Cinta Kinara

Cinta Kinara
siapa??


__ADS_3

Ara masih bungkam sambil tangannya sibuk memasukkan baju kedalam koper kecil yang dibawakan oleh ibu mertuanya. Sementara Dev masih sibuk membujuk istrinya agar tidak mendiamkannya.


"Sayang..jangan diem terus dong. Abang harus gimana??" Tanya Dev frustasi karena sejak kembali dari makan pagi yang kesiangan itu, istri tercintanya masih terus mengacuhkannya.


"Abang bener-bener nggak liat bekas itu sayang..suerr". Dev mengangkat kedua jarinya.


Ara mendengus, lama-lama kesal juga mendengar suaminya yang biasa irit bicara mendadak cerewet seperti ini.


"Abang pasti liat, Ara malu bang" Kesal Ara, berdiri dihadapan Dev dengan tangan terlipat didada. "Kalo abang bilang ada bekas kissmark kan Ara bisa nutupin, nggak akan malu kaya tadi" Sungut Ara berbalik membelakangi Dev.


"Maaf sayang, abang terlalu bersemangat semalam". Dev memeluk tubuh Ara dari belakang, terus membujuk agar istri cantiknya itu tidak terus marah.


"Harusnya abang nggak bikin kaya ginian dileher". Ara mencebik semakin kesal.


"Iya..iya. Abang akan membuatnya ditempat yang nggak akan diliat orang lain selain abang. Mau kita praktekin sekarang??" Tanya Dev menggoda.


"Yaaaa...sejak kapan abang jadi mesum?!" Kesal Ara karena Dev justru menggodanya.


"Sejak nikah sama kamu, abang tiba-tiba jadi mesum". Kekeh Dev membuat Ara menggeleng, antara kesal dan geli melihat kelakuan absurd suaminya.


Dev semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ara, membisikkan kata yang membuat Ara tersenyum


"Terimakasih sayang, terimakasih kamu mau menjadi bagian dari hidup abang. Kamu berharga buat abang, selamanya abang akan menjaga dan mencintai kamu". Dev mencium pipi Ara, dirinya benar-benar bahagia bisa memiliki Ara seutuhnya, memilikinya sebagai pendamping disisa hidupnya. Berharap hanya maut yang akan memisahkannya dengan sang istri.


Ara mengelus tangan Dev yang melingkar erat diperut ratanya, ia juga bahagia memiliki Dev sebagai sebagai pendamping hidupnya.


***


Berita pernikahan salah satu idola kampus sudah tersebar luas seantero kampus, banyak yang patah hati karena pernikahan Dev dan Ara. Bukan hanya para gadis yang kecewa, namun juga kaum adam yang selama ini mendambakan Ara untuk menjadi kekasih mereka. Kini harapan itu pupus sudah, Ara sudah menjadi istri sah dari seorang Dev, Ara sudah resmi menyandang status sebagai nyonya muda Natakusuma.


Hari ini adalah kali pertama Ara menginjakkan kakinya dikampus dengan status baru setelah 1minggu lamanya ia dan sang suami mengambil cuti kuliah. Semua mata tertuju pada Ara dan Dev yang berjalan berdampingan dengan tangan saling bertautan. Keduanya terlihat serasi memakai outfit dengan warna senada.


"Ya ampun, potek hati adek bang".


"Mau juga dong digandeng kaya gitu".


"pupus sudah harapanku"


Terdengar suara-suara saat Ara dan Dev melewati kerumunan gadis yang terus memperhatikan langkah keduanya. Ara hanya tersenyum tipis sambil menggeleng, pesona suaminya terlalu kuat untuk ditampik para gadis itu. Ara pun memaklumi bila masih banyak gadis yang mengagumi suami tampannya itu.


"Nggak nahan liat pengantin baru, auranya menyilaukan mata". Goda Dira ketika melihat kakak dan kakak iparnya berjalan berdampingan.


"Pake kacamata item kalo silau. Kalo masih kurang tambah tongkat, cocok kayanya". Balas Dev, Dira melotot kesal pada sang kakak yang mulutnya masih saja tajam.

