
Sudah satu bulan Ara menjadi seorang mahasiswi dikampus Pelita Bangsa. Sudah banyak pula mahasiswa yang mencoba menyatakan rasa sukanya pada Ara, namun tak ada satupun yang Ara terima. Ara hanya ingin berteman dengan mereka, tanpa hubungan khusus apapun.
Persahabatannya dengan Dira dan Putri juga sudah kembali seperti dulu, bahkan kini mereka memiliki sahabat baru. Gadis yang satu bulan lalu ditolong oleh Ara, kini gadis itu juga menjadi sahabat Ara.
Sikap Ara pada Dev juga sudah sedikit lebih melunak, Ara sudah tidak terlalu dingin dan juga tidak menghindari Dev. Namun Ara masih memanggil Dev dengan sebutan tuan muda yang membuat Dev frustasi.
Kini keempat gadis cantik itu sedang berada disebuah mall setelah pulang dari kampus. Ara hanya mengikuti Dira dan Putri yang terus saja keluar masuk toko yang ada didalam mall itu bersama Salsa.
"Kita kesana ya!" Teriak Dira semangat yang diangguki Putri dan Salsa dengan semangat pula, sementara Ara hanya mengikuti kemana langkah kaki para sahabatnya.
Ara melirik ke sekeliling toko yang kini sedang ia datangi dengan ketiga sahabatnya, sudah beberapa hari ini Ara merasa ada yang mengikuti dirinya. Ara masih belum tahu apa motif orang ini mengikuti dirinya.
Puas memgelilingi mall besar itu, keempat gadis itu memutuskan untuk pulang setelah tadi sempat mengisi perut mereka disebuah restoran cepat saji yang ada didalam mall. Ara menggunakan motor kesayangannya mengikuti ketiga sahabatnya yang kini berada dalam satu mobil.
Melewati jalan yang cukup sepi, mobil yang ditumpangi para sahabatnya tiba-tiba mengerem mendadak membuat Ara juga langsung mengerem motornya. Ternyata mobil sahabatnya dicegat oleh tiga buah mobil berwarna hitam. Dari dalam mobil keluar pria-pria berbadan kekar yang berwajah menyeramkan.
Ara segera turun dari motornya mendekati mobil yang ditumpangi sahabat-sahabatnya, ia mengetuk kaca mobil Pak Tono yang saat itu bertugas menjemput majikannya, pak Tono membuka kaca saat Ara mengetuknya.
"Pak Tono, Ara akan alihin perhatian mereka. Saat ada kesempatan, bapak bawa Dira ama yang lain secepatnya ya. Ara nggak yakin bisa nahan mereka terlalu lama. Kayanya ini udah direncanain. Inget ya pak, apapun yang terjadi ama Ara, tugas utama bapak bawa Dira ama yang lain sampe rumah dengan selamat". Pinta Ara pada pak Tono sang supir.
"Tapi neng..terlalu berbahaya menghadapi mereka sendiri. Bapak akan bantu neng Ara". Pak Tono menawarkan bantuan pada Ara saat melihat jumlah lawannya yang banyak.
Ara menggeleng kuat sebagai jawaban atas tawaran pak Tono.
"Tugas bapak cuma bawa mereka sampai rumah dengan selamat. Orang-orang itu akan jadi urusan Ara pak. Bapak harus janji sama Ara". Pinta Ara dengan wajah serius.
"Jangan Ra" Ucap Dira dengan wajah khawatir.
"Iya Ra jangan. Bahaya". Putri ikut melarang
"Kamu nggak akan bisa kalahin orang-orang itu sendirian Ra. Kita telpon polisi aja" Ucap Salsa
"Kalo nunggu polisi dateng yang ada ni mobil keburu dibalikin ama tu orang-orang. Inget ya omongan gue, jangan ada yang turun". Peringat Ara kemudian berjalan mendekati orang-orang yang sudah bersiap menyerangnya.
Pertarungan tak seimbang pun terjadi didepan Dira dan teman-temannya, Ara melawan lebih dari 10 orang pria berbadan besar. Tubuh Ara beberapa kali terpental karena mendapat tendangan keras dari lawannya.
"Non Dira bisa nyupir kan?? Bapak akan bantu neng Ara..Setelah bapak turun, saya mohon non Dira pergi dari sini demi keselamatan nona semua". Ucap pak Tono kemudian membuka pintu dan turun.
Dira berpindah ke kursi kemudi, namun tak ada pergerakan sedikitpun dari Dira. Dirinya tak mungkin meninggalkan sahabatnya yang kini sedang mati-matian melawan orang-orang tak dikenal itu.
