
Di sebuah restoran.
Setelah kepergian Andi , Tio memutuskan pergi bekerja. Baru saja memulai pembicaraan dengan rekan kerjanya , tiba-tiba ponselnya berdering. Awalnya Tio membiarkannya karena getaran ponselnya tidak akan mengganggu pertemuan mereka. Namun setelah ketiga kalinya panggilan, Tio mulai penasaran. Dia lantas merogoh ponsel dari saku jasnya.
" Sebentar," ujar Tio pada orang-orang yang ada di sana. Alisnya berkerut melihat nama Amanda menghiasi layar ponselnya.
" Ada apa dia menghubungiku ? Biasanya dia selalu sibuk," gumam Tio seraya menaikkan sebelah alisnya.
" Aku izin menjawab telepon sebentar. Yudi akan menjelaskan semuanya, " pamit Tio lalu pergi meninggalkan kursinya.
" Kak Tio, apakah kau di sana ?" tanya Amanda ketika sambungan teleponnya terhubung.
" Ya, ada apa ? " tanya Tio tanpa ada rasa curiga.
" Kak, menantumu...." Amanda memotong ucapannya hingga beberapa detik.
" Menantuku ? Memangnya ada apa dengan menantuku ? " tanya Tio lagi dengan raut wajah penasaran.
" Menantumu mengalami kecelakaan. Sekarang aku berada di rumah sakit Cinera," ungkap Amanda terbata.
" Maksudmu Angga ? " tanya Tio dengan suara meninggi akibat rasa panik dan takut bercampur menjadi satu.
" Kakak bagaimana sih ? Memangnya kakak punya berapa menantu ? " ujar Amanda dengan kesal. Bisa-bisanya sepupunya itu melupakan menantunya sendiri.
" Baik aku akan segera kesana." Tanpa pamit pada Yudi dan rekan kerjanya, Tio berjalan setengah berlari dari restoran tersebut. Tubuhnya terasa sangat ringan hingga dalam waktu singkat sudah sampai di mobilnya.
__ADS_1
Dia kemudian menghubungi Jelita dan memberitahu putrinya . Sekujur tubuh Jelita langsung terasa lemas, namun gadis itu berusaha untuk kuat.
Jelita langsung menginjak pedal gas kuat-kuat. Melajukan mobilnya pada kecepatan penuh. Dia tidak peduli pada orang-orang yang membunyikan klakson untuk memperingatinya.
Pikirannya sudah kemana-mana. Dia hanya berharap Angga baik-baik saja.
Beberapa jam kemudian Jelita akhirnya sampai di rumah sakit. Di sana sudah ada mertua dan juga Papanya.
Jelita duduk dengan kepala tertunduk lesu. Padahal baru beberapa jam yang lalu Angga menghubunginya , tapi sekarang pria itu sudah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia memang masih marah pada Angga , tapi kalau melihat Angga seperti ini dia juga tidak tega pada pria itu.
Amanda menghampiri Tio yang tengah duduk di samping putrinya..
" Kak Tio, Jelita, aku tidak tahu harus bicara apalagi pada kalian. Sebenarnya Angga kecelakaan karena menolong putraku yang hendak menyeberang jalan. Tadi putraku tiba-tiba saja dia menghilang dari pengawasan kami. Tolong maafkan aku! "terang Amanda dengan penuh rasa sesal. Dia tidak menyangka akan terjadi sesuatu di luar dugaan seperti ini.
Tio memandang Amanda dengan mata yang sayu. Dia tidak tahu harus bicara apa pada sepupunya itu. Saat ini dia hanya memikirkan menantunya. Walaupun Angga telah menyakiti hati putrinya, namun pria itu pernah menyelamatkan Jelita dan menjaga putrinya saat keadaan terpuruk.
Tio hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa ingin mengatakan apapun lagi. Dia masih syok dan seperti masih bermimpi.
Jelita ingin masuk ke ruangan Angga, namun dokter tidak mengizinkannya. Setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan, akhirnya dia diizinkan masuk ke dalam ruangan di mana Angga dirawat.
Pria itu terlihat pucat dengan perban yang mengikat kepalanya. Tak hanya itu, di tangannya terdapat luka akibat tergores aspal yang kasar.
