Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Cairan yg menetes


__ADS_3

Besoknya , di kediaman Tio.


Jam tujuh pagi Jelita membuka matanya, dia merentangkan kedua tangannya sejajar dengan bahunya. Dia begitu lelah dan masih sangat mengantuk. Kemarin malam dia berkali-kali bangun karena ingin buang air kecil. Kakinya bahkan sampai pegal karena berkali-kali bolak-balik ke kamar mandi.


Angga pun sampai tak tidur karena cemas memikirkan Jelita. Dia sangat kasihan melihat istrinya , tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia bahkan sudah berkali-kali menghubungi Yuni untuk menanyakan keadaan istrinya , tapi Yuni selalu mengatakan kalau itu adalah hal yang umum di alami oleh Ibu hamil. Namun dia tak tega melihat istrinya yang seperti itu. Jelita bahkan sangat kesulitan saat tidur. Melihat istrinya yang saat ini sedang hamil , dia akhirnya jadi tahu bagaimana perjuangan Mamanya dulu saat melahirkan dirinya.


" Sayang , ayo bangun ! Kita sarapan dulu , " ajak Angga sambil menatap Jelita yang masih duduk di atas tempat tidurnya.


Jelita tak menjawab ucapan Angga, kedua matanya membulat sempurna ketika melihat celananya yang sedikit basah. Dia bingung kenapa celananya bisa basah. Apakah dia ngompol ?


Jelita beranjak dari tempat tidurnya sambil memegang perutnya. Dia berjalan dengan langkah yang pelan menuju ke kamar mandi.


" Ya , Tuhan. Kenapa aku bisa ngompol ? Sangat memalukan sekali. Kalau Angga sampai melihat dia pasti akan berpikir kalau aku adalah wanita yang sangat jorok," gumam Jelita yang kemudian melepas celananya.


Kedua alis Jelita mengerut dalam fokus memperhatikan celananya.


" Tidak bau sama sekali ," gumam Jelita lagi sembari mengendus - endus. Tiba - tiba dia merasakan seperti ada cairan yang keluar dari vagi*anya. Jelita lalu menyentuh cairan itu.


" Cairan apa ini ? Kenapa cairan ini keluar dengan begitu saja ? Cairan ini tidak seperti air kencing. Cairan ini juga hanya menetes sedikit , " ucap Jelita dengan raut wajah yang sangat bingung.


Namun Jelita tak menganggap serius hal itu, dia lalu mandi dan kemudian memakai bajunya.


" Sayang , ada apa ? Apa ada masalah ? " tanya Angga dengan raut wajah cemas . Angga menatap Jelita dari cermin sambil membantu istrinya menyisir rambutnya dan mengikatnya dengan rapi.


" Tidak ada apa-apa kok , kalau begitu ayo kita sarapan. Papa pasti sudah menunggu kita , " ajak Jelita seraya beranjak dari tempat duduknya.


Angga lalu mengikuti istrinya , dia menatap Jelita yang semakin kesulitan berjalan. Dia benar-benar tidak tega melihat Jelita yang seperti itu.

__ADS_1


Ketika Jelita akan duduk , dia merasakan ada cairan lagi yang keluar dari vagi*anya. Mendadak Jelita menjadi tidak tenang. Dia takut terjadi sesuatu dengan bayinya.


" Kenapa cairan itu terus keluar ? Apa ini ada hubungannya dengan bayiku ? " pikir Jelita dengan raut wajah yang mendadak menjadi cemas.


" Sayang , ayo duduk ! ' seru Angga sambil menatap istrinya yang hanya diam saja. Angga sangat bingung dengan Jelita hari ini, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya apa yang dipikirkan Jelita ? Kenapa dia mendadak menjadi aneh ?


" Jelita , kau kenapa ? Apa kau sakit ? " tanya William seraya menatap adiknya.


"Tidak , kak. Aku baik-baik saja," sahut Jelita yang kemudian duduk di samping Angga.


Sebenarnya Jelita penasaran dengan cairan yang terus - menerus menetes dari Vagi*anya , dia ingin memberitahu suaminya tapi dia merasa malu mengatakannya. Bahkan makanannya hanya di aduk- aduk memikirkan semua itu. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Jelita mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Mama mertuanya , namun sayang sekali Mama mertuanya tidak mengangkat telepon darinya.


