Cinta Kinara

Cinta Kinara
amarah Ara


__ADS_3

Pagi ini kesibukan dirumah keluarga Natakusuma kembali seperti biasa, bi Inah dan bi Susi yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk majikannya, tukang kebun yang sedang menyapu taman, serta para pengawal yang sedang sibuk membersihkan mobil yang akan digunakan oleh para majikannya.


Saat ini Ara sudah rapi dengan seragam sekolah komplit dengan tas dan sepatu yang sudah terpasang rapi di kaki putihnya.


Jam masih menunjukkan pukul 07.15, itu artinya Ara bisa pergi ke sekolah dengan santai..masih ada waktu 45menit sebelum bel sekolah berbunyi.


Ara menghampiri bapak yang sedang memberi komando pada para anak buahnya untuk pekerjaan hari ini. Dirumah itu ada beberapa pengawal lain selain bapak, Pram dan Josh yang memang bisa dibilang pengawal utama keluarga itu.


Bapak juga sedang mengawasi anak buahnya yang sedang mencuci mobil, seperti mandor bapak memberikan arahan harus begini harus begitu.


"Bapak daripada merintah-merintah terus mending bapak yang nyuci, itung-itung olahraga pak". Ucap Ara dengan memainkan alisnya naik turun.


"Kamu bikin wibawa bapak ancur aja didepan anak buah bapak sih neng. Nggak bisa pisan ini anak satu liat bapaknya jadi orang berwibawa". Bapak langsung menyembur Ara.


Yang diomeli hanya tertawa memamerkan deretan gigi putihnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"masih pagi kang, Ra. Kagak usah pada ribut". Josh dan Pram langsung menyela secara bersamaan, karena ini sudah biasa mereka saksikan setiap pagi.


"eee cieeeeee...yang kompak mah. Sama-sama jomblo sih yaaaaa, jadi bisa kompak banget gitu. Iya nggak pak??". Memang dasar Ara gadis yang usil, setelah menggoda bapak..kini dirinya beralih menggoda Josh dan Pram yang melerai perdebatannya dengan bapak.


"waahh..ni bocah emang minta dikarungin terus dilempar ke hutan Pram". Kepala Josh sepertinya sudah mengeluarkan asap karena kesal.


"bener lu Josh. Udah ayok kita karungin aja ini bocah satu". Pram menimpali ucapan Josh.


Kini kedua lelaki dewasa itu tengah berjalan mendekati Ara yang sudah memasang kewaspadaan melihat kedua lelaki itu mendekat.


"Tolongin Ara kenapa sih pak, nanti Ara bisa telat ini sekolahnya". Bisik Ara pada bapak, karena saat ini posisi Ara sudah bersembunyi dibelakang tubuh bapak.


Bukan Ara tidak mampu melawan Josh dan Pram seandainya mereka duel sekalipun Ara masih bisa menahan serangan kedua orang itu..permasalahannya sekarang jam sudah menunjukkan pukul 07.40, itu artinya 20menit lagi dirinya sudah harus ada disekolah. Dirinya terlalu sibuk menggoda bapak dan anak buahnya sampai tidak sadar waktu sudah semakin siang.


"napa lu ngumpet..sini lu duel ama kita". Nada bicara Josh seperti benar-benar ingin mengajak Ara untuk berduel.


Sedang Pram, saat ini wajahnya juga sudah dibuat sedemikian rupa agar terlihat seperti orang marah. Padahal sebenarnya kedua lelaki itu hanya ingin balik menggoda Ara.


"berantemnya nanti aja ya om kalo Ara udh pulang sekolah, bentar lagi Ara telat ini om". Ara memasang wajah memelas.


"Makanya jadi anak jangan kelewat jail". Bapak berkata pelan pada anaknya.


