
Villa Angga
"Sayang , apa Bibi Murni sudah sadar dari komanya ?" tanya Angga sembari menatap punggung Jelita yang sedang mengambil kemeja untuknya. Satu minggu yang lalu dia dan Jelita dapat menjenguk Bibi Murni di rumah sakit, tapi beliau belum sadarkan diri.
" Sudah kok. Kemarin Fino sempat menghubungiku dan mengatakan kalau Ibunya sudah sadar. Setelah keadaannya membaik , Bibi ingin datang ke kota ini untuk bertemu dengan kita. Katanya ada hal penting yang ingin dia katakan padaku, " tutur Jelita.
" Mudah-mudahan Bibi Murni segera membaik," ujar Angga sembari menatap istrinya yang sedang membantunya memakai dasi. Setelah selesai , Jelita bergelayut manja di lengan Angga.
" Angga, cepatlah keluar ! Nenek sudah menyiapkan sarapan untukmu. Lain kali carilah wanita yang pintar mengurusmu," ujar Nenek Dewi dari balik pintu kamar mereka .
Mereka sangat terkejut atas kehadiran Nenek Dewi yang tiba-tiba saja sudah ada di rumahnya. Entah kapan Neneknya datang ke rumah itu. Buru-buru mereka keluar dari kamarnya.
" Nenek heran padamu, karena sekarang kau selalu bertindak gegabah," protes Nenek Dewi
Jelita mengulum bibirnya, dadanya terasa sesak karena Nenek Dewi seperti tidak melihatnya berdiri di sana. Bahkan dia bisa mencerna ucapan Nenek Dewi yang secara tidak langsung meminta Angga untuk meninggalkannya saja.
" Aku sudah menemukan wanita yang tepat. Jelita sudah mengurusku dengan baik," balas Angga seraya menarik pinggang Jelita yang bergerak menjauhinya.
" Wanita yang tepat ?" Nenek Dewi mendengus seraya memandang Jelita dengan perasaan tidak suka.
" Apakah gadis tukang selingkuh bisa disebut sebagai wanita yang tepat ?" cibir Nenek Dewi seraya melipat kedua tangannya di dada.
" Nek, bukankah sudah aku katakan berkali-kali, Jelita tidak selingkuh. Kami tidak sengaja bertemu dengan Pak Tio waktu itu . Berhentilah berpikir buruk pada istriku," kata Angga dengan raut wajah yang kesal.
" Kau selalu saja menyembunyikan kebenarannya. Lebih baik sekarang kau turun lalu sarapan," ujar Nenek Dewi yang kemudian meninggalkan mereka.
" Angga, kau makanlah sendirian bersama Nenek," ujar Jelita saat mereka menuruni anak tangga. Melihat raut wajah Nenek Dewi yang memandangnya tidak suka, membuatnya enggan bertatap muka.
Ternyata wajah cantik tak menjamin hatinya baik. Saat melihat foto Nenek Dewi ketika beliau masih muda, wajahnya terlihat lemah lembut. Dia kira hatinya juga secantik wajahnya, namun ternyata tidak.
__ADS_1
" Nenek bisa marah kalau kau tidak ikut makan," terang Angga. Beban di pundaknya terasa kian berat, dia harus memberikan pengertian pada neneknya agar bisa menerima Jelita.
Jelita mencebikkan bibirnya, terpaksa dia harus duduk di ruang makan bersama mereka.
Suasana ruang makan yang biasanya begitu hangat dengan tawa dan canda dari pasangan muda itu berubah menjadi canggung. Ini adalah pertama kalinya Jelita makan di ruang makan mewah tersebut. Mejanya cukup besar sehingga sulit menjangkau Angga yang duduk di bagian paling ujung.
" Sudah berapa lama kau menjalin hubungan gelap dengan Tio ?" tanya Nenek Dewi seraya menatap Jelita dengan tatapan yang datar.
Jelita dan Angga saling berpandangan satu sama lain setelah mendengar pertanyaan dari Nenek Dewi.
" Nek, aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Pak Tio. Aku berani bersumpah, Nek." Ucap Jelita dengan sopan.
" Nek, padahal sudah aku katakan berkali-kali , tapi kenapa Nenek tidak bisa percaya dengan ucapanku ? " tanya Angga dengan emosi.
" Kau selalu membelanya. Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Contohnya seperti Vina. Apalagi aku telah mendengar kalau Vina tidak jadi menikah dengan pria tua itu. Kenapa hidupmu sangat mengenaskan sekali ? Tidak tahu kesalahan apa yang aku lakukan di masa lalu sehingga kau mendapatkan wanita yang tak semestinya," kata Nenek Dewi dengan nafas yang terasa sesak.
" Nek," protes Angga seraya meletakkan sendoknya kembali ke atas piring hingga menimbulkan suara yang berdenting. Dia tidak ingin terjadi pertengkaran dengan Nenek Dewi di depan Jelita.
Jelita hanya diam, tak berani berucap ataupun membela diri. Sebisa mungkin menguatkan hatinya agar tidak tersinggung dan sakit hati. Air matanya tidak akan menetes hanya karena ucapan Nenek Dewi.
" Aku tidak butuh wanita yang seperti Vina," terang Angga
Mendengar perdebatan mereka yang tak kunjung berhenti , gadis itu lantas mendorong kursi ke belakang menggunakan kakinya lalu berlari ke kamarnya.
"Jelita ? " Angga tidak tinggal diam , dia lantas membuntuti Jelita dengan perasaan cemas.
" Dasar keluarga miskin, tidak punya sopan santun," gerutu Nenek Dewi.
Akhir - akhir ini Nenek Dewi memang sengaja selalu datang ke Villa Angga. Dia ingin membuat Jelita bercerai dengan Angga. Karena dia merasa cucunya yang sempurna tidak pantas memiliki istri seperti Jelita. Ayahnya saja hanya memiliki beberapa minimarket saja. Pasti keluarganya selalu kekurangan , apalagi yang dia tahu kalau Mila terkenal selalu shopping. Pasti Jelita sering meminta uang untuk di berikan pada keluarganya.
__ADS_1
Sedangkan Yuni dan Rangga saat ini sedang pergi ke luar negeri mengurus restoran yang sedang di bangun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Siang hari di kediaman Gilang.
" Gilang,kenapa kita harus ngekos ? Tempatnya sangat jauh pula dengan rumah orang tuaku," komentar Mila sembari merapikan pakaiannya.
Tadi pagi saat baru bangun , tiba-tiba saja Gilang menyuruh gadis itu berkemas dan mengajaknya tinggal di kos-kosan.
" Bukankah kau tidak suka tinggal di rumahku ? Kau bilang rumahku kotor dan jelek. Sekarang aku sudah mengajakmu tinggal di kos-kosan yang sangat elit kau berkomentar juga. Maumu apa sih ? Semua serba salah di matamu. Kalau kau ingin meminta yang lebih dari ini , maka aku tidak bisa memberikannya. Kau kan tahu sendiri, aku dari kecil hidup sebatang kara. Jadi sudah pasti aku tidak bisa memberikan yang lebih dari ini padamu," terang Gilang yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
" Hmmm, Gilang . Sebelumnya terima kasih karena kau telah menolongku dengan menikah denganku. Tapi aku ingin bercerai denganmu , karena kita tidak saling mencintai ," ucap Mila sembari menatap pria itu.
" Apa kau bilang ? Cerai ? Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu. Pasti keluargamu yang menyuruhmu bicara seperti ini. Mulai sekarang kau tidak boleh menghubungi keluargamu atau bertemu dengan mereka. Kau hanya boleh tinggal di kamar ini saja. Sekarang bawa kemari ponselmu," balas Gilang yang langsung mengambil ponsel Mila dengan paksa.
" Apa kau gila ? Kau tidak mengizinkanku keluar ? Tolong bawa kemari ponselku ! " pinta Mila . Gadis itu berusaha ingin mengambil ponselnya , namun Gilang malah menarik rambut gadis itu, setelah itu menampar wajahnya dengan sangat keras hingga darah segar keluar dari sudut bibir Mila.
Tidak cukup sampai di situ, Gilang kembali mencambuk istrinya hingga tubuh Mila terluka.
" Gilang , tolong berhenti ! " teriak Mila sembari menangis terisak - isak. Dari kecil dia selalu di manja oleh keluarganya , tapi sekarang dia malah selalu di pukul oleh suaminya .
" Papa, Mama, Nenek , tolong aku . Aku tidak kuat," gumam Mila di dalam hatinya.
Tiba - tiba Gilang merobek bajunya dan membuang baju itu secara asal.
" Gilang , apa yang mau kau lakukan ? " tanya Mila sembari menatap pria itu.
" Sebentar lagi aku harus pergi bekerja. Sekarang aku ingin kau melayaniku," sahut Gilang yang sudah melepaskan pakaian yang dia kenakan.
__ADS_1
" Apa ? " sahut Mila dengan mata membulat. Baru sekitar dua jam yang lalu dia melayani Gilang , dan sekarang pria itu ingin di layani lagi. Kemarin dia bahkan tidak dapat tidur nyenyak karena harus melayani suaminya itu. Ternyata pria itu hiperseks ,dan dia baru mengetahui tadi pagi dari teman Gilang sendiri.