
Kabar kehamilan Putri menjadi angin segar untuk semua orang. Bian sempat tak percaya pada apa yang disampaikan sang istri hingga sang istri menunjukkan foto hasil usg anak mereka. Bian menangis haru, memeluk erat tubuh istri tercintanya.
"Udah lu duduk aja. Urusan rumah serahin sama gue". Ucap Ara menahan Putri yang hendak memasak didapur.
Putri mendengus mendengar larangan adik iparnya itu "Gue hamil Ra, bukan sakit. Yang ada gue beneran sakit kalo ama elo kaga boleh ngapa-ngapain kaya gini" Dengus Putri.
Ara hanya mengangkat bahu acuh dan melanjutkan pekerjaannya memotong sayuran yang akan ia masak.
Putri mendengus kemudian berlalu, ia memilih duduk diruang keluarga rumahnya dan menonton drama kesukaannya.
****
"Lo udah mau kuliah dek?" Tanya Bian ketika melihat sang adik sudah rapi.
"Hm.." Gumam Ara.
"Nah gitu dong, udah 2minggu ngerem dirumah aja lo. Kaya ayam bertelur". Ucap Bian
Ara hanya melirik sebal pada sang kakak yang tengah tersenyum lebar.
"Jawab napa sih lo. Anyep aja kaga ada suaranya". Bian kembali berucap karena tidak mendapat tanggapan dari sang adik.
"Ntar kalo gue jawab, lu keder". Jawab Ara pendek.
"Udah kenapa sih, kalian udah pada tua ribut mulu". Putri segera berkata ketika melihat sang suami sudah membuka mulutnya untuk membalas ucapan Ara.
Ara menjulurkan lidahnya meledek sang kakak yang ternyata begitu mematuhi istrinya itu.
"Baek-baek lu ama gue kak. Kalo kaga, gue jamin aib lu bakal nyampe ke bini lu". Bisik Ara pada sang kakak yang tengah memelototinya.
"Udah deh..jangan mulai lagi". Ucap Putri tanpa mengalihkan pandangannya dari piringnya.
Ara hanya tersenyum melihat wajah kesal kakaknya, ia melanjutkan makannya.
Selesai sarapan, Ara dan Putri berangkat ke kampus bersama, sementara Bian sudah lebih dulu pergi.
"Ara..Putri..!" Keduanya mengalihkan pandangannya pada sumber suara.
"Buset tu bocah kalo teriak bener-bener. Untung kaga deket, kalo deket mah dijamin soak kuping gue". Gerutu Putri
"Jangan kebanyakan ngomongin orang lu, ponakan gue ntar mirip ama Dira". Ucap Ara membuat Putri langsung mengusap perutnya yang masih rata sambil mulutnya berkali-kali berucap amit-amit.
"Heh kutu kupret, kemana aja lo. 2minggu kaga kuliah". Semprot Dira ketika ia sudah ada dihadapan Ara.
"Gue? Semedi" Jawab Ara ngawur dan melanjutkan langkah kakinya.
"Eh bocah, semedi katanya"
"Udah jadi wiro sableng belom lo semedi dua minggu?" Teriak Dira.
"Iya, gue jadi pendekar 212. Ni gue bawa kapak". Jawab Ara semakin ngelantur.
Sementara Salsa dan Putri hanya terkikik mendengarkan ocehan kedua temannya itu.
"Eh dasar si sableng". Dira mempercepat langkahnya agar bisa menyamakan langkah kakinya dengan Ara.
"Kaga usah lari lu. Belom waktunya ponakan gue launching. Bisa-bisa gue digorok ama laki lu kalo kaga bisa jagain lu". Peringat Ara ketika ia melihat Putri yang hendak berlari. Putri hanya nyengir menanggapi peringatan Ara, sejujurnya ia masih sering lupa jika ia sedang mengandung.
"Cie..calon tante yang baik". Goda Dira membuat Ara melirik "Lu juga calon tante anaknya si Putri". Jawab Ara
"Setdah..berasa tua ya kita" Kata Dira
"Lu aja sih yang tua. Gue mah berasa muda". Ucap Ara
__ADS_1
"Haish..ngomong ama lo bikin gue snewen". Cebik Dira membuat teman-temannya tertawa.
"Aku seneng liat kamu udah kaya dulu lagi Ra". Batin Salsa sambil tersenyum memperhatikan wajah ceria Ara.
"Heh anak macan, kemana aja lu kaga pernah nongol". Suara menyebalkan Digo membuat keempat gadis yang kini tengah duduk dihalaman kampus menengok. Tanpa sungkan Digo mendudukkan dirinya disebelah Ara, menggeser tubuh Dira yang sebelumnya duduk tepat disebelah Ara.
"Ish..ngapain sih duduknya musti disini. Sebelah situ kan masih kosong". ketus Dira
"Gue ikut sedih atas apa yang dialami bokap lu Ra". Ucap Digo pelan membuat Ara menoleh dan tersenyum tipis.
"Makasih..bapak udah bahagia". Jawab Ara tenang membuat ketiga temannya bernafas lega. Mereka khawatir ucapan Digo kembali membuat Ara murung, namun sepertinya Ara sudah benar-benar mengikhlaskan kepergian ayahnya.