__ADS_1


"Lo kata gue kang pijit keliling. Pijit..pijit". Dira menirukan suara tukang pijit keliling yang beberapa kali pernah ia dengar. Dev tersenyum melihat adiknya kesal karena balik ia goda.


"Adeknya kakak yang paling manis, titip kakak ipar kamu yang cantik ini ya. Jagain yang bener". Suara Dev terdengar begitu manis membuat Dira memutar bola matanya malas.


"Ada maunya aja lo, manis-manis ngomong ke gue. Mana ongkos jaganya?" Dira menengadahkan tangannya dihadapan Dev membuat Dev mencebik.


"Ya kali lo jagain kakak ipar sendiri minta ongkos. Itungan amat lo jadi adek". Cebik Dev.


"Hello, ini tahun berapa. Segala sesuatunya itu butuh duit kakak aku yang paling manis". Ucap Dira menoel dagu sang kakak yang terlihat semakin kesal.


Ara menggelengkan kepalanya, pusing melihat perdebatan kakak beradik, sepertinya ia lupa jika dirinya dan Bian bertemu juga selalu berdebat.


"Abang katanya mau ketemu dosen pembimbing. Gih sana, nanti keburu pergi dosennya". Peringat Ara. Dev tersenyum mengacak rambut sang istri.


"Nanti abis ketemu dosen pembimbing, abang langsung ke kantor papa ya. Mungkin abang nggak bisa jemput". Ucap Dev pelan, merasa tak rela harus berpisah dengan istrinya itu.


Ara mengangguk menunjukkan senyum terbaiknya untuk menenangkan sang suami.


"Ara bisa pulang sama Dira bang. Sekarang abang temuin dosen dulu, nanti dosennya keburu pergi". Peringat Ara, Dev menghela nafas panjang. Masih belum rela berpisah dengan istri yang baru 1minggu ini ia nikahi.


"Udah sana ah, lebay banget kakak! Ntar juga dirumah ketemu. Syuh..syuh".Dira membalikkan badan sang kakak dan mendorong punggung Dev, membuat suami Ara mencebik.


"Abang tinggal dulu ya sayang, nanti telpon abang kalo udah pulang". Dev mengelus kepala sang istri. Ara mengambil tangan Dev kemudian mencium punggung tangan Dev, membuat Dev menyunggingkan senyum termanisnya. Sontak pemandangan itu membuat para gadis yang tak sengaja melihatnya memekik tertahan, menutup mulut mereka yang tengah terbuka lebar.


Dev berjalan meninggalkan Ara dan Dira yang masih memperhatikannya, beberapa kali ia menoleh untuk melihat wajah Ara dan melambaikan tangannya pada sang istri.


"Sirik amat si lu ama abang sendiri. Makanya buruan nikah". Sahut Ara meninggalkan Dira yang melotot mendengar ucapan Ara.


"Nikah ama sapa? Ama kebo?! Pacar aja kaga punya". Dira bersungut-sungut sambil berlari mengejar Ara yang ternyata sudah meninggalkannya.


"Lo jadi sahabat merangkap kakak ipar kaga ada akhlaknya banget sih".


"Lu berisik banget sih, kebanyakan makan jadi kaya petasan tau". Sahut Ara membuat Dira mendelik.


"Pantes jadi suami istri, sama-sama dzalim kalo ama gue". Ketus Dira memalingkan wajah berpura-pura merajuk.


"Haish..kaga ada pantes-pantesnya lu ngambek gini. Buruan hayu, ntar keburu dosen masuk". Ara menarik pelan tangan Dira karena jam sudah menunjukkan waktu bagi keduanya memulai mata kuliah pertamanya.


*****


Selesai mengerjakan shalat magrib, Ara keluar dari kamarnya berjalan menuruni tangga. Ia melihat ibu mertuanya tengah sibuk didapur bersama dua asisten rumah tangganya. Ara tersenyum melihat bagaimana mama Anika memerankan perannya sebagai seorang ibu rumah tangga.


"Biar Ara bantu ma". Kedatangan Ara mengejutkan mama yang sedang sibuk menyiapkan beberapa bahan untuk dimasak.

__ADS_1


"Kamu sudah shalat sayang?". Tanya mama dijawab anggukan kepala oleh Ara. Ara mengambil alih pisau yang dipegang mama dan mulai memotong sayuran yang akan mereka masak.


