Cinta Kinara

Cinta Kinara
menginap


__ADS_3

"DIRAAAAAA..!!".


Ara langsung mengalihkan perhatiannya pada Putri dan Dira.


Mata Ara membulat sempurna melihat ada 2 pria berbadan besar sedang menarik Dira hendak dibawa masuk kedalam mobil mereka.


Tanpa pikir panjang Ara segera berlari kearah Dira, saat sudah dekat dengan orang-orang yang hendak membawa Dira, Ara segera melemparkan helm yang ia bawa dari parkiran kearah pria yang menarik Dira.


"bugh!!"


"aakhh!!"


Terdengar erangan dari pria yang kepalanya terkena lemparan helm Ara.


Sebelum kedua pria itu sadar apa yang terjadi, Ara segera menarik lengan Dira dan dibawa menjauh dari pria-pria itu tadi.


Setelah memastikan Dira aman, Ara kembali menghampiri para pria tadi yang memandangnya penuh amarah.


Ara sedikit memiringkan kepalanya memperhatikan pria-pria dihadapannya. Wajah orang orang ini seperti tidak asing diingatan Ara.


Beberapa orang maju hendak melayangkan pukulan kewajah Ara, dengan cepat Ara menghindar. Dan pertarungan pun tidak bisa dihindari. Ara dibantu 3 orang satpam yang sedang bertugas melawan 8 pria berbadan besar.


Kondisi tubuh Ara yang sudah kelelahan setelah berkelahi dengan Clara dan teman-temannya ditambah hukuman yang ia jalani membuatnya berulang kali terkena pukulan bahkan tendangan yang membuat bibirnya terluka hingga berdarah.


Bagaimanapun Ara tetaplah seorang perempuan, apalagi dengan kondisinya saat ini.


Hingga sebuah tendangan kuat yang mengenai dadanya membuat Ara terhempas beberapa langkah kebelakang hingga hampir jatuh jika saja tidak ada lengan kokoh yang menahannya.


Ara membuka matanya saat merasakan ada lengan kokoh yang menahan tubuhnya sebelum menyentuh tanah.


Saat matanya terbuka ada wajah tampan yang sudah tepat berada didepan wajahnya. Sesaat keduanya seolah melupakan keadaan genting disekitarnya, sampai sebuah suara menyebalkan menyadarkan keduanya.


"Lu berdua kalo mau mesra-mesraan nanti lagi bisa kali yak, kaga liat lu kita-kita udah bonyok gini". suara menyebalkan Sam membuat keduanya segera menegakkan badan.


"Kamu istirahatlah disini Ara, tubuhmu sudah tidak mungkin melanjutkan pertarungan ini". Suara tegas Dev membuat Ara mengerjapkan mata beberapa kali, hingga tidak sadar Dev sudah berlalu dari hadapannya.


Dev beserta Sam dan Kevin masih berjibaku melawan para pria yang hendak menculik Dira adiknya. Mereka berhasil membuat para pria itu mundur dan melarikan diri.


Dev segera menghampiri Dira dan memeluknya dengan erat. Dira membalas pelukan Dev sambil terus terisak dengan tubuh gemetar ketakutan. Dev terus mengusap punggung Dira mencoba memberi ketenangan untuk adiknya yang masih terus bergetar disertai isak tangis.


"Araaa.!! Ara bangun!!."


Putri berteriak sambil menepuk pelan pipi Ara yang saat ini kepalanya sudah ada dipangkuan Putri.

__ADS_1


Dev dan Dira segera melepaskan pelukannya mendengar Putri memanggil nama Ara. Sepertinya Ara benar-benar kelelahan hingga akhirnya jatuh pingsan.


Dira segera berlari kearah Ara dan duduk disebelah tubuh Ara. Tangisnya kembali pecah melihat kondisi sahabatnya yang selalu melindunginya selama 3bulan ini sungguh mengenaskan, wajah cantik putih nan mulus milik Ara sudah penuh dengan luka lebam dan bibir yang berdarah.


"Araaa..bangun Ra. Jangan bikin gue takut.


Buat lindungin gue lo selalu kaya gini. Luka banyak kaya gini. Bangun Ra". Dira terus menangis sambil menggoyangkan tubuh Ara.


Tanpa banyak berkata Dev berjongkok disebelah tubuh Ara dan langsung mengangkatnya kemudian berjalan menuju mobilnya, Dira segera bangkit dan mengikuti kakaknya.


"Putri, kamu ikut aja mobil Sam ,kalian ikutin gue. Kita kerumah sakit sekarang". Dev berkata sambil terus berjalan membawa tubuh tak berdaya Ara ke mobilnya.


Mereka bertiga hanya mengangguk sambil berjalan menuju kendaraan masing-masing.


"Ara banguuuun". Didalam mobil Dira yang sedang memangku kepala Ara terus menangis sambil memanggil nama Ara.


Dev melihat adiknya dari spionnya, dia menghela nafas kasar, menyesali kedatangannya yang sedikit terlambat hingga membuat gadis kuat itu jatuh pingsan karena terlalu memaksakan dirinya.


"Lo harus yakin dia akan baik-baik aja dek, kita akan segera sampai rumah sakit. lo harus tenang". Dev terus berusaha menenangkan adiknya walau sebenarnya hati kecilnya pun khawatir melihat kondisi pucat Ara.


Sampai didepan IGD, Dev langsung turun dan kembali membopong tubuh lemas Ara sambil berteriak minta tolong pada petugas medis.


Sudah 30menit Ara ditangani oleh dokter, baik Putri maupun Dira tidak ada yang bisa tenang. Mereka terus mondar-mandir didepan IGD karena mengkhawatirkan kondisi sahabat mereka.


