Cinta Kinara

Cinta Kinara
akhirnya


__ADS_3

"Mamaaaaa!!" Geram Dev.


Dev memandang gadis yang kini masih menundukkan kepala dihadapannya.


Dev menangkup kedua pipi Ara yang masih basah oleh air mata.


"Kalaupun aku punya calon istri, itu kamu Ra. Aku nggak mau yang lain" Tegas Dev sambil menghapus air mata yang terus mengalir.


"Ta..tapi bang. Nyonya..." Ara tidak meneruskan kalimatnya.


"Mama akan bahagia kalau aku bahagia.." Dev menjeda kalimatnya.


"Dan kebahagiaan aku itu kamu Ra. Cuma kamu" Lanjut Dev kemudian mengelus pipi Ara lembut.


"Jadi...???" Tanya Dev lagi.


Ara memberanikan diri menatap netra hitam milik Dev, mencari setitik kebohongan dari pendar matanya. Namun yang Ara lihat justru keseriusan dari segala ucapan yang ia dengar dari mulut Dev.


"Aku tau..bahkan selama ini kita tidak terlalu dekat. Tapi aku rasa kamu faham dengan segala tindakan dan perlakuanku selama ini ke kamu Ra" Dev kembali mencoba meyakinkan Ara yang masih terlihat ragu.


Tak jauh dari keduanya berdiri, ada segerombolan orang yang sedang mengintip dan mencuri dengar percakapan keduanya.


"Aduhh..itu anak kamu nggak pinter banget sih pa bikin Ara luluh. Udah gemes ini mama dari tadi" Kesal mama.


"Lama-lama mama yang lamar Ara. Kelamaan nungguin anak kamu. Nggak bisa diandelin banget" Cebik mama.


"Sabar ma..mama tahu sendiri bagaimana Ara yang kita kenal. Dia gadis yang pintar dalam segala hal. Papa yakin sedikit lagi pasti bisa ma" Papa mencoba meyakinkan istri tercintanya.


"Kakak payah juga ya ma, takhlukin satu perempuan juga kayanya susaaaah banget. Padahal dari dulu jadi inceran cewe dimana-mana. Hihihi" Dira terkikik melihat sang kakak yang susah payah meyakinkan Ara agar mau menerima lamarannya. Begitu juga dengan Putri dan Salsa yang ikut menertawakan Dev yang terlihat kepayahan meyakinkan Ara.


"Ini juga mama ikut andil bikin anak kita susah lamar calon mantu pujaan mama. Kenapa mama pakai acara bohong segala kalau Dev sudah punya calon istri". Kini giliran papa yang merasa kesal pada sang istri.


"Waktu itu mama iseng. Mama pengen tahu kalau mama bilang seperti itu, Ara akan cemburu atau tidak" Jawab mama tak mau kalah.


Tak mau memperpanjang perdebatan, papa akhirnya memilih diam dan menghela nafas kasar.


Sementara bapak hanya tersenyum melihat kedua majikannya berdebat. Sejujurnya bapak takut dengan kemarahan anaknya jika sampai sang anak tahu kalau dirinya ikut terlibat dalam rencana para majikannya.


Awalnya bapak menolak rencana sang majikan, namun karena mama Anika terus memaksa dengan alasan kebahagiaan Ara, akhirnya bapak mengikuti rencana majikannya.


"Ra.." Ucap Dev lembut ketika melihat Ara masih bungkam.


"G..gue kaga bisa bang. Gue cuma orang biasa bang. Gue..gue kaga pantes buat elu. Lu bakal dipermaluin kalo jadiin gue pasangan hidup" Ucap Ara pelan.


Kalau boleh jujur, Ara ingin langsung menjawab "ya" lamaran Dev. Karena memang lelaki itulah yang sudah mampu menguasai hatinya sepenuhnya. Namun dirinya cukup sadar siapa dan dimana posisinya.


Meskipun orang tua dan adik Dev yang sudah sangat baik padanya, dirinya tak ingin dianggap lancang dan memanfaatkan kebaikan seluruh keluarga Dev.


