
Di rumah sakit.
Angga dan Jelita menceritakan semua keluhan yang dia alami kepada dokter . Dokter kemudian meminta Jelita berbaring pada dipan pemeriksaan untuk melakukan USG. Selesai melakukan USG , dokter meminta Jelita membuka kedua kakinya lebar - lebar. Dengan menggunakan sarung tangan yang sudah di beri pelumas, dokter lalu memasukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dalam vagi*a hingga mencapai leher rahim.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan , dokter pun kembali duduk.
" Pak Angga. Air ketuban istri bapak merembes keluar dalam jumlah sedikit. Jika dibiarkan terus-menerus maka jumlah air ketuban yang melindungi janin akan berkurang lalu keselamatan bayi Anda akan terancam. Sedangkan sampai saat ini belum ada pembukaan sama sekali," terang dokter tersebut menjelaskan.
Jelita yang mendengar penjelasan dokter perasaannya langsung tidak tenang.
" Lalu solusinya bagaimana , dok ? " tanya Angga dengan raut wajah yang terlihat sedang cemas.
" Ibu Jelita , Ibu mau melahirkan secara normal atau caesar ? " tanya dokter tersebut sembari menatap Jelita.
" Kalau saya ingin melahirkan normal apakah itu bisa , dok ? " tanya Jelita karena mengingat saat ini dia sedang mengandung bayi kembar.
" Tentu bisa , Bu . Apalagi tidak ada masalah dengan kondisi Ibu Jelita. Kalau begitu saya akan memberi Ibu obat induksi . Mudah-mudah dengan menggunakan obat induksi segera ada pembukaan, tapi kalau sampai besok belum ada pembukaan , maka terpaksa di operasi caesar, " ungkap dokter tersebut menjelaskan.
" Maaf , dok. Induksi itu apa ? " tanya Jelita sembari menaikkan alisnya.
" Induksi persalinan adalah proses yang dilakukan tenaga medis untuk merangsang rahim mempercepat proses persalinan," terang dokter itu lagi.
" Kalau begitu saya ingin melahirkan normal , dok ," kata Jelita dengan sangat yakin.
" Sayang , apa kau yakin dengan keputusanmu ini ? " tanya Angga seraya berbisik di telinga Jelita.
" Ya , aku sangat yakin ," sahut Jelita sembari menatap Angga.
Sebenarnya , setelah dokter mengatakan kalau dia akan melahirkan , dia langsung merasa sedih , takut , khawatir dan senang. Semua perasaan itu menjadi satu di hatinya.
Jelita tidak tahu seperti apa rasa sakit yang akan di rasakan saat ini , tapi dia akan berusaha melawan rasa sakit itu dengan bayi yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
Jelita kemudian dibawa ke ruang bersalin. Di ruang bersalin seorang perawat menyuruh Jelita agar mengganti bajunya menggunakan baju pasien. Angga lalu mengantar Jelita menuju ke kamar mandi dan membantu istrinya menggunakan baju khusus pasien.
" Sayang , jika kau tidak kuat dengan rasa sakitnya kita bisa melakukan operasi caesar. Aku tak bisa melihatmu kesakitan ," kata Angga dengan raut wajah cemas.
Tak hanya Angga yang cemas , Tio dan William pun sama.
" Ya , Tuhan . Tolong lancarkan semuanya ," pikir Tio yang dari tadi sudah tidak tenang.
" Ya , Tuhan. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar," pikir William yang juga tidak bisa tenang. Bahkan dia sampai tak membalas pesan dari Alessia karena memikirkan adiknya.
" Jelita , lebih baik sarapan dulu. Tadi kamu tak jadi sarapan ," kata Tio yang sudah membawa makanan untuk putrinya.
" Aku tidak nafsu makan , Pa , " sahut Jelita sembari menatap makanan yang ada di tangan Tio. Melihatnya saja perutnya sudah mau muntah apalagi menelannya.
" Dik , kalau kamu tidak makan nanti malah tidak ada tenaga . Makan sedikit saja demi bayi yang ada di dalam kandunganmu ," bujuk William.
" Hmmm , baiklah kalau begitu ," sahut Jelita mengalah. Dia memilih mengalah karena kakak dan Papanya sangatlah keras kepala . Mereka pasti tak akan menyerah begitu saja.