Dira mengambil ponsel yang berada didalam tasnya. Dengan gemetar Dira mencari kontak kakaknya. Tak menunggu lama suara diseberang sana sudah terdengar.
"Halo dek.."
"Kak?? Kakak dimana? Kak cepet kesini..kita dicegat dijalan sama orang. Lawannya banyak, gue takut Ara kenapa-kenapa!". Ucap Dira panik
"Lo dimana?" Tanya Dev tak kalah panik
"Kita dijalan xxx. Cepet kak!!" Ucap Dira semakin panik karena melihat Ara yang sudah muntah darah karena dadanya terus disasar dengan tendangan dan pukulan yang tidak ada hentinya.
Pak Tono pun tak kalah mengenaskan, wajahnya sudah babak belur karena sudah berkali-kali terkena pukulan.
Ara dan pak Tono dengan sisa tenaganya berhasil memukul mundur 6 orang lawannya. Itu artinya sudah setengahnya yang mereka kalahkan. Namun pukulan sebuah balok besar membuat pak Tono ambruk dan kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Sementara Ara yang terkejut hendak membantu pak Tono, namun langkahnya terhenti saat mulutnya dibekap dari belakang dengan kain yang sudah diberi obat bius. Tubuh Ara ambruk kehilangan kesadaran.
Pria yang tadi membius Ara langsung mengangkat tubuh Ara dan dimasukkan kedalam mobil hitam tanpa plat nomor itu.
Dira dan yang lain hanya bisa menangis sambil berteriak melihat sahabatnya dibawa oleh orang yang tak mereka kenali.
Tepat saat Dev sampai ditempat itu, mobil yang membawa Ara melaju kencang meninggalkan tempat itu.
Dev turun dari mobil disambut tangisan pilu ketiga gadis yang juga turun dari mobilnya.
"Mana Ara??!" Tanya Dev panik, matanya menatap sekeliling berharap bisa melihat gadis yang ia cintai baik-baik saja.
"Mana Ara dek??" Tanya Dev sambil menggoyangkan bahu Dira
"Put??" Dev beralih pada Putri setelah tidak mendapat jawaban dari sang adik.
"Kalian jangan nangis terus dong! Ara mana?? Jawab dek!!" Teriak Dev frustrasi.
"Tenang dulu Dev. Mereka juga masih syok. Kita tanya pelan-pelan" Ucap Kevin sambil menepuk bahu Dev.
"Woooiiii, tolongin gue. Pak Tono pingsan". Teriakan Sam membuat semua mengalihkan perhatiannya pada Sam.
Semakin panik saja Dev saat melihat supir yang tadi mengantar adiknya sudah tergolek tak berdaya diatas aspal.
"Jawab gue Dira. Dimana Ara???" Tanya Dev dengan suara melembut namun sangat tegas.
Dira menangis terisak membuat Dev yakin bahwa Ara tidak baik-baik saja.
"Selametin Ara kak. Gue takut Ara kenapa-kenapa" Suara tangisan Dira semakin terdengar pilu.
Dev meminta Sam untuk membawa pak Tono kerumah sakit, dan meminta Kevin untuk mengantar Dira dan kedua sahabatnya pulang. Sementara Dev sendiri akan mencoba mencari jejak orang yang membawa Ara, meskipun mustahil dirinya bisa menemukannya.
_____
Disebuah ruangan temaram yang pengap, Ara menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk. Sudut bibirnya sudah sobek dan wajah cantiknya sudah penuh dengan luka.
Sudah semalaman Ara pingsan dengan posisi duduk dan kedua tangan serta kakinya terikat kuat.
Ara yang sudah sadar beberapa saat lalu mencoba menggerakkan kaki dan tangannya yang ternyata sudah diikat kuat dengan kursi yang ia duduki, sementara matanya tertutup oleh kain hingga membuatnya tidak bisa melihat apapun.
Terdengar langkah kaki mendekat padanya. Ara mulai waspada saat ada orang yang melangkah mendekat. Tiba-tiba orang itu bertepuk tangan dan tertawa keras melihat kondisi Ara yang kini tak berdaya didepannya.
Ara menajamkan pendengarannya. Suara tawa itu..suara itu tidak asing ditelinga Ara. Apakah mungkin dia orangnya bathin Ara.
"buka!" Suara wanita itu terdengar sangat bahagia
Seseorang membuka penutup mata Ara. Ara mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan pencahayaan ditempat itu.