"Angga, seharusnya kau tidak usah mencariku. Kalau kau tidak mencariku, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi," ucap Jelita dengan kepala yang tertunduk. Tangannya sejak tadi menggenggam erat tangan Angga.
Satu hal yang paling ditakutkan oleh Jelita adalah takut kalau Angga sampai lupa ingatan. Ucapan dokter tidak akan dia percaya seutuhnya sebelum Angga sadarkan diri.
__ADS_1
" Bangunlah, aku hanya ingin kau sehat seperti sedia kala," pinta Jelita sembari mengusap dengan lembut rambut Angga.
Mata Jelita terlihat sayu dan lelah akibat semalaman menunggu Angga. Wanita itu tak mau memejamkan matanya meski beberapa menit. Perasaannya tidak tenang sebelum melihat Angga membuka matanya.
" Sayang, lebih baik kau pulang dan tidur dulu. Saat ini kau sedang hamil jadi kau tidak boleh terlalu lelah seperti ini," kata Yuni seraya duduk di samping menantunya.
"Mertuamu benar. Lebih baik kau pulang dulu," ucap William yang merasa khawatir dengan Jelita.
" Aku tidak apa-apa. Aku bisa memejamkan mataku di sofa ini," sahut Jelita.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dua minggu kemudian
Sudah dua minggu Angga koma, dan Jelita masih setia menunggu Angga membuka mata.
" Jelita, saat ini perusahaan sedang membutuhkan Angga. Papa tidak bisa melakukannya sendiri. Bisakah kau menggurus perusahaan itu untuk sementara waktu ? " tanya Rangga seraya menatap menantunya.
" Maaf ,Pa. Aku tidak bisa melakukan itu. Setelah Angga sadar aku akan tetap meminta cerai dengannya." ucap Jelita menunduk. Di bertekad ingin hidup sendiri saja. Dari dulu dia selalu di sakiti oleh seorang pria. Setelah Angga sadar dia ingin memutuskan meninggalkan kota kelahirannya dan tinggal bersama Kakek dan Neneknya.
Kedua mata Rangga membulat mendengar ucapan menantunya. Dia kira setelah ini Jelita akan memaafkan kesalahan putranya ,namun ternyata dugaannya salah. Tapi menurutnya itu adalah hal yang wajar. Gadis itu pasti masih sakit hati dengan semua yang di lakukan oleh Angga dan Ibunya.
" Coba pikirkan dengan baik keputusanmu itu. Pikirkan juga anak yang ada di dalam kandunganmu. Angga sangat mencintaimu. Kesalahannya hanya satu, dia terlalu percaya dengan Neneknya. Angga adalah anak yang pekerja keras. Bahkan perusahaan yang dia miliki saat ini adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri. Dulu Papa selalu marah pada Angga karena dia tak pernah mau mengurus perusahaan milik keluarga Wijaya. Setiap hari dia hanya mengurung diri di kamar dan itu membuat Papa semakin marah. Lalu lama- kelamaan Papa dikejutkan dengan berita yang ada di media. 'Pengusaha muda Angga Wijaya' , begitulah judul berita yang menyebar di mana-mana . Saat itu Papa sangat bangga pada Angga. Dia adalah anak yang hebat. Di saat semua anak muda berfoya-foya dengan harta orang tuanya, dia malah memilih membangun semuanya dari nol. Dan asal kamu tahu, tiga hari setelah kalian menikah, semua usaha yang di bangun oleh Angga dari nol telah di berikan padamu. Semua kekayaannya sudah di atas namakan namamu. Dia melakukan itu karena begitu mencintaimu. Papa tidak akan melarang jika kamu tetap ingin cerai dengan Angga. Tapi tolong datanglah ke perusahaan . Saat ini pemilik perusahaan itu adalah dirimu sendiri," tutur Rangga menjelaskan semuanya pada menantunya.
Mata Jelita membulat mendengarnya. Dia sama sekali tidak tahu mengenai semua ini. Seharusnya Angga tidak perlu melakukan semua itu untuknya.
__ADS_1
" Baiklah, mulai besok aku akan datang ke perusahaan," sahut Jelita seraya menatap Papa mertuanya. Untuk sementara dia yang akan mengurus perusahaan itu hingga Angga sehat. Setelah Angga sadar dan sehat , dia akan mengembalikan semuanya pada Angga. Karena dia tidak butuh semua kekayaan Angga.