
" Apa kau tidak bisa bertamu ke rumahku dengan baik ? " ujar Tio seraya menatap intens Riska.
" Setelah semua yang kau lakukan pada putriku, kau masih berani bicara seperti itu ? Kau memang pria brengs*k. Pantas saja hingga sekarang kau belum memiliki seorang istri. Kau harus mempertanggung jawabkan semua yang terjadi. " ucap Riska dengan mata yang terbuka lebar. Dia sungguh tidak menyangka kalau Tio sejahat itu pada putrinya. Dia merasa menyesal mengenal pria itu.
" Memangnya apa yang sudah aku lakukan pada putrimu ? Aku bahkan tidak pernah menyentuh putrimu sama sekali," sahut Tio yang sengaja bicara seperti orang bodoh.
" Kau memang tidak pernah menyentuh putriku, tapi kau begitu tega tidak datang di acara pernikahanmu sendiri. Sebenarnya apa maumu ? Bukankah kemarin kau sendiri yang ingin menikah dengan Mila ? Tapi kenapa kau malah tidak datang di acara pernikahanmu sendiri ? " tanya Riska dengan suara yang penuh emosi.
"Oh , jadi karena masalah itu. Aku tadi memang sangat sibuk. Aku sibuk membantu Jelita, " jawab Tio dengan santainya.
Kedua mata Riska membulat mendengar jawaban Tio. Lagi-lagi karena gadis pembawa sial itu.
" Apa kau gila ? Kau tidak datang ke acara pernikahanmu sendiri hanya karena gadis pembawa sial itu ? Kau memang pria bodoh. Tergila-gila pada wanita yang sudah memiliki suami," ucap Riska dengan mata melotot.
Setelah mendengar ucapan Riska, Tio menatap Riska dengan kedua tangan yang terkepal di sampingnya. " Berani sekali kau mengatakan Jelita gadis pembawa sial. Sepertinya mulutmu itu perlu aku robek ," kata Tio dengan tatapan murka.
" Hanya karena gadis itu kau sampai ingin merobek mulutku. Ternyata kelemahanmu adalah Jelita. Sepertinya aku harus menyuruh seseorang untuk membunuh gadis itu. Kalau dia mati maka hidupmu pasti akan hancur," ancam Riska sembari mengambil ponselnya.
__ADS_1
" Berani kau melakukan itu , maka kau yang akan aku bunuh di sini ," balas Tio yang berbalik mengancam Riska
" Aku tidak takut di bunuh olehmu asalkan gadis pembawa sial itu juga mati . Tapi kau tenang saja, aku akan memberimu dua pilihan. Kau menikah dengan Mila maka Jelita tidak akan aku bunuh. Tapi jika kau tidak mau menikah dengan Mila maka aku akan membunuh gadis itu . Bagaimana ? Kau mau pilih yang mana ? " tawar Riska seraya tersenyum licik. Dia yakin Tio pasti akan takut dengan ancamannya dan langsung setuju menikah dengan Mila.
"Ha..ha...ha..."
Tio tertawa mendengar ancaman Riska. Sedangkan Riska begitu bingung melihat Tio yang tiba-tiba saja tertawa.
" Apa kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu itu ? Aku tidak takut sama sekali. Anggap saja semua yang terjadi pada putrimu adalah karma karena dulu putrimu itu pernah merebut calon suami Jelita hingga dia gagal menikah," ucap Tio dengan wajah memerah.
" Kenapa ? Kau terkejut ? Aku bahkan tahu semuanya. Aku juga tahu kalau selama ini kalian tidak pernah menganggap Jelita bagian dari keluarga kalian. Bahkan dari kecil kalian selalu menyiksa gadis itu," ungkap Tio dengan raut wajah berapi-api. Dia begitu sedih mendengar masa kecil Jelita dari Bibinya. Bahkan berkali-kali dia menyalahkan dirinya sendiri atas semua penderitaan yang selama ini Jelita alami.
" Omong kosong apa yang kau katakan ? Selama ini kami selalu memperlakukan Jelita dengan baik," sahut Riska dengan gugup.
