
Sudah 3bulan sejak pernikahan Ara dan Dev, keduanya menjalani pernikahan yang harmonis. Sangat jarang keduanya bertengkar, hanya hal-hal kecil yang beberapa kali membuat keduanya berdebat, itupun hanya sebentar. Namun kebahagiaan Ara terasa kurang sempurna, karena hingga bulan ketiga pernikahannya itu, ia masih belum merasakan tanda-tanda kehidupan didalam rahimnya. Meskipun Dev dan kedua mertuanya tidak mempermasalahkan hal itu, namun jauh didalam hati Ara, ia merasa belum sempurna menjadi seorang wanita.
Selama 3bulan ini pula, sudah beberapa kali Ara mendapat kiriman hadiah dari orang misterius. Mulai dari bunga hingga hadiah-hadiah mewah yang berupa tas dan perhiasan yang Ara yakini memiliki harga setinggi langit.
Berkali-kali Ara menolaknya, awalnya ia menerima karena mengira bahwa hadiah itu diberikan oleh suaminya. Namun setelah mengetahui bahwa hadiah itu tak diketahui siapa pengirimnya, Ara langsung menolaknya.
"Tolong kembalikan pada yang mengirimnya pak. Saya tidak mengenal siapa pengirimnya". Tolak Ara halus pada kurir yang kembali membawa sebucket bunga mawar yang sangat indah.
"Tolong terima nona, jika saya tidak berhasil memberikannya pada anda. Saya akan kehilangan pekerjaan saya". Wajah si kurir tampak memelas membuat Ara terpaksa menerimanya.
"Baik, terima kasih pak". Ara menghembuskan nafas kasar setelah kurir yang mengantar bunga pergi.
"Lagi sayang?". Tanya mama Anika saat melihat menantunya membawa bunga mawar dalam jumlah banyak.
Ara mengangguk lemas "Ara sudah menolak, tapi kasian kurirnya ma". Jelas Ara membuat ibu mertuanya mengangguk paham.
"Sebenarnya siapa yang selalu mengirim hadiah padamu itu sayang. Mama jadi penasaran". Ara menggeleng lemah menjawab pertanyaan mama.
"Assalamualaikum.." Terdengar suara Dev ketika mama dan Ara tengah bingung tentang siapa pengirim hadiah yang selama 3bulan ini terus ia dapatkan.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab mama dan Ara kompak.
"Bunga?? Bunga dari siapa sayang?" Tanya Dev dengan mata memicing. Ara mengangkat bahunya tanda tak tau siapa pengirim bunga itu.
"Sudah 3bulan sayang, dan selama itu kamu terus mendapat hadiah dari orang misterius". Ucap Dev mulai curiga. Dev mengambil bunga yang ada diatas meja. Meneliti bunga itu dan mendapatkan sebuah pesan.
"Semoga kamu menyukai hadiahku. Kamu adalah milikku Kinara..selamanya. Dari orang yang mencintaimu. N.A". Dev membaca pelan tulisan dalam kertas kecil. Ia meremas kuat kertas itu dengan rahang mengeras dan tangan terkepal kuat.
Ara dan mama saling melihat dengan wajah bingung. Siapa sebenarnya orang yang selalu mengirim hadiah-hadiah yang selama ini terus datang. Siapa itu N.A? Semua itu masih terus Ara pikirkan, namun nihil..dirinya tak memiliki pandangan siapa orang yang berinisal N.A
Ketiganya larut dalam pikirannya masing-masing, hingga ponsel mama membuat ketiganya tersadar dari lamunan panjangnya.
"Papa.." Gumam mama ketika melihat layar ponselnya tertera nama sang suami.
"Asslamualaikum papa..''
"Wa'alaikumsalam ma..mama tidak lupa kan kalau malam ini tuan Abraham akan makan malam dirumah kita? Papa akan pulang lebih awal."
"Astagfirullah..hampir mama melupakan soal itu pa. Mama akan menyiapkan segala sesuatunya untuk menjamu tamu istimewa kita". Mama menepuk dahinya, untung saja sang suami mengingatkannya. Jika tidak, bisa dipastikan ia akan mempermalukan sang suami.
"Yasudah..papa bereskan dulu pekerjaan papa. Setelah ini papa akan langsung pulang. Assalamualaikum". Papa memutus sambungan telepon setelahnya.
"Wa'alaikumsalam. Kebiasaan dasar, belum dijawab sudah dimatikan". Mama memandang hpnya dengan kesal.
"Dev, bisa mama minta tolong? Tolong belikan kue ditoko kue langganan kita ya. Nanti malam akan ada tamu". Mama beralih pada Dev yang tampangnya masih terlihat kusut.
"Biar Ara temani abang ma". Ara menjawab karena melihat mood suaminya yang tiba-tiba memburuk setelah membaca pesan dalam bucket bunga yang ia terima.
Mama mengangguk tersenyum, menantunya memang paling mengerti keadaan, batinnya.
