
Dua hari kemudian.
Ketika Jelita sedang sibuk dengan pekerjaannya,Angga diam-diam keluar kantor. Siang ini dia akan pergi menemui Pak Andi di sebuah Cafe dekat kantornya. Kebetulan dia sudah membuat janji dengan beliau.
Beberapa menit kemudian, dia akhirnya sampai di Cafe tersebut. Angga sengaja mengajak Pak Andi bertemu di Cafe karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan dengan Ayah Jelita.
Tidak berapa lama, yang di tunggu akhirnya datang. Seorang pria dengan pakaian rapi menuju ke tempat duduknya.
" Assalamualaikum," ucap Pak Andi
" Waalaikumsalam, silahkan duduk ,Pak." Angga tersenyum dengan pria itu.
"Terima kasih,Tuan muda," sahut Pak Andi dengan sangat sopan. Dia tahu kalau Angga adalah orang paling kaya di kota ini , jadi dia berusaha bicara sopan agar tidak mendapat masalah.
"Ada apa ya ,Tuan ? Kenapa Anda ingin bertemu dengan orang seperti saya ? " tanya Pak Andi dengan raut wajah penasaran. Tadi pagi dia begitu terkejut mendapatkan telepon dari asisten Angga yang mengatakan kalau bosnya ingin bertemu dengan Pak Andi. Dari tadi pagi Pak Andi merasa tidak tenang dengan pertemuan yang tiba-tiba ini. Dia merasa bingung, kenapa seorang pengusaha paling kaya tiba-tiba mengajak orang seperti dirinya bertemu ? Dia terus bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia sudah membuat masalah ? Hingga orang kaya seperti Angga mengajaknya bertemu .
" Sebelum itu pesanlah makanan terlebih dulu," kata Angga sembari memanggil seorang pelayan. Angga sengaja mengajak Pak Andi bertemu di Cafe karena dia ingin membicarakan masalah rencana pernikahannya. Karena walau bagaimanapun Pak Andi adalah Ayah Jelita. Dia sengaja tidak datang ke rumah Pak Andi karena merasa malas bertemu dengan adik Jelita atau yang lainnya.
" Ya,Tuan." Pak Andi mengangguk sedikit. Seorang pelayan datang dan mencatat pesanan Angga dan Pak Andi.
__ADS_1
" Saya sengaja mengajak Pak Andi bertemu di sini karena ingin membicarakan tentang putri anda yang bernama Jelita," ucap Angga sambil menatap pria itu.
" Jelita ? Memangnya ada apa dengan anak itu ? Apa dia telah membuat masalah dengan Anda ? Jika memang benar seperti itu , lebih baik Anda selesaikan masalah Anda dengan Jelita. Selama ini saya tidak pernah menganggap anak itu bagian dari keluarga saya. Dia hanyalah anak pembawa sial bagi keluarga kami," terang Pak Andi dengan menunduk.
Mendengar hal itu darah Angga langsung mendidih , tapi dia berusaha menahan emosinya. Dia tidak menyangka kalau Jelita tidak pernah di anggap oleh keluarganya sendiri. Bahkan seorang Ayah begitu tega bicara seperti itu mengenai putrinya.
" Apa karena istri dan Ayah Anda yang meninggal setelah menyelamatkan Jelita saat dia berumur tiga tahun ?"tanya Angga sembari menatap pria itu.
"Kenapa Tuan Muda bisa tahu hal itu ? " tanya Pak Andi dengan alis mata terangkat. Pak Andi merasa curiga kalau Angga telah memata-matai kehidupan keluarganya. Dia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang sebenarnya di inginkan oleh Angga ?
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Keduanya lalu makan dan setelah itu melanjutkan pembicaraannya.
Dia sangat kesal dengan Pak Andi. Padahal dia belum memberitahu apa tujuannya mengajak bertemu , tapi pria itu sudah duluan mengatakan kalau dia dan keluarganya tidak pernah menganggap calon istrinya bagian dari keluarganya. Dan bahkan mereka telah menganggap Jelita sudah tiada. Angga sungguh sakit hati dengan ucapan Pak Andi tersebut. Tak terasa air matanya sudah menetes. Dia sungguh kasihan pada calon istrinya. Sungguh malang nasibnya. Entah bagaimana calon istrinya itu menjalani kehidupannya selama ini. Sosok Ayah yang seharusnya menjadi sandaran ketika putrinya sedang sedih atau mendapat masalah tapi Pak Andi malah tidak pernah perduli dengan gadis itu.
" Berarti selama ini Jelita selalu menghadapi semuanya sendirian ? Membayangkannya saja hatiku rasanya sakit sekali. Mulai sekarang aku akan selalu ada di sampingnya dan melindunginya," gumam Angga.
Tiba-tiba ada seorang wanita dengan pakaian yang cukup seksi melambaikan tangan ke mobil Angga dan berdiri di depan mobil pria itu. Angga langsung menghentikan mobilnya dan memperhatikan wanita itu.
" Bukankah dia Mila, adik Jelita. Mau apa dia ? " pikir Angga dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
" Maaf ,Tuan. Apa aku boleh minta tolong ? Mobilku tiba-tiba saja mati. Apa kau mengerti masalah mobil ? Kalau kau mengerti masalah mobil , tolong bantu aku ? " kata Mila sambil menatap Angga yang masih duduk di dalam mobilnya.
" Maaf , aku tidak mengerti masalah mobil. Lebih baik kau hubungi montir," sahut Angga dengan ketus.
" Aku lupa membawa uang dan ponselku. Bisa tidak kau antarkan aku pulang ke rumahku ? " tanya Mila lagi. Gadis itu berusaha mendekati Angga.
" Tolong jangan bicara terlalu dekat. Kau ambil saja uang ini dan cari taksi agar bisa pulang," kata Angga sembari melempar uang itu ke arah Mila. Setelah itu mobil Angga langsung meninggalkan gadis itu di sana sendirian.
" Dasar pria sombong. Awas saja kau pria sombong. Nanti kau pasti akan jatuh ke dalam pelukanku, dan tergila-gila padaku. Dia tidak tahu kalau aku sangat pintar bermain di ranjang. Kalau dia tahu, dia pasti merasa menyesal bersikap seperti tadi," umpat Mila dengan raut wajah yang merah padam. Gadis itu sangat marah karena baru kali ini dia di perlalukan seperti itu oleh seorang pria.
Dia lalu naik ke dalam mobilnya dengan wajah yang sangat marah. Sampai rumah dia langsung menceritakan semuanya pada sang Nenek dan Mamanya.
" Sabar sayang, kamu harus lebih berusaha lagi. Jangan biarkan Jelita bahagia. Kamu harus ingat, gara-gara menyelamatkan Jelita Mamamu jadi meninggal," ucap Nenek Anggi sambil memeluk cucunya.
" Nenek bicara benar ,sayang. Mama yakin kamu pasti bisa mendapatkan pria itu," kata Riska pada Mila.
" Kalian memang benar. Besok aku akan berusaha lagi. Lalu bagaimana dengan rekaman videonya ,Nek ? " tanya Mila sembari menatap sang Nenek. Kemarin gadis itu sudah merekam saat dia berhubungan dengan Raka. Dia sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya.
" Masalah itu kamu tenang saja. Biar Nenek yang mengurusnya," sahut Nenek Anggi.
__ADS_1
" Terima kasih. Aku sayang banget sama Nenek," balas Mila sambil memeluk dengan erat Neneknya.