" Omong kosong kau bilang ? Aku sudah menyelidiki semuanya. Aku sudah tahu bagaimana kalian memperlakukan Jelita selama ini," balas Tio sembari memegang dengan kuat gelas di tangannya, setelah itu melempar gelas itu ke lantai.
Mata Riska membulat melihat apa yang di lakukan oleh Tio. Mendadak dia jadi takut menatap pria itu
__ADS_1
" Semenjak Ibunya Jelita meninggal , tidak ada yang peduli pada gadis itu. Dia bahkan berusaha mencari biaya sekolahnya sendiri. Dulu putri kesayanganmu itu selalu memakai barang-barang bagus dan bermerek. Sedangkan Jelita kalian berikan barang bekas dari putri kesayanganmu yang sudah mau rusak. Tanganmu itu juga hampir setiap hari memukul dan mencambuk tubuh Jelita. Bahkan saat Jelita berusia delapan tahun kau pernah mencambuk dan mengurung gadis itu di tempat yang gelap hingga gadis itu masuk rumah sakit. Kenapa kalian begitu tega memukul gadis sekecil itu ? Apa kalian tidak kasihan padanya ? Kalian juga pernah berencana ingin menjual Jelita, tapi beruntung Bibinya datang menolong gadis itu. Kalian memang manusia yang sangat kejam," teriak Tio dengan air mata yang telah menetes.
"Kenapa kau bisa tahu semuanya ? " tanya Riska dengan raut wajah yang tampak terkejut. Selama ini hanya keluarganya yang tahu bagaimana mereka memperlakukan Jelita. Tapi kenapa Tio bisa tahu semua itu ? Apa Jelita yang menceritakan semuanya ?
" Pasti gadis pembawa sial itu yang sudah menceritakan semuanya. Dia sengaja menceritakan semuanya agar Tio kasihan padanya. Dia memang gadis licik. Kalau aku tahu dia akan melakukan semua ini, sudah dari dulu aku membunuhnya," gumam Riska di dalam hatinya. Ingin rasanya dia memukul wajah Jelita agar hancur.
" Mencari hal seperti itu sangat gampang bagiku. Apalagi orang-orangku ada di mana-mana. Andai Jelita putri kandung suamimu, mungkin dia tidak akan membiarkan gadis itu menderita,"terang Tio dengan sinis.
Mata Riska semakin membulat mendengar. "Apa maksudmu bicara seperti ? Kau mau mengatakan kalau Jelita bukan putri suamiku begitu ? Ternyata orang suruhanmu itu sangat bodoh. Asal kau tahu, Jelita adalah putri kandung suamiku sendiri. Suamiku membenci Jelita karena gadis itu pembawa sial. Suamiku hingga sekarang masih menyalahkan Jelita atas kecelakaan itu. Atau jangan-jangan Jelita sendiri yang mengatakan padamu kalau dia bukan anak kandung suamiku ? Kalau memang benar dia sendiri yang mengatakan, berarti kau sangat bodoh karena gampang di bodohi oleh gadis itu ," sahut Riska dengan senyum yang mengejek. Kalau memang Jelita yang mengatakan itu , berarti gadis itu sedang merencanakan sesuatu.
Tio tersenyum mendengar ucapan Riska. Wanita itu selalu saja menyalahkan Jelita.
" Jelita tidak pernah menceritakan atau mengatakan apapun mengenai masa lalunya. Aku mengetahui sendiri kebenarannya dan bahkan aku banyak memiliki bukti. Kalau kau tidak percaya silahkan kau bertanya pada suamimu sendiri. Tanyakan padanya apakah Jelita putri kandungnya," ujar Tio dengan tatapan mata yang tajam.
" Kau pasti berbohong. Dulu saat almarhum Ibu Jelita masih hidup, aku pernah menjenguknya saat dia melahirkan Jelita," ucap Riska yang tidak percaya dengan ucapan Tio. Dia dan Andi sudah berteman cukup lama, jadi dia tahu betul mengenai almarhum Ibu Jelita dan Mila.
" Kalau begitu lebih baik kau pulang dan tanyakan pada suamimu. Kalau suamimu tetap mengatakan kalau Jelita darah dagingnya, maka aku sendiri yang akan memberikan semua buktinya padamu," kata Tio sembari menatap wanita itu.
__ADS_1