"lagian kalian, tadi aja bisa bilang sama saya kalo harus sabar ngadepin ini anak. Sekarang kalian sendiri yang kebakaran jenggot diledekin ama bocah minim akhlak". Meskipun membantu Ara untuk lepas dari Josh dan Pram, Bapak tidak menyianyiakan kesempatan untuk balik meledek Ara.


Ara mendengus kesal mendengar ucapan bapaknya.


"hahahahahhaha". Tiba-tiba tawa Josh dan Pram pecah mendengar bapak yang membela Ara namun juga meledek Ara.


"udah sono lu berangkat, besok lagi lu gangguin gue..beneran gue karungin lu". Josh berkata sambil mengacak pelan rambut Ara yang tergerai indah.


"iiih atuh..jangan diacak-acak rambut aku". Wajah Ara sudah lucu dengan bibir yang mengerucut.


"Ara pergi dulu pak, assalamualaikum". Ara berpamitan kepada bapak dan mencium punggung tangan bapak, kemudian beralih pada Pram dan Josh dan melakukan hal yang sama dengan mencium punggung tangan keduanya.


Ara berjalan dengan terburu-buru karena takut akan terlambat dan dihukum membersihkan toilet lagi.


Dev yang sejak tadi memang sudah menunggu Ara langsung berlari mendekati Ara, tanpa banyak kata Dev langsung menarik pelan tangan Ara untuk mengikutinya.


"Astagpirullah..elu bikin kaget gue mulu bang. Heran gue". Meskipun langkah kakinya tetap mengikuti Dev, namun mulutnya tetap mengomel.


Tanpa menjawab ucapan gadis itu, Dev terus menarik Ara menuju garasi rumah besar itu.


"Ngapain bang kesini, kalo naik mobil bisa-bisa kita telat bang. Gue gak mau dihukum nyikatin wc lagi bang". Ara terus saja mengoceh.


Namun dirinya tiba-tiba terdiam saat melihat motor keren dihadapannya.


"kita gak naik mobil ra, kita naik motor aku aja. Ayo cepet pake helm kamu". Suara Dev menyadarkan Ara dari rasa kagum.


"Ini motor elu bang?? Serius motor elu??? Widiiiiiihh..keren bgt bang motornya". Bukannya cepat-cepat naik, Ara malah mengagumi setiap detail dari motor Dev.

__ADS_1


"Kamu masih bisa mengaguminya nanti ra, kita akan benar-benar terlambat kalau kamu terus disitu". Ucap Dev.


Melirih pergelangan tangannya sebentar, lalu dengan cepat ia naik dibelakang Dev.


"ngebut bang biar cepet nyampe". Setelah naik Ara menepuk pundak Dev dan berkata begitu., seperti sedang naik ojek🙈


"pegangan ya, kita ngebut". Dev tak kalah semangat.


Dev menyalakan motornya kemudian melajukannya meninggalkan rumah mewah milik kedua orang tuanya itu.


Sepanjang perjalanan, bibir Ara terus saja tersenyum manis..membuat Dev yang melihatnya dari kaca spion ikut tersenyum.


Tiba-tiba Dev menarik sebelah tangan Ara dan dilingkarkan diperutnya. Tentu saja Ara terkejut dengan apa yang Dev lakukan.


"pegangan yang bener biar enggak jatuh". Setelah mengucapkan itu, Dev langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Reflek Ara melingkarkan kedua tangannya diperut Dev, dibalik helmnya Dev tersenyum puas.


****


Keduanya sampai beberapa detik sebelum bel berbunyi.


Setelah turun dari motor dan mengucapkan terima kasih, Ara langsung berlari menuju kelasnya. Takut jika ada guru yang sudah masuk.


Ara bisa bernafas lega karena kelasnya masih belum ada guru yang masuk.


"kok tumben sih Ra hampir telat??". Putri bertanya, karena setahunya..Ara tidak pernah hampir terlambat seperti ini.


"gara-gara abangnya dia nih. Gue udah mau berangkat malah dibawa bareng". Ara bercerita sedikit tentang pagi ini.