__ADS_1
"Ara ambil tas sama hp dulu, abang tunggu dimobil aja". Ara mengelus lengan sang suami, Dev mengangguk dan tersenyum tipis. Ia bangkit dan berjalan keluar, sementara Ara mengambil tas dan ponselnya yang berada didalam kamarnya yang terletak dilantai dua.
"Ara pergi dulu ma. Assalamualaikum.." Ara mencium punggung tangan mama kemudian mencium pipi mertuanya sekilas.
"Wa'alaikumsalam.." Mama tersenyum memandang punggung menantunya yang semakin jauh.
"Aku beruntung memiliki anakmu sebagai menantuku Mat. Terimakasih kamu sudah mengijinkan anakku menikahinya". Mata mama berkaca-kaca kala mengingat Rahmat, bapak dari menantunya yang sekaligus orang kepercayaan suaminya.
"Rahmat pun pasti bahagia melihat non Ara bahagia bersama tuan muda, nyonya". Suara bi Inah membuat mama menoleh dan kembali tersenyum sebelum kembali pada kesibukannya menyiapkan makanan untuk menjamu tamu suaminya malam nanti.
Ara masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. Ia menoleh, menatap wajah suami tercintanya yang masih diselimuti awan gelap.
Dev melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Otaknya tengah berpikir keras tentang siapa b**in*an yang berani mengirim hadiah untuk istrinya, bahkan pesan yang tadi ia baca benar-benar membuatnya marah.
"Bang.." Ara memegang tangan Dev yang berada di stir mobil. Dev menoleh mendengar suara lembut sang istri.
"Abang marah sama Ara karena hadiah tadi??" Tanya Ara menatap dalam manik mata suaminya. Dev menggeleng, kemudian menggenggam tangan sang istri dan menciumnya.
"Abang cuma takut Ra. Abang takut kamu berpaling sama yang lebih baik dari abang". Jawaban Dev justru membuat Ara terkekeh.
"Apa yang abang takutin?? Abang nggak percaya sama Ara??" Ara bertanya dengan sebelah alis terangkat. Dev menepikan mobilnya dijalanan yang cukup sepi.
"Bukan nggak percaya sayang, abang takut kalau orang itu ambil kamu dari abang. Abang nggak akan pernah siap jauh dari kamu". Dev memeluk Ara erat, takut jika akan ada yang memisahkan keduanya.
"Sebaik apapun orang itu, sekaya dan setampan apapun. Buat Ara nggak akan pernah ada yang bisa gantiin posisi abang dihati Ara. Abang cinta pertamanya Ara, orang pertama yang bisa bikin Ara ngerasain indahnya cinta. Abang nggak perlu takut". Ara menepuk pelan punggung suaminya untuk menenangkannya.
Dev melonggarkan pelukannya, menangkup wajah istrinya yang semakin lama semakin terlihat cantik, ia mendekatkan wajahnya mengecup lembut bibir mungil istrinya, mel*m**nya sesaat dan kemudian melepaskannya.
"Sekarang kita harus beli kuenya dulu, takut nanti kena macet bang". Peringat Ara, kini Ara dapat melihat wajah sang suami kembali cerah. Tanpa mendung yang menghiasi wajah tampannya lagi.
Dev memarkirkan mobilnya didepan sebuah toko kue langganan keluarganya. Ia membukakan pintu untuk sang istri yang memberikan senyum terbaiknya melihat perhatian Dev.
"Selamat datang.." Sapa pelayan toko ramah. Ara hanya membalasnya dengan senyum. Sementara Dev, ia hanya memasang tampang datar yang justru membuat pelayan toko yang kebanyakan perempuan semakin terfokus pada wajah tampannya.
"Dev?!!" Seorang wanita paruh baya dengan penampilan sederhana namun tetap terlihat cantik menatap Dev dengan mata menyipit.
"Tante Rosa..apa kabar?" Dev bertanya sekaligus mencium punggung tangan wanita yang tak lain adalah pemilik toko tersebut.
"Tante baik. Ini??" Tante Rosa menelisik wajah Ara.
"Istri Dev tante.." Jelas Dev membuat mata tante Rosa melotot.
"Kapan kamu menikah?? Kenapa tante tidak diundang??" Tante Rosa tampak bersungut-sungut.
"Tante sedang berada di Malaysia waktu itu. Mama tidak enak menganggu acara liburan tante". Jelas Dev membuat tante Rosa mendengus.
"Aku bisa berlibur lain waktu, tapi kenapa acara penting seperti itu aku tidak dikabari. Dasar mamamu memang menyebalkan". Dev hanya tersenyum menanggapi sahabat dari ibunya tengah merajuk.
"Jadi..kamu mencari apa kemari?" Tanya tante Rosa.
__ADS_1
"Apakah disini menjual bahan bangunan tante?" Goda Dev membuat tante Rosa memukul lengannya. Dev terkekeh melihat tante Rosa semakin kesal karena ulahnya.