"Lu jangan sedih ya..kita semua ada disini buat lu". Ucap Digo kemudian. Ara menoyor kepala Digo membuat lelaki tampan itu mendelik tak percaya.
"Kaga ada pantes-pantesnya lu mukanya melow gitu". Ucap Ara membuat ketiga temannya menjatuhkan rahang melihat reaksi Ara.
"Emang kutu kupret lu ye anak macan. Pengen gue pites lu". Kesal Digo membuat Ara tertawa.
Dari kejauhan Dev tersenyum melihat kekasih hatinya sudah kembali bisa tertawa. Setiap hari Dev selalu menyempatkan dirinya untuk kerumah Bian hanya untuk melihat kondisi Ara.
"Abang..." Teriak Ara sambil melambaikan tangannya pada Dev yang tengah tersenyum padanya.
Dev berjalan mendekati Ara dan teman-temannya. Melihat Dev yang mendekat, Digo segera berpindah duduk disebelah Salsa.
"Napa lo pindah?" Sindir Putri dengan senyum mengejek.
"Gue masih sayang muka ganteng gue. Duduk deket anak macan bisa-bisa abis gue". Bisik Digo yang masih bisa didengar oleh Ara dan ketiga temannya. Sontak jawaban Digo membuat mereka terkikik geli. Bukankah dulu Digo senang sekali jika membuat keributan dengan Dev. Lalu kenapa sekarang ia seolah menghindari keributan?
"Seru banget sih". Ucap Dev setelah mendaratkan pantatnya tepat disebelah Ara. Ara hanya tersenyum menanggapi ucapan Dev.
"Ayang Salsa..kita pindah yuk. Panas disini". Digo menarik tangan Salsa yang terlihat terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Digo.
Dira dan Putri juga mengikuti Digo dan Salsa meninggalkan Ara dan Dev berdua. Mereka pasti butuh waktu untuk berbicara berdua saja.
"Kita nonton yuk, udah lama kita nggak pergi berdua" Ajak Dev
"Kak Bian bakal jemput, tadi telpon abang. Soalnya telpon kamu nggak diangkat. Mama juga kangen sama kamu udah 2minggu nggak liat calon mantunya". Goda Dev membuat wajah Ara bersemu.
"Sejak kapan abang jadi cerewet?" Tanya Ara
"Sejak kenal kamu". Bisik Dev kemudian menarik tangan Ara.
____
Seperti biasa, keduanya akan lebih memilih menonton film action daripada film-film romantis.
Keduanya memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum mengunjungi kediaman Natakusuma.
"Abang boleh nanya ke kamu Ra?" Tanya Dev membuat Ara mendongak menatap heran wajah tampan Dev yang terlihat serius.
"Nanya aja bang..biasanya juga langsung nanya". Jawab Ara tenang
"Apa kamu masih belum siap menikah sama abang?" Pertanyaan Dev membuat Ara berhenti menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Apa kamu masih ragu sama abang?" Tanya Dev lagi membuat Ara langsung menggeleng kuat.
"Lalu kenapa Ra?" Tanya Dev penasaran
"Gue cuma pengen jadi orang berhasil dulu bang. Gue nggak mau dicap sebagai perempuan yang cuma manfaatin kekayaan keluarga abang". Jelas Ara membuat Dev menghela nafas panjang.
"Yasudah lah..terserah kamu aja". Ucap Dev kemudian melanjutkan makannya tanpa memandang wajah Ara lagi. Ara tahu bahwa Dev tengah kecewa dengan jawaban yang ia berikan. Namun dirinya juga tak ingin kelak dihina ketika menikah dengan Dev yang kaya raya, sementara dirinya belum menjadi seseorang yang bisa dibanggakan.
Ara yakin kedua orang tua Dev menyayanginya seperti putri kandung mereka sendiri, ia juga sangat yakin dengan cinta yang diberikan Dev untuknya. Namun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya setiap kali Dev membicarakan tentang pernikahan. Ara menghela nafas kemudian melanjutkan makannya.
__ADS_1
Suasana didalam mobil begitu sepi, beberapa kali Ara melirik Dev yang tampak fokus pada jalanan yang cukup padat sore ini. Pria yang biasanya begitu hangat tiba-tiba dingin. Ara tahu apa alasannya, berulang kali Ara menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya perlahan.
"Abang marah ama Ara?" Tanya Ara pelan.
"Enggak" Jawab Dev pendek membuat Ara kembali menghela nafasnya.
Sampai dihalaman rumah besar Natakusuma, keduanya sudah ditunggu oleh mama Anika yang terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan calon menantunya itu.
"Sayaaaang..Mama kangen banget sama kamu". Ucap mama sambil memeluk Ara dengan erat " Ara juga kangen sama mama". Jawab Ara membalas pelukan mama Anika.
"Dev keatas dulu ma. Mau mandi". Suara Dev terdengar dingin membuat alis sang mama berkerut dalam. Tidak biasanya sang putra menampilkan wajah kesal jika didepan Ara.