Jam dua belas malam, induksi dihentikan. Jelita saat ini baru pembukaan satu. Dia masih bisa mengobrol dengan keluarganya karena belum merasakan rasa sakit.
Terlihat dengan jelas wajah Angga yang sangat khawatir dengan istrinya , namun dia berusaha bersikap tenang dan mengajak istrinya mengobrol dan bercanda.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besoknya
Jam delapan pagi dokter pun datang untuk memberikan obat induksi lagi dan mengecek pembukaan.
" Saat ini baru pembukaan dua. Semangat , Bu Jelita ! " kata dokter tersebut sembari tersenyum.
Mulai dari saat diberikan obat induksi yang kedua, kontraksi mulai hebat. Jelita sudah tak bisa lagi mengobrol seperti sebelumnya.
__ADS_1
Jam sebelas siang , dokter datang lagi dan melihat keadaan Jelita. Dokter memperkirakan kalau Jelita akan melahirkan sekitar jam empat atau jam lima sore.
Berkali-kali Jelita mengubah posisi tidurnya karena tidak kuat dengan rasa yang dia rasakan. Kontraksi itu seperti mau PUP , sudah di ujung tapi tidak boleh ngeden dan perut Jelita serasa di remas - remas. Belum lagi seperti ada yang ngebor di dalam perutnya.
Jam dua siang, Jelita sudah masuk pembukaan enam. Rasa sakit yang dirasakan di pembukaan ini seperti beratus-ratus kali rasa sakit saat sedang datang bulan . Jelita rasanya tak kuat dengan rasa sakit ini. Dia bagaikan cacing kepanasan.
Berkali-kali Jelita menyuruh Angga memijat bagian punggung bawah dan tulang belakangnya untuk meringankan rasa sakit yang dia rasakan.
"Sayang , semangatlah ! Demi anak kita. Aku yakin kau pasti bisa ," ucap Angga. Pria itu ingin meneteskan air matanya karena tidak kuat melihat istrinya yang menahan rasa sakit seperti itu.
Sedangkan Tio dan William memilih menunggu di depan ruang bersalin. Mereka juga tak sanggup melihat Jelita yang seperti itu.
" Pa , ternyata sulit sekali menjadi seorang perempuan. Rasanya aku ingin menangis melihat Jelita,"kata William sembari duduk di samping Papanya.
" Kau memang benar. Papa juga tidak sanggup melihat Jelita seperti itu," balas Tio seraya menyandarkan punggungnya di tembok.
Jam tiga sore , pembukaan semakin cepat dan kontraksi tidak berhenti-henti. Jeda cuma satu menit dari satu kontraksi ke kontraksi lainnya. Dan Angga terlihat semakin panik melihat Jelita.
" Dok , sampai kapan istri saya akan seperti ini ? Saya benar-benar tidak tega melihatnya," ucap Angga dengan jujur sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
" Sabar , Pak. Ini tidak akan lama lagi kok. Menurut saya istri bapak begitu hebat, biasanya wanita lain saat kontraksi akan berteriak-teriak karena tidak tahan dengan rasa sakitnya. Tapi istri bapak tidak seperti itu. Bahkan perawat di sini sampai kagum dengan istri Anda," terang dokter sambil menatap Angga.
" Aku memang tidak mengeluarkan suara sedikitpun , karena menurutku itu hanya membuang-buang tenaga saja," balas Jelita .
" Tenanglah ! Sebentar lagi bayinya pasti akan segera lahir," kata Yuni sembari menepuk bahu Angga.
Jam lima sore, Jelita rasanya sudah tak tahan dengan rasa sakit yang dia rasakan. Yuni berkali-kali meminta dokter agar memeriksa Jelita . Dia juga tak tega melihat menantunya seperti itu.
" Saat ini pembukaannya sudah lengkap , " kata dokter sambil menatap Angga. Dokter lalu menyuruh Jelita untuk ngeden. Sedangkan Angga tetap setia berada di samping Jelita sambil menggenggam tangan istrinya.
Beberapa menit kemudian, Jelita akhirnya berhasil melahirkan secara normal. Dia melahirkan bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki.
__ADS_1