
Kediaman Pak Andi.
Sebuah dekorasi yang sangat mewah dengan taburan bunga menghiasi sebuah rumah yang akan menjadi tempat berlangsungnya sebuah acara sakral. Sebuah acara yang sudah di tunggu-tunggu oleh Mila.
Di dalam kamar yang di penuhi bunga-bunga segar, Mila mematut dirinya di depan cermin dengan balutan gaun berwarna putih menghiasi tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang karena sebentar lagi pernikahaannya dengan Tio akan segera di laksanakan.
Seulas senyum selalu tersungging di bibirnya . Gaun putih berenda dengan ekor panjang begitu pas di tububnya. Di tambah mahkota kecil berwarna silver semakin menambah kesan anggun dari wanita itu.
Hari ini Mila akan menjadi wanita yang paling bahagia yang ada di dunia ini. Detik demi detik waktu seakan berjalan lambat. Gadis itu mengusap dadanya untuk menenangkan hatinya.
Terdengar suara derit pintu yang terbuka.
" Mila, ayo keluar, " ajak Riska. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyumnya. Ikut bahagia karena hari ini adalah hari pernikahan putrinya. Meski berat rasanya harus melepas karena dia merasa belum puas bersama putrinya yang terkadang masih bersikap kekanak-kanakan.
Apakah rombongan keluarga Tio sudah datang ? " tanya Mila dengan senyum mengembang yang terpancar dari wajahnya. Terlihat jelas menampakkan rasa bahagia.
" Sepertinya rombongan sudah datang," sahut Riska sembari menatap Mila dari pantulan cermin.
Mila menganggukkan kepalanya sembari menghela nafas pelan lalu bangkit berdiri.
" Kau sangat cantik hari ini. Selamat untuk pernikahanmu yang sebentar lagi akan berlangsung." Riska mengecup kedua pipi Mila secara bergantian. Disekanya air mata yang hendak gugur membasahi pipinya.
" Terima kasih, Ma. " Mila memeluk Riska hingga beberapa saat. Sebentar lagi dia akan menjadi istri Tio, tentu tak bisa bersikap manja lagi seperti dulu pada Mamanya.
" Jangan menangis , kita tidak akan berpisah. Kau akan tetap jadi putriku," tutur Riska.
Gadis itu mengangguk- anggukkan kepalanya pelan. Air mata yang sudah menggenang berusaha di tahan agar tidak keluar.
__ADS_1
Mila berjalan menuruni anak tangga sembari menggandeng lengan Riska. Saat ini sudah banyak tamu undangan yang datang, karena akan sekalian melakukan resepsi pernikahan.
Riska dan Mila terus berjalan ke tempat di mana sebentar lagi berlangsung acara. Rasanya hatinya begitu bahagia karena sebentar lagi akan menjadi istri orang kaya.
Tiba-tiba saja , dari luar terdengar suara orang yang sedang berseteru. Mila bisa mendengar kalau itu adalah suara Pak Andi.
" Ma , kenapa ada suara orang ribut-ribut ? " tanya Mila dengan raut wajah panik. Tidak biasanya Papanya marah-marah di depan orang banyak.
" Ayo kita lihat," ajak Riska. Wanita itu tidak tahu apa-apa karena sebelum menjemput Mila tak ada kerusuhan apapun yang terjadi.
Mila mempercepat langkahnya sambil memegang bagian bawah gaunnya agar kakinya tidak tersandung. Dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi karena mendadak firasatnya tidak enak.
Seketika mata Mila membulat sempurna melihat Papanya dan juga orang kepercayaan Tio. Suatu pemandangan yang seharusnya tidak pernah di lihatnya.
" Papa , apa yang terjadi ? " tanya Mila pada Papanya lalu mengedarkan pandangannya mencari Tio. Namun sayang sekali dia tidak melihat calon suaminya ada di sana.
" Tidak mungkin, tidak mungkin Tio melakukan itu. Papa pasti berbohong," teriak Mila dengan bibir gemetar.