"Sayang..apakah kalian sedang bertengkar?" Tanya mama hati-hati. Ara tersenyum dan menggeleng. Keduanya asyik mengobrol hingga waktu sudah hampir magrib.
"Dira kemana ma? Dari tadi kok nggak keliatan??" Tanya Ara sambil melirik lantai atas.
"Dia pergi bersama Kevin sayang, sepertinya mereka punya hubungan khusus" Bisik mama Anika, jiwa emak-emak tukang ghibah didalam tubuh Ara dan mama langsung on.
"Sejak kapan memangnya mereka dekat ma?" Tanya Ara penasaran.
"Sepertinya sudah lama sayang..mereka kelihatan cocok bukan?" Dasar emak-emak. Ara mengangguk mengiyakan.
"Dasar kalian, kalau sudah ghibahin orang suka lupa liat kiri kanan". Suara papa Aryo membuat keduanya terkejut karena tidak menyadari kedatangannya.
"Papa!" Pekik mama yang tengah mengelus dadanya lantaran terkejut.
"Pa.." Ara mengambil tangan papa Aryo dan menciumnya.
"Sehat nak?" Tanya papa perhatian. Ara mengangguk "Alhamdulillah pa. Papa gimana kabarnya?" Ara balik bertanya.
"Alhamdulillah papa sehat". Papa mengelus kepala Ara dengan penuh kasih sayang.
"Mentang-mentang ketemu calon mantu, istrinya dilupain". Ucap mama pura-pura merajuk.
"Sama calon mantu sendiri kok sirik. Salah mama, ngomongin Dira sampai nggak sadar papa pulang". Sindir papa membuat mama tersenyum malu.
"Mama siapkan air untuk mandi". Mama mengambil tas kerja papa dan berlalu meninggalkan Ara. Ara berjalan kedapur untuk membantu bi Inah dan bi Susi memasak untuk makan malam.
Mereka banyak bercerita selama memasak, rasanya sudah lama tidak mengobrol dengan kedua asisten rumah tangga keluarga ini.
Makanan sudah tersaji diatas meja, mama meminta Ara membersihkan diri dikamar yang biasa ia tempati. Ternyata mama Anika menyimpan beberapa pakaian untuk Ara.
Semua sudah berkumpul dimeja makan kecuali Dira yang masih belum kembali, raut wajah Dev masih sama. Terlihat mendung dan tidak secerah biasanya. Ara bisa memaklumi perubahan sikap Dev, karena bukan hanya sekali ia menunda pernikahannya dengan Dev namun sudah beberapa kali. Mungkin Dev sudah kesal mendapat penolakan dari Ara berkali-kali.
Papa dan mama saling pandang, saling bertanya lewat tatapan mata keduanya tentang apa yang terjadi antara anak dan calon menantunya itu. Keduanya pun kompak mengendikkan bahunya tanda tak tahu.
Selesai makan, semua berkumpul diruang keluarga "Bagaimana kuliahmu Ra?" Tanya papa Aryo memecah keheningan.
"Alhamdulillah lancar pa.." Ara menjawab dengan tenang, dirinya yakin sebentar lagi kedua orang tua Dev akan menanyakan hal yang sama dengan yang Dev tanyakan padanya tadi.
"Apakah kalian belum memiliki rencana untuk menikah? Pertunangan kalian sudah lama terjadi. Papa hanya khawatir akan banyak timbul fitnah dengan hubungan kalian mengingat pertunangan kalian tidak diketahui banyak orang" papa memperingatkan.
"Iya sayang..tidak baik jika menunda sesuatu hal yang baik" Mama ikut menimpali. Dev melirik Ara, membiarkan gadis itu menjawab. Dirinya tak ingin menjawab semua ucapan kedua orang tuanya.
"Apa abang sudah siap menjadi seorang suami?? Bukan siap dalam hal materi, karena Ara yakin abang mampu..tapi apa abang memang benar-benar siap menjadi seorang suami? Bertanggung jawab atas diri Ara?" Tanya Ara pada Dev yang sejak tadi hanya diam.
"Bukankah kamu yang belum siap dijadikan istri olehku" Jawab Dev ketus. Ara tersenyum tipis melihat Dev yang masih marah karena dirinya yang ingin menunda pernikahannya.
"Ara siap, kapanpun abang siap menjadi seorang suami untuk Ara ma, pa". Jawaban Ara membuat Dev langsung menoleh pada Ara yang kini sedang tersenyum manis padanya.
Jawaban Ara membuat senyuman tercetak jelas diwajah kedua orang tua Dev. Sudah lama kedua orang tua itu menanti Ara siap dijadikan istri oleh putranya.
"Kamu serius sayang??" Tanya mama Anika tak percaya. Ara mengangguk menjawabnya, ia beralih menatap Dev yang masih diam dalam keterkejutannya.
__ADS_1
"Ara nggak punya alasan buat nolak permintaan abang..Ara percaya sama abang". Ucapnya tulus membuat senyum seketika terbit diwajah Dev yang sejak tadi diselimuti awan gelap.
Lengkap sudah kebahagiaan Dev mendengar kesediaan Ara menikah dengan dirinya.