Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Nenek Dewi minta maaf


__ADS_3

Besoknya


" Sayang , kau masih marah padaku ? Tolong maafkan aku ! Mau sampai kapan kau tidak ingin bicara denganku ? Aku tidak kuat seperti ini . Kemarin aku sudah bicara pada keluargaku masalah apa yang Nenekku lakukan padamu. Dan Nenek sudah mengakui semua perbuatannya. Nenek juga ingin minta maaf padamu. Sayang, tolong jangan diamkan aku seperti ini !" seru Angga dengan raut wajah yang sangat sedih.


Jelita menghela nafas sambil menatap Angga yang sedang mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


" Baiklah, kali ini aku memaafkanmu. Tapi jika kau mengulanginya lagi, maka aku tidak akan memaafkanmu," ucap Jelita.


Angga langsung memeluk Jelita dengan begitu erat." Terima kasih ,Sayang. Aku mencintai," kata Angga. Tanpa memberikan aba-aba , dia lantas mendaratkan bibirnya di bibir Jelita. Jelita pun membalas ciuman Angga.


Keduanya saling menghis*p , menyes*p bibir masing-masing dalam keadaan mata tertutup. Angga sangat bersemangat karena akhir-akhir ini dia terlalu sibuk bekerja dan setelah ini dia juga harus pergi ke kantor untuk meeting.


Terlalu asyik dengan apa yang keduanya lakukan, mereka tidak menyadari kalau Nenek Dewi sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Wanita itu melihat semua yang di lakukan oleh dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


" Hmmmm." Akhirnya Nenek Dewi berdehem akibat kakinya sudah tidak kuat terlalu lama menompang beban tubuhnya. Dia juga mulai melihat mereka bermesraan seperti tidak ada orang lain.


Jelita yang sedang asyik menatap Angga langsung menoleh saat mendengar suara yang tidak asing terdengar di telinganya. Matanya terbelalak lebar hingga hampir saja keluar saat melihat Nenek Dewi yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


" Nenek ? " guman Jelita dengan mulut ternganga lebar hingga air liurnya seperti hendak menetes. Namun, beruntung dia segera tersadar.


Refleks , Jelita menurunkan kedua tangannya dari leher Angga pelan-pelan dengan rona pipi memerah. Tubuhnya sudah panas dingin tidak menentu sekarang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin saja setelah ini akan ada masalah yang akan menerpa hubungan mereka.


" Nenek , sejak kapan kau datang ? " ujar Angga dengan santai tanpa rasa khawatir sedikit pun.


" Maafkan Nenek karena sudah mengganggu kalian ," terang Nenek Dewi sembari menatap mereka berdua.

__ADS_1


" Nggak apa-apa, Nek. Kami yang seharusnya minta maaf. Kalau begitu ayo kita duduk di meja makan. Aku yakin sebelum kesini Nenek pasti belum sarapan," ujar Angga.


" Kau memang selalu tahu kebiasaan Nenek," balas Nenek Dewi tersenyum.


" Sayang, kau lanjutkan dulu masaknya, aku mau menemani Nenek ," ujar Angga lalu mendaratkan bibirnya di dahi Jelita tanpa adanya rasa sungkan meski di sana ada Nenek Dewi.


Jelita menganggukkan kepalanya dalam kondisi setengah tidak sadar. Dia sungguh malu, karena Nenek Dewi melihatnya berciuman dengan Angga. Jelita bergerak salah tingkah sambil menyisir rambutnya. Dia tidak tahu harus meletakkan wajahnya dimana. Sepertinya dia harus mengenakan topeng untuk mengurangi rasa malunya.


Selesai memasak , mereka sarapan bersama. Suasana di ruangan itu hening hingga beberapa saat. Tak ada suara yang tercipta di antara mereka. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok.


" Jelita, Nenek ke sini ingin minta maaf atas semua kesalahan Nenek. Maafkan Nenek karena sudah jahat padamu. Nenek janji tidak akan berbuat itu lagi. Apakah kau mau memaafkan Nenek ? " tanya Nenek Dewi sembari menatap gadis itu .


" Tidak usah di ingat lagi ,Nek. Aku sudah memaafkan ,Nenek." Kata Jelita. Apa yang di katakan berbeda dengan yang ada di hatinya. Sebenarnya dia belum memaafkan Nenek Dewi. Rasanya sangat aneh karena beliau begitu gampangnya meminta maaf. Dia yakin kalau Nenek Dewi sedang merencanakan sesuatu saat ini. Dari kecil dia sudah tinggal dengan orang-orang jahat seperti Nenek Dewi , jadi dia tidak bisa percaya begitu saja kata maaf beliau.


Tapi dia tidak mungkin bicara sesuai dengan isi hatinya. Dia dan Angga pasti akan bertengkar lagi. Untuk saat ini dia hanya bisa berhati-hati dan menyelidi semuanya.


" Terima kasih atas pujiannya ,Nek," sahut Jelita.


Setelah selesai sarapan, Nenek Dewi langsung pergi dari rumah Angga.


" Sayang, hari ini aku mau pergi ke apartemen Fino. Bibi Murni hari ini datang ke kota ini. Dia ingin bertemu denganmu dan denganku. Katanya ada hal penting yang ingin dia katakan pada kita," terang Jelita seraya menatap suaminya yang sedang menatap ponselnya.


Mata Angga langsung membulat mendengarnya. Yang dia kalau Bibi Murni baru saja sadar dari komanya, dan pasti kondisinya saat ini masih lemah, tapi kenapa beliau malah datang ke kota ini ? Seharusnya beliau istirahat dulu , dan setelah sehat baru datang ke kota ini. Apakah dia merindukan Fino ?


" Sayang, kenapa Bibi Murni datang ke kota ini ? Bukankah dia baru sadar dari komanya ? Orang yang baru sadar dari komanya tidak mungkin kan kondisinya langsung sehat begitu saja ? Pasti harus butuh proses agar dia benar-benar sehat ," terang Angga merasa heran.

__ADS_1


" Aku juga tidak mengerti. Aku tidak sempat bertanya pada Fino. Biar nanti aku yang bertanya pada Fino dan memarahinya ," sahut Jelita. Yang di ucapkan oleh Angga memang benar. Tidak seharusnya Fino membiarkan Bibinya datang ke kota ini. Setidaknya tunggu hingga Bibinya sehat.


" Tapi aku tidak bisa datang ke sana. Hari ini aku ada meeting . Kalau begitu kau saja yang datang kesana. Nanti aku akan meminta Alex untuk mengantarmu kesana, " ucap Angga sembari menatap wajah istrinya.


" Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan memberitahu Bibi kalau kau sedang sibuk," balas Jelita


Dua jam kemudian , Jelita telah sampai di apartemen Fino dengan membawa buah-buahan untuk Bibinya.


" Akhirnya kau datang juga ," kata Fino setelah membuka pintu untuk Jelita.


" Fino, kenapa kau membawa Bibi ke kota ini ? Bibi kan baru sadar dari komanya," protes Jelita sembari menatap tajam sepupunya itu. Saat mengetahui kalau Bibi Murni ada di kota ini , perasaannya sedikit cemas memikirkan Bibinya itu. Apalagi selama ini Bibinya begitu baik padanya.


" Ibuku sendiri yang memaksa ingin kesini. Aku sudah berusaha melarangnya, tapi dia tidak mau mendengarkan ucapanku. Untung saja ada orang baik hati membantuku membawa Ibuku kemari," terang Fino sembari membuatkan minuman untuk Jelita.


Jelita menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Fino. Siapa orang yang membantu Fino dan Bibinya ?


" Apa kau mengenalnya ? " tanya Jelita dengan raut wajah penasaran.


" Aku tidak tahu siapa orang itu. Yang pasti dia orang yang sangat baik. Orang itu menggunakan pakaian serba hitam. Lalu aku dan Ibu di antar kemari menggunakan helikopter. Rasanya aku senang banget naik helikopter . Apalagi aku baru pertama kali naik pesawat," tutur Fino sembari tersenyum.


" Apa kau gila ? Kau menerima bantuan dari orang asing ? Bagaimana kalau orang itu punya niat jahat ? " ujar Jelita dengan raut wajah marah.


" Tapi Ibu bilang kalau orang itu adalah kenalan Ibu, jadi aku tidak merasa takut sama sekali," sahut Fino.


" Lalu sekarang di mana Bibi ? Aku ingin melihatnya ," ucap Jelita yang langsung beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


" Ibu lagi tidur. Duduklah dulu, sebentar lagi dia pasti bangun," kata Fino sembari menatap sepupunya.


__ADS_2