"Keluarga pasien Kinara??" dokter keluar dari ruang IGD dan mampu menyita seluruh perhatian kelima orang yang sedang tegang menunggu kabar tentang keadaan Ara.


"Kami temannya dokter, kami yang membawanya kemari. Bagaimana kondisi Ara dok?". Dev langsung berdiri didepan dokter menanyakan kondisi Ara.


"Pasien hanya kelelahan, dan kemungkinan merasakan sakit bekas luka memar yang ada pada sekujur tubuhnya, nona Ara butuh dirawat agar bisa istirahat untuk memulihkan kondisinya seperti semula". Dokter menjelaskan kepada Dev dan yang lainnya.


"Apakah kami sudah boleh melihatnya? apakah Ara sudah sadar??" Dira segera menanyakan keadaan sahabatnya.


Dokter tersenyum "nona Ara sudah sadar, anda sudah bisa masuk tapi tolong jangan berisik ya". Setelah mengatakan itu dokter pamit undur diri.


"Araaa..apa yang lo rasain sekarang?? Apa ada yang sakit?? Atau mungkin lo pengen sesuatu sekarang??". Setelah masuk kedalam ruang Ara, Dira langsung mengajukan banyak pertanyaan kepada Ara .


Ara hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.


"Lo nggak luka kan? Mereka sempet nyakitin lo nggak?".


Bukannya menjawab pertanyaan Dira, justru Ara lebih terlihat khawatir dengan keadaan Dira.


"kenapa lo malah nanyain keadaan gue?? Yang bonyok disini itu lo bukan gue". Dira terus berbicara karena khawatir pada Ara.

__ADS_1


"Gue udah boleh keluar belom dari ini tempat? Gue kudu balik". Ara bertanya pada teman-temannya.


Dira dan Putri kompak menggeleng


"Lo harus istirahat disini beberapa hari kata dokter". Putri yang menjawabnya


"Gue nggak mau disini. Gue juga udah baik-baik aja. Gue mau balik aja, takut bapak nyariin ntar". Ara kekeh ingin pulang. Tidak terbayang olehnya akan seperti apa reaksi bapaknya kalau sampai tau bahwa dia terluka seperti ini.


"kamu harus istirahat disini untuk memulihkan kondisimu. Jangan keras kepala". Sebuah suara berat mengalihkan perhatian ketiga gadis yang sedang adu argumen itu.


"gue mau pulang aja bang, gue udah baik-baik aja". Ara menjawab Dev yang kemudian mendapat pelototan tajam dari kedua temannya.


Setelah cukup lama berdebat, akhirnya semua mengalah pada keputusan Ara. Dengan syarat, sampai Ara sembuh maka Ara harus mau tinggal dirumah Putri. Ara hanya pasrah karna memang sebenarnya kondisi tubuhnya saat ini sangat lemah dan terasa sakit semua.


Setelah berbicara dengan dokter dan menyelesaikan administrasi, akhirnya hari ini sampai Ara sembuh, ia akan menginap dirumah Putri, tentu saja Dira tidak ingin ketinggalan. Dia meminta ijin kepada kakaknya, dan membujuk kakaknya agar mau menjelaskan kepada mama dan papanya tentang kejadian hari ini.


Soal orang tua Ara, dia tadi sudah menelpon bapak untuk meminta ijin menginap dirumah teman barunya. Dengan sedikit bujuk rayu dan paksaan akhirnya bapak mengijinkan karena memang 2 hari kedepan beliau sedang ikut majikannya ke luar kota. Bapak berjanji akan menjemput Ara saat sudah kembali dari luar kota.


****


45 menit kemudian ketiga gadis itu tiba didepan rumah megah dengan gerbang putih tinggi. Dev melajukan mobilnya melewati gerbang itu.


Melihat betapa mewahnya rumah itu, Ara sedikit ragu.


"Lu pada yakin kalo gue nginep kaga bakal ngerepotin ibu bapak lu ??". Ara bertanya kepada dua temannya.


"Lo ngomong apa sih Ra. Ya enggak lah, gue udah telpon mama. Mama seneng banget soalnya nggak akan kesepian beberapa hari ini". Putri menjawab sambil menggenggam erat tangan Ara.


Ketiganya turun dari mobil diikuti Dev dari belakang, didepan pintu sudah berdiri wanita cantik dan anggun yang umurnya mungkin sudah 40an tahun. Dia tersenyum lebar melihat anaknya pulang membawa Dira dan sahabat baru yang sering ia banggakan.


Setelah sampai didepan mama Putri, Ara segera menyalami dan mencium tangan mama Putri.


"Apakah ini yang namanya Kinara??". Tanya mama Putri lembut.


"I..iya nyonya, saya Kinara. Maafkan saya kalau merepotkan anda dan keluarga". Ara berkata sambil membungkukkan badan tanda hormatnya kepada pemilik rumah.


Nyonya Dini, ibunda Putri tersenyum lembut melihat kesopanan gadis dihadapannya ini.


"sama sekali tidak merepotkan Ara, dan satu hal lagi. Jangan memanggilku nyonya, apa kau mengerti?? Panggil saja aku tante, atau mama. Seperti Putri memanggilku". Sambung Mama Dini sambil mengelus kepala Ara.


"terima kasih banyak nyo...eh tante maksud saya". Ara merasa tidak enak merepotkan Putri dan keluarganya.


"apakah mama akan terus mengajak Ara berdiri disini?? apa mama tidak kasian melihat luka-luka Ara??" Putri bertanya sekaligus menyindir ibunya karena terlalu asyik mengajak Ara mengobrol.

__ADS_1


"Oh ya Allah, maafkan tante Ara..kamu pasti lelah berdiri disini. Ayo kita masuk, kamu butuh istirahat". Mama Dini menuntun Ara masuk kedalam rumah.


__ADS_2