Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Kedatangan Kakek Jaya


__ADS_3

Setelah sampai di kantor , Angga langsung ke luar lagi karena ada meeting di luar.


Jelita menghembuskan nafasnya panjang. Berdasarkan informasi yang didapatkannya , sebentar lagi kantor akan kedatangan seorang tamu . Dia harus bisa menjadi pembicara yang baik sebagai wakil dari Angga . Dengan gugup, Jelita merapikan rambut dan pakaiannya dengan rapi. Saat ini dia bersiap menyambut tamu yang akan datang ke kantor dengan berdiri di lobi. Bertemu dengan seseorang secara resmi tentu saja berbeda karena ini menyangkut masalah perusahaan. Jika dia berbuat salah sedikit saja maka perusahaan akan terkena imbasnya.


Tak berselang lama , sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan teras. Dengan langkah cepat, Jelita segera menghampirinya dengan berdiri di dekat pintu. Meskipun tidak sendirian tapi tetap saja rasanya mendebarkan.


" Selamat siang , Tuan, " sapa Jelita dengan sopan sembari menundukkan tubuhnya sedikit sebagai salah satu rasa hormat.


Jelita mengerutkan keningnya ketika melihat pria paruh baya yang mengenakan tongkat keluar dari mobil tersebut. Tak hanya menggunakan tongkat , bahkan hampir seluruh rambutnya sudah memutih.


" Kasihan sekali. Pria tua itu kenapa masih dibiarkan pergi bekerja ? " gumam Jelita , bibirnya benar-benar tak mampu menahan untuk berkomentar.


" Apakah Anda asisten Tuan Angga ? " tanya salah seorang bodyguard yang sejak tadi membantu Kakek Jaya untuk berjalan sampai di dalam lift.


" Ya , " sahut Jelita .


Selama ini Jelita belum pernah bertemu dengan Kakek Jaya. Saat acara pernikahannya beliau sengaja tak datang karena tidak suka dengan pilihan cucunya. Walaupun sekarang Jelita sudah kaya , tapi dia tetap juga tidak suka dengan istri cucunya itu. Menurut Kakek Jaya, meninggalnya sang istri disebabkan oleh Jelita. Selama ini jika ada masalah hanya Nenek Dewi yang selalu menghampiri Jelita dan Angga . Jelita sama sekali tak tahu siapa pria tua yang datang berkunjung ke perusahaan Angga. Begitupun dengan Kakek Jaya, beliau juga tak tahu siapa wanita yang menyambutnya hari ini.


" Sebaiknya kita langsung menunggu Tuan Angga di ruangannya saja. Sebentar lagi dia akan sampai karena sudah dalam perjalanan," terang Jelita. Dia hanya bisa berharap agar Angga segera kembali karena dia tidak tahu bagaimana caranya mengobrol dengan pria tua yang ada di depannya.


Pengawal yang bersama dengan Kakek Jaya menganggukkan kepalanya. Dalam waktu beberapa menit , akhirnya mereka sampai di ruangan Angga. Kini di dalam ruangan itu hanya ada Jelita dan Kakek Jaya saja. Tak mungkin bodyguard ikut masuk karena mereka sama sekali tak memiliki kepentingan.


" Tuan Jaya , apakah Anda minum kopi ? Biar aku menyeduhnya untuk Anda, " tawar Jelita setelah suasana di ruangan itu begitu hening. Lidahnya terasa kelu setiap hendak ingin mengajak Kakek Jaya berbicara karena pria tua itu hanya diam saja.


" Apakah kau tak lihat aku setua ini ? Aku sudah mengurangi kopi untuk menurunkan kadar gula darah di tubuhku," sahut Kakek Jaya dengan nada yang datar.


Jelita menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal. Bingung sendiri mencari topik pembicaraan yang pas untuk dibicarakan.

__ADS_1


" Tuan , mau cemilan tidak ? Sambil menunggu Angga kembali , sebaiknya makan camilan, " tawar Jelita kembali tanpa rasa ingin menyerah.


Kakek Jaya melirik Jelita dengan tatapan datar lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


" Aku heran , di mana Angga menemukan asisten bodoh seperti dirimu yang tidak tahu apa-apa," ejek Kakek Jaya sambil mendengus.


Jelita menahan nafasnya agar tidak terbawa emosi. Beruntung yang mengatakannya adalah orang yang sudah tua sehingga dia tidak terlalu tersinggung.


" Tuan , mau aku ajak jalan-jalan keliling tempat ini tidak ? " tanya Jelita kembali dengan wajah berseri-seri. Tak peduli sekeras apapun nantinya pria itu menolak , dia akan tetap berbaik hati untuk mengajaknya berbicara. Jelita tidak ingin terjebak dalam suasana canggung yang menghinggapi keduanya.


