
Dua hari kemudian...
Kediaman Tio
Tio menghampiri Jelita yang sedang duduk di sofa sambil menaikkan kedua kakinya dengan bibir cemberut. Terlihat sekali jika putrinya sedang tidak bahagia saat ini.
" Jelita , ada apa? Kenapa wajahmu di tekuk seperti benang kusut seperti itu ? Apakah kau tidak bahagia tinggal bersama dengan Papamu ? " tanya Tio sembari menghempaskan bokongnya di sofa tepat di sisi Jelita.
" Kenapa Papa malah bicara seperti itu ? Tentu saja aku bahagia tinggal bersama Papa," sahut Jelita dengan wajah yang muram dan seperti tidak bersemangat sekali. Bagaimana mungkin dirinya tidak sedih jika suaminya saat ini masih berada di rumah sakit . Setelah Angga sadar , dia langsung meninggalkan pria itu . Dia sengaja pergi karena tidak ingin bicara dengan Angga. Dari awal bertemu dengan Angga, imannya selalu lemah jika berhadapan dengan suaminya. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan suaminya saat ini, dia hanya bisa berdoa pada Tuhan agar suaminya segera membaik.
" Matamu tidak bisa membohongiku begitu saja. Katakan padaku , kau ada masalah apa ? Jangan sungkan, bukankah selama ini kau selalu menceritakan semua masalahmu pada Papa," ujar Tio sambil menepuk punggung putri yang teramat dia sayangi.
Jelita memandang Papanya hingga beberapa saat. Tidak mungkin dia menceritakan pada sang Papa kalau dia merindukan suaminya. Dia juga bingung kenapa tiba-tiba ingin bertemu dengan suaminya. Dia juga ingin sekali makan buah mangga muda. Tapi buah mangga mudanya harus Angga sendiri yang memetik dari pohonnya.
" Apakah kau memikirkan Angga ? " tebak Tio
" Tidak, " kilah Jelita dengan cepat.
" Tapi aku lihat kau seperti sedang memikirkannya," tebak Tio kembali. Meski bibir Jelita berkata tidak, tapi tatapan matanya berkata lain.
" Papa, aku tidak memikirkannya. Untuk apa aku memikirkannya," sanggah Jelita sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Lalu kenapa ? Apa kau merindukannya ? Kalau kau masih mencintainya lebih baik tidak usah bercerai. Papa sangat yakin, kalau Angga tidak akan membuatmu sedih lagi setelah ini ," kata Tio.
Tio membelai rambut panjang Jelita dengan lembut. Dia tidak suka melihat putrinya sedih seperti ini. Apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan putrinya.
__ADS_1
" Aku ingin sekali makan buah mangga muda , tapi buah mangga mudanya harus di petik langsung oleh Angga dari pohonnya," rengek Jelita seraya menatap Papanya.
Kedua mata Tio membulat mendengarnya. Untung kemarin dia sempat mencari tahu mengenai wanita yang sedang hamil. Dia sengaja mencari tahu apa saja yang di alami oleh seorang wanita ketika masa kehamilan. Agar nantinya dia bisa tahu apa saja yang di alami oleh putrinya saat sedang hamil. Contoh nya seperti sekarang ini.
" Sepertinya kamu lagi ngidam," sahut Tio .
Jelita langsung menoleh ke arah Papanya. " Ngidam ? " ujar Jelita dengan raut wajah bingung. Dia pernah mendengar kata-kata itu , tapi dia tak tahu apa itu ngidam.
" Kondisi seperti ini biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil. Biasanya dia akan menginginkan sesuatu , baik itu yang bersifat wajar maupun diluar batas kewajaran. Lebih baik kau hubungi Angga , dan beritahu dia kalau kau ingin sekali makan buah mangga muda. Terkadang mood wanita hamil juga bisa berubah secara drastis ," terang Tio menjelaskan semua yang dia sempat baca.
" Aku nggak mau. Aku akan menahan keinginanku ini, " sahut Jelita. Mana mungkin dia menghubungi Angga. Mau di taruh di mana wajahnya nanti.