"Semua orang sama dihadapan Allah Ra. Bahkan mungkin kamu jauh lebih tinggi daripada kami. Kamu yang selalu mempertaruhkan hidup kamu hanya untuk melindungi dan menyelamatkan kami"


"Jadi darimana kamu memiliki pemikiran kalo kamu nggak pantes buat aku" Ucap Dev lembut.


"Aku mohon..kasih aku kesempatan buat buktiin ke kamu kalo aku bener-bener serius sama kamu Ra. Aku udah jatuh cinta sama kamu sejak pertama aku liat kamu" Dev mengeratkan genggaman tangannya pada tangan dingin Ara.


Semakin melebar saja mata Alsa mendengar pengakuan Dev.


"B..bang" Suara Ara semakin terdengar bergetar mendengar semua pengakuan cinta Dev padanya.


Dev kembali berlutut dihadapan Ara, meyakinkan Ara tak semudah yang ia bayangkan.


"Will you marry me??" Dev kembali bertanya, pria tampan itu memejamkan matanya, takut jika Ara akan menolak dirinya lagi.


"Please Ra.." batin Dev


Cukup lama Ara terdiam, matanya terus mengamati wajah tampan yang sudah berhasil meluluhkan hatinya. Ara memejamkan mata sejenak dan menarik nafas sebelum mengatakan..

__ADS_1


"yes, i will" Jawab Ara mantap.


Dev membuka matanya dan mendongakkan kepalanya untuk melihat gadis yang baru saja membuat dadanya seolah dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan.


"yeess!!" Teriak Dev.


Dev menyematkan cincin yang baru Ara sadari bahwa itu adalah cincin yang pernah ia coba saat bersama mama Anika. Dev berdiri, kemudian memeluk erat tubuh Ara.


"Makasih Ra..aku janji akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa selalu bahagiain kamu" Ucap Dev disela pelukannya.


Ara mengangguk sebagai jawaban, dan perlahan tangannya terangkat untuk membalas pelukan dari lelaki yang telah memiliki hatinya sepenuhnya.


"Aaaaaa...calon mantu mama!!!" Sebuah teriakan histeris membuat suasana romantis antara Dev dan Ara buyar seketika.


Ara melepaskan pelukan dan menoleh pada sumber suara. Matanya melebar melihat siapa yang kini sedang berjalan mendekatinya.


"Nyo..nyonya" Gumam Ara.


"Sayaaaaaang" Mama Anika mendekat dan memeluk Ara erat, seolah enggan melepaskan gadis cantik yang masih berdiri kaku.


Ara takut jika sang nyonya akan memakinya dan membencinya karena telah lancang menerima pinangan Dev.


"Calon mantu mama". Mama Anika menangkup kedua pipi Ara, kemudian dengan lembut mencium kening Ara.


"Makasih ya sayang..kamu udah mau nerima lamaran anak mama". Cerocos mama tanpa memberi Ara kesempatan untuk memahami situasi saat ini.


"Nyo..nyonya" Lirih Ara.


"Belajarlah memanggil aku ini mama, sayang" Ucap mama lembut sambil mengelus rambut Ara.


"Ta..tapi nyonya" Jawab Ara terbata.


"Calon istri yang mama maksud itu kamu sayang. Hanya kamu calon istri Dev, kamu calon mantu mama". Mama kembali memeluk Ara.


Pandangan Ara jatuh pada lelaki paruh baya yang melihatnya dengan mata berkaca-kaca.


Bapak merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut putri cantiknya.


Ara berlari menghambur kedalam pelukan sang ayah, menumpahkan air mata kebahagiaannya.


"Bapak.." Ara terus memanggil sang ayah.


"Bapak yakin kamu akan bahagia neng" Ucap bapak mengelus punggung Ara yang terlihat bergetar.


"Bapaaaak". Suara tangisan Ara terdengar semakin kencang.


Bapak terkekeh mendengar suara tangisan anak gadisnya.


"euuh..geus gede masih keneh cengeng kamu mah neng". Kekeh bapak dan sukses mendapat capitan dipinggangnya.


"Sakit atuh neng..main cubit-cubit aja kamu mah neng" Ucap bapak melonggarkan pelukannya pada sang anak.


