Cinta Kinara

Cinta Kinara
berangkat bersama


__ADS_3

Kepulangan Ara benar-benar mampu membuat suasana rumah menjadi ceria.


Awalnya Ara menolak keras saat dirinya diperintahkan untuk menempati salah satu kamar yang ada didalam rumah besar itu.


"Aku akan tidur dipaviliun saja. Disana aku lebih nyaman". Berulang kali Ara mencoba menolak,namun ternyata hasilnya sia-sia.


"kamu ga kasian ama kita ra?? Kita udah capek-capek bersihin kamar itu tau, kita pengen tidur bareng sama kamu". Dira dan Putri langsung memasang wajah memelas membuat Ara akhirnya mengalah dengan sebuah syarat.


"oke okeee..tapi hanya 1minggu. Tidak lebih". Ara berkata tegas kepada kedua sahabatnya yang langsung dijawab anggukan mantap oleh Dira dan Putri.


Mau tidak mau dirinya harus tidur dikamar tamu yang sudah disiapkan kedua sahabatnya.


Makan malam kali ini terasa berbeda, suasana benar-benar hangat. Mama Dini dan mama Anika sedari tadi sibuk menawari Ara ingin makan apa. Yang ditawari malah jadi bingung sendiri.


"sudah cukup nyonya, saya tidak akan mampu menghabiskan semua makanan ini jika terus ditambah". Ara menahan halus tangan mama Anika yang hendak menambahkan lauk lagi kedalam piring Ara.


Bapak tersenyum hangat melihat perhatian majikannya pada Ara.


Malam ini semua orang termasuk pembantu dan pengawal makan satu meja dengan majikan mereka. Inilah keluarga Tuan Aryo, mereka tidak pernah membandingkan seseorang hanya dari status sosialnya saja.


Selesai makan, Ara langsung digiring menuju kamar oleh Dira dan Putri.


Ketika sampai dikamar, Ara segera merebahkan tubuhnya diranjang..sejujurnya, kondisi Ara belum sepenuhnya pulih. Lukanya masih terasa sangat nyeri. Namun dirinya benar-benar sudah bosan dikurung dalam kamar rumah sakit.


Ara mengatur nafasnya, menghirup udara dari hidung kemudian menghembuskannya dari mulut. Dia terus melakukannya untuk mengurangi rasa nyeri pada bekas lukanya.


Saat sedang menunggu kedua sahabatnya dengan segala skincarenya, pintu kamar tamu diketuk dari luar. Ara bangkit dari tidurnya berjalan pelan menuju pintu dan kemudian membukanya.


Saat pintu terbuka, nampaklah wajah tampan yang sudah terlihat segar. Sepertinya Dev baru saja selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah dan asih berantakan. Namun justru terlihat sangat menarik dimata Ara.


"jangan lupa minum obatmu, setelah itu langsung tidur. Jangan mengobrol dengan mereka berdua, atau semalaman kamu tidak akan bisa tidur mendengarkan ocehan mereka berdua". Ara tersadar saat mendengar suara tegas itu memberi perintah kepada Ara.


Tanpa sadar Ara hanya mengangguk sebagai jawaban. Dev tersenyum manis kemudian menepuk kepala Ara beberapa kali dengan lembut.


"yaaaaa..kakak ngapain disini?? Gak usah gangguin Ara kak. Kakak udah 1minggu ya deket-deket ama Ara". Dari dalam Dira langsung angkat bicara saat mendengar suara kakaknya.


"hmmm..bener tuh. Kak Dev gak puas apa 1minggu penuh gak ada yang ganggu waktu berduaan ama Ara. Sekarang jatah kami sama Ara. Kak Dev jangan ganggu". Putri ikut menimpali.


Kedua gadis itu berjalan mendekat kearah Dev dan Ara.


Dev mendorong kening kedua gadis itu bergantian secara perlahan.


"Jangan ajak Ara begadang, biarin dia istirahat abis minum obatnya. Awas lu berdua kalo nyampe ganggu istirahat Ara". Dev berkata tegas pada kedua gadis itu.


Dira mendengus kesal karena menurutnya kakaknya itu sangat menyebalkan.


