
Setelah Nenek Anggi dan Mila pergi, William kemudian keluar menemui Tio.
" Pa , untuk apa mereka datang kemari ?" tanya William seraya menatap Tio.
Tio lalu menceritakan apa tujuan Mila dan Nenek Anggi datang ke rumahnya. Sebenarnya dia sudah dapat menebak tujuan Mila datang ke rumahnya. Pasti Mila tak suka tinggal di rumahnya yang lama. Dia sangat mengenal bagaimana sifat wanita itu. Dari dulu dia tak pernah menyukai Mila. Wanita itu selalu pura-pura baik kalau di depan Jelita , tapi kalau di belakang Jelita dia pasti menjelek-jelekkan atau kadang sengaja membuat masalah agar Jelita di marahi oleh Pak Andi. Terkadang dia juga sengaja menjatuhkan dirinya sendiri lalu memanggil Pak Andi dan mengatakan kalau Jelita yang telah mendorongnya. Setelah mendengar ucapan Mila, Pak Andi pasti langsung mengambil cambuk lalu mencambuk tubuh Jelita hingga badan Jelita terluka. Semua itu hampir setiap hari dilakukan oleh Mila dulu.
" Apa Papa percaya dengan ucapan mereka ? " tanya William lagi seraya menaikkan sebelah alisnya. Kalau dia sendiri tak percaya dengan ucapan mereka. Dia yakin pasti mereka sedang merencanakan sesuatu untuk Jelita. Kalau memang dugaannya benar , dia tak akan membiarkan rencana mereka berhasil. Mulai sekarang dia harus melindungi Jelita. Dia tak akan membiarkan adiknya menderita lagi.
Tio menepuk bahu William. Dia tahu apa yang ada di pikiran putranya saat ini. " Tenanglah , Papa sama sekali tak percaya dengan kata maaf yang keluar dari bibir mereka. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu , tapi Papa masih belum mengetahui apa yang sedang mereka rencanakan saat ini, " tutur Tio seraya menatap putranya.
" Kalau begitu kita harus segera mencari tahu. Suruh anak buah Papa agar mengawasi rumah Pak Andi," ucap William memberi saran.
" Kau tenang saja . Ketika Papa mendengar kabar kalau Mila kabur dari Gilang , Papa sudah menyuruh anak buah Papa untuk mengawasi rumah Pak Andi. Papa sengaja melakukan itu karena Papa tahu jika Mila berkumpul dengan keluarganya , dia pasti merencanakan sesuatu untuk Jelita. Dari kecil Mila selalu dimanjakan oleh keluarganya. Apapun keinginan gadis itu selalu dituruti. Mila juga tak pernah mengerjakan pekerjaan apapun selama hidupnya. Dari dulu dia sudah terbiasa merebut milik orang lain. Papa yakin dia pasti sulit terlepas dari kebiasaan buruknya itu," tutur Tio menjelaskan.
" Papa , benar. Mila dari dulu memang sangat dimanjakan oleh keluarga Pak Andi. Bahkan seingatku saat dulu Mila sekolah , jika ada tugas dari sekolah pasti dia meminta tolong pada Jelita agar mengerjakan tugas sekolahnya. Wanita itu sangatlah manja sekali, dia selalu menyuruh Jelita," tutur William seraya mengingat - ingat kejadian dulu.
" Kemarin anak buah Papa sempat mendengar kalau Mila dan Neneknya tak suka tinggal di rumah itu. Anak buah Papa juga mengatakan kalau Andi dan Riska sepertinya telah bertobat. Mereka mendengar kalau Andi dan Riska berkali-kali menasihati Mila dan Nenek Anggi agar tidak membuat kejahatan lagi, tapi Mila dan Nenek Anggi tak mendengarkan ucapan mereka sama sekali," terang Tio . Saat ini di rumah Andi ada dua anak buahnya yang bertugas mengawasi gerak-gerik keluarga Andi. Dia juga mengirim beberapa anak buahnya untuk mengawasi Jelita dan Angga yang sedang berbulan madu. Dia takut ada yang mengganggu kebersamaan Jelita dan Angga. Jadi dia sengaja menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengawasi anak dan menantunya .