"Papa sama abang belum pulang ma?" Tanya Ara, karena sang suami tidak menghubungi dirinya sejak 1jam lalu. Pesannya pun tidak dibalas oleh Dev.


"Mungkin sebentar lagi mereka pulang sayang. Tadi Dev menemani papa meeting dengan clien". Jelas mama membuat Ara tenang.


Mama dan Ara memasak sambil bersenda gurau, tidak menyadari jika sejak beberapa saat lalu Dira sudah memperhatikan interaksi antara sang mama dan kakak iparnya. Senyum manis tersungging dibibirnya, tak pernah ia menyangka jika sahabat baiknya, gadis yang selalu melindunginya sejak dulu kini menjadi kakak iparnya, bagian dari keluarganya.


"Seneng deh liat mama sama kakak ipar aku akur gini". Goda Dira yang sudah duduk dimeja makan menangkup wajahnya dengan siku yang bertumpu diatas meja.


Mama dan Ara serempak menoleh dan mendapati Dira tengah tersenyum manis, mama melirik anak gadisnya.


"Bukannya bantuin malah nonton kamu itu. Sini belajar masak sayang, nanti kalo kamu nikah gimana. Masa iya mama yang disuruh masak". Nasehat mama yang membuat bibir Dira mengerucut.


"Besok lagi deh bantuinnya, sekarang Dira bantuin doa sama bantuin abisin makanannya aja". Dira terkikik melihat mamanya sudah melotot.


Masakan yang dibuat Ara dan mama dibantu kedua asisten rumah tangganya sudah matang. Hanya tinggal disajikan diatas meja makan, bertepatan dengan itu Dev dan papa pulang.


Ara menyambut Dev dan mencium punggung tangan suaminya. Sejak awal pernikahan, Ara sudah biasa melakukannya. Menemani sang suami melangkahkan kakinya ke kamar yang ada dilantai dua rumah besar itu. Ara berlalu ke kamar mandi, menyiapkan air mandi untuk sang suami. Selesai menyiapkan air, Ara kemudian mengambilkan pakaian ganti untuk sang suami. Ia berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Dev keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit dipinggangnya, rambut yang masih basah menambah kadar ketampanan suami Kinara itu. Ara mematung sesaat sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dengan rona merah menghiasi wajah cantiknya.


"ni otak kenapa jadi mesum gini sih". Ara merutuki pikirannya yang mudah tercemar hanya dengan melihat tubuh gagah suaminya.


"Kamu mikirin apa hm?" Ara tersentak kaget saat sebuah tangan kekar melingkar diperutnya.


"Eng..enggak ada bang. Buruan pake baju bang, kita makan. Ara tunggu dibawah ya". Ara melepaskan tangan Dev yang melingkar diperutnya, keadaan akan jadi tidak terkendali jika ia masih berdiam diri didalam kamar dengan sang suami. Dev menyunggingkan senyum manisnya melihat istri tercintanya selalu salah tingkah dengan hal-hal kecil yang ia perbuat.


####


Sementara disebuah ruangan terlihat seorang pria yang tengah memandang foto seorang gadis yang mampu membuatnya jatuh hati sejak pertama melihatnya.


"Kamu akan manjadi milik saya bagaimanapun caranya". Tersungging senyum licik dari bibir pria itu.


"Kinara Maheswari, kamu hanya pantas menyandang nama Abraham sebagai nama belakangmu". Pria itu mengelus foto Ara yang terbingkai cantik diatas meja kerjanya.


tok..tok..tok


Setelah mendapat ijin dari si pemilik ruangan, Raffi sebagai asisten pribadi tuan muda Abraham masuk kedalam ruangan itu.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?". Tanyanya menundukkan kepalanya.


"Segera urus kerjasama dengan Natakusuma. Siapkan semuanya. Aku tidak ingin membuang waktu lagi". Ucapnya dingin.

__ADS_1


"Baik tuan". Raffi menunduk dan undur diri dari hadapan tuannya.


"Sebentar lagi Kinara, sebentar lagi kamu akan menjadi milik saya".


__ADS_2