalu mengingat kejadian waktu itu," sahut Pak Andi.
" Lalu sekarang kita harus bagaimana ? Ibu kasihan dengan Mila. Dia pasti menangis di sana," kata Nenek Anggi lagi.
" Aku tidak tahu ,Bu. Selama ini uangku telah habis aku berikan pada Mila," ucap Pak Andi seraya mengajak rambunya sendiri.
" Apa yang harus kita lakukan ? Aku kasihan pada Mila . Bagiamana kalau dia berniat bunuh diri lagi seperti waktu itu ? Tolong , keluarkan dia dari sana,Pa!" ujar Riska memohon.
__ADS_1
" Kalau begitu aku akan coba bicara dengan Jelita. Mudah-mudahan dia mau mencabut laporannya," jawab Pak Andi. Meski itu tidak mungkin, tapi dia ingin mencoba bicara dengan Jelita.
" Tidak usah menemuinya. Ibu yakin dia tidak akan mencabut laporannya," sahut Nenek Anggi dengan tatapan yang tajam.
" Apa salahnya mencoba. Hanya itu jalan satu-satunya," balas Pak Andi sembari menatap Ibunya.
" Yang di ucapkan Ibu benar ,Pa. Jelita tidak mungkin mencabut laporannya. Dia itu perempuan yang tidak memiliki hati. Biar aku yang mencari jalan keluarnya. Aku akan coba minta tolong pada temanku, dan mudah-mudahan dia bisa membantu kita. Kalau begitu aku pergi dulu,"sahut Riska yang langsung mengambil tasnya.
" Biar aku antar," ucap Pak Andi
" Tidak usah ,Pa.Kau temani saja Ibu disini," ucap Riska dengan raut wajah takut. Dia tidak mungkin mengajak suaminya , karena dia berniat ingin minta tolong pada selingkuhannya
" Baiklah,kalau begitu pergilah," kata Pak Andi.
Riska lalu pergi dengan mengendarai mobilnya. Tak berselang lama mobil itu sampai di rumah milik Tio.
" Tio, aku kesini ingin meminta bantuanku. Tolong bantu aku," ujar Riska seraya menatap pria itu. Hanya Tio yang bisa membantu Mila saat ini. Tio juga orang kaya, dia memiliki banyak usaha di kota ini.
" Bantuanku ? Memangnya bantuan apa ? " tanya Tio seraya menaikkan sebelah alisnya. Dia merasa penasaran masalah apa yang sedang dihadapi oleh Riska hingga wanita itu datang ke rumahnya tanpa menghubunginya terlebih dahulu.
" Aku butuh uang banyak untuk menyelamatkan putriku yang saat ini berada di penjara," kata Riska sembari meneteskan air matanya.
" Lalu apa untungnya jika aku menyelamatkan putrimu itu ? Lagian buat apa kau peduli dengan gadis itu ? Bukankah dia hanya anak tirimu saja ?" ujar Tio sembari menaikkan kakinya di atas meja.
" Walaupun dia hanya anak tiriku, tapi aku sangat menyayanginya seperti menyayangi darah dagingku sendiri. Dari kecil aku yang telah membesarkannya. Apalagi aku tidak bisa memiliki seorang anak," sahut Riska sembari menghapus air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
" Apa ? Kau tidak bisa memiliki anak ? " tanya Tio dengan raut wajah yang tampak terkejut.
" Iya, bukankah kau sudah tahu hal ini ?" tanya Riska merasa bingung.
Tio menghela nafas kasar." Aku baru mengetahuinya. Maaf Riska , aku memang sangat mencintaimu , tapi aku juga ingin memiliki anak. Jadi mohon maaf , aku tidak bisa bersamamu lagi," kata Tio sembari memalingkan wajahnya.
Wajah Riska terbelalak lebar mendengarnya. Dia sungguh tidak percaya kalau Tio begitu tega meninggalkannya hanya karena dirinya tidak bisa memiliki seorang anak. Air matanya mengalir lagi dan sulit dia tahan. Padahal hanya Tio harapan satu-satunya yang bisa mengeluarkan Mila, tapi pria itu malah meninggalkannya.
" Kenapa kau sungguh tega padaku ?" ujar Riska seraya menangis sesenggukan.
" Walaupun kita sudah putus tapi aku bersedia mengeluarkan putrimu itu , asalkan dengan satu syarat," balas Tio sembari tersenyum.
" Memangnya apa syaratnya ? Katakanlah ! " jawab Riska dengan raut wajah yang tidak sabar. Dia sudah tidak sabar memeluk putrinya . Dia yakin Mila pasti sangat ketakutan berada di dalam sana.
"Syaratnya gampang. Aku ingin menikah dengan putrimu. Kemarin aku tidak sengaja melihatmu dengan putrimu itu. Ternyata dia lumayan juga. Tubuhnya sangat seksi. Membuatku tergoda," terang Tio tersenyum licik.
" Apa kau gila ? Kau ini mantan kekasihku , jadi mana mungkin kau menikah dengan putriku," kata Riska dengan mata membulat.
" Apanya yang tidak mungkin ? Kau itu hanya Ibu tirinya. Lagian hubungan kita juga sudah berakhir. Bagaimana ? Apa kau setuju ? Kalau kau setuju maka aku akan segera mengeluarkan putrimu itu," kata Tio
" Bagaimana ini ? Kalau aku tolak, lalu siapa yang akan mengeluarkan Mila ? " pikir Riska dengan wajah bingung.
" Kenapa malah diam ? Apa kau tidak kasihan pada putrimu itu ?" tanya Tio dengan raut wajah kesal.
" Baik ,aku setuju. Tapi tolong jangan pernah memberitahu Mila kalau kita pernah miliki hubungan spesial," ucap Riska sembari menatap pria itu.
__ADS_1
Menurutnya saat ini tidak ada pilihan lain selain setuju dengan permintaan Tio.
" Ok, " sahut Tio dengan raut wajah terlihat sangat senang.