Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Vina


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Hari ini Jelita tidak pergi ke kantor karena menemani Mama mertuanya shopping. Karena malam ini Angga lembur jadi dia ingin menyusul sang suami ke kantor. Di perjalanan Jelita turun untuk membeli beberapa cemilan kesukaanya. Namun tiba-tiba dia tidak sengaja bertemu dengan Mila dan Nenek Anggi yang juga sedang belanja di tempat yang sama dengan Jelita.


" Mila Sayang, jangan terlalu ke tengah. Coba kamu lihat di sana ada si gadis pembawa sial. Dulu saat gadis pembawa sial itu masih berada di rumah, kau selalu mendapatkan masalah. Rumah tanggamu hancur karena gadis pembawa sial itu. Kamu dan Raka putus juga karena dia. Jadi lebih baik kamu berhati-hati," terang Nenek Anggi sembari melirik ke arah Jelita.


" Nenek memang benar. Aku harus berhati-hati. Jangan sampai hubunganku dengan Tio hancur," balas Mila.


"Coba kamu lihat, padahal dia sudah menjadi istri Angga Wijaya tapi penampilannya tetap saja tidak berubah," kata Nenek Anggi menatap sinis ke arah Jelita.


Jelita memilih diam saja. Kalau dia melawan pasti akan menjadi tontonan banyak orang yang ada di sini. Sebagai orang yang masih waras dia memilih diam saja.


" Semuanya yang ada di sini , tolong berhati-hati dengan perempuan ini. Perempuan ini adalah gadis pembawa sial. Suami dan menantuku bahkan sampai meninggal karena ulah wanita ini. Bahkan rumah tangga cucuku sampai hancur karena ulah wanita ini," teriak Nenek Anggi dengan raut wajah merah


Semua orang saling berbisik dan menatap ke arah Jelita. Entah apa yang mereka bisikkan hingga membuat Jelita tidak nyaman dan darahnya langsung mendidih.


" Maaf ,Nek. Apa aku mengenalmu ? Aku tidak mengenalmu tapi kau malah bicara buruk tentangku. Sekali lagi kalian bicara buruk tentangku, maka aku akan menuntut kalian karena sudah mencemarkan nama baikku. Bila perlu akan aku buat kalian mendekam di penjara selamanya. Dan jika ada yang membela mereka berdua , maka kalian harus bersiap-siap aku tuntut," ancam Jelita sembari menunjuk ke arah Mila dan Neneknya.


Orang-orang yang tadinya berkumpul langsung bubar karena takut dengan ancaman Jelita.


Jelita tidak tahu kalau Mila sudah keluar dari penjara. Apa Angga tahu hal ini ? Dan kenapa Angga tidak memberitahunya ?


Jelita mengambil ponselnya lalu menghubungi nomer suaminya.

__ADS_1


πŸ“ž" Halo ,Sayang. Ada apa ? Aku saat ini masih sibuk," ucap Angga dari seberang telepon.


πŸ“ž" Angga ,aku ingin bertanya sesuatu padamu,"


πŸ“ž" Memangnya mau menanyakan apa ? Sepertinya serius sekali. Apa kau ingin membicarakan masalah bulan madu kita yang masih tertunda ? " tanya Angga seraya menaikkan sebelah alisnya.


πŸ“ž" Bukan masalah itu. Aku ingin bertanya kenapa kau membebaskan Mila ? Kau juga tidak memberitahuku kalau Mila telah keluar dari penjara," balas Jelita dengan suara yang terdengar marah.


πŸ“ž" Aku sengaja membebaskannya karena calon suami Mila kemarin datang mengancamku. Aku bukannya takut dengan ancamannya , tapi dia berusaha meyakinkanku kalau dia akan membuat Mila berhenti mengganggu kita. Dan kalau Mila masih mengganggumu maka dia akan memberikan setengah kekayaannya padaku. Dia juga sampai membuat surat perjanjian padaku. Jadi aku percaya. Nanti kita lanjutkan lagi. Aku masih sibuk," sahut Angga yang langsung menutup sambungan teleponnya.


Jelita diam membeku sambil menatap ponselnya.