" Tapi itu adalah kenyataannya. Tio tidak datang. Dia lebih mementingkan pekerjaannya . Dia sudah membuat keluarga kita malu. Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan ? Tamu undangan juga sudah banyak yang datang, " teriak Pak Andi dengan sangat marah.
Kaki Mila terasa lemas, tubuhnya mulai sempoyongan dan hampir ambruk seandainya saja tidak ada Riska yang menompangnya.
Riska tak bisa berkata-kata lagi. Dia juga syok mendengar apa yang terjadi. Begitu juga dengan Neneknya.
"Tio , kenapa kau tega melakukan ini pada putriku ? " batin Riska dengan air mata yang telah menetes. Dia tidak tega melihat putrinya yang terus menangis.
Di saat suasana sedang kacau, seorang pria cupu berjalan menghampiri mereka. Dia berharap bisa menyelesaikan kekacauan yang tengah terjadi.
__ADS_1
" Hmmmm." Pria itu berdehem dengan suara lantang hingga mengalihkan perhatian mereka.
Mereka langsung mengalihkan pandangannya ke arah pria itu.
" Jika kalian tidak keberatan , biarkan aku yang menggantikan Pak Tio untuk menikahi Mila," ujar seorang pria dengan sopan. Pria ini adalah tetangga Mila.
Mila yang sedang menangis meratapi nasibnya sontak berhenti lalu menoleh ke arah pria itu. Seorang pria cupu , dan miskin yang hampir setiap hari dia bully. Apakah dia tidak salah dengar ? Si cupu ini ingin menggantikan Tio ?
" Aku tidak setuju, aku tidak setuju cucuku menikah dengan pria miskin. Pria ini hanya tukang kebun. Mau di kasih makan apa cucuku kalau Mila menikah dengan pria ini," tolak Nenek Anggi dengan nada tinggi.
"Aku hanya ingin membantu kalian. Aku tidak tega melihat keluarga kalian di permalukan. Apa kata orang-orang jika pernikahan ini di batalkan ?" ungkap seorang pria bernama Gilang.
" Kau pikir pernikahan ini untuk main-main ? Aku tidak ingin putriku menikah dengan pria sepertimu," tolak Riska.
Tiba-tiba Ibu Susi datang menghampiri mereka. Dia adalah tetangga Pak Andi.
" Mila, mungkin ini karma karena dulu kau pernah membuat Jelita gagal menikah, dan bahkan merebut calon suaminya. Walaupun selama ini kalian selalu membodohi tetangga yang lain , tapi aku tidak sebodoh mereka. Aku tahu apa saja yang terjadi di rumah kalian ini. Dari Jelita kecil, kalian selalu menyiksa gadis itu. Aku curiga, jangan-jangan Jelita bukan putri Pak Andi . Wajah dan sifatnya saja tidak mirib sama sekali dengan kalian," ucap Ibu Susi sembari menatap Pak Andi.
" Jangan sok tahu kamu,lebih baik kau diam," sahut Nenek Anggi dengan raut wajah kesal.
" Gilang, apa kau bodoh ? Buat apa kau ingin membantu Mila ? Jika kau membantunya , maka hidupmu akan di buat susah oleh gadis ini," kata Ibu Susi sembari menatap Gilang dengan heran.
" Aku hanya tidak tega melihat keluarga Pak Andi seperti ini. Tapi aku harap kalian bisa mempertimbangkan semuanya. Jika kelak Mila merasa tidak ada kecocokan denganku. Maka aku sama sekali tidak masalah jika dia meminta bercerai." Gilang mengatakan kalimat terakhir dengan suara berat.
" Baiklah, aku terima tawaranmu," terang Pak Andi dengan dada naik turun. Lagi pula putrinya bisa bercerai jika merasa tidak cocok dengan Gilang.
Pak Andi lalu membujuk Mila. Setelah bersusah payah membujuknya, Mila akhirnya setuju menikah dengan Gilang .
__ADS_1