
Bapak dan Ara terus bertarung. Hingga, hanya dengan telunjuknya yang tepat berada didepan dahi Ara, bapak bisa membuat Ara terjungkal kebelakang karena sudah terlalu kelelahan atau lebih tepatnya mengalah pada sang ayah.
"Bapaaaak..capek pak". Rengek Ara dengan keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas rerumputan. Tenaganya terkuras untuk latihan hari ini.
Bapak menghela nafas panjang kemudian membuangnya dengan kasar, menatap anak bungsunya dengan kesal.
"Heuuhh..kapan atuh kamu mau serius kalo lawan bapak neng. Kalo kamu enggak bisa lawan bapak, gimana caranya kamu lindungi diri kamu neng". Omel bapak sambil membantu sang anak berdiri.
"Capek bapak. Ara udah digempur ama om Pram ama 4 kulkas. Masih harus lawan bapak lagi..ya pasti Ara kalah atuh bapak. Lagian kan ada bapak yang jagain Ara". Ara masih merengek.
"Bapak tahu, kamu nggak keluarin semua kemampuan kamu neng. Kamu sengaja ngalah sama bapak. Nggak selamanya bapak bisa jagain kamu neng". Ucap bapak kesal.
Ara hanya nyengir tanpa berniat membalas ucapan bapak.
Dev berjalan perlahan mendekati Ara dan bapak yang masih berdiri saling berhadapan.
"Bolehkah Dev yang bertarung melawan paman?". Tanya Dev tiba-tiba membuat Ara dan bapak menoleh padanya.
Bapak tersenyum, kemudian mengangguk. Sementara Ara langsung menggeleng kuat mendengar permintaan Dev.
"Ayo sayang semangaaaat. Kalahkan calon bapakmu itu yang sudah membuat mantu mama babak belur". Kata mama berapi-api.
"Semangat kak. Jangan sampe kalaah". Dira ikut berteriak membuat Kevin yang duduk disebelahnya menarik ia kembali duduk dan membekap mulutnya.
"Berisik! Kamu tuh jadi perempuan bar bar banget sih". Gerutu Kevin, membuat Dira mencebik.
Semua itu tidak luput dari pandangan papa dan mama yang hanya tersenyum melihat Dira yang semakin hari semakin dekat dengan sahabat putranya itu.
"Ayo Dev, kita mulai saja. Lebih cepat lebih baik bukan?" Kata bapak dengan senyum mengembang.
Inilah keinginan bapak, membuat Dev dengan sukarela bertarung melawan dirinya. Menunjukkan kemampuan yang selama ini terus diasah lelaki muda itu.
"Tentu paman". Dev berjalan mengikuti bapak ketengah taman yang biasa digunakan untuk berlatih semua pengawal.
Ara hanya menonton dari sisi taman, duduk bersebelahan dengan Pram yang masih mengompres wajahnya yang terkena tinju anak singa.
"Sakit om?". Tanya Ara meledek.
"Kaga. Ginian doang mah kaga berasa apa-apa neng, masih belom ada apa-apanya..sakit tuh kalo udah nyaman terus ditinggal pas sayang-sayangnya. Itu sakitnya disini neng". Jawab Pram sambil menunjuk dadanya dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Ara mencebik mendengar jawaban ngelantur Pram.
"Itu sih curhat namanya!". Cebik Ara lalu kembali fokus pada Dev dan bapak yang sama-sama sudah memasang kuda-kuda bersiap untuk saling menyerang.
Dev dan bapak terlibat pertarungan sengit, tidak ada yang mau mengalah. Mereka saling memberi pukulan dan tendangan kuat pada lawan mereka.
Hampir setengah jam keduanya bertarung, namun belum ada tanda-tanda ada yang mau mengalah dalam pertarungan ini.
"Set dah..sejak kapan si Dev ilmu bela dirinya nambah cakep kaya begini". Sam berdecak kagum melihat Dev yang ternyata sudah semakin jago dalam bertarung.
__ADS_1
"Gue juga baru sadar kalo tu orang bisa sekuat sekarang". Kevin menyahuti ucapan sahabatnya.
"Kapan kakak latihan ya. Perasaan nggak pernah nge gym atau apapun deh dirumah". Gumam Dira merasa heran dengan perkembangan bela diri sang kakak.
Ara mengepalkan kedua tangannya. Ia terlalu gemas melihat pertarungan seru dua lelaki yang begitu berharga untuknya.