" Biasanya kalau keinginanmu itu tidak di turuti, nanti setelah anak itu lahir dia tidak akan mau sama kamu. Dia nantinya akan menangis terus saat berada di gendonganmu," kata Tio berbohong . Dia sengaja membohongi Jelita karena dia sendiri juga tak ingin Jelita dan Angga berpisah. Dia juga tak ingin cucunya jauh dengan ayah kandungnya.
" Masa sih , Pa ? Papa pasti bohong padaku ," balas Jelita seraya menatap Papanya cukup lama.
" Aku tidak mungkin menghubunginya. Apalagi dia masih sakit," sahut Jelita dengan ketus.
" Apa salahnya di coba . Siapa tahu dia sudah keluar dari rumah sakit . Apa kau ingin anak yang ada di dalam kandungamu itu membencimu ?" ujar Tio. Sebenarnya tadi Angga sempat menghubunginya dan mengatakan kalau dia akan datang ke rumahnya untuk menemui Jelita.
Jelita tetap diam saja. Dia tak berani menghubungi Angga duluan.
"Kenapa malah diam saja ? Kalau begitu biar aku yang menghubunginya," sahut William yang langsung menghubungi nomer Angga tanpa bertanya pada Jelita terlebih dulu. Jelita ingin menghentikan Kakaknya , tapi Angga sudah terlanjur mengangkat telepon tersebut.
π " Halo , " ucap Angga dari seberang telepon dengan raut wajah bingung. Dia sama sekali tidak tahu siapa pemilik nomer telepon itu.
__ADS_1
π " Halo , Angga . Aku William kakaknya Jelita yang kemarin menjengukmu. Aku menghubungimu karena ingin mengatakan kalau Jelita dari kemarin tidak bisa tidur karena merindukanmu. Dia juga saat ini lagi ngidam ingin makan buah mangga muda , tapi harus kau sendiri yang memetiknya dari pohonnya," terang William tersenyum.
Angga yang ada di seberang telepon langsung tersenyum mendengar ucapan William yang mengatakan kalau Jelita saat ini merindukan dirinya. Apapun keinginan gadis itu pasti akan dia turuti , hanya saja dia bingung di mana mencarinya, karena di rumahnya tidak ada pohon mangga.
π" Bilang saja pada Jelita kalau aku juga merindukannya. Nanti aku akan coba mencari buah mangga di rumah tetanggaku. Kebetulan aku juga ingin datang kesana sekarang," sahut Angga.
π" Angga , kebetulan di rumah kami juga ada pohon mangga. Buahnya juga banyak , tapi Jelita ingin kau sendiri yang memetiknya," terang William.
π" Baiklah , Kak. Kalau begitu aku akan segera ke sana," sahut Angga yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Pria itu tak henti-hentinya tersenyum. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
Kedua mata Jelita terbelalak lebar mendengarnya. Bisa - bisanya William mengatakan hal seperti itu pada Angga. Pasti pria itu sangat senang sekali mendengarnya.
" Kenapa Kakak bicara seperti itu ? " tanya Jelita dengan wajah cemberut.
" Kakak bicara sesuai kenyataanya kok," sahut William menatap adiknya sambil tersenyum
" Kau memang menyebalkan sekali," balas Jelita yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rumah sakit
" Ma , aku ingin pergi mencari Jelita. Tadi aku sempat menghubungi Papa Tio untuk menanyakan keberadaan Jelita. Papa Tio bilang kalau Jelita besok akan pergi ke tempat Kakek dan Neneknya. Aku tak ingin kehilangan istri dan anakku ," terang Angga dengan raut wajah yang sedih. Dia ingin sekali menghubungi Jelita sekedar ingin mendengar suaranya saja, tapi nomor teleponnya di blokir oleh gadis itu.
" Tapi Dokter belum mengizinkanmu pulang," sahut Yuni seraya menatap putranya.
__ADS_1
" Biarkan saja Angga pergi , Ma. Nanti biar Papa yang bicara pada Dokter," kata Rangga. Kalau Jelita tidak memaafkan putranya , Angga pasti akan terpuruk.
" Baiklah , kalau begitu biar Mama yang mengantarmu ke rumah Tio ," terang Yuni seraya menghampiri putranya.