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Satu minggu kemudian...
Kemarin sore Angga dan Jelita telah kembali dari berbulan madu. Saat ini Angga memutuskan akan tinggal di rumah Tio untuk sementara waktu. Dia sengaja mengambil keputusan seperti itu karena mengingat Jelita dan Papa mertuanya baru bertemu. Apalagi dia tahu kalau Jelita selama ini sangat ingin sekali mendapatkan kasih sayang seorang Ayah yang tak pernah dia dapatkan dari Pak Andi . Ditambah lagi dia juga nyaman tinggal di rumah Tio. Selama ini Tio juga tak pernah membedakan anak dan menantunya.
Pagi ini mereka akan kembali bekerja seperti biasa. Angga akan kembali bekerja di perusahaannya dan Jelita akan ikut menemaninya. Sebenarnya Angga tak mengizinkan istrinya bekerja karena melihat kondisi Jelita yang saat ini sedang hamil. Namun istrinya memaksa ingin ikut ke kantor dengan alasan bosan di rumah sendirian .
" Seharusnya kalian tidak perlu pulang terlalu cepat. Lagian perusahanmu juga sudah Papa dan William yang menangani," ujar Tio. Sebenarnya dia ingin Angga dan Jelita melakukan bulan madu lebih lama lagi karena mengingat selama ini sudah cukup banyak masalah yang datang dalam rumah tangga mereka. Tapi mereka malah pulang lebih cepat dengan alasan tak enak dengan dirinya dan William.
" Baiklah kalau begitu. Kapan - kapan kalau kalian ingin pergi berlibur katakan saja pada Papa," ucap Tio
" Iya , Pa . Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu ," pamit Angga seraya mencium punggung tangan Tio
" Pa, aku juga mau ikut pergi bekerja, " pamit Jelita yang juga mencium punggung tangan Papanya lalu kemudian berpindah mencium pipinya.
" Setelah melihat anak dan menantu Papa , ditambah perut Jelita yang semakin membesar. Papa akhirnya sadar kalau usia Papa saat ini sudah tua," ucap Tio .
__ADS_1
" Ha...ha...ha..." William langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Papanya. Selama ini Papanya selalu mengatakan kalau dirinya masih muda. Terkadang William sering marah-marah pada Papanya jika ada seorang gadis muda yang seusia dengannya datang ke rumah mencari Papanya.
" Akhirnya Papa menyadari juga kalau saat ini usia Papa sudah tua," kata William yang masih saja tertawa.
" Walaupun begitu Papa masih terlihat awet muda kok . Buktinya saat ini masih banyak gadis-gadis muda yang mengejar Papa. Kakak saja sampai kalah sama Papa," bela Jelita yang langsung meninggalkan Kakak dan Papanya. Tio langsung tersenyum karena Jelita membelanya
" Saat ini aku hanya ingin fokus dengan pekerjaanku dulu," sahut William.
" Tapi Papa sudah memutuskan ingin mengenalkanmu dengan anak rekan bisnis Papa. Cobalah berkenalan dulu dengannya , siapa tahu kau merasa cocok dengan gadis itu. Papa lihat gadis itu sangat baik dan juga sopan. Papa yakin dia pasti cocok denganmu ," terang Tio yang berusaha membujuk William.
" Baiklah aku setuju. Tapi saat aku berkenalan dengan gadis itu , aku ingin pura-pura menjadi pria cupu," sahut William yang langsung membuat Tio terkejut.
" Kenapa harus pura-pura menjadi pria cupu kalau kau sendiri memiliki wajah tampan seperti Papamu ini ? " tanya Tio tak mengerti dengan jalan pikiran William.
" Aku hanya ingin tahu apakah gadis itu tulus denganku atau tidak," ucap William tersenyum.
" Kau memang ada-ada saja," ujar Tio .
__ADS_1