Kedua pipi Ara sudah basah dengan air mata. Bapak menghapus air mata yang mengalir dipipi putrinya.


"Jangan nangis atuh ah, bapak yakin..tuan muda akan bisa membuat kamu bahagia neng. Tuan dan nyonya juga menyayangi kamu seperti putrinya sendiri..bapak akan tenang jika meninggalkan kamu". Ucap bapak tiba-tiba berubah sendu.


"Bapak..." Lirih Ara.


"Sudah-sudah..ini kan moment bahagia, kok malah nangis-nangisan sih" Mama Dini mencoba membuat suasana ceria kembali.


"Iya nih lo Ra..bikin kita mewek aja" Putri menimpali.


"Aaaaa..calon kakak ipar" Dira maju dan memeluk sahabat sekaligus calon istri sang kakak.


Putri dan Salsa tidak ketinggalan menghambur memeluk sahabat mereka.

__ADS_1


"Selamat ya Ra..aku ikut bahagia buat kamu." Ucap Salsa tulus.


Ara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban disertai senyum bahagia.


***


Selesai dengan acara peluk memeluk, semua orang memutuskan makan malam bersama direstoran pinggir pantai.


Ara masih menempel pada bapak, membuat semua orang tersenyum melihat kedekatan antara Ara dan bapak.


"Sana atuh neng, geser jangan deket-deket bapak terus. Itu deket calon suami kamu". Goda bapak.


Ara mencebik mendengar godaan sang ayah.


Selesai dengan makan malam, papa Aryo mulai berbicara serius pada Dev dan Ara.


"Jadi kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian? Papa akan siapkan acara pertunangan kalian" Ucap papa.


Dev memandang Ara yang duduk didepannya, kemudian tersenyum.


"Dev akan mengikuti apa yang Ara inginkan pa.." Jawab Dev tenang.


Dapat papa dan mama lihat keraguan diwajah Ara. Mama Anika menggenggam tangan Ara, dan berkata.


"Jangan memikirkan yang belum tentu terjadi sayang..biarkan orang akan berkata apa. Yang harus kamu tahu, mama sangat bahagia akan memiliki kamu sebagai putri mama" Ucap mama tulus.


Mata Ara berkaca-kaca mendengar ucapan ibu dari lelaki pemilik hatinya.


"Kita adakan pesta yang meriah untuk pertunangan mereka pa". Ucap mama Anika semangat.


Ara langsung menggeleng kuat membuat bapak tersenyum tipis. Bapak tahu seperti apa watak putri bungsunya itu.


"Ja..jangan nyonya..saya hanya ingin acara sederhana yang dihadiri oleh keluarga saja" Ucap Ara pelan.


"Kamu yakin nak?" Tanya papa Aryo.


"Padahal mama sudah mau memamerkan calon mantu mama yang cantik". Mama memasang wajah memelas.


Ara memandang Dev untuk meminta dukungan. Dev yang paham berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.


"Masih ada acara pernikahan pa, ma..acara pertunangannya kita buat sederhana saja sesuai keinginan Ara". Ucap Dev


Semua mengangguk menyetujui.


Beberapa kali Dev mencuri pandang pada gadis yang telah menguasai seluruh hati dan pikirannya.


"Liat mah liat aja kali kak. Gausah malu-malu kucing gitu" Dira mulai menggoda sang kakak.


Dev mencebik mendengar ucapan sang adik yang senang menggoda dirinya.


Telah diputuskan bahwa acara pertunangan Dev dan Ara akan dilaksanakan 2minggu lagi.


***


"Ciee..calon manten". Goda Sam saat Dev mendudukkan diri disebelahnya.


"Akhirnya temen kita ketemu juga tu ama belahan jiwanya Vin".


Kevin hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Selamat ya Dev. Mudah-mudahan lo bahagia terus ama Ara". Ucap Kevin tulus.


Dev tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Saat ketiganya sedang berbincang, terdengar suara lembut memanggil Dev. Membuat ketiga lelaki itu mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


"Dev..Bisa kita bicara berdua?"


__ADS_2