"oooh..pantes aja dari tadi diem di teras, ternyata nungguin elo Ra?? Pantes aja gue ajakin bareng juga gak mau". Dira mengingat saat dirinya mengajak Dev untuk berangkat bersama dan langsung ditolak oleh sang kakak.


"kayanya kak Dev bener-bener ngebet bgt ama elo ra". Putri menimpali ucapan Dira.


"apaan sih lu berdua. Diem-diem udah, tu guru udah masuk". Ara memperingatkan kedua temannya sebelum semakin menggoda dirinya.


______


Beberapa minggu lagi, murid kelas XII akan melaksanakan ujian akhirnya. Itu artinya sebentar siswa siswi kelas X dan XI akan libur panjang.


Saat ini Ara dan kedua temannya sedang duduk dikantin sambil menikmati makanan yang tadi mereka pesan.


"bentar lagi kita bakal libur panjang. Kalian pada mau ngapain ntar liburan??". Dira membuka obrolan.


Ara hanya mengendikkan bahunya acuh.


"Gue kayanya mau ke Singapure jenguk nenek liburan nanti mah". Putri mengingat ajakan kedua orang tuanya untuk menjenguk sang nenek.


"elo gak akan kemana-mana Ra??". Dira mengalihkan pandangannya pada Ara.


"kaga..gue mah paling juga dirumah elu bantuin pak Rahmat biar kaga ngomel mulu". Ara menjelaskan akan kemana liburannya nanti.


"yesss..brarti gue ga akan bosen dirumah. Secara ada elo dirumah gue juga". Dira merasa senang membayangkan liburannya bisa ia habiskan dengan sang sahabat.


"gue bisa ngajakin lo nonton drakor yang lagi hits itu". Dira berkata sambil matanya menerawang keatas.


"kaga bakal kejadian itu nonton drakor-drakoran segala. Ogah banget gue nemenin elu liatin orang ciuman doang". Ara langsung menolak keras rencana Dira.


"elu mah gak seru Ra". Dira mencebik kesal, sementara Putri tertawa puas melihat Dira kesal setengah mati.


Saat ketiganya tengah berbincang, biang masalah datang ke meja Ara dan teman-temannya.


Dira memberi kode mata pada Ara tentang kedatangan biang masalah yang selalu mengganggu mereka.


Clara dan teman-temannya sudah sampai dimeja yang ditempati Ara, ia kemudian menumpu badannya dengan tangan yang diletakkan diatas meja.

__ADS_1


Dengan wajah yang menyebalkan, Clara memulai peperangan dengan Ara.


"Ciiih..gak malu lo, anak pengawal dijadiin temen". Ucapan Clara sontak membuat Dira dan Putri menolehkan kepala kearah Clara dengan mata memicing.


"cewe miskin ini". Ucap Clara sambil menunjuk Ara.


"dia cuma anak pengawal keluarga elo kan??". Clara berkata dengan keras, sehingga meja mereka kini menjadi pusat perhatian.


Dira dan Putri sudah mengepalkan tangan mereka menahan kemarahan atas semua ucapan Clara. Sementara Ara yang sedang jadi topik pembahasan hanya cuek-cuek saja.


Walaupun semua yang diucapkan Clara adalah sebuah kenyataan, namun mereka sangat tidak menyukai cara Clara mengucapkan setiap katanya yang selalu diiringi dengan senyuman menghina.


"Bisa enggak sih kalian gak ganggu kita". Akhirnya Putri membuka suaranya.


"kenapa?? Lo malu punya temen anak b*bu??". Ucapan terakhir Clara benar-benar menyulut emosi Ara yang sejak tadi hanya diam menyimak perdebatan kedua temannya dengan biang dari semua masalahnya.


Ara langsung bangkit dan mendorong bahu Clara dengan jari telunjuknya.


