
Di waktu yang bersamaan dan di tempat yang berbeda.
Debur ombak mengalun merdu. Hamparan air di laut lepas terlihat sangat memanjakan mata meski langit kini sudah mulai gelap.
Sejak siang tadi, Jelita duduk di atas pasir di tepian pantai tanpa mau beranjak. Entah sudah berapa kali Lili membujuknya untuk pulang ,namun Jelita tidak mau pulang.
Lili merasa kebingungan karena Jelita tak mengatakan apapun tentang masalah yang sedang dia alaminya. Gadis itu hanya sekedar menemani, rela meninggalkan suaminya di rumah karena khawatir Jelita berbuat sesuatu yang nekad.
" Jelita, apa yang sebenarnya terjadi ? Ayolah ceritakan semua masalahmu padaku. Aku janji akan membantumu." Lili menepuk punggung Jelita dengan pelan untuk menenangkannya.
Hatinya ikut lelah melihat Jelita yang terus saja menangis. Gadis itu bahkan sama sekali tidak memperdulikan ramainya pantai hingga terus terisak- isak.
Jelita bergeming, termangu dengan kepala yang terasa seperti hendak meledak. Air matanya sampai mengering hingga menyisakan kelopak matanya yang sembab dan seperti baru saja di gigit tawon.
Lili begitu sedih melihat sahabatnya seperti itu. Perlahan dia mulai bisa menebak kenapa Jelita sangat frustasi seperti ini. Dia sangat yakin kalau ini pasti ada hubungannya dengan keluarganya.
" Apa kau ada masalah dengan keluargamu ? " tebak Lili dengan hati-hati.
Jelita masih diam membisu, enggan menjawab karena bibirnya terasa sangat berat untuk di gerakkan. Dia masih tidak habis pikir dengan keluarganya yang selalu menyakitinya. Terutama Mila, dari dulu adiknya itu selalu merebut apa yang Jelita miliki.
" Dasar brengs*k," umpat Jelita dengan suara keras sambil menggenggam pasir yang ada di sisi tubuhnya lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Lili yang duduk di sebelah Jelita sampai terjengkang karena terkejut.
__ADS_1
Jelita berbalik lalu mendekati sahabatnya.
" Lili, tolong katakan padaku dengan jujur. Menurutmu siapa yang lebih cantik antara Aku dan Mila ? " tanya Jelita dengan kedua mata yang melotot tajam. Pikirannya saat ini antara tersadar dan tidak sadar.
" Apa maksudmu? Tentu saja kau jauh lebih cantik dari adikmu itu," terang Lili tergagap karena takut salah bicara.
" Jika memang aku yang lebih cantik, lalu kenapa semua pria lebih memilih Mila dari pada aku ? Apakah tubuhku kurang seksi ? " tanya Jelita dengan mata berkaca-kaca.
Lili akhirnya mulai mengerti kenapa sahabatnya seperti itu.
" Apa yang sudah Mila lakukan padamu ? " tanya Lili seraya menatap sahabatnya.
" Argh ! " teriak Jelita. Gadis itu menundukkan kepalanya. Kembali menangis dengan histeris hingga suaranya serak. Hanya tangisan yang bisa di lakukan untuk meluapkan semua rasa sakit yang kini mendera hatinya.
" Jelita, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Ini sudah malam, tak baik untuk tubuhmu," bujuk Lili lagi. Tubuhnya saja sudah terasa sangat dingin, apalagi Jelita yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan.
Wanita itu bangkit dari duduknya lalu menampakkan kakinya pada pasir yang basah. Angin laut yang berhembus kencang menerbangkan rambutnya yang panjang bersamaan dengan rasa sakit yang menerpa dadanya.
"Jelita , kembalilah. Jangan terlalu ke tengah, di sana sangatlah berbahaya untukmu," seru Lili untuk menyadarkan Jelita agar tidak bertindak bodoh.
Jelita sama sekali tak mendengarkan teriakan Lili. Kakinya terus melangkah meski hawa dingin semakin menusuk pori-pori kulitnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Angga berlari-lari menuju tepian pantai. Saat dalam perjalanan, dia mendapatkan kabar dari orang suruhannya mengenai keberadaan Jelita.
Orang suruhannya mengatakan kalau sahabat Jelita tak sanggup membujuk Jelita karena tak mau ke tepian padahal ombak besar sangat membahayakan nyawanya.
" Di mana Jelita ? Kenapa kau baru menghubungiku sekarang ? " ujar Angga dengan penuh amarah sambil memegang kerah baju orang suruhannya itu.
" Itu dia," sahut orang suruhannya sambil menunjuk Jelita yang berada dalam kegelapan.
Angga merasa kesal karena orang suruhannya itu baru memberi kabar.
" Seharusnya kau menghubungiku lebih awal. Bukan di saat kondisi hampir darurat seperti ini,"gerutu Angga.
" Pelan tapi pasti gadis itu sudah semakin jauh berjalan ke tengah laut. Kini air laut sudah merendam kakinya sebatas atas lutut.
" Jika sesuatu terjadi padanya, aku akan membuat perhitungan denganmu," ancam Angga lalu berlari menyusul Jelita dengan kaki terseok-seok. Dia harus menyusulnya sebelum gadis itu pergi terlalu jauh dan terlambat menyelamatkannya.
" Jelita ,berhenti ! " seru Angga sembari terus berlari menghampiri Jelita yang sudah jauh di depannya.
Jelita sama sekali tidak mendengar teriakan Angga. Telinga Jelita seperti tak mendengar lagi apa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan bibirnya tersenyum ketika melihat ombak besar yang datang ke arahnya.
" Jelita , cepat berbalik. Kau masih punya aku. Aku mencintaimu, aku akan selalu setia padamu ,dan aku akan selalu ada di sampingmu," seru Angga hingga suaranya serak. Sekuat apapun dia berlari, pasir dan ombak yang datang sedikit menghambat langkahnya. Berapa kali hampir saja dia tercebur seandainya saja tidak berhasil menyeimbangi dirinya.
" Mungkin inilah yang kalian inginkan. Kalian pasti sangat senang melihatku mati," ucap Jelita dengan bibir bergetar tanpa mengindahkan Angga yang terus memanggilnya.
__ADS_1
"Selamat tinggal semuanya," ucap Jelita.
Dalam waktu beberapa detik, ombak besar datang dan langsung menggulung tubuh Jelita hingga ombak menyeretnya.