
Angga duduk di salah satu kursi yang ada di sana sambil memegangi kepalanya dengan sebelah tangan. Penasaran dengan berita hari ini, pria itu memeriksa situs berita dari ponselnya.
Matanya terbelalak lebar dan syok melihat berita terhangat hari ini. Di depan layar terpampang dirinya dan Mila yang menjadi topic pembicaraan. Kata-kata yang tertulis sebagai judul juga mengandung kebencian.
* Pria Penggoda * Itulah kalimat singkat sebagai judul di halaman tersebut lalu di ikuti dengan kalimat-kalimat lainnya.
Wajah Angga semakin marah melihat komentar-komentar yang menghujatnya. Kalimat yang mereka tulis sangat menyakitkan dan menusuk rongga dadanya.
" Awas saja kau Mila. Aku akan memberimu pelajaran," gerutu Angga sembari mengepalkan tangannya dengan kuat.
Angga meremas ponsel di dalam genggamannya. Kenapa berita keji itu cepat sekali menyebar ?
" Sudah jangan di lihat. " Tidak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba saja Jelita sudah duduk di sampingnya lalu menutupi layar ponsel Angga. Dia khawatir pria itu stress berat memikirkan berita palsu yang menimpanya.
" Jelita ? " ujar Angga sambil menatap calon istrinya itu.
" Apa yang kau lakukan di sini ? Bukankah aku sudah memintamu untuk tetap berada di dalam ?" tanya Jelita sambil menggenggam tangan pria itu
" Aku hanya merasa bosan berada di dalam," sahut Angga.
" Ayo kita ke dalam ,"
Angga menurut, ini seperti mimpi buruk baginya. Seandainya saja dia ikut bersama Jelita menemui Bibinya pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.
" Mulai sekarang jangan membaca berita yang tidak penting," tutur Jelita yang sudah duduk di sofa bersama Angga.
" Apakah kau percaya padaku ? " tanya Angga dengan mata memerah. Bukan berita yang di takutkannya, tapi dia lebih takut Jelita tidak mempercayainya lagi. Dia takut Jelita lebih percaya pada adiknya.
" Aku bersumpah tidak menggoda adikmu. Aku bahkan tidak ingat apa yang sebenarnya telah terjadi," ucap Angga dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat takut kehilangan Jelita.
__ADS_1
" Tentu saja, mana mungkin kau menggoda Mila. Bisakah kau jelaskan padaku apa saja yang kau makan saat berada di sini ? " tanya Jelita sambil menatap pria itu. Dia ingin membersihkan nama Angga lebih cepat agar berita itu tidak semakin melebar. Dia sangat yakin kalau Mila sengaja memberitahu media tentang kejadian tadi.
Angga mengingat- ngingat, sepertinya dia tidak memakan sesuatu yang aneh.
" Seingatku aku tidak makan apapun. Aku hanya minum kopi saja," terang Angga pelan-pelan sambil mengingat-ingat agar tidak ada yang terlewatkan dalam ceritanya.
" Sebelum itu kau tidak makan yang lainnya ? " tanya Jelita lagi sambil mengeryitkan keningnya.
Angga menggelengkan kepalanya.
" Atau jangan-jangan kopi itu sudah di campur sesuatu ? " tanya Angga. Pria itu sangat yakin kalau kopi yang dia minum penyebabnya.
" Aku sudah meminta seseorang untuk memeriksa kopi yang kau minum. Kita akan lihat hasilnya nanti," kata Jelita. Dia juga sangat yakin kalau kopi itu sudah di campur dengan obat perangsang oleh Mila. Hanya saja dia masih bingung bagaimana Mila melakukan semua itu .
" Sayang , aku minta maaf. Gara-gara aku jadi timbul masalah seperti ini," kata Angga dengan sendu.
" Kenapa harus meminta maaf ? Ini semua bukan salahmu. Ini semua salahku. Nama baikmu jadi buruk karena ulah adikku yang ingin menghancurkan hubungan kita," terang Jelita.
" Jangan cemas, aku sudah meminta Alex agar berita-berita itu cepat di hapus," terang Jelita.
