Cinta Kinara

Cinta Kinara
pindah


__ADS_3

Alma masih bersimpuh dipusara makam sang ibu. Semua orang sudah pulang, meninggalkan gadis yang masih diam membisu dengan tatapan kosongnya menatap gundukan tanah yang baru saja menutupi tubuh ibunya.


Disana masih ada Kirei yang setia menemani gadis itu. Arka dan Dirga juga sudah menyusul sejak tadi. Sementara Daniel, pemuda itu sudah lebih dulu pulang setelah ditelpon oleh ibunya.


Ara dan yang lain juga sudah meninggalkan area pemakaman. Ia dan yang lain kembali kerumah Alma untuk mengemas seluruh barang berharga milik gadis itu. Sudah mereka putuskan, bahwa gadis malang itu akan mereka bawa kerumah Ara.


"Al.." Kirei menepuk pelan pundak Alma yang langsung mendongakkan kepalanya. Matanya terlihat bengkak akibat sejak tadi menangis.


"Kita pulang ya..buna sama yang lain pasti udah nungguin". Kirei berjongkok disebelah Alma dan menggenggam tangan gadis itu.


"Tapi ibu sendiri Ki.." Lirih Alma kembali menatap gundukan tanah itu.


"Ibu udah tenang Al..udah nggak sakit lagi. Sekarang yang harus kita lakuin cuma doain ibu. Kasian ibu liat lo kaya gini". Bujuk Kirei.


"Lo udah janji sama buna, lo nggak akan nangis lagi demi ibu". Kirei mengingatkan janji Alma pada Ara.


Alma menghapus air mata yang tiba-tiba kembali menetes lagi, ia mengangguk. Kirei dan ibunya benar, ia tak boleh terus larut dalam kesedihan. Ia harus menjadi oranfmg sukses agar ayah dan ibunya bahagia disurga.


Dengan dibantu Kirei, Alma bangkit. Sebelum benar-benar meninggalkan area pemakaman Alma kembali menoleh pada makam sang ibu kemudian tersenyum sedih.


"Kalian sudah kembali? Dimana Arka dan Dirga?". Tanya Dira beruntun


"Satu-satu mah nanya tuh. Aku bingung jawabnya". Sahut Kirei membuat Dira menghela nafas panjang. Kenapa keponakan cantiknya ini begitu senang berdebat dengannya.


"Ck..kenapa harus mendebat mamah sih. Tinggal jawab saja". Ketus Dira pura-pura merajuk.


"Bang Arka sama Dirga diluar mamahku sayang. Masa iya aku bawa masuk ke kamar Alma sih". Suara Kirei dibuat selembut mungkin.


"Kami sudah merapikan semua pakaian dan barang berharga kamu nak. Kamu akan tinggal bersama Kirei". Dira mengelus lembut kepala Alma.


"Maafkan Alma tante..Alma merepotkan kalian semua". Alma menundukkan kepalanya, merasa tidak enak merepotkan orang sebaik Kirei dan keluarganya.


"Sama sekali tidak. Kami senang jika gadis nakal ini memiliki teman perempuan dirumah. Jadi dia akan belajar memasak, bukan bermain bola". Sahut Putri yang kebetulan mendengar obrolan Alma dan Dira.


"Astagfirullah..ibu macam apa kalian ini. Menistakan anak sendiri. Benar-benar keterlaluan". Kirei memonyongkan bibirnya lantaran kesal aibnya dibuka didepan temannya.


"Bukankah mami benar? Kau selalu bermain bola bersama dua anak nakal itu. Kelakuan kalian jadi bobrok sekali. Pusing mami liatnya". Putri memijat pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba pusing mengingat kelakuan tiga remaja yang sering membuat para ibu kelabakan.


Sementara Alma hanya tersenyum lembut melihat interaksi Kirei dengan ibu dari pria yang sudah mampu menggetarkan hatinya sejak pertama kali melihatnya. Namun dirinya sadar dimana posisinya, ia hanya anak yatim piatu yang bahkan untuk memimpikan Arka pun dirinya tak merasa pantas.


"Kita pergi sekarang nak". Suara lembut Raisya membawanya tersadar dari lamunan sesaatnya. Ia mengangguk dan tersenyum lembut pada wanita berparas ayu yang menatapnya dengan penuh rasa prihatin.


"Baik tante.." Alma ingin mengambil alih kopernya, namun sebuah tangan kekar merebut koper yang baru saja ia genggam.


"Biar gue yang bawain". Suara Arka bagaikan alunan merdu yang menyapa telinga gadis itu. Semua interaksi yang terjadi antara keduanya tak luput dari pengamatan seorang ibu yang sejak tadi terus memperhatikan putranya.


"Eh..nggak usah kak. Aku masih bisa bawa sendiri". Alma berusaha merebut koper yang ada dalam genggaman tangan Arka.


Tanpa mempedulikan ucapan Alma, Arka keluar membawa sebuah koper besar yang berisi pakaian dan benda berharga milik Alma.


"Biarkan dia membawanya sayang. Kita keluar sekarang". Ara merangkul pundak Alma yang berusaha mengerjar Arka yang membawa kopernya.

__ADS_1


"Mami udah mau punya mantu". Goda Kirei menoel lengan Putri yang langsung menoleh padanya.


"Mami justru takut Arka mempermainkan gadis sebaik Alma". Lirih Putri membuat Kirei mengernyit.


"Kamu kan tahu bagaimana kelakuan Arka selama ini. Mami takut dia memperlakukan Alma seperti gadis lain". Putri menjelaskan ketika melihat raut bingung diwajah gadis ayu yang sudah seperti putri kandungnya.


"Oooh..mami tenang aja. Bang Arka udah insap kok..udah jinak dia sekarang". Kekeh Kirei merangkul pundak maminya dan membawanya keluar sebelum tiga ratu lainnya meneriaki dirinya.


****


"Ini kamar lo. Yang didepan itu kamar gue". Kirei baru saja mengantar Alma ke kamar yang akan gadis itu tempati selama tinggal dirumah Kirei.


Alma mengedarkan pandangannya, kamar ini begitu luas. Bahkan mungkin 3x lipat dari kamar dirumahnya dulu.


"Ini nggak berlebihan Ki? Aku bisa tidur bersama bi Inah atau bi Susi". Tawar Alma yang merasa sungkan menempati kamar semewah itu.


"Ish..lo mau rambut gue dibikin keriting permanen ama emak gue kalo biarin elo pindah dari kamar ini". Desis Kirei diikuti suara tawa seseorang yang membuat kedua gadis itu melihat kearah pintu.


Disana sudah berdiri Arka yang memakai pakaian santainya. Tampak lebih fresh dan membuat Alma semakin terpesona.


"Ngapain lo ketawa". Sengit Kirei mulai mengibarkan bendera perangnya.


"Gue lagi ngebayangin kalo rambut lo yang lurus ini dikeritingin ama buna. Hahahaha". Tawa Arka semakin menggema membuat Kirei kesal.


"Syuh..syuh. Jauh-jauh sono lo bang. Disini bukan tempat lo". Usir Kirei mendorong tubuh Arka yang masih menertawakan dirinya. Padahal tidak ada yang sedang melucu disini.


"Gue disuruh buna manggil lo berdua. Kalo lo kaga mau beneran dikeritingin ama buna, buruan ajak Alma turun. Disuruh makan". Arka menjelaskan maksud tujuannya kekamar gadis