Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Tidak di kejar


__ADS_3

Nenek Dewi tetap tidak percaya kalau Jelita adalah putri kandung Tio. Dia sangat yakin kalau semua yang di ucapkan oleh Tio dan Jelita tidak benar.


" Yuni, kau ini memang bodoh sekali. Hanya karena wajah Tio dan Jelita sangat mirib kau langsung percaya begitu saja ucapan mereka. Di dunia ini banyak sekali orang yang memiliki wajah mirib dengan kita," ucap Nenek Dewi pada menantunya.


" Mereka bicara seperti itu agar tidak ada yang curiga dengan perselingkuhannya. Dan asal kau tahu, Jelita itu selalu kasar pada Ibu. Bahkan Ibu sendiri pernah di dorong sama dia," kata Nenek Dewi yang berusaha meyakinkan keluarganya.


Yuni dan Rangga memijat pelipisnya. Mereka binggung harus bicara apa lagi karena Ibunya sangat keras kepala.


" Nek, Jelita mana mungkin seperti itu. Sepertinya aku harus mencari Jelita," sahut Angga yang langsung melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama. Namun tiba-tiba Nenek Dewi menghentikan langkahnya.


" Angga , berhenti ! " teriak Nenek Dewi. "Jika kau pergi mencari Jelita, maka Nenek akan melukai tangan Nenek dengan pisau ini," ancam Nenek Dewi. Dari dulu dia lebih setuju kalau Angga menikah dengan Vina. Setiap Vina datang menemuinya, gadis itu selalu membawa hadiah yang harganya cukup mahal. Vina juga selalu mengerti dirinya. Gadis itu juga dari kecil sudah terlahir dari keluarga orang kaya. Berbeda dengan Jelita yang hanya terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya saja hanya memiliki minimarket kecil. Walaupun Vina tidak sekaya Tio, akan tetapi gadis itu selalu baik padanya. Tio memang sangat kaya , tapi sayang sekali pria itu tidak memiliki seorang penerus. Tio juga selalu menghambur-hamburkan uangnya kepada anak yatim. Bahkan sampai membuat rumah untuk anak yatim dan juga menyekolahkan mereka.


" Bu, tolong letakkan pisau itu ! " ucap Rangga dengan mata membulat. Dia tak menyangka kalau Ibunya begitu nekat. Dia jadi bingung harus bagaimana menghadapi Ibunya.


" Nek, apa yang ingin kau lakukan ? Tolong letakkan pisau itu !"seru Angga dengan wajah yang sudah panik.


" Nenek akan meletakkan pisau ini asalkan kau tidak pergi mencari Jelita," kata Nenek Dewi sambil menatap cucunya.


" Tapi Nek , aku harus mencari Jelita. Aku tidak ingin bercerai dengannya. Aku mohon , biarkan aku pergi," sahut Angga yang terus memohon. Tapi Nenek Dewi tetap tidak mengizinkan Angga pergi.


" Nek, tolong letakkan pisau itu ! " seru Vina yang juga berusaha membujuk Nenek Dewi.


" Lebih baik Nenek mati dari pada melihat cucu Nenek bersama wanita tukang selingkuh," balas Nenek Dewi yang sudah mendekatkan pisau itu pada tangan kirinya.

__ADS_1


" Bu ,tolong letakkan pisau itu ! " bujuk anak-anaknya yang juga begitu panik.


" Jangan ,Nek. Tolong letakkan pisau itu ! Aku janji tidak akan mencari Jelita," sahut Angga dengan berat hati. Dengan terpaksa dia mengatakan itu demi Neneknya.


" Pa, Ayah di mana ? Kenapa dari tadi tidak kelihatan ? " tanya Yuni sambil celingak -celinguk mencari Papa mertuanya yang dari tadi tidak kelihatan.


" Ayah ada di kamarnya. Dia sedang mengobrol dengan sahabatnya lewat telepon," sahut Rangga.


Nenek Dewi akhirnya meletakkan pisaunya.


" Angga, Nenek melakukan ini semua untuk kebaikanmu sendiri. Coba kamu lihat ini," ujar Nenek Dewi sembari mengarahkan ponselnya pada Angga. Dan ternyata di ponsel Nenek Dewi ada foto Jelita sedang memeluk Tio. Setelah itu ada juga video Jelita yang masuk ke rumah Tio . Di video itu Tio menggenggam tangan Jelita dan mengajaknya masuk ke rumahnya.


