
" Apa yang kau lakukan ? " tanya Jelita sekali lagi dengan nafas semakin memburu. Tak mengerti kenapa Angga tiba-tiba saja memindahkannya ke dalam pangkuannya.
" Duduk seperti ini jauh lebih nyaman," kata Angga sembari memeluk tubuh Jelita dengan erat.
" Tapi..." Jelita hendak protes tapi Angga sudah terlebih dahulu menarik tubuhnya hingga posisinya kini sudah menghadap ke samping. Bola matanya bergerak gelisah saat beradu tatap dengan Angga.
" Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Angga dengan suara serak. Jarinya mulai bergerak menyingkirkan helaian rambut dari wajah Jelita. Ingin menatap wajahnya dengan sepuas hati malam ini tanpa penghalang.
" Ya," sahut Jelita sembari menelan salivanya.
" Apakah kau sudah mencintaiku? Apakah belum cukup apa yang aku lakukan selama ini untukmu? Apakah kau masih ragu dengan perasaanku? " tanya Angga bertubi-tubi, tak sabar rasanya menunggu jawaban dari mulut Jelita.
" Aku...aku..." Jelita malu menjawab pertanyaan Angga.
"Kenapa ,sayang ? Kau malu ? Untuk apa mesti malu ,aku bahkan hampir setiap hari mengatakan cinta padamu," ujar Angga.
" Aku...aku mencintaimu," sahut Jelita menunduk dengan wajah yang memerah.
" Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu," kata Angga dengan mata yang sudah berkabut. Dia meraih tangan Jelita lalu menempelkannya di dadanya agar gadis itu merasakan detak jantungnya yang berpacu bagaikan kuda yang sedang lomba lari.
Jelita menelan ludahnya merasakan dada Angga yang naik turun. Seperti ada sebuah aliran listrik yang menyerang titik tertentu dalam tubuhnya.
Sekuat apapun pria menahan hasratnya, Angga hanyalah manusia. Apalagi saat ini Jelita sudah sah menjadi istrinya.
Mata Jelita terpejam, tak kuat terlalu lama beradu pandang dengan Angga dengan jarak yang sangat dekat. Dia hanya pasrah atas apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Aku sungguh menginginkanmu," bisik Angga sembari menggigit ujung telinga Jelita hingga tubuh gadis itu yang berada di pangkuannya menegang.
Bibir Jelita hendak terbuka, suaranya belum keluar Angga sudah terlebih dahulu menyerang bibirnya secara agresif. Lidahnya memaksa menerobos masuk ke dalam mulutnya, Jelita akhirnya membuka mulutnya. Gadis itu tak sanggup lagi menahan lidah Angga yang bergerilya sesuka hati di dalam mulutnya.
__ADS_1
Angga menekan kepala Jelita agar tidak beranjak dari serangan bibirnya yang agresif. Rasanya dia tak sanggup lagi merasakan gelora hasrat yang semakin di ubun-ubun.
Angga membopong tubuh Jelita masuk ke dalam rumah karena udara di luar semakin dingin. Pelan-pelan dia menurunkan tubuh istrinya di ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka.
Ingin mendapatkan sensasi yang lebih, Angga menurunkan bibirnya menelusuri leher hingga ke pundak Jelita. Mencec*pnya tanpa memberikan jeda hingga Jelita semakin mabuk kepayang.
Gadis itu melenguh diiringi dengan desah*n seksi yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya semakin menegang dengan gelayar aneh yang sudah menjalar di sekujur tubuhnya. Ada sensasi menggelikan hingga tubuhnya seperti sedang melayang di udara. Kupu-kupu yang mengumpul di perutnya hingga terasa seperti hendak beterbangan.
Angga mendaratkan bibirnya pada bagian dad* Jelita. Menyes*pnya pelan untuk meninggalkan jejak-jejak kepemilikan. Kulitnya yang putih bersih membuatnya semakin terlihat jelas tanda merah itu.
Melihat tubuh Jelita yang mulai bereaksi lebih membuat bibir Angga tersenyum. Senang melihat wanitanya menggeliat manja. Terlebih lagi ketika mendengar desah*n seksinya yang di tahan. Terlihat sangat menggemaskan hingga rasanya dia tidak sabar untuk menyatukan tubuh mereka.
