
"Lah..kalo mereka pacaran berarti si Putri bakal jadi kakak ipar gue dong ya. Ya Allah, lah itu punya kakak satu biji aja bikin gue kaya yang mau kayang tiap hari, gimana ceritanya kalo Putri jadi ipar gue" Ara terus bergumam selama berjalan berdampingan dengan Dev. Kini keduanya sedang berjalan santai disebuah taman tidak jauh dari rumah keluarga Dev.
Dev yang gemas karena sedari tadi Ara terus bergumam berhenti tepat didepan Ara membuat Ara menabrak dada bidang Dev, kemudian tangan Dev mencubit gemas hidung mancung Ara.
"Aduh..setdahh, ngapain sih bang ujuk-ujuk berhenti didepan gue. Ini hidung lagi dicubit-cubit segala". Omel Ara sambil mengelus hidungnya yang sempat dicubit Dev.
"Kamu dari tadi ngedumel mulu Ra, gak capek bibir kamu ngomel-ngomel gak jelas dari tadi??" Tanya Dev disertai senyum manis yang membuat Ara hilang fokus untuk sesaat.
Ara menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengembalikan fokusnya.
"Kenapa kepalanya di gelengin gitu Ra?? Pusing??" Tanya Dev sambil memegang dahi Ara.
"Eh..kaga kaga bang. Jalan lagi bang..jalan". Jawab Ara gugup sambil berjalan meninggalkan Dev yang tersenyum manis melihat Ara yang salah tingkah.
Setelah puas menikmati sore itu dengan gadis pujaannya, Dev mengajak Ara untuk pulang.
______
Hari ini adalah hari keberangkatan Bian. Ara melepas sang kakak dengan senyum palsu. Sejujurnya Ara masih ingin lebih lama lagi berdekatan dengan sang kakak.
"Gak usah cengeng dek. Gak cocok lo cengeng gini. Senyum yang bener dong biar kakak semangat belajarnya". Ucap Bian disela pelukannya dengan sang adik.
"Kakak jangan lupa jalan pulang ya nanti". Dalam keadaan sedih, Ara masih bisa menggoda sang kakak untuk menyembunyikan kesedihannya ditinggal sang kakak.
Sementara Putri nampak sudah berkaca-kaca saat ikut mengantarkan Bian ke bandara bersama Ara dan Dev.
Bapak memilih tidak ikut mengantarkan putra sulungnya karena takut tidak bisa menahan air matanya melepas sang putra untuk melanjutkan pendidikannya.
"Lo mah kebiasaan dek, ngerusak momen haru". Cebik Bian
Bian melepaskan pelukannya kemudian menghapus air mata yang sudah mengalir di pipi mulusnya.
"Jangan gini dek, kakak berat ninggalinnya kalo lo nangis gini. Lo tau kalo lo tuh separuh nyawanya kakak" Suara Bian sudah bergetar menahan tangis melihat gadis yang biasanya kuat terlihat rapuh saat ini.
"Kakak jangan lama-lama..huuuaaaa. Ara gak mau lama-lama jauh lagi dari kakak". Tangisan Ara akhirnya pecah, menangis sesenggukan seperti seorang anak yang tidak diberi mainan.
"huussttt, malu dek. Lo nangis kenceng banget sih". Ucap Bian sambil memeluk kembali sang adik.
"Gue cuma bentar di sana. Elo belom lulus kuliah juga kakak udah balik". Lanjut Bian.
Ara mengangguk dalam pelukan Bian.
Bian melepaskan pelukannya pada sang adik, kemudian beralih pada sang pujaan hati yang baru 2minggu ini menjadi kekasihnya.
Bian memeluk Putri sambil mengelus punggung Putri yang terlihat bergetar. Putri membalas pelukan Bian dengan erat.
"Jangan lupain Putri ya kak". Ucap Putri dengan suara bergetar.