"Kamu cantik sekali sayang. Kenapa kamu mau menikah dengan anak nakal ini?" Tante Rosa beralih pada Ara. Ara hanya tersenyum menanggapi kekesalan tante Rosa pada suaminya.
"Mama menyuruhku membeli kue tentunya tante, nanti malam ada clien papa yang akan datang kerumah". Jelas Dev membuat tante Rosa manggut-manggut. Kemudian ia memanggil karyawannya untuk membungkuskan beberapa jenis kue untuk dibawa Dev dan Ara.
Ketiganya berbincang beberapa waktu, hingga akhirnya Dev dan Ara pamit pulang karena kanjeng ratu sudah meminta keduanya untuk segera pulang.
****
"Semuanya sudah siap ma?" Tanya papa sambil merapikan penampilannya.
"Sudah..papa tenang saja. Menantu dan putri kita bisa diandalkan pa".
"Apakah mereka juga sudah bersiap??" Papa menanyakan keberadaan anak dan menantunya.
"Mereka sedang bersiap. Tenanglah pa..kenapa papa panik seperti ini". Tanya mama heran.
"Ini tamu penting ma, clien penting mama. Jangan sampai ia kecewa dengan cara kita menyambutnya". jelas papa membuat mama tersenyum.
"Anak dan menantumu itu anak-anak baik dan pintar pa. Mereka tidak akan membuat kita malu, tenanglah". Mama mengelus bahu suaminya yang terlihat tegang.
Dev dan Ara berjalan menuruni tangga, diikuti Dira dibelakangnya. Sesungging senyum manis terlihat diwajah pasangan paruh baya itu, bahagia melihat keluarga kecilnya bahagia seperti ini.
Tak berapa lama setelahnya, terdengar bel rumah berbunyi. Bi Inah yang hendak membukakan pintu dicegah oleh mama, karena beliaulah yang akan membukanya sendiri.
Pintu terbuka, nampaklah wajah tampan tuan muda Abraham. Mama pikir usianya akan jauh lebih tua dari yang sedang berdiri dihadapannya ini, namun ternyata salah.
"Selamat malam tuan muda Abraham, mari silahkan masuk". Mama mempersilakan tamunya untuk masuk.
"Terimakasih nyonya Natakusuma, saya terkesan dengan sambutan anda". Sang tamu melangkahkan kakinya mengikuti mama, membawanya keruang tamu yang disana sudah ada Dev dan Ara serta Dira, tentunya papa Aryo.
"Selamat malam tuan Abraham, semoga tidak sulit menemukan gubug saya ini". Sambut papa dengan ramah.
"Tentu saja tidak tuan Natakusuma, siapa yang tidak mengenal pebisnis hebat seperti anda. Dan tolong, panggil saja saya Nicolas. Saya lebih nyaman dipanggil dengan nama itu". Sahut Nicolas tak kalah ramah.
"Ah ya tentu saja, mari silahkan duduk tuan Nic. Dan perkenalkan, ini putra saya Dev, dan putri saya Dira, serta menantu saya Kinara". Papa Aryo mengenalkan Dev, Dira dan Ara.
"Senang bertemu dengan anda tuan Nicolas". Sapa Dev ramah dibalas senyuman hangat Nic. Namun mata tajamnya tak beralih dari wajah cantik Ara yang sejak tadi menghindari kontak mata dengannya.
"Kita lanjutkan nanti mengobrolnya, bagaimana kalau kita makan malam dulu". Mama memberikan saran yang langsung disetujui oleh semua.
"Pantas saja tuan muda begitu tergila-gila, ternyata perempuan ini memang sangat cantik. Dan berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang pernah mendekati tuan muda. bahkan sepertinya dia sama sekali tidak tertarik pada tuan muda". Batin Raffi, asisten Nicolas.
Sejak kedatangan Nicolas, Ara sudah merasa tak nyaman. Karena beberapa kali ia melihat Nicolas memperhatikannya secara intens. Dan ternyata semua itu tak luput dari pandangan Dev. Suami Ara itu bisa melihat tatapan berbeda yang ditujukan untuk sang istri, sejujurnya ia juga merasa tak nyaman melihat cara Nicolas melihat istrinya.
"Ini baru awal Nara, setelah ini kau akan menjadi milikku. Apapun dan bagaimanapun caranya". Batin Nicolas dengan mata terus tertuju pada Ara yang semakin terlihat tidak nyaman melihat tatapan Nicolas.
"Silahkan dinikmati tuan Nicolas, semoga berkenan dengan sajian yang kami hidangkan". Ara mempersilahkan kedua tamu mertuanya dengan sopan. Meski ia merasa tak nyaman, namun dirinya tak mungkin bertindak yang mencoreng nama baik Natakusuma. Jika saja tidak mengingat adab dan sopan santun serta menjaga nama baik keluarga suaminya, sudah Ara pastikan akan mencongkel mata lelaki yang sejak tadi terus melihatnya itu. Namun Ara masih menahannya demi keluarga yang dicintainya.
__ADS_1
"Terimakasih nona Kinara". Jawab Nic dengan senyum misteriusnya.