" Ini adalah malam pertama kita," kata Angga dengan suara bariton di telinga Jelita. Jelita perlahan membuka matanya. Nafasnya terengah-engah menahan hasrat yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Sentuhan Angga atas tubuhnya membuatnya merasa gila.
" Aku takut ," kata Jelita dengan jujur. Ini adalah pengalaman pertama kali dalam hidupnya, wajar saja kalau dia masih merasa takut bercampur dengan rasa malu.
" Percayalah , aku janji akan melakukan dengan pelan-pelan," bujuk Angga sembari mengusap dahi Jelita yang sudah berkeringat.
" Percayalah padaku," bujuk Angga seraya mengusap bibir Jelita menggunakan ibu jarinya dengan pelan. Menggerakannya di sana hingga beberapa saat.
Bujuk rayu Angga yang begitu manis akhirnya meluluhkan hati Jelita. Perlahan dia menganggukkan kepalanya pelan.
Angga tersenyum lebar mendengar jawaban Jelita. Malam ini akan menjadi malam yang indah untuk keduanya.
Tak menunggu lama, Angga memiringkan tubuh Jelita lalu menarik resleting gaun bagian belakangnya. Dia tidak akan membuang-buang waktu sebelum Jelita berubah pikiran.
Bibir jelita mendes*h kembali ketika Angga menurunkan gaunnya semakin ke bawah. Dua buah persik ranum yang masih terbungkus dengan rapi menyempul dengan indah. Angga menatapnya hingga beberapa saat sambil menelan salivanya.
Jelita tersadar akan tatapan Angga, dia lantas menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Angga menyingkirkan tangan Jelita agar bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
" Tidak usah malu, kita adalah pasangan suami istri yang sah," kata Angga.
" Untuk memudahkannya, Angga melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Melemparkannya ke sembarang arah hingga pakaiannya berserakan di lantai. Kini hanya tersisa celana pendek saja yang menempel di sebagian kecil tubuhnya.
Jelita menelan saliva hingga tenggorokannya terasa kering saat memandang tubuh suaminya yang terlihat perkasa. Tubuhnya merinding disko membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jelita tersadar dari lamunannya merasakan ada sesuatu yang tertarik dari tubuhnya.
Angga menurunkan secara paksa gaun yang dikenakan oleh Jelita hingga terkoyak. Sudah tidak sabar ingin melihat setiap inci bagian tubuhnya yang tak berpenghalang.
Reflek tangan Jelita menutupi bagian dada dan inti tubuhnya. Terkesiap karena Angga melakukannya tanpa kompromi.
" Gaunku." Jelita memandang gaun di tangan Angga yang sudah bernasib naas. Gaun putih kesayangannya akhirnya terkoyak begitu saja.
Angga segera melemparkan gaun putih itu ke sembarang arah.
" Aku bisa membelikannya untukmu yang baru, seratus kali lipat lebih bagus dari gaun itu," kata Angga sebelum istrinya berucap lebih jauh lagi.
" Tapi itu adalah gaun kesayanganku. Dan aku hanya memiliki satu gaun. Harga gaun itu juga setengah dari gajihku," terang Jelita.
Gaun itu baru dipakai beberapa kali dan dia sangat hati-hati ketika menggenakannya. Namun gaun itu tidak berharga di mata Angga.
" Tenanglah, setelah ini posisi gaun itu akan tergantikan olehku, " kata Angga lalu mel*mat bibir Jelita kembali sebelum wanita itu berubah pikiran.
Dia harus bisa membuat Jelita melupakan semua tentang gaunnya. Suhu pasangan itu semakin memanas. Dinginnya AC tak mampu lagi mendinginkan tubuh mereka yang terbakar oleh api gairah yang semakin memuncak.
Bibir Jelita memekik pelan ketika Angga menelusuri bagian inti tubuhnya menggunakan jemari. Kupu-kupu di perutnya sudah terkumpul seperti hendak meledak.
Terlebih lagi ketika bibir Angga beralih pada dua persik ranum miliknya. Jelita tak mampu lagi menahan dirinya untuk mendes*h diikuti dengan punggungnya yang melengkung.
__ADS_1
Dua kaki Jelita merapat, bergerak gelisah dengan kedua tangan mencengkram erat sprei hingga berkerut.