Angga kembali bersin-bersin karena hidungnya semakin terasa gatal.
" Lebih baik kita pulang sekarang. Aku yakin masalah ini pasti akan segera menemukan titik terang," ajak Jelita.
" Jangan sampai karena masalah seperti ini kau jadi sakit," imbuh Jelita seraya memeriksa dahi Angga dengan punggung tangannya yang terasa hangat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya.
__ADS_1
Hari ini gadis itu akan pergi ke rumah Papanya. Tadi sore Pak Andi menghubungi Jelita dan meminta gadis itu agar membawa Angga ke rumahnya. Entah apa ingin di bicarakan oleh Pak Andi. Tapi Jelita tidak memberitahu semua itu pada Angga . Dia memilih pergi sendiri.
Setelah sampai di depan rumahnya , dia langsung mengetuk pintu rumah itu sambil mengucapkan salam.
Tak berselang lama pintu rumah itu di buka oleh Riska.
" Akhirnya kau datang juga. Lebih baik kau masuk ke dalam karena Papamu sudah menunggu dari tadi," ucap Riska sembari menatap Jelita.
Jelita langsung masuk begitu saja dan langsung menunju ke ruang tamu. Di sana sudah ada Nenek Anggi, Mila dan Papanya.
" Di mana pria itu ? Kenapa kau datang sendiri ? " tanya Pak Andi sembari menatap Jelita dengan penuh amarah.
" Siapa yang kau maksud ? Apakah kalian menunggu calon suamiku ? " tanya Jelita sembari menatap mereka dengan sinis.
" Calon suamimu sudah menggoda adikmu. Entah apa yang sudah dia lakukan pada adikmu.Lebih baik kau suruh dia bertanggung jawab untuk menikahi Mila," terang Pak Andi sembari menatap Jelita.
" Apa tidak terbalik ? Putrimu yang sudah menggoda calon suamiku. Putrimu itu sungguh sangat murahan sekali," ungkap Jelita dengan wajah berapi-api.
" Jaga ucapanmu itu. Mila adalah gadis baik-baik. Kau itu baru wanita murahan," balas Nenek Anggi sembari menatap Jelita dengan tajam.
" Wanita baik-baik kau bilang ? Apakah mata kalian masih berfungsi dengan baik ? Kalau memang dia wanita baik-baik lalu untuk apa dia datang ke perusahaan calon suamiku di saat aku tidak ada di kantor ? Apalagi sampai mengaku kalau dia adalah kerabat dari calon suamiku," ucap Jelita dengan penuh amarah.
" Aku datang kesana karena di suruh oleh calon suamimu. Tapi aku tidak tahu akan terjadi seperti itu. Calon suamimu sudah menodaiku," sahut Mila yang berusaha membela dirinya sendiri.
" Kau harus meminta pria itu menikahi Mila secepatnya," perintah Pak Andi.
" Bukankah aku sudah datang terlebih dahulu di saat kau ingin menyentuh calon suamiku ? Kau memang wanita pembohong. Asal kau tahu, aku tidak percaya dengan semua ucapanmu. Karena yang aku tahu , calon suamiku dari kecil hingga sekarang menderita OCD ringan . Dia tidak bisa menyentuh wanita lain selain aku dan Ibunya. Bahkan dia saja tidak pernah menyentuh Neneknya. Kau memang wanita murahan ," ucap Jelita sambil melempar hasil tes milik Angga yang mengatakan kalau pria itu menderita OCD ringan.
Kedua mata Mila langsung terbelalak lebar melihat semua itu. Begitu pun dengan Nenek Anggi.
__ADS_1
" Aku akan melaporkan masalah ini ke kantor polisi agar putri kesayangan kalian bisa merasakan bagaimana hidup di sebuah penjara. Dan satu lagi, bukankah selama ini kalian sendiri yang mengatakan kalau aku bukan bagian dari keluarga ini ? Jadi jangan pernah mengatakan kalau Mila adalah adikku, karena aku juga tidak ingin memiliki adik seperti dia," kata Jelita sambil menunjuk Mila. Setelah itu Jelita langsung pergi meninggalkan mereka. Dia sangat malas berada di sana terlalu lama.