"Ih atuh meuni lama ginian juga. Buru itu tendang atuh..pukul, pukul lagi. Ah lama..bapak malah ngapain lagi ". Mulut Ara sudah seperti komentator dalam permainan sepak bola. Membuat Pram gemas dan mencomot bibir Ara yang tengah mengerucut lucu.
"Diem kaga. Lama-lama om iket juga ini mulut sekalian ama orangnya. Udah kaya komentator bola ae lu bocah". Sengit Pram yang langsung mendapat capitan keras dilengannya yang membuatnya meringis kemudian langsung menjauhkan tangannya dari mulut Ara.
"Main comot-comot aja bibir anak orang kaya gorengan". Ketus Ara kemudian kembali fokus pada pertarungan Dev dan bapak. Hingga kemudian ia berteriak dan bangkit saat melihat sang ayah sudah ada dalam kekuasaan Dev.
"Bapak!!". Teriak Ara saat melihat bapak sudah berada dalam kekuasaan Dev. Ia bangkit kemudian berjalan mendekati bapak dan Dev.
Tidak ada raut sedih dari wajah bapak, yang ada hanya raut kebahagiaan dan rasa bangga terhadap calon menantunya.
Selama ini, diam-diam Dev selalu berlatih dengan bapak. Namun selama itu pula, ia belum pernah berhasil mengalahkan calon ayah mertuanya itu. Namun kali ini berbeda, ia memiliki tekat yang kuat untuk menang, Dev tidak ingin Ara atau bapak yang selalu melindungi dirinya dan keluarganya. Ia ingin menjadi lelaki yang bisa dijadikan tempat berlindung untuk kekasih hatinya dan juga keluarganya.
Bapak menepuk bahu Dev dengan bangga.
"Paman tahu kamu pasti bisa Dev". Ucap bapak.
"Dev akan menjaga Ara seperti paman menjaganya. Tidak akan Dev biarkan siapapun menyentuh apalagi menyakitinya paman. Sampai kapanpun, Dev akan selalu menjadi pelindung untuk Ara". Kata Dev bersungguh-sungguh.
"Paman percaya padamu. Bahkan melebihi kepercayaan paman pada diri paman sendiri. Lindungi dia dan cintai dia seperti paman melindungi dan mencintainya Dev. Apapun yang terjadi pada paman, jangan biarkan ia sendiri apalagi menangis". Ucap bapak dengan wajah sendu.
Mata Ara mulai berembun mendengar apa yang Dev dan sang ayah ucapkan. Betapa beruntungnya ia sebagai seorang gadis dicintai dengan begitu dalam oleh bapak dan Dev. Ia merasa begitu bersyukur memiliki dua lelaki yang begitu hebat.
"Bapak nggak kenapa-kenapa? Encoknya enggak kumat kan??". Tanya Ara khawatir melihat keringat bercucuran diwajah sang ayah.
Bapak tersenyum kemudian mengacak rambut anaknya membuat sang anak memberengut kesal.
"Bapak nggak setua itu neng. Kamu aja masih kalah sama bapak". Ledek.bapak membuat Ara langsung melengos.
"Setelah istirahat, bapak ingin melihat kalian bertarung". Ucap bapak santai namun berhasil membuat Ara dan Dev melotot bersamaan.
"Kan udah tadi..abang udah menang lawan bapak. Ara pasti kalah lagi atuh ama abang". Rengek Ara manja pada sang ayah.
"Bapak tahu kamu ngalah sama bapak. Kalian harus bisa saling melindungi, bukannya lebih baik kalo kemampuan kalian setara. Lebih mudah untuk bisa saling melindungi". Ucap bapak sambil mendudukkan diri dibangku taman kemudian mengambil air putih dan meminumnya.
"Bapak ngapain sih dari tadi bilang ngelindungin, dilindungin. Masih ada bapak..Ara nggak mau latihan lagi. Capek!" Sengit Ara membuat bapak tersenyum melihat kekesalan anaknya.
"Hmmmh..bapak udah tambah tua neng. Masa iya bapak mulu yang ngelindungin kamu. Kapan kamu mau bales lindungin bapak kalo gitu atuh". Tanya bapak sambil melirik putrinya yang tengah duduk diatas rumput dengan wajah yang sudah ditekuk.
Mendengar ucapan bapak, Ara mendongakkan kepalanya untuk melihat lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu. Ia mendesah pelan kemudian memyetujui permintaan sang ayah untuk dirinya bertarung dengan lelaki yang berstatus tunangannya itu.
