Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Pernikahaan


__ADS_3

Setelah sembuh dari traumanya , Alessia tak lagi menggunakan masker jika ingin keluar rumah. Dia sudah bertekad akan melawan rasa takutnya selama ini.


Dan hari ini , Alessia akan pergi ke acara pernikahan sahabat dekatnya di waktu SMA. Dia pergi ke sana bersama dengan William.


" Alessia , kau benaran akan pergi ke sana ? Bagaimana kalau temanmu yang jahat itu mengganggumu lagi ? " tanya Yuna dengan raut wajah yang terlihat cemas.


"Benar, Ma . Aku datang ke sana karena tidak enak dengan Vivi," sahut Alessia seraya menatap Mamanya.


" Tante tidak usah cemas, aku akan menjaga Alessia dengan baik ," ucap William.


" Baiklah kalau begitu, Tante percaya kau pasti akan menjaga Alessia dengan baik. Kalau begitu Tante ke dapur dulu, jangan lupa di minum minumanya," kata Yuna sambil tersenyum.


" Iya , Tante ," sahut William dengan sopan.


" Apakah kau sudah selesai ? Kau terlihat sangat cantik malam ini," puji William dengan jujur.


Alessia mengulum senyum, hanya pujian kecil tapi mampu membuat hatinya berbunga-bunga. Sudah lama dia tidak mendapatkan pujian dari seseorang.


" Lebih baik kita berangkat sekarang agar tidak kemalaman." Alessia keluar terlebih dahulu untuk mengambil tasnya. Berada di dekat William, pikirannya menjadi sangat kacau.


Satu jam kemudian mereka akhirnya sampai di depan sebuah gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan teman Alessia. Jika bukan karena Vivi yang kemarin memaksanya , Alessia pasti tidak akan datang.


Dia sangat yakin pasti banyak teman SMA-nya dan teman kuliahnya yang datang ke acara pernikahan Vivi. Setelah sampai di dalam ternyata dugaannya memang benar . Beberapa dari mereka terlihat ramah dengannya , sedangkan yang lainnya hanya melihatnya sambil mencibir.


Alessia berusaha menulikan telinganya agar tidak marah ataupun panas mendengar ocehan mereka yang selalu menyebut dirinya sebagai wanita pelakor. Terlebih lagi William saat ini sedang pergi ke toilet , sehingga semua orang akan mencibirnya sebagai seorang wanita yang sangat menyedihkan.


Memang benar , seandainya tidak ada William yang membantunya, mungkin traumanya belum sembuh hingga saat ini.


" Dimana calon suaminya ? Bukankah aku dengar kalau Alessia telah di jodohkan ? Aku yakin pria yang di jodohkan dengan Alessia pasti sangat jelek makanya dia tidak membawa calon suaminya."


" Mungkin saja calon suami sudah tahu kalau Alessia dulu adalah seorang pelakor , makanya dia tidak ikut. Mungkin dia tidak jadi menikah dengan Alessia."


" Atau mungkin sekarang dia masih menjadi seorang pelakor. Pasti calon suaminya malu memiliki calon istri seorang pelakor. Aku jadi kasihan melihatnya."


" Wanita yang sangat malang ."


" Pasti selama ini semua membencinya. Aku yakin kedua orang tuanya pasti merasa malu karena putrinya menjadi pelakor."

__ADS_1


Beberapa wanita yang dulu satu sekolah dengan Alessia saling berbisik, karena semua mengira kalau Alessia seorang pelakor.


Sebisa mungkin Alessia berusaha untuk cuek meskipun telinganya sudah terasa panas.


" Alessia , tidak usah dengarkan apa yang mereka katakan. Jangan sampai kau mempermalukan diri sendiri di depan semua orang," gumam Alessia lirih sambil mengusap dadanya.


" Hai , Alessia . Kemarilah !" Panggil mempelai wanita yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.


Alessia menoleh, dan menatap Vivi dan teman-temannya.


" Bergabunglah bersama kami ! " seru Vivi sekali lagi.


Sebenarnya Alessia sangat malas menghampiri Vivi dan teman-temannya. Namun tidak ada pilihan lain. Setidaknya basa-basi sedikit sambil mengucapkan selamat atas pernikahannya.


Dengan langkah gontai, Alessia menghampiri Vivi.


" Selamat atas pernikahanmu, semoga kau bahagia," kata Alessia sembari tersenyum tipis seraya menyerahkan sebuah kado yang sudah di bungkus rapi. Baru saja di sana tapi perasaannya sudah tidak enak. Apalagi saat melihat satu per satu raut wajah teman-temannya.


" Terima kasih karena kau sudah mau datang. Aku kira kau tidak akan datang malam ini," balas Vivi sambil memeluk Alessia beberapa saat.


" Alessia, di mana calon suamimu ? Apakah kau datang seorang diri ? " tanya Anggi dengan wajah berbinar. Betapa dia sangat penasaran dengan calon suami Alessia. Tapi sayang sekali sekarang dia tidak ikut datang.