"elu, kalo punya masalah ama gue gausah bawa-bawa kerjaan bapak gue. Elu mau ngehina gue juga terserah, tapi jangan pernah hina bapak gue". Ucap Ara dengan penekanan disetiap katanya.


"hheuuuh". Clara tersenyum sinis melihat amarah Ara.


"elo emang cuma anak k*c*ng dikeluarganya si Dira kan?? Salahnya dimana omongan gue?!". Clara masih terus saja menghina pekerjaan bapak.


"Dan apa salahnya kerjaan yang dijalanin ama bapak gue??! Itu pekerjaan halal". Ucap Ara pelan menahan amarah.


"gak malu emang lo jadi parasit buat 2 temen lo itu?? Lo itu cuma PA-RA-SIT!!". Clara menekankan kata diakhir kalimatnya.


Bukan memukul atau menampar mulut kurang ajar Clara. Ara justru tersenyum miring melihat Clara dan kedua temannya.


"Lu itu lebih rendah dari gue. Elu udah tau gue cuma anak seorang pengawal..dan itupun udah bisa bikin elu kehilangan kepercayaan diri elu. Gimana kalo gue anak orang kaya? Bisa-bisa lu mati bunuh diri karna takut bersaing ama gue!". Skak..kalimat Ara benar-benar bisa membungkam Clara. Wajah Clara sudah memerah antara marah dan malu.


Melihat reaksi Clara, Ara tersenyum miring meremehkan lawan bicaranya.


"Mending lu belajar baek-baek sekarang. Daripada elu bikin emak bapak lu malu gara-gara kagak lulus". Ara berlalu sambil menepuk keras bahu lawan bicaranya.


Clara berteriak kencang melampiaskan kekesalannya pada gadis yang tadi ia hina justru balik meledek dirinya.


Sementara disudut lain, senyuman lebar terbit dibibir seksi milik Dev. Dirinya benar-benar bangga melihat bagaimana Ara bisa mengontrol emosinya dan membalikkan keadaan hingga membuat Clara kesal sendiri.


"gila sih emang itu bocah. Bisa banget bikin si Clara teriak-teriak kaya orang gila gitu". Sam sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan keberanian yang dimiliki Ara.


"kali ini gue setuju ama elo Sam". Bahkan Kevin yang biasanya tidak pernah berkomentar tentang kejadian-kejadian yang ada didepannya kini ikut memuji Ara.


Dev semakin melebarkan senyumnya mendengar pujian-pujian yang terlontar untuk Ara.


"elo emang beda Ra. Gak salah gue bener-bener jatuh cinta ama elo". Batin Dev masih dengan senyum manis terpatri diwajah tampannya.


****


"emang dasar cewe gila, untung gue ga kelepasan tadi". Ara memandang wajahnya dicermin kamar mandi. Dirinya baru saja membasuh wajahnya dengan air guna menghilangkan amarah yang hampir menguasai seluruh dirinya tadi.


"Ra..elo gak papa kan didalem?? Kok engga keluar-keluar sih??". Dira mengetuk pintu toilet yang sengaja dikunci Ara.


"Iya Ra, buru keluar..itu pada mau pipis jadi gak bisa masuk". Putri ikut berbicara yang langsung dapat pelototan mata dari Dira.


"Bentaran napa". Ara menjawab sedikit berteriak dari dalam toilet.


ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, terlihat wajah Ara yang sudah segar dan masih sedikit basah.


"elo ga papa kan Ra???". Dira langsung menanyakan kondisi Ara.


"Emang gue kenapa?? Gue baik-baik aja gini". Ara menjawab dengan santai sambil berjalan meninggalkan kedua teman yang sejak tadi setia menunggu dirinya. Benar-benar teman tak punya akhlak.

__ADS_1


"Bener-bener kaga punya akhlak lo mah Ra, kita tungguin dari tadi main tinggal-tinggal aja!". Dira dan Putri berteriak memanggil Ara. Namun tidak dihiraukan oleh Ara.


__ADS_2