
Setelah sampai di kantor ,Angga dan Nenek Dewi langsung masuk ke dalam.
" Bukankah itu Jelita ? Untuk apa wanita itu ada di kantormu ? Seharusnya dia malu datang ke sini," kata Nenek Dewi dengan raut tak suka.
" Nek, Jelita kan bekerja di sini ya tentu saja dia datang ke kantorku,"sahut Angga.
" Tapi seharusnya dia malu menginjakkan kakinya di kantormu, karena sudah ketahuan selingkuh," ucap Nenek Dewi dengan angkuhnya.
Nenek Dewi lalu menghampiri Jelita yang sedang bicara dengan Fino.
"Dasar wanita murahan. Buat apa lagi kau datang kemari ? Kau tak pantas berada di perusahaan ini. Lebih baik kau pergi dari perusahaan ini. Dan kau dengarkan rekaman ini. Aku sudah menemui Andi dan menanyakan semuanya. Dan ternyata kau benar-benar pembohong dan tukang selingkuh," ujar Nenek Dewi sambil berkacak pinggang.
" Nek , jangan bicara seperti itu. Nanti Jelita semakin marah padaku. Lebih baik kita lupakan semuanya," kata Angga. Dia benar-benar tak ingin berpisah dengan Jelita. Walaupun Jelita sudah terbukti bersalah karena dia sangat mencintai Jelita.
" Biar saja dia marah. Aku juga tak ingin kau bersama dengan wanita seperti dia," sahut Nenek Dewi dengan amarah yang meledak-ledak.
" Sudah cukup," teriak Jelita dengan suara lantang dan tatapan mata yang tajam. Dia juga melempar alat perekam suara itu hingga hancur.
"Aku kesini bukan untuk bekerja di kantor cucumu ini. Aku datang kesini untuk mengambil beberapa barangku. Kau memang wanita sombong. Ingat, Papaku lebih kaya dari cucumu. Papaku juga bisa membuat perusahaan cucumu ini bangkrut dalam sekejap mata. Kalau kau tak percaya jika aku putri kandung Tio, maka besok kau akan melihat kenyataannya. Kau akan melihat sebuah bukti yang sangat akurat," terang Jelita yang tak ingin kalah dengan Nenek Dewi.
" Kau kira aku akan percaya ? Kau bilang Tio adalah Papamu ? Papa dari mana ? Kenapa tidak kau bilang saja kalau dia selingkuhanmu ? Bagaimana pun kau menyembunyikan kebenarannya , suatu saat nanti pasti akan terbongkar juga. Suatu hari nanti semua orang pasti akan tahu kalau kau adalah wanita tukang selingkuh," tuduh Nenek Dewi seraya bersedekap dan dengan dagu yang sedikit terangkat.
" Nek,sudah Nek. Jangan membuat Jelita marah lagi," ucap Angga yang berusaha membujuk Neneknya. Dia tak ingin rumah tangganya hancur begitu saja.
__ADS_1
" Angga , jadi pria jangan lemah. Seharusnya kau balas perbuatan istrimu. Bukannya malah diam saja," balas Nenek Dewi dengan tatapan mata melotot.
"Kenapa kau selalu bicara omong kosong ? Kau memang mirib seperti Nenek lampir, sangat jahat . Kemarin kalau bukan karena anak dan cucumu , kau mungkin sudah berada di penjara. Mereka memohon padaku karena kasihan padamu. Tapi sekarang aku sudah tak bisa memaafkanmu. Aku sudah meminta Papaku untuk mengumpulkan lebih banyak bukti kejahatanmu. Jadi lebih baik persiapkan diri Nenek untuk tinggal di tempat yang baru," sahut Jelita. Matanya terbuka lebar dengan titik pupil yang tampak marah dan buta oleh amarah. Saat ini dia memang benar-benar tidak kuat dengan sikap Nenek Dewi. Angga juga hanya diam saja. Pria itu tak berani pada Neneknya.
" Cih ! " Nenek Dewi meludah di tanah sambil menatap Jelita.
" Aku sama sekali tidak percaya dengan semua ucapanmu. Tidak akan ada yang berani mengirimku ke penjara , "ujar Nenek Dewi tertawa sombong.