"iya..iyaaaaa...kagak bakalan kita ganggu istirahatnya Ara. Lu mah kak, ama kita-kita aja pake elo gue, giliran ke Ara aja aku kamu. Cinta mah beda ya Put". Dira langsung menggoda kakaknya saat mereka menyadari perbedaan panggilan Dev kepada mereka dan Ara.


"eehh". Ara jadi bengong sendiri. Selama ini dirinya tidak terlalu memperhatikan panggilan apa yang Dev gunakan untuknya. Dan apa tadi kata Dira. Cinta??? Cinta apa?? Ara jadi pusing sendiri mendengar perdebatan kakak beradik itu.


Setelah memastikan Ara meminum obatnya, Dev meninggalkan kamar yang ditempati Ara serta adik dan temannya.

__ADS_1


Sementara saat ini ketiga gadis itu sudah membaringkan tubuh mereka diranjang empuk kamar itu. Posisi Ara berada ditengah antara Dira dan Putri.


Tibq-tiba Dira memiringkan tubuhnya menghadap Ara.


"elu ama kakak udah sedeket apa ra??" Dira bertanya pada Ara yang mengernyit bingung dengan pertanyaan Dira.


"deket?? Ama abang elu?? Biasa aja gue mah Dir". Ara menjawab santai karena memang tidak merasa terlalu dekat dengan Dev.


"elo ga ngerasa gitu ra, kalo kak Dev kayanya suka ama elu". Putri ikut menimpali, kini panggilan mereka bertiga jadi campur aduk antara aku kamu dan elo gue.


"jangan bercanda deh kalian berdua, udah tidur-tidur lu pada. Udah malem ini". Ara memejamkan matanya menghindari pertanyaan Dira dan Putri yang semakin tidak jelas.


Dira dan Putri mendengus kesal karena tidak bisa mengorek informasi tentang kelanjutan hubungan Ara dan Dev.


Putri kemudian mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.


...******...


3hari berlalu sejak kepulangan Ara, dia benar-benar tidak diijinkan untuk melakukan pekerjaan apapun oleh semua orang. Selama itu pula Putri menginap dirumah Dira.


Pagi ini Ara sudah siap dengan seragam sekolahnya, dirinya akan mulai berangkat sekolah hari ini.


Saat keluar dari kamar, pandangan matanya bertemu dengan mata tajam milik Dev. Dev mengernyit bingung melihat Ara sudah memakai seragamnya.


"kamu mau ke sekolah ra??". Dev bertanya sambil berjalan mendekat kearah Ara.


"iya bang. Udah kelamaan gue diem dirumah bang. Bosen". Ara menjawab sambil berjalan menuju ruang makan. Disana sudah ada Mama Anika dan Papa Aryo serta kedua sahabatnya.


"kamu mau kemana sayang??". Nyonya Anika bertanya pada Ara karena melihat Ara sudah memakai seragam komplit dengan tas yang sudah ia sampirkan disalah satu pundaknya.


"saya mau ke sekolah nyonya. Saya sudah benar-benar sehat nyonya. Jadi tolong ijinkan saya pergi ke sekolah". Ara langsung memohon sebelum mendapat larangan dari majikannya.


"tapi kamu masih butuh istirahat nak". Nyonya Anika masih mencoba membujuk Ara.


"aku juga sudah bilang seperti itu ma. Tapi dia memang anak keras kepala". Dev menimpali ucapan sang mama.


Bapak masuk kedalam rumah dan mendengar sedikit perdebatan antara majikan dan anaknya itu. Kemudian bapak ikut membuka suara.


"biarkan saja nyonya, saya yakin dia mampu menjaga dirinya sendiri". Bapak ikut membantu Ara karena kasihan melihat anaknya sudah sangat bosan berdiam diri dirumah itu.


Mama Anika akhirnya mengalah membiarkan Ara pergi sekolah. Namun dengan syarat..


"baiklah, tapi kamu harus pergi bersama Dev dan Dira serta Putri. Tidak ada penolakan Ara". Mama Anika langsung berkata tegas melihat Ara membuka mulut hendak menolak permintaannya.


Saat sedang berdebat tentang Ara yang akan sekolah, diruang tamu terdengar suara ribut. Dan Dev pun sudah tau siapa yang sedang membuat kegaduhan diluar sana.