Angga sangat terkejut melihat foto dan video itu. Wajahnya langsung mengeras. Ternyata semua yang di ucapkan oleh Neneknya memang benar.


" Sekarang kau percaya kan ucapan Nenek ? Nenek memang sengaja menyuruh seseorang untuk mengawasi istrimu itu," terang Nenek Dewi seraya menatap cucunya yang terlihat sangat marah.


" Angga, coba kamu temui Jelita dan tanyakan semuanya secara baik-baik. Kalau seandainya Jelita dan Tio bicara jujur maka kau yang akan menyesal nantinya," terang Yuni yang berusaha membujuk putranya.


" Yuni, apa kau buta ? Kau selalu membela gadis tukang selingkuh itu," gerutu Nenek Dewi dengan raut wajah yang sangat kesal


" Sepertinya besok aku harus menemui Pak Andi. Aku akan bertanya pada beliau apakah Jelita putri kandungnya atau bukan," kata Angga dengan raut wajah serius.


" Untuk apa mesti menemui si Andi itu ? Apa tidak cukup dengan semua bukti yang sudah Nenek berikan ? " tanya Nenek Dewi dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


" Kalau memang benar Pak Andi Ayah kandung Jelita , maka aku akan merekam semua yang di ucapkan oleh Pak Andi. Setelah itu aku akan memberikan rekamannyabpada Jelita," terang Angga sembari menatap Neneknya


" Ide yang bagus. Nenek sangat setuju dengan rencanamu itu ," sahut Nenek Dewi tersenyum.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tio yang baru saja sampai di depan rumahnya langsung membawa putrinya yang sedang menangis ke ruang tamu.


" Sayang, berhentilah menangis ! Papa tidak suka melihatmu menangis seperti ini,"ujar Tio yang saat ini duduk di samping Jelita.


" Bagaimana aku tidak menangis , Pa ? Suamiku sendiri malah tidak percaya dengan ucapanku. Kemarin-kemarin aku masih bisa bersabar dengan perilaku Nenek Dewi yang jahat itu karena suamiku berpihak padaku, tapi sekarang suamiku sendiri tak percaya padaku. Rasanya sakit sekali jika suami sendiri tak percaya pada kita. Dia bahkan tak mengejarku," terang Jelita yang menangis terisak- isak. Matanya di banjiri air mata. Hatinya begitu sakit kalau mengingat kejadian tadi. Kenapa semua pria selalu menyakiti hatinya ? Apakah dia tak berhak bahagia ?


" Sabar ,sayang. Angga memang pria bodoh. Suatu saat dia pasti akan menyesal dengan semua yang telah dia lakukan," hibur Tio seraya memeluk putrinya.


Tiba - tiba terdengar ada seseorang datang ke rumah Tio.


" Pa, sepertinya itu Angga. Dia pasti ingin minta maaf padaku," ucap Jelita dengan raut wajah yang sedikit senang.


Namun ternyata yang datang bukanlah Angga. Melainkan seorang pria bule dengan wajah yang sangat tampan. Dia seperti seorang artis. Pria itu tersenyum manis ke arahnya. Senyum pria itu selalu membuat hati para gadis- gadis meleleh. Jelita langsung kembali cemberut karena ternyata yang datang bukanlah Angga. Suaminya benar-benar tidak mengejarnya. Apakah Angga tak mencemaskan dirinya ? Apakah Angga sudah tak mencintainya ? Kenapa begitu mudahnya pria itu melupakan dirinya ? Apakah selama ini hanya dirinya yang begitu mencintainya ?


Begitu banyak pertanyaan muncul di pikirannya hingga membuat kepala gadis itu terasa sakit.


" Selamat malam ,Pa, " kata pria itu sembari berjalan mendekati Tio.

__ADS_1


" A_apa ? Papa ? " ujar Jelita dengan mata membulat. Dia sangat terkejut saat pria itu memanggil Tio dengan sebutan Papa


Bukankah Papanya tidak pernah menikah ? Lalu siapa pria yang ada di depannya ?


__ADS_2