Bian menggeleng "Gak akan pernah Put, kamu istimewa. Gak akan pernah bisa dilupain". Ucap Bian lirih
Tangisan Ara semakin terdengar pilu saat melihat kakak dan sahabatnya harus terpisah saat sedang sayang-sayangnya. e**eeaaa
Dev membawa tubuh Ara kedalam pelukannya. Mencoba memberi ketenangan pada gadis itu.
"Kak Bian cuma pergi belajar Ra. Jangan di beratin dengan kamu kayak gini". Ucap Dev sambil mengelus punggung bergetar Ara.
Ara hanya mengangguk sebagai jawaban.
Akhirnya setelah drama saling memeluk dan menangis berjamaah itu, Bian dengan berat hati meninggalkan gadis-gadis yang sangat ia sayangi.
...******...
Ara dan kedua sahabatnya sudah selesai menjalani ujian akhirnya. Kini ketiganya hanya menunggu hasil dari belajarnya.
Sementara Ara bahagia karena dirinya lolos tes untuk masuk universitas yang diinginkannya melalui jalur beasiswa. Itu artinya Ara tidak perlu membebani bapak atau sang kakak untuk biaya pendidikannya.
Saat ini Ara sedang bermain catur bersama Josh, disampingnya ada bapak dan juga Pram yang menjadi penonton.
"Jangan kesitu neng, nanti kalah kamu kalo kesitu". Kata Bapak
"Iya kaga kesitu, kesono ini juga aku". Jawab Ara ketus
"Jangan yang itu neng yang dijalanin, yang lain". Kembali bapak berkomentar membuat Ara kesal.
"Allahuakbar. Bapak geseran sana deh deket om Josh. Ara gak bisa konsen dari tadi digangguin bapak". Semprot Ara pada sang ayah.
"Kamu mah ngeyel dikasih tau orang tua neng". Ketus bapak kemudian bergeser kesebelah Josh.
__ADS_1
Belum sempat pantat bapak menempel pada kursi, Josh sudah memberi peringatan.
"Jangan ganggu ya kang. Aku gak mau nanti kalah ama si eneng". Peringat Josh yang membuat bapak mencebik.
____
Hari yang ditunggu Ara dan kedua sahabatnya akhirnya tiba. Hari ini dirinya juga Dira serta Putri akan mengetahui lulus atau tidakkah mereka.
Senyuman bahagia mengembang sempurna pada wajah gadis-gadis cantik itu.
Mereka dinyatakan lulus, dan Ara adalah siswi dengan nilai terbaik pada kelulusan tahun ini.
"Bapaaaaak". Teriak Ara saat sampai dirumah.
"Kebiasaan ini anak gadis teriak-te...." Ucapan bapak terpotong saat Ara tiba-tiba memeluknya erat.
Terdengar suara tangis dari mulut anaknya hingga membuat bapak khawatir. Takut terjadi sesuatu dengan anak gadisnya.
"Neng?? Kamu kenapa neng? Jangan bikin bapak takut" Ucap bapak sambil mengurai pelukan erat anaknya.
"Ara lulus pak..Ara lulus". Jawab Ara dengan air mata bahagia.
Bapak mengucap syukur atas keberhasilan anaknya.
"Alhamdulillah neng, usaha kamu selama ini gak sia-sia kamu belajar siang malem". Ucap bapak bangga sambil mengecup kening anak kesayangannya itu.
Ara mengangguk dengan senyum lebar.
Seperti sebelumnya, para mama lah yang paling heboh dengan berita kelulusan putri-putrinya itu.
Bahkan mama Anika dan mama Dini sudah menyiapkan pesta barbeque untuk mereka sekeluarga seperti saat kelulusan Dev dan teman-temannya.
*****
Pihak sekolah mengadakan acara perpisahan, namun kali ini berbeda dengan acara tahun lalu yang diisi dengan unjuk bakat siswa-siswinya.
Kali ini sekolah mengadakan promnight.
