
" Ya , Tuhan. Mila sudah meninggal, Pa ." Riska luruh bersimpuh di lantai dingin itu. Dia terus berteriak lirih dengan isakan yang begitu memilukan. Hatinya begitu sakit melihat Mila sudah tak bernafas lagi. Selama ini dia begitu menyayangi putrinya . Apapun yang Mila minta dia selalu turuti asalkan putrinya itu senang. Dia begitu memanjakan putrinya, tapi ternyata didikannya itu menjadikan Mila gadis manja dan tak mau berusaha jika menginginkan sesuatu.
" Ma , apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa Mila jadi seperti ini ? Pasti minuman beracun itu di minum oleh Mila," teriak Andi sambil menatap Nenek Anggi yang hanya diam saja.
" Kenapa malah cucuku yang mati ? Seharusnya wanita pembawa sial itu yang mati bukan malah cucuku," teriak Nenek Anggi seraya meneteskan air matanya. Dia memeluk jasad Mila sambil terus menangis.
" Kenapa Mama tak pernah berubah ? Padahal jelas-jelas semua yang telah terjadi adalah kesalahanmu sendiri. Aku yakin pasti Mama yang pertama kali mengajak Mila untuk membunuh Jelita. Andai kita mengajari Mila hal-hal yang baik, mungkin dia tak menjadi wanita jahat. Kemarin aku juga sudah meminta pada Mama agar berhenti melakukan kejahatan , tapi kau tak mendengarkan perkataanku. Andai kau mendengarkan perkataanku mungkin Mila tak seperti ini , " ucap Andi meneteskan air matanya.
" Aku melakukan ini demi cucuku. Aku hanya ingin dia bahagia. Apa salah jika aku ingin cucuku bahagia ? " tanya Nenek Anggi dengan raut wajah emosi.
" Tidak hanya Mama yang ingin Mila bahagia, aku juga ingin Mila bahagia. Tapi tidak seperti ini caranya, Ma," teriak Riska seraya menangis terisak-isak. Dia rasanya tidak kuat kehilangan putrinya.
" Mila , cucuku. Bangun sayang . Jangan tinggalkan Nenek ," kata Nenek Anggi yang terus menangis.
" Sudah , Ma . Kita ikhlaskan saja kepergian Mila. Mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan karena kita selama ini selalu jahat dengan Jelita," sahut Andi seraya menghapus air matanya.
Nenek Anggi hanya diam saja sambil terus memeluk jenazah Mila. Dia tidak ingin jauh dengan Mila, dia tak akan membiarkan cucunya sendirian. Jika jenazah Mila dikubur, maka cucunya pasti akan sendirian di dalam kuburan. Dia tak tega melihat Mila sendirian di sana. Dia ingin Mila selalu ada di dekatnya , tapi dia bingung apa yang harus dia lakukan agar bisa bersama cucunya.
Tiba-tiba tercium bau yang sangat busuk dari jenazah Mila hingga Andi dan Riska menutup hidungnya. Setelah itu keluar ulat belatung yang cukup banyak dari mulut Mila dan juga vaginanya.
Andi dan Riska terbelalak lebar melihat hal itu. Padahal Mila meninggal baru beberapa menit yang lalu tapi jasadnya sudah tercium bau busuk dan ada ulat belatungnya.
" Pa, lebih baik kita secepatnya mengurus jenazah Mila ," ucap Riska seraya menatap jenazah putrinya dengan raut wajah ketakutan.
" Kau benar , Ma ," sahut Andi yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Sedangkan Nenek Anggi hanya diam saja. Dia terus berpikir bagaimana caranya agar dia bisa bersama cucunya . Orang yang sudah mati tak mungkin bisa hidup lagi. Nenek Anggi lalu pergi ke ruang makan, setelah itu dia mengambil sisa minuman milik Mila. Dia meminum sisa minuman milik cucunya hingga habis.
__ADS_1
" Percuma aku hidup jika cucunya telah tiada. Lebih baik aku menyusul Mila saja. Aku akan menemaninya di sana ," gumam Nenek Anggi seraya meneteskan air matanya.
" Mila , cucuku. Tunggu Nenek sayang. Nenek akan menyusulmu. Nenek akan selalu menemanimu," gumam Nenek Anggi lagi. Dia tak akan membiarkan cucunya sendirian. Dia akan selalu menemani cucunya di manapun dia berada.