Kakek Jaya memandang kembali Jelita selama beberapa saat sambil berpikir.


" Aku berjalan saja susah," kata Kakek Jaya dengan raut wajah yang terlihat kesal.


" Jika berjalan saja susah , untuk apa harus bekerja ? Seharusnya di usia Anda yang sudah senja , Anda sudah istirahat di rumah. Tidak perlu bekerja seperti ini. Di mana cucu Anda atau menantu atau anak Anda ? Kurang ajar sekali mereka sudah membiarkan Anda bekerja," ujar Jelita. Dia tidak tahu siapa Kakek itu . Alex juga sama sekali tidak menjelaskan siapa kakek itu.


" Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," kata Jelita dengan santai. Meski jawaban Kakek Jaya sedikit menyebalkan tapi obrolan mereka sudah mulai nyambung. Kalau melihat Kakek Jaya, dia jadi rindu dengan Kakeknya yang tinggal di Inggris.


" Bantu aku berdiri. Kenapa Angga lama sekali ? " gerutu Kakek Jaya sambil berusaha bangkit berdiri. Baru beberapa menit di sana tapi dia sudah merasa sangat bosan.


" Sebentar lagi juga sampai." Jelita membantu Kakek Jaya untuk berdiri pelan-pelan lalu menuntunnya pergi keluar dari ruangan itu. Jelita mengajak Kakek Jaya berkeliling di perusahaan tersebut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setengah jam kemudian.


Angga berlari dengan nafas terengah-engah. Dia bergegas mencari Jelita yang tengah mengajak Kakeknya berkeliling perusahaan. Dia baru saja mendapatkan kabar kalau kakeknya lah yang berkunjung ke perusahaannya. Ini gawat karena dia belum mengatakan apapun pada Jelita. Ditambah lagi Kakeknya selama ini tak pernah menyukai Jelita. Bahkan kakeknya juga tak pernah mau perkenalan dengan istrinya. Dia hanya berharap kalau kakeknya tak mengetahui kalau perempuan yang menemaninya adalah Jelita.

__ADS_1


Peraturan dalam keluarga besarnya terkadang membuatnya pusing. Karena itu dia sangat jarang sekali berkumpul bersama mereka jika tidak ada acara penting.


" Di mana mereka sekarang ? " gumam Angga celingukan kesana kemari mencari keberadaan Jelita dan Kakeknya.


Sedangkan Jelita yang masih bersama Kakek Jaya barceloteh panjang lebar menjelaskan setiap sudut perusahaan yang dia ketahui. Setelah setengah jam berkeliling , akhirnya Kakek Jaya mulai membalas ucapan Jelita dengan respon yang positif.


" Tuan , bolehkah aku memanggilmu Kakek ? Saat ini Kakekku tinggal di Inggris. Setiap melihat pria sebaya dengan Anda aku jadi merindukan Kakekku," ujar Jelita. Mendadak dia jadi rindu dengan Kakeknya


" Boleh, " sahut Kakek Jaya dengan nada datar.


" Kakek , sebenarnya ada tujuan apa Anda datang kemari ? " tanya Jelita. Setelah berceloteh panjang lebar akhirnya Jelita ingat untuk bertanya perihal kedatangan Kakek Jaya.


Kakek Jaya mengerutkan keningnya sambil memandang raut polos wajah Jelita. Tidak menyangka wanita ini tidak tahu tujuannya ataupun siapa dirinya padahal dialah yang menyambut kedatangannya.


" Sejak tadi kita sudah berkeliling perusahaan ini tapi kau sama sekali tidak tahu tujuanku ? " gerutu Kakek Jaya.


" Kakek bahkan tidak mengatakannya padaku . Aku tidak bisa membaca pikiran orang sehingga mana mungkin aku tahu , " sahut Jelita dengan enteng. Lagi pula tugasnya hanya sekedar menyambut dan menemani. Sedangkan untuk masalah yang lain bukan urusannya.


" Kau ini memang dasar gadis yang aneh ," cibir Kakek Jaya.


" Sudah berapa lama Kakek mengenal Angga ? Apakah baru - baru ini ? " tanya Jelita kembali.


" Sudah lama ," sahut Kakek Jaya dengan nada malas.


Jelita menahan kesabarannya, berbicara dengan pria tua seperti Kakek Jaya memang sangat menguji kesabaran. Terlebih lagi, pria paruh baya di hadapannya ini cukup ketus dan tak banyak bicara.


Namun lama - kelamaan Kakek Jaya akhirnya mau tertawa setiap mendengar Jelita bicara.

__ADS_1


" Gadis ini sangat lucu dan polos. Aku jadi menyukainya. Aku tak peduli dia miskin atau kaya , tapi aku ingin gadis ini menjadi istri cucuku. Aku harus segera menyingkirkan istri Angga secepatnya," pikir Kakek Jaya


__ADS_2