" Kalian tahu , Alessia bahkan sampai gila dan di bawa ke psikolog," ucap Vivi lagi


Alessia memutar bola matanya mendengar ucapan Vivi. Memang diakui dia memang beberapa kali datang ke psikolog bersama William untuk menyembuhkan traumanya . Namun dia hanya trauma , tidak gila.


" Kenapa dia bisa tahu kalau aku pernah datang ke psikolog ? " pikir Alessia dengan bingung.


Seharusnya dia tidak datang ke acara pernikahan Vivi. Sepertinya dulu dia memang bodoh karena tidak melihat sifat asli Vivi. Jangan mereka pikir kalau dirinya tidak tahu. Mereka sebenarnya sedang mencibirnya tapi bersikap seolah-olah peduli padanya. Begitu mudah ditebak hingga perutnya mual mendengarnya.


" Alessia, kenapa calon suamimu tidak datang ? Atau jangan-jangan ucapan mereka benar ? Kau tak jadi menikah dengan pria yang di jodohkan oleh keluargamu ? Kalau begitu aku akan mengenalkanmu dengan seseorang. Lihatlah di sana ada seorang duda yang seumuran dengan ayahku. Dia sedang mencari seorang istri, pasti dia akan menyayangimu nantinya," ujar Gia sambil melirik Vivi.


Alessia mengikuti arah pandangan Gia yang mengamati seorang pria tua di dekat tiang. Seluruh rambutnya bahkan sudah putih dengan perutnya yang terlihat buncit. Alessia bergidik sendiri melihatnya.


" Untuk kalian saja , aku sudah memiliki calon suami," tolak Alessia dengan entengnya.


" Aku yakin calon suamimu pasti jelek dan miskin. Lebih baik kau dengan dia. Pria itu adalah pria kaya, kau pasti akan bahagia dengannya, " ucap Gia lagi.

__ADS_1


Sejak dulu , Gia dan teman-temannya memang tidak terlalu menyukainya. Sepertinya momen ini mereka gunakan untuk mencibir Alessia.


" Aku akan jelaskan pada kalian. Aku sudah memiliki calon suami dan kami saling mencintai," terang Alessia sembari menahan anarahnya.


" Jika calon suamimu mencintaimu , tak mungkin kau datang sendirian ke sini," timpal Vivi.


" Sepertinya duda itu jauh lebih cocok denganmu. Ingatlah, wajahmu itu sangat cantik jadi dekati saja pria itu. Tak usah memikirkan kekasihnya," ejek Gia dengan gelak tawa yang renyah. Betapa puas dia menertawakan Alessia saat ini.


Berulang kali Alessia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Niat mereka hanya ingin membuatnya marah sehingga lebih leluasa lagi untuk mempermalukannya. Sebisa mungkin dia harus meredam amarahnya meski rasanya sudah di ubun-ubun.


" Hmmmm." William berdehem dengan suara keras seraya berjalan menghampiri Alessia. Tidak akan dia biarkan mereka menyakiti hati calon istrinya.


" Hai , sayang ," sapa William sembari merengkuh pinggang Alessia dengan begitu mesra. Dia sudah berdiri tidak jauh dari mereka beberapa menit yang lalu. Ingin mengintip bagaimana sikap teman-teman Alessia.


Gia dan teman-temannya membuka mulutnya lebar-lebar sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat William yang datang menghampiri Alessia. Mata mereka bergerak mengamati ujung kuku sampai ujung rambut William.


Pria itu terlihat sangat tampan dan sangat sempurna di mata mereka.


Alessia sendiri terkesan dengan rengkuhan tiba-tiba dari William. Dia pikir pria itu belum kembali tapi tidak disangka dia datang sebagai penyelamat.


" Maaf , sayang . Kau jadi menunggu lama, tadi toiletnya antri," kata William sembari mengecup kening Alessia.


Tubuh Alessia semakin terpaku dengan apa yang dilakukan oleh William. Bibirnya begitu lembut saat menyentuh dahinya.


" Kenalkan namaku William, aku adalah calon suami Alessia," ujar William seraya tersenyum lebar.


Vivi dan Gia saling berpandangan satu sama lain. Dia tak menyangka kalau calon suami Alessia sangat tampan.


" Alessia , aku tak percaya kalau dia adalah calon suamimu. Dia pasti hanya pacar pura-puramu ," tuduh Gia yang tidak percaya begitu saja. Baginya pria itu terlalu sempurna untuk Alessia.


" Kalian ingin bukti ? " tanya William.


" Sayang , lebih baik kita pergi dari sini," ajak Alessia. Baginya sudah cukup karena William datang di saat yang tepat.


Alessia menarik tangan William , mengajaknya untuk pergi dari tempat itu. Namun pria itu tak kunjung beranjak dan menuruti permintaannya.


William menggeser sedikit tubuhnya hingga posisinya berhadapan dengan Alessia. Pria itu lantas menangkup pipi Alessia dengan telapak tangannya yang besar. Kelopak mata Alessia mengerjap. Bola matanya bergerak, tak mengerti apa yang akan dilakukan oleh William terhadapnya.

__ADS_1


Cup...


William mendaratkan bibirnya di bibir Alessia dengan lembut. Akan dia buktikan pada semua orang kalau dia adalah calon suami Alessia.


__ADS_2