"Abang boleh pukul gue beneran. Gue juga nggak bakal segan-segan buat nyerang abang". Jelas Ara. Kini keduanya sudah berhadapan satu sama lain ditengah taman.
Dev mengangguk sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Kaga usah senyum bang. Ama musuh mah kaga usah ramah-ramah". Cebik Ara. Bisa-bisa ia kehilangan konsentrasi jika Dev terus tersenyum.
Bukannya menuruti ucapan Ara. Dev justru semakin melebarkan senyumnya mendengar ucapan Ara.
"Kaga sekalian ajakin aja gue ngopi bang. Dibilang jangan senyam senyum, malah makin lebar aja senyumnya". Dengus Ara
"Iya..iya, maaf. Abang udah nggak senyum. Kita mulai ya. Abang nggak akan segan-segan sama kamu". Ucap Dev kemudian langsung memasang kuda-kuda.
Pertarungan sengit kembali dimulai, bapak mengawasi keduanya dari pinggiran. Melihat setiap gerakan Ara dan Dev. Bapak terus berjalan mengelilingi sisi taman sambil matanya terus mengawasi setiap pergerakan dua anak muda yang tengah bertarung sengit.
Hingga sebuah tepukan keras atau lebih tepatnya sebuah pukulan mendarat mulus di bahu kanannya. Pelakunya tak lain adalah sang nyonya yang kini tengah memasang wajah garang dihadapannya.
Bapak hanya tersenyum menanggapi wajah marah sang nyonya.
"Kenapa? Kenapa malah nyuruh mereka tarung heh? Itu mantu saya kasian mat. Kamu tu ya bener-bener". Omel mama, membuat sang suami dan bapak tersenyum geli melihatnya.
"Maaf nyonya. Mereka hanya berlatih..tidak akan terjadi apa-apa". Jawab bapak setenang mungkin.
"Nggak kenapa-kenapa gimana. Nggak liat wajah mantu saya udah babak belur gara-gara kamu". Mama masih terus mengomeli bapak yang hanya tersenyum menanggapi.
"Kalian berdua ini, sama saja. Liat anak lagi duel malah cengengesan aja. Nyebelin!". Mama meninggalkan kedua lelaki yang kini terkikik melihat mama yang kesal.
"Aku percaya, kamu melakukan segala hal dengan semua pertimbangan matang". Ucap papa menepuk pelan bahu bapak kemudian berjalan menyusul sang istri.
Dev benar-benar mengikuti keinginan Ara untuk bertarung sungguh-sungguh. Ia ingin membuktikan pada gadisnya, bahwa kini ia juga bisa diandalkan untuk menjadi pelindungnya.
Ara mulai terpojok, semua serangan Dev benar-benar sudah setingkat dengan bapak. Bahkan saat ini Ara sudah mencurahkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk bisa menumbangkan Dev. Namun semua usahanya bisa dipatahkan oleh Dev.
"Sejak kapan abang sehebat ini?" Batin Ara
Melihat Ara yang sedikit tidak fokus, Dev langsung menjatuhkan Ara dan mengunci tangan serta kakinya hingga membuat Ara sudah tidak bisa melawan lagi.
"Oke..cukup". Teriak bapak puas melihat anaknya bisa dikalahkan oleh calon suaminya.
"Maafin abang ya..sakit ya?". Tanya Dev sambil membantu Ara berdiri.
Ara menggeleng, ia masih belum percaya telah dikalahkan oleh Dev.
"Sekarang kamu bisa percayain semua ke abang. Abang janji akan menjaga kamu seperti paman menjagamu Ra". Ucap Dev tiba-tiba membuat Ara mendongak.
"Ada aku..sekarang, nanti, dan seterusnya abang akan selalu ada disamping kamu Ra". Lanjutnya dengan senyum manis terpatri indah diwajah rupawannya.
Ara tersenyum lalu mengangguk.
"Bapak bisa tenang sekarang neng, kamu sudah memiliki malaikatmu. Bapak yakin kamu akan bahagia". Batin bapak.
Tepuk tangan meriah terdengar dari ruang keluarga yang berada persis didepan taman.
"Mantaaaap..couple goals banget lah ya lu berdua. Sama-sama jagoan". Ucap Sam sambil mengangkat kedua jempolnya.
__ADS_1
"Keren banget sih kakak aku ini". Dira ikut menimpali ucapan Sam.