" Dasar Nenek lampir. Kau kira semua yang ada di dunia ini adalah milikmu ? Hingga orang lain harus takut denganmu. Kalau begitu kau tunggu saja, besok polisi pasti datang ke rumahmu. Dasar wanita sombong," gerutu Jelita yang penuh emosi.
" Jelita, tolong jangan laporkan Nenekku ! Tolong maafkan Nenek ! Lebih baik lupakan semua yang telah terjadi. Aku masih bisa menerimamu asalkan kau berjanji tak akan pernah selingkuh lagi," ucap Angga memohon dengan tatapan mata yang sedih.
" Maaf, aku tidak bisa bersama laki-laki seperti dirimu. Kau lebih percaya ucapan Nenekmu dari pada aku. Asal kau tahu , yang membuatku sakit hati adalah ketika kau menuduhku berselingkuh. Dari pada aku bersama laki-laki yang seperti itu lebih baik aku tidak memiliki seorang suami. Kalau aku memaafkanmu mungkin besok-besok aku muncul masalah yang seperti ini. Dan kalau aku diam terus , pasti hanya aku yang di salahkan. Lebih baik lupakan aku. Aku juga sudah mengajukan surat gugatan cerai,"terang Jelita dengan senyum menyeringai.
" Kau memang keterlaluan. Di sini aku yang kau sakiti . Dan aku juga ingin memaafkanmu asalkan kau tak mengulangi perbuatan itu ,tapi kau malah mengajukan surat gugatan cerai. Kau kira aku takut bercerai denganmu ? Suatu saat nanti kau pasti akan menyesal dengan keputusanmu ini," sahut Angga dengan raut wajah yang penuh kemarahan.
" Fino, lebih baik kau berhenti bekerja disini. Lebih baik kau datang ke perusahaan Papaku. Nanti aku akan coba bicara pada Papa," kata Jelita pada Fino.
" Beneran ? " tanya Fino tak percaya
" Ya ,benar. Buat apa aku berbohong. Kalau begitu aku pergi dulu,"ucap Jelita yang kemudian meninggalkan kantor Angga. Air matanya sudah tak bisa di tahan lagi. Berkali-kali dia meneteskan air matanya. Jelita memperlambat langkahnya seraya mengusap air mata yang menetes di pipinya. Kesal dan marah bercampur menjadi satu. Dia benar-benar kecewa pada suaminya.
Wanita itu menghentikan tangisnya. Karena percuma saja dia menangis.
__ADS_1
" Ugh , aku tidak boleh cengeng seperti ini," ucap Jelita pada dirinya sendiri.
Langkah Jelita sontak terhenti ketika ada sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depannya.
Kaca jendela perlahan terbuka, Jelita mengerutkan keningnya melihat sang pengemudi yang tak lain adalah William yang ada di dalam sana.
" Ayo, biar kuantar" ujar William tanpa beranjak dari belakang kemudi.
Jelita menggigit bibir bawahnya. Berpikir hingga beberapa saat sebelum menerima ataupun menolak tawaran William. Pria itu masih asing baginya, apakah tidak berbahaya kalau menerima tawarannya ?
" Tidak usah banyak berpikir. Akan kau antar kemanapun kau pergi," ulang William.
" Aku bisa pergi naik taksi," tolak Jelita dengan cuek.
" Cepatlah, kau tak malu naik taksi dengan matamu yang merah seperti itu ? " ujar William.
Jelita meraba matanya yang sembab. Padahal air matanya tak seberapa, tapi kelopak matanya sudah bengkak.
" Tenang saja, aku tidak akan menggigitmu," celetuk William.
Jelita menoleh kesana dan kemari untuk mencari taksi, namun tidak ada taksi yang lewat. Akhirnya dia memutuskan masuk ke dalam mobil William setelah berpikir hingga beberapa saat.
Suasana di dalam mobil begitu hening. Hanya suara deru nafas dan deru mesin mobil yang mengalun bercampur menjadi satu. Sesekali William melirik Jelita yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Raut wajahnya menyiratkan wanita itu memendam sesuatu di dalam dada. Seperti amarah yang dipendam begitu lama.
__ADS_1