Tak berselang lama Nenek Anggi pun merasakan apa yang Mila rasakan barusan .
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dua bulan kemudian.
Sudah dua bulan Mila dan Nenek Anggi meninggal , tapi Jelita dan Tio sama sekali tidak tahu kalau Mila dan Nenek Anggi telah meninggal. Tio mengira kalau rencananya saat itu telah gagal. Andi pun tak pernah memberitahu Tio dan Jelita . Dia sengaja tidak memberitahu Tio dan Jelita karena merasa malu pada mereka.
Tapi hari ini dia terpaksa harus datang ke rumah Tio untuk minta maaf pada mereka. Setelah Mila dan Mamanya meninggal , dia dan istrinya tak pernah bisa tidur dengan nyenyak karena selalu diganggu oleh almarhum Mila dan Mamanya.
Hampir setiap malam dia selalu mendengar suara tangisan almarhum Mila dan Mamanya. Hingga akhirnya almarhum Mila dan Mamanya datang ke dalam mimpinya. Almarhum ingin meminta maaf dengan Jelita , jadi hari ini Andi dan Riska terpaksa datang ke rumah Tio untuk menyampaikan permintaan maaf dari almarhum.
Suara bel rumah Tio terus berbunyi, Bi Asih yang sedang di dapur langsung berjalan mendekati pintu utama untuk membuka pintu.
Ceklek !
Bi Asih membuka pintu utama dan menatap orang yang saat ini berdiri di depan pintu.
" Assalamualaikum, Bi," ucap Andi dan Riska dengan sopan .
" Waalaikumsalam, " sahut Bi Asih seraya menatap mereka. Bi Asih menatap mereka dengan raut wajah kesal. Dia tak suka jika keluarga Andi datang ke rumah majikannya. Setiap mereka datang ke rumah majikannya pasti akan selalu membuat masalah.
" Maaf , Bi . Apakah Tio dan Jelita ada di rumah ? " tanya Riska seraya menatap Bi Asih.
__ADS_1
" Ada , kalau begitu silakan masuk," ucap Bi Asih dengan ketus.
Andi dan Riska lalu masuk ke dalam mengikuti Bi Asih.
Tak berselang lama Tio dan Jelita datang menghampiri mereka.
" Untuk apa kalian datang kemari ? " tanya Tio dengan raut wajah tanpa ekspresi. Dia benar-benar tak suka dengan kedatangan Andi dan Riska , karena selama ini keluarga mereka selalu membuat masalah dengan Jelita.
" Kami ke sini ingin meminta maaf dengan Anda dan juga Jelita," sahut Andi menunduk.
" Meminta maaf ? Lalu setelah itu kalian merencanakan sesuatu untuk putriku ? Lebih baik kalian pergi dari sini. Kami tak ingin berurusan dengan kalian lagi," usir Tio dengan raut wajah yang merah padam.
" Tolong maafkan semua kesalahan kami , terutama kesalahan almarhum putri dan Mama kami ," terang Andi .
Raut wajah Tio dan Jelita tampak terkejut mendengarnya. Dia sama sekali tidak tahu kalau Mila dan Nenek Anggi telah meninggal. Kapan mereka meninggal ? Kenapa dia tak tahu mengenai hal itu ?
"Mila dan Mamaku sudah meninggal dua bulan yang lalu. Mereka meninggal karena minuman beracun yang mereka campur sendiri," tutur Andi dengan raut wajah sedih.
" Kenapa kalian tidak memberitahu kami kalau mereka telah meninggal ? " tanya Jelita seraya menaikkan sebelah alisnya. Walaupun mereka selama ini sangat jahat dengannya , tapi walau bagaimanapu Mila adalah adiknya.
" Kami sengaja tidak memberitahu kalian karena kami merasa malu dengan semua perbuatan kami selama ini ,"terang Andi lagi. Dia lalu menceritan semua yang terjadi setelah Mila dan Nenek Anggi.
" Ya , Tuhan. Seharusnya kalian memberitahu kami saat itu ," sahut Jelita dengan raut wajah yang sangat terkejut.
" Tolong maafkan semua kesalahan almarhum putri dan Mama kami ! " kata Andi memohon.
" Kami memaafkan mereka , kalau begitu besok kami akan berziarah ke makam almarhum Mila dan Nenek Anggi," sahut Jelita seraya menatap mereka. Dia tak menyangka kalau ternyata Mila dan Nenek Anggi telah meninggal.
__ADS_1