" Padahal calon suaminya sampai segitunya menolongnya tapi dia tetap tidak berubah.Dia memang gadis yang sangat beruntung. Bahkan baru saja putus dengan Raka tapi dia sudah mendapatkan seorang kekasih. Bahkan kekasihnya sampai rela mempertaruhkan kekayaannya. Dia memang selalu di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya," gumam Jelita yang kemudian memasukkan ponselnya. Setelah itu dia kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.


Sebelum ke ruangan Angga , terlebih dahulu Jelita menyeduh dua cangkir kopi untuk menghangatkan tubuh mereka. Seperti biasa, dia membuatkan kopi tanpa gula untuk Angga.


Meski agak kesulitan membawanya, tapi Jelita berusaha memegangnya agar tidak tumpah. Dengan wajah berbinar dia berjalan menuju ruangan Angga lalu membuka pintu menggunakan tubuhnya.


Pintu terbuka sedikit, Jelita menghentikan langkahnya yang bersiap masuk ke dalam ruangan. Ternyata di dalam sana, Angga tak seorang diri. Melainkan ada seorang wanita yang tidak dia kenal.


" Siapa wanita itu ?" Jelita menghirup udara dalam- dalam untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang lebih besar di paru-parunya. Dadanya sedikit sesak melihat Anggga bersama seorang wanita.


Haruskan dia masuk ke dalam ? Apa yang harus dia lakukan sekarang ?

__ADS_1


Jelita menggigit bibir bawahnya, niatnya ingin memberikan kejutan untuk Angga terpaksa gagal.


Sepertinya mereka sedang membahas suatu masalah pekerjaan , karena terlihat sangat serius. Haruskah dia pulang ?


Cukup lama Jelita terdiam di tempatnya hingga Alex datang.


" Nona ? " ujar Alex . Pria itu langsung menghampiri istri bosnya.


" Sepertinya Angga sedang sibuk, aku akan menunggu di luar saja . Tolong antarkan kopi dan camilan ini padanya. Aku ingin jalan-jalan sebentar." Jelita lantas menyerahkan kopi yang tadi di buatnya bersama camilan itu pada Alex.


" Sebaiknya Anda masuk saja. Wanita yang ada di dalam itu namanya Nona Vina. Dia adalah wanita yang sebelumnya ingin di jodohkan oleh Nenek Dewi. Akan tetapi Tuan Angga menolak , tapi Nona Vina masih terus berusaha mendekati Tuan Angga. Lalu sekarang mereka sedang membicarakan mengenai proyek yang baru saja di bangun. Sebelumnya Tuan Angga mengerjakan proyek ini bersama dengan kakaknya Nona Vina , tapi sejak kemarin Nona Vina yang menggantikan proyek kakaknya karena kakaknya akan menikah," terang Alex sembari menatap istri bosnya itu.


" Aku akan menunggu di luar saja. Aku percaya dengan Angga. Aku yakin dia setia padaku," sahut Jelita tersenyum. Dia bergegas pergi meninggalkan Alex yang membeku di tempatnya.


Terpaksa Alex masuk sambil membawa semua yang di berikan oleh Jelita padanya. Bagaimana caranya dia mengatakan hal itu pada bosnya ?


" Alex ? Kenapa kau membawa kopi kemari ? Sepertinya kami tidak memesan kopi. Lagi pula tak baik kopi bagi pekerja keras seperti Angga. Aku khawatir bisa berakibat buruk untuk kesehatannya," ujar Vina sembari mengerutkan keningnya.


Alex diam saja dan tetap meletakkan dua cangkir kopi itu di atas meja tanpa menjelaskan apapun. Dia hanya berharap Angga mengerti tanpa perlu di jelaskan kalau yang membuatnya adalah istrinya sendiri.


" Tidak masalah, aku sudah terbiasa minum kopi untuk menahan rasa kantuk. Memang tidak baik untuk kesehatan tapi sayang sekali aku tidak ada pilihan lain," kata Angga dengan santai.


" Oh,mulai sekarang sebaiknya di kurangi saja. Jangan minum terlalu banyak agar kau tetap sehat," terang Vina dengan penuh perhatian.

__ADS_1


" Tuan, apakah Anda masih lama pulangnya ? " tanya Alex sambil mengedipkan matanya sebagai isyarat tapi sayang sekali sepertinya Angga sama sekali tidak menyadarinya.


__ADS_2