" Sayang , apakah ada masalah ? Kalau ada masalah cerita pada kami. Apapun masalahnya kami pasti akan membantumu," kata Tio sembari menatap putrinya.


" Aku malu mengatakannya," sahut Jelita seraya menunduk.


" Kenapa harus malu ? Kami ini keluargamu. Lebih baik kau ceritakan apa masalahmu , agar kami bisa membantu," kata Tio lagi.


" Tadi ketika baru bangun ada cairan yang menetes dari Vagi*aku dan sampai sekarang cairan itu masih menetes ," bisik Jelita.


" Kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi ? Bagaimana kalau itu ada hubungannya dengan bayi kita," tanya Angga dengan raut wajah yang sangat terkejut.


Tio dan William sangat terkejut mendengar ucapan Angga. Mereka jadi penasaran dengan apa yang telah terjadi.


" Angga , memangnya ada apa ? Kenapa menyebut nama bayi ? Apakah terjadi sesuatu dengan anak yang ada di dalam kandungan Jelita ? " tanya Tio sembari menaikkan alisnya.


" Jelita bilang ketika baru bangun ada cairan yang menetes dari vagin*nya dan sampai sekarang cairan itu terus menetes ," terang Angga dengan raut wajah sedikit cemas.

__ADS_1


Kedua mata Tio dan William langsung terbelalak lebar mendengar ucapan Angga


" Jangan - jangan air ketubannya sudah pecah ? " ujar Tio dengan mata membulat sambil mengingat- ingat semua yg pernah dia baca. Jika ada waktu senggang Tio memang sering mencari sedikit informasi tentang wanita hamil , dia sengaja melakukan itu karena untuk berjaga-jaga saja. Jika ada keluhan-keluhan yang dialami oleh putrinya dia bisa sedikit mengetahuinya.


" Air ketuban ? Air ketuban itu apa ? Dan seperti apa air ketuban itu ? " tanya Angga dengan raut wajah bingung.


" Kau ini bodoh sekali. Namanya saja air ketuban, ya sudah pasti seperti air lah ,"sahut William sembari menatap Angga.


" Air ketuban adalah cairan yang terdapat di dalam rahim dan menyelimuti bayi selama dalam kandungan. Air ketuban inilah yang melindungi bayi yang masih ada di dalam kandungan. Jika air ketuban habis maka ada kemungkinan bayi akan masuk ke kondisi gawat janin , sehingga harus segera di lahirkan," terang Tio menjelaskan.


" Papa sok tahu , papa kan tidak pernah melahirkan. Papa juga tidak pernah melihat Mama ketika mengandung kami ," sahut William


Sedangkan Jelita semakin tidak tenang mendengar penjelasan Papanya.


" Papa tahu karena papa pernah membacanya. Kalau tidak percaya tanya saja pada Mama Yuni. Sekarang lebih baik kita pergi ke rumah sakit," kata Tio yang sudah berdiri.


" Aku sudah menghubungi Mama Yuni , tapi Mama Yuni tak mengangkat telepon dariku. Sepertinya beliau sedang sibuk," sahut Jelita.


" Sayang , apakah kamu merasakan sesuatu ? Seperti sakit mungkin ? " tanya Angga semakin terlihat cemas.


" Tidak sama sekali, dan bahkan aku tidak merasakan apapun saat cairan itu keluar," jawab Jelita dengan sangat jujur.


" Sayang , tunggulah di sini ! Aku mau ke kamar mengambil kunci mobil," ucap Angga yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


Tak berselang lama ponsel Jelita bergetar dan setelah dilihat ternyata Yuni yang menghubunginya. Jelita lalu menggeser icon berwarna hijau untuk menerima telepon. Setelah menerima telepon , Jelita lalu menceritakan apa yang telah terjadi ke pada Mama mertuanya .


πŸ“ž " Kalau begitu kau harus pergi ke rumah sakit sekarang juga. Sepertinya air ketubanmu telah pecah ," kata Yuni dengan wajah yang cemas.

__ADS_1


πŸ“ž " Iya , Ma. Sekarang kami memang akan pergi ke rumah sakit. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ," ucap Jelita pada Yuni.yang ada di seberang telepon.


πŸ“ž " Ya , nak. Kalau begitu Mama juga akan segera pergi ke sana,"sahut Yuni yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


__ADS_2