Namun sesaat kemudian mata Ara melebar sempurna melihat gadis yang berdiri dihadapannya sambil berkacak pinggang.
Ara segera mengembalikan ekspresi wajahnya hingga terlihat datar seperti biasa saat dia berhadapan dengan gadis itu.
"Lo salah berurusan ama gue cewe miskin!!" Ucap perempuan yang tak lain adalah Clara sambil mencengkeram kuat rahang Ara.
__ADS_1
Ara tersenyum sinis melihat Clara yang ternyata ada dibalik penyerangan kali ini. Ara sempat mengira bahwa orang yang tadi menyerangnya adalah musuh papa Aryo yang berniat menculik Dira. Namun dugaannya salah.
Clara yang marah melihat senyum diwajah Ara langsung melayangkan tangannya ke wajah Ara yang sudah babak belur.
plakkk
Suara tamparan itu terdengar menggema diruangan sempit yang dipakai untuk menyekap Ara.
Sudut bibir Ara kembali mengeluarkan darah segar.
"Gue bakal kasih tau lo..apa akibatnya berurusan ama gue!!" Ucap Clara disertai senyum iblis.
Ara terus disiksa oleh Clara, dipukul, dicambuk dan bahkan Ara disiram dengan air garam. Membuat luka yang ada diseluruh tubuh Ara terasa terbakar. Perih..sangat perih, luka-luka yang ada ditubuh Ara benar-benar terasa perih saat ini. Tapi wajah Ara masih terlihat datar tanpa memperlihatkan ekspresi kesakitan.
Entah sudah berapa jam Clara menyiksa Ara. Tubuh Ara sudah mulai lemas karena sejak tadi terus menerima berbagai siksaan dari Clara.
"Gue bakal bikin lo mohon ampun sama gue. Bahkan gue bakal bikin lo lebih milih mati daripada hidup!!" Clara berkata sambil mengeluarkan pisau yang ada didalam tasnya.
Clara mendekatkan pisau itu ke leher Ara. Tidak ada perubahan apapun diwajah cantik Ara. Sama sekali tidak ada wajah ketakutan diparas ayunya.
Clara menempelkan pisau itu dileher jenjang Ara, menekannya cukup kuat hingga membuat luka dileher Ara. Darah segar keluar dari leher Ara.
"Lo nggak mau minta ampun sama gue hah!" Teriak Clara marah.
Ara tersenyum miring sambil mengangkat sebelah alisnya melihat Clara yang seperti orang gila yang sejak tadi terus berteriak dan memakinya.
"Jangan pernah tunjukin senyuman lo didepan gue, j*l*ng!!!!" Teriak Clara kemudian melayangkan tamparan beberapa kali ke wajah Ara.
Clara menyabetkan pisaunya sembarang hingga mengenai lengan kanan Ara. Ara mendesis menahan perih akibat sayatan pisau itu.
"Sakit ya?? Lebih sakit hati gue lo tau!!!!!" Clara benar-benar sudah seperti orang kehilangan akal sehatnya.
Pria yang sejak tadi menemani Clara diruangan itu meringis melihat luka-luka ditubuh Ara.
"nona..sebaiknya anda hentikan. Anda bisa membunuhnya". Peringat sang pria.
Clara melirik tajam pria yang kini langsung menundukkan kepalanya melihat tatapan tak suka dari bos yang membayarnya.
"Diam kau!!!" Teriak Clara pada pria itu. Kemudian ia beralih menatap Ara yang kini wajahnya sudah terlihat pucat karena luka dilengannya yang terus mengeluarkan darah.
"Kita bakal ketemu lagi besok gadis kampung. Besok hari terakhir lo bisa liat dunia ini..hahahaha" Ucap Clara sambil tertawa iblis melihat kondisi Ara yang seperti orang sekarat.
"Jangan terlalu percaya diri nona muda Sanjaya..mungkin hari ini, hari terakhir lo ngehirup udara segar". Ucap Ara dengan suara yang sangat pelan karena kehilangan banyak darah dari luka dilengannya.
"Cih..dasar cewe kampung!!" Sinis Clara berniat meninggalkan Ara.
Brakkkk
Belum sempat Clara berbalik, pintu sudah didobrak keras dari luar. Mata Clara hampir melompat dari tempatnya melihat siapa lelaki yang berdiri didepan pintu dengan wajah penuh amarah.
"D...Dev!!" Ucap Clara terbata
"br*ngs*k!!"
__ADS_1