"pagi om..pagi tante cantik". Samuel masuk tanpa disuruh oleh pemilik rumah.


Samuel memang terkenal playboy dan selalu tebar pesona pada setiap wanita yang dilihatnya.


Sementara Kevin yang berjalan dibelakangnya hanya memutar bola matanya malas mendengar gombalan tak bermutu Sam.

__ADS_1


"pagi juga Sam". Papa Aryo menjawab santai.


"pagi Sam, Vin. Sini ikut sarapan sekalian". Mama Anika mempersilahkan kedua sahabat putranya untuk bergabung dengan mereka.


Tanpa sungkan kedua pria tampan itu langsung ikut duduk dan mengambil piring kemudian mengisinya dengan nasi goreng yang sudah tersedia dimeja.


Sam tiba-tiba tersedak saat matanya melihat wajah cantik Ara berada disatu meja yang sama dengan Dev dan keluarganya.


Buru-buru ia meraih air minun yang ada didepannya.


"Lah ni cewe bukannya yang waktu itu ikut bantuin tanding basket kan??". Mulut tak berfilter itu terus mengoceh saat melihat Ara.


"hmm". Dev hanya menjawab pertanyaan Sam dengan sebuah deheman saja.


Sebenarnya Kevin juga penasaran, mengapa gadis itu bisa ada dirumah Dev.


Keduanya terus memperhatikan Ara yang nampak cuek tidak terganggu dengan tatapan Sam dan Kevin.


"Biasa aja kali kak liatin teman akunya, ntar temen kulkas kalian ngamuk kalo kalian lama-lama liatin Ara". Dira mulai menggoda sang kakak.


Kevin dan Sam saling pandang kemudian mengarahkan pandangannya pada Dev. Sementara yang ditatap nampak cuek dan terus memasukkan makanannya kedalam mulut.


"Ayo berangkat, keburu telat". Dev tiba-tiba berdiri dan berkata tanpa menunjukkan pada siapa dirinya berbicara.


"Nah kan udah ada kak Sam sama kak Kevin, kita berdua numpang mobil kalian aja ya". Putri langsung berkata saat semua sudah bersiap untuk berangkat.


"nah lu..terus gue pergi ama sapa??". Ara sudah curiga dengan gelagat kedua sahabatnya.


"ya kamu sama kak Dev lah, mobil kak Dev sempit kalo kita berdua ikut naik". Dira ikut mendukung rencana Putri untuk membuat Dev dan Ara berada dalam satu mobil.


"sempit-sempit udelmu itu, mobil segitu gede dari mana sempitnya". Ara langsung mengomel pada dua sahabatnya.


Sam dan kedua sahabat Ara langsung tertawa mendengar ucapan Ara, sementara Kevin hanya tersenyum menanggapi ucapan Ara.


Dira memberi kode pada Sam dan Kevin untuk membantu mereka membujuk Ara.


"iya, mobil si kulkas mah emang sempit neng. Udah biarin Dira sama Putri bareng kita". Sam membantu membujuk Ara.


Dev melihat jam yang melingkar ditangannya, kemudian tanpa banyak kata langsung menarik tangan Ara menuju mobilnya.


"bang..eh bang, itu adek lu ketinggalan disono". Ara mencoba menahan tubuhnya yang ditarik Dev. Namun karena tenaga Dev lebih besar, akhirnya tubuh Ara terseret juga.


"kalo kalian pada ribut mulu yang ada kita semua telat kesekolah. Udah kamu ikut aja sama aku, mereka mah biarin aja". Dev berkata sambil mendorong tubuh Ara masuk kedalam mobil.


Ara hanya bisa pasrah, sementara Dira dan Putri bertos ria melihat rencana mereka untuk membuat Dev dan Ara pergi berdua sudah berhasil.


Akhirnya hari ini Dev dan Ara berangkat bersama dengan mobil yang sama. Sementara dibelakang mobil mereka, ada mobil Kevin yang mengikutinya dari belakang.


Jangan lupa kasih like sama komennya ya reader.


Kasih masukan kalau cerita aku masih kurang menarik🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2