Ara beserta Dira dan Putri sudah cantik dengan gaun yang dipilihkan oleh para mama.
Namun untuk menghormati mama Anika yang sudah bersusah payah membelikannya, akhirnya Ara memakainya.
Ketiganya berangkat bersama dengan diantar supir keluarga Dev. Perasaan Ara tiba-tiba tidak enak, dirinya mengusulkan pada kedua sahabatnya untuk pulang saja. Namun kedua sahabatnya menenangkan Ara bahwa tidak akan terjadi apapun.
Ketiganya memasuki aula sekolah yang sudah diubah layaknya ruangan pesta. Perasaan Ara semakin tidak menentu, entah apa yang akan terjadi.
Acara berlangsung lancar, Dira pamit pergi ke toilet pada Ara dan Putri.
"Gue anter ya". tawar Ara
Dira menggeleng sebagai jawaban "Gausah lah, cuma ke toilet Ra. Parno banget lo" Jawab Dira.
Ara terus memperhatikan Dira yang semakin menjauh darinya, perasaannya semakin membuatnya resah saat netranya sudah tidak bisa melihat tubuh sahabatnya.
Ara mencoba mengalihkan perasaan khawatirnya dengan mengobrol bersama Putri dan teman-temannya yang lain.
15menit sudah Dira pergi, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Dira akan kembali.
Ara yang sudah tidak sabar menunggu pamit pada Putri untuk menyusul Dira ke toilet.
"Gue susulin Dira dulu ya. Lama banget tu bocah, semedi kali ditoilet". Pamit Ara
Putri hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ara membuka setiap pintu yang ada didalam toilet, namun dirinya tak menemukan sahabatnya dalam satu bilik toilet manapun.
Ara mulai panik. Saat dirinya berjalan mendekati Putri, ponselnya berdering dan nama Pram yang tertera disana. Ara segera menggeser layar ponselnya.
"..........."
"Sial!!" Umpat Ara. Entah apa yang dibicarakan Pram hingga Ara tampak terburu-buru keluar dari aula itu.
"Om jagain Putri, bawa dia pulang sekarang. Jangan bilang apa-apa sama dia. Bilang aja emak bapaknya nyuruh balik. Kalo dia tanya gue, bilang aja ada urusan urgent" Jelas Ara pada Josh yang sedang menyerahkan kunci sepeda motor pada Ara.
Josh mengangguk mengiyakan.
Ara segera melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi. Dirinya tidak perduli dengan keselamatannya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana keadaan anak dari majikan bapaknya sekaligus sahabat baiknya.
__ADS_1
"Sial..gue kecolongan!!" Berkali-kali Ara mengumpat dan menyalahkan dirinya atas keteledoran ini.
Motor yang dikendarai Ara sampai diparkiran sebuah club malam. Ara menarik nafas panjang sebelum kaki jenjangnya melangkah masuk kedalam club tersebut.
Ara mengedarkan pandangan matanya keseluruh sudut club. Namun dirinya tidak bisa melihat sahabatnya. Suara musik yang sangat keras membuat Ara sedikit pusing karena tidak terbiasa dengan tempat seperti ini.
Diujung ruangan, ada sepasang mata yang terus memperhatikan Ara sejak dirinya memasuki tempat terk*tuk itu. Pria yang sedari tadi terus mengawasinya itu mengerutkan keningnya melihat Ara ada ditempat seperti ini. Namun Ara tidak menyadari jika sejak tadi dirinya diperhatikan. Fokusnya hanya segera ingin menemukan sahabatnya.
Ara menaiki tangga, tempat dimana ruang VIP para pelanggan tetap club ini berada.
Ara terus mengedarkan pandangannya dilantai atas bangunan ini. Ada beberapa ruang yang tertutup rapat, namun ada satu ruangan yang membuat Ara curiga karena dijaga oleh dua orang bodyguard.
"Aaaaaakkkkh.."
Suara teriakan itu membuat Ara melebarkan matanya menyadari suara itu adalah suara Dira.
Ara bergegas menuju ruangan yang sedang dijaga dua pria berbadan tinggi kekar itu. Saat Ara hendak menerobos masuk, tubuhnya ditahan oleh pria-pria itu.
"Minggir lu berdua!" Teriak Ara
"Didalam ada tuan kami nona kecil, sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini..atau kamu ingin menemani kami malam ini". Ucap salah satu pria dengan seringai mesum.
Kemarahan Ara sudah berada diubun-ubun. Tanpa basa basi, Ara menghajar dua orang pria itu hingga terkapar tak berdaya.
Ara menendang pintu yang terkunci dengan heels yang ia pakai hingga bukan hanya pintu yang jebol, namun heels yang ia kenakan juga ikut terlepas.
Seluruh penghuni ruangan itu menatap Ara terkejut.
"Ra..." Hanya itu saja yang mampu dikeluarkan oleh mulut sang sahabat, hingga membuat Ara semakin terbakar amarah.
Ara menatap nyalang pada beberapa pria yang sedang mengerumuni tubuh Dira yang kondisi pakaiannya sudah terkoyak dibeberapa bagian.
Ara maju kehadapan para pria br*ngs*k itu.
"B*jingan lu semua". Ucap Ara sambil melayangkan tendangan serta pukulan kuatnya pada empat orang pria yang mengungkung tubuh sahabatnya.
Ara menghajar keempat orang pria itu dengan membabi buta.
"Udah Ra..woiii udah. Lo bisa bunuh mereka semua". Tiba-tiba tubuh Ara dipeluk erat dari belakang untuk menghentikan kegilaan Ara menghajar para pria br*ngs*k itu.
"Lepasin gue. Biarin gue bunuh ni b*jingan semua!!" Teriak Ara marah.
Pria yang tak lain adalah Digo hampir saja kewalahan menghadapi amarah Ara yang ternyata sangat mengerikan. Bahkan teman-teman Digo yang ikut menyusul karena mendengar keributan sampai bergidik ngeri melihat bagaimana brutalnya Ara menghajar pria-pria itu.
"Yang ada lo masuk penjara!! Tenangin diri lo. Temen lo butuh lo sekarang". Teriak Digo mengingatkan Ara.
Ara berhenti memberontak dan segera menoleh pada sang sahabat yang terlihat sangat syok dengan kejadian yang menimpanya.
Ara segera melepas pelukan Digo kemudian menghampiri Dira yang masih menangis.
Ara memeluk erat sahabatnya dan berulang kali mengucapkan kata maaf karena merasa gagal melindungi sahabatnya itu.
"Maafin gue Dir. Maafin gue. Gue udah gagal ngelindungin elu". Ucap Ara dengan derai air mata penyesalan.
Ara segera menghapus air matanya dengan kasar, kemudian bangkit dan mendekati Digo.
"Jaket lu lepas". Perintah Ara
Digo mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Buruan". Sentak Ara
Digo hanya menurut dan melepas jaket yang sedang ia kenakan.
Ara membawa jaket itu pada Dira kemudian memakaikannya.
Ara tidak perduli dengan luka yang ada ditubuhnya terkena pukulan dan tendangan dari lawannya. Yang memenuhi pikirannya hanyalah Dira.
"Kita pulang ya..Lu udah aman ama gue sekarang. Gue gak akan biarin siapapun nyakitin lu". Ucap Ara sambil menuntun tubuh lemas Dira.
Belum sempat Ara keluar dari ruangan si*lan itu, terdengar teriakan dari orang yang ia kenal.
"Diraaaa!!"
Orang yang ternyata adalah Dev segera menerobos masuk dan memeluk adiknya sangat erat. Dirinya mendapat kabar dari Pram tentang penculikan Dira.
Dira menangis dipelukan sang kakak.
__ADS_1