Calon Suamiku Diambil Adikku

Calon Suamiku Diambil Adikku
Pak Andi ingin bertemu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jelita telah bangun dan membuat sarapan. Setelah selesai membuat sarapan dia duduk di pinggir tempat tidur . Penasaran dengan berita tentang Angga yang sejak kemarin sudah tersebar ke mana-mana, Jelita melihat salah satu situs berita untuk memeriksanya. Dia ingin tahu apa yang harus dilakukan untuk kedepannya.


Berulang kali Jelita mengusap layar ponsel untuk melihat berita seperti kemarin. Namun berita tentang Angga sudah tidak ada lagi. Bahkan ada sebuah video klarifikasi dari Mila.


Di dalam video tersebut, Mila mengklarifikasi kalau dirinya lah yang sengaja memasukkan obat perangsang untuk menjebak Angga. Jelita tercengang lalu mengerjakan kelopak matanya . Kenapa Mila dengan begitu mudahnya mengklarifikasi ? Bukankah kemarin gadis itu bersikeras tidak mau mengakui kesalahannya ?


Jelita mengamati dengan seksama video tersebut. Di sana dia melihat adiknya terlihat begitu ketakutan. Apa yang terjadi ? Pandangan gadis itu beralih pada Angga yang masih tertidur pulas. Apakah ini ada hubungannya dengan Angga yang tidak pulang semalaman ?


Jelita juga membaca komentar -komentar orang tentang Mila. Saat ini ada begitu banyak orang yang menghujat dan memaki-makinya dengan ucapan pembohong. Ada perasaan kasihan melihat adiknya seperti itu.


" Ah, itu salahnya karena sudah memfitnah Angga," gumam Jelita.


Alis Jelita berkerut melihat ada begitu banyak panggilan telepon dari Papanya sejak beberapa jam yang lalu. Dia merasa bingung kenapa Papanya menghubunginya. Tiba-tiba ada pesan WA masuk . Jelita langsung membuka pesan itu. Ternyata Papanya ingin bertemu dengannya. Entah apa yang ingin di bicarakan oleh Papanya hingga sepagi ini ingin bertemu dengannya. Sepertinya ada masalah penting hingga Pak Andi mengajaknya bertemu.


Karena Angga belum bangun, Jelita terpaksa sarapan sendiri.


" Angga , aku mau keluar dan akan langsung pergi ke kantor. Sarapannya sudah aku siapin di meja," ucap Jelita sembari mengelus kepala Angga agar terbangun.


" Mau kemana ?" ujar Angga dengan suara baritonnya yang serak. Telapak tangannya yang besar memcengkram pergelangan tangan Jelita sebelum gadis itu beranjak dari sisinya.


" Papaku ingin bertemu denganku, jadi aku harus segera menemuinya," ucap Jelita sembari menatap pria itu.


" Tidak usah menemuinya. Bagaimana kalau Papamu mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti hatimu ? Aku tidak ingin melihatmu sedih ," balas Angga . Pria itu lantas menarik tubuh Jelita dengan kuat hingga gadis itu terhempas di atas tubuhnya.

__ADS_1


" Kalau aku tidak menemuinya , maka dia ingin datang ke kantor. Tolong izinkan aku pergi ," pinta Jelita


Angga menghela nafas panjang sambil menatap manik mata gadis itu." Baiklah aku mengizinkamu pergi menemui Papamu, tapi dengan sebuah syarat," sahut Angga sembari menyentuh wajah gadis itu.


" Syarat ? " ujar Jelita sembari menaikkan sebelah alisnya.


" Kau harus pergi di antar oleh Alex. Aku akan meminta Alex untuk mengantarmu menemui Papamu. Kalau ada masalah segera hubungi aku, " ucap Angga dengan raut wajah serius.


Jelita turun dari atas tubuh Angga , dia lalu duduk di samping pria itu.


" Kenapa harus meminta Alex mengantarku ? Aku hanya menemui Papaku , bukan ingin berperang. Kau aneh sekali," sahut Jelita dengan cemberut.


" Tidak usah membantah. Aku hanya takut terjadi sesuatu denganmu,"


Setengah jam kemudian Jelita telah di jemput oleh Alex. Dia bertemu dengan Papanya di sebuah Cafe yang ada di dekat kantornya.


" Nona, mau saya temani ke dalam ? " tanya Alex saat mereka telah sampai di depan Cafe.


" Tidak usah. Tunggu saja aku di sini," sahut Jelita


" Baiklah ,Nona. Kalau ada masalah tolong segera hubungi saya," ucap Alex sembari menatap Jelita.


" Iya ,kau tenang saja," balas Jelita yang kemudian masuk ke dalam Cafe. Setelah sampai di dalam , dia langsung menuju ke sebuah meja dimana Papanya duduk.

__ADS_1


" Akhirnya kau datang juga," ucap Pak Andi sembari menatap gadis itu.


" Ada apa Pak Andi ? Tumben kau mengajakku bertemu ? Lebih baik langsung bicara saja karena aku harus pergi bekerja," kata Jelita yang bicara tanpa ekspresi sama sekali .


" Kenapa kau memanggilku seperti itu ? Aku ini Papamu ," sahut Pak Andi dengan raut wajah yang terlihat marah.


" Papaku ? Kau mengatakan kalau kau Papaku ? Lalu apa kau sudah menjalankan tugasmu sebagai seorang Ayah untukku ? Semenjak Ibu tidak ada , kau bahkan tidak mau memandang wajahku sama sekali. Setiap hari kalian selalu marah-marah padaku , memukulku lalu mengurungku. Kau tidak pernah ada saat aku susah. Saat aku kecil kau juga tidak pernah memberiku uang jajan. Saat aku terjatuh dan terluka kau juga tidak peduli padaku. Dari kecil aku bahkan berusaha mencari uang sendiri agar bisa membiayai uang sekolahku sendiri.Pernahkah kau membelikanku mainan atau baju ? Tidak pernah sama sekali. Aku hanya bisa memakai baju bekas Mila. Kau hanya peduli dengan putrimu itu. Bahkan kau tidak pernah menganggapku ada. Walau begitu aku tetap peduli pada kalian. Di saat aku gajian aku tidak pernah pelit dengan uangku. Setiap kalian meminta uang aku selalu memberikannya. Setiap hari aku selalu bersabar di perlakukan seperti itu oleh kalian hanya ingin mendapatkan sedikit kasih sayang darimu. Tapi aku tak kunjung mendapatkannya hingga aku memilih menyerah. Kau bahkan tidak pernah menganggapku bagian dari keluargamu. Sekarang lebih baik cepat katakan apa maumu ? " ujar Jelita dengan raut wajah sedih. Gadis itu berusaha menahan air matanya agar tidak menetes. Dia tidak ingin terlihat lemah.


" Papa minta, tolong cabut laporanmu! Apa kau tega melihat adikmu di penjara ? Walau bagaimanapun dia adalah adikmu. Tadi adikmu mengancam ingin bunuh diri saat ada polisi datang ke rumah. Papa mohon tolong cabut laporanmu. Bila perlu Papa akan berlutut di sini asalkan kau mencabut laporanmu itu,' terang Pak Andi dengan raut wajah sedih.


" Kalau aku yang di posisi Mila, apakah kau akan mau berlutut untukku ? " tanya Jelita sembari menatap pria itu dengan tajam.


Pak Andi langsung terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Jelita.


" Melihatmu diam , aku sudah tahu jawabannya. Aku akan mencabut laporanku itu asalkan kalian berhenti mengganggu hidupku, terutama putri kesayanganmu itu." terang Jelita.


" Kau tenang saja , saat kau mencabut laporanmu. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi . Aku juga akan mengawasi Mila agar tidak mengganggumu," sahut Pak Andi yang berusaha meyakinkan Jelita.


" Baiklah, aku akan mencabut laporanku.Tapi kalau putrimu menggangguku lagi , maka aku tidak akan mau memaafkannya lagi," ancam Jelita sembari menatap Papanya .


" Kau tenang saja. Aku yakin dia pasti menuruti ucapanku. Dia gadis yang baik, aku yakin dia pasti mau mengerti,"


" Kalau tidak ada hal yang penting lagi , maka aku permisi dulu," balas Jelita yang langsung meninggalkan Papanya begitu saja.

__ADS_1


Dia sungguh iri pada Mila. Keluarganya begitu menyayangi Mila. Bahkan rela melakukan apapun untuk adiknya itu . Sedangkan dia dari kecil selalu berusaha agar bisa mendapatkan sedikit kasih sayang dari keluarganya , tapi hingga sekarang dia tak kunjung mendapatkankan. Air mata Jelita langsung menetes mengingat semua yang pernah dia alami selama ini.


__ADS_2