
Tubuh Jelita mulai bergetar. Tubuhnya seakan lemas tak berdaya untuk mengelak. Ciuman Angga di lehernya menimbulkan sensasi aneh yang membuat tubuhnya kembali meremang.
" Angga ," lenguh Jelita sembari mendesis pelan.
" Hmmm , ada apa ? Apa kau merindukanku ? Aku ada di belakangmu , sayang," ujar Angga sensual sembari menyeringai penuh arti.
" Mau berapa lama lagi kita melakukannya ? "
" Seberapa lama pun kau menginginkannya , dengan senang hati aku akan melakukannya," sahut Angga. Setelah tidur lebih dari satu jam , energinya sudah cukup dan jadi bersemangat lagi.
Tangan Angga terus bergerak nakal menelusuri tubuh Jelita. Menggerakkan jemarinya di atas kulit mulusnya.
Jelita menoleh ke belakang sembari menatap Angga dengan tatapan sayu. Kesempatan itu langsung di ambil oleh Angga untuk menyatukan bibirnya kembali. Dia tak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan mereka.
Jelita mulai membenarkan posisi duduknya di sela ciuman yang sama sekali tak berhenti. Dia Lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Angga. Membalas ciuman pria itu lebih agresif lagi dengan mata terpejam.
Suara gemericik air yang mengalir berbaur dengan des*han dua insan yang menggema di dalam ruang sempit itu. Tubuh Jelita yang tadinya sempat kedinginan kini mulai memanas kembali.
Besoknya , Angga berencana mengajak Jelita liburan dan sekalian pergi berbulan madu sesuai saran dari William dan Tio.
" Selamat bersenang - senang putriku. Semoga kau selalu berbahagia ," ucap Tio seraya memeluk Jelita.
" Terima kasih ,Pa," balas Jelita tersenyum.
" Masalah perusahaanmu biar aku dan Papa yang mengurusnya. Selama ini kalian hanya sibuk bekerja , jadi sekarang nikmati saja waktu berlibur kalian dengan baik," kata William seraya menatap Jelita dan Angga secara bergantian.
" Terima kasih. Kalian sungguh pengertian sekali," balas Angga tersenyum.
Setelah semuanya beres, Angga langsung mengajak Jelita pergi ke bandara. Malam ini juga mereka akan pergi ke suatu tempat selagi ada waktu dan pekerjaannya juga sudah di tangani oleh William dan Papa mertuanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang ramai.
" Angga, sebenarnya ke mana kita akan pergi ? " Jelita tak dapat lagi membendung rasa penasaran yang terus mendera hatinya. Ini adalah kesekian kalinya bertanya tapi Angga hanya menjawabnya dengan senyuman. Tak bisakah pria itu berucap dengan kata-kata agar dirinya tak lagi penasaran ?
" Untuk sementara masih di rahasiakan, setelah sampai nanti kau juga akan tahu ke mana kita pergi, " sahut Angga seraya membenarkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Jelita.
" Berbaringlah kalau kau lelah." Angga menepuk pangkuannya agar Jelita bisa menggunakannya sebagai bantalan.
__ADS_1
" Seharusnya kau yang tidur di pangkuanku," tutur Jelita. Padahal pria itu baru keluar dari rumah sakit, tapi sudah mengajaknya pergi berlibur. Apakah dia tak lelah ?
Tanpa menunggu lama, Angga langsung saja berbaring di pangkuan Jelita. Ingin sejenak meluruskan punggungnya yang terasa pegal.
" Tidurlah kalau kau mengantuk." Jelita mengusap bagian dagu Angga yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Selama dia menjauhi Angga , sepertinya pria itu tidak mengurus dirinya dengan baik.
Angga menggelengkan kepalanya sembari menatap dalam mata Jelita dibalik cahaya lampu yang remang-remang.
" Nanti saja setelah sampai ," sahut Angga.
Tak berselang lama, akhirnya mereka sampai di bandara.
" Sebelum turun, pakailah ini." Angga menunjukkan sebuah kain berwarna hitam di telapak tangannya.
" Untuk apa ? " tanya Jelita dengan dahi berkerut.
" Tempat yang akan kita kunjungi sangat dirahasiakan sehingga kau tidak boleh melihat tujuan kita ke mana, " sahut Angga.
Gelak tawa renyah seketika keluar dari bibir Jelita. Namun beberapa detik kemudian segera menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
" Meski mataku tertutup rapat, bukankah aku masih bisa mendengarnya? " tanya Jelita sambil menggelengkan kepalanya atas ucapan Angga.
Jelita menghembuskan nafasnya pelan. Kali ini dia hanya mengangguk, meski penasaran tapi dia masih bisa menahannya untuk sementara waktu.
Angga lantas mengikatkan kain hitam di kepala Jelita hingga kedua matanya tertutup rapat. Barulah setelah itu memasang earphone di telinganya, sebelumnya dia sudah memastikan hanya ada suara musik yang terdengar di telinga Jelita.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa jam kemudian.
Pulau Ischia
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan utama mereka.
Dengan mata yang masih ditutupi kain hitam, Angga terus mengajak Jelita menaiki satu persatu anak tangga menuju villa tempat mereka menginap yang berada di paling ujung. Angga sengaja memilihnya karena tempatnya sangat cocok untuk mereka berdua.
Jelita kali ini bisa mendengar deburan ombak yang menghantam batu karang. Terdengar sangat menenangkan , angin yang bertiup juga sangat kencang hingga rambutnya yang panjang melambai-lambai menutupi wajahnya.
__ADS_1
" Apakah kita sedang berada di tepi pantai ? " tebak Jelita. Dia sangat yakin telinganya tidak salah dengar. Meski kakinya tak menapaki pasir tapi dia mendengar suara ombak yang sangat jelas. Kemungkinan hanya beberapa meter saja dari bibir pantai.
" Ya , coba tebak kita sedang berada di mana ? " tanya Angga.
" Aku tidak tahu, karena sebelumnya aku tidak pernah pergi kemanapun," sahut Jelita.
" Besok pagi kau juga akan tahu. Malam ini istirahat saja karena waktu sudah dini hari. Kasihan bayi yang ada di dalam kandunganmu kalau kau terlalu capek ," terang Angga. Dengan penuh kesabaran dia menuntun Jelita agar tidak terjatuh.
" Apakah aku tidak boleh melihat tempat ini ? " tanya Jelita seraya menaikkan alisnya. Dia sangat penasaran , ingin melihatnya secara jelas pemandangan yang ada di depan mata selagi baru sampai.
" Besok saja , lagi pula masih ada banyak waktu yang panjang. Kita bisa menikmati matahari terbit pagi ini," terang Angga.
Setelah lima belas menit berjalan , akhirnya mereka berhenti di depan sebuah villa kecil. Bukan tak mampu Angga menyewa seluruh Villa yang ada di sana. Hanya saja memang Angga ingin Villa yang tidak terlalu besar agar keintiman mereka tetap terjaga.
" Sudah siap ? " tanya Angga yang hendak melepaskan ikatan kain dari mata Jelita.
" Apakah sudah sampai ? " tanya Jelita yang dari tadi sudah tak sabar membuka kain penutupnya.
" Sudah ," sahut Angga.
Terlebih dahulu Angga membuka pintu lalu membuka ikatan kain di kepala Jelita.
Kedua kelopak mata Jelita terbuka secara perlahan dengan pandangan yang samar-samar. Dia lantas mengerjap hingga bulu matanya yang lentik bergerak.
Dahi wanita itu berkerut melihat pemandangan yang ada di depannya. Butuh beberapa saat untuk tersadar dari rasa terpana melihat taburan kelopak bunga mawar yang berserakan di lantai.
Tepat di depan pintu masuk, terdapat ribuan kelopak bunga mawar yang dibentuk menyerupai hati. Aromanya yang wangi, semerbak menguar merasuk indra penciuman Jelita.
Bibir wanita itu merekah hingga kedua sudut bibirnya membentuk kerutan di pipi.
Jelita pikir Angga tidak menyukai hal-hal yang romantis semacam ini , namun ternyata dugaannya salah. Ternyata suaminya sangat romantis.
Mata jelita merebak, kerkaca-kaca. Bibirnya sampai tidak bisa berucap karena sangat bahagia. Bolehkah dia menangis bahagia ?
" Suka atau tidak ? " bisik Angga, hembusan nafasnya menerpa daun telinga Jelita.
Jelita berbalik, menatap Angga yang sepersekian detik lalu memeluk erat tubuhnya. Selama dia menjalin hubungan dengan seorang pria , hanya Angga yang selalu memperlakukannya dengan baik dan romantis.
__ADS_1
" Aku mencintaimu ," ucap Jelita seraya memeluk Angga.
" Aku juga mencintaimu. Aku janji setelah ini akan selalu membuatmu bahagia," sahut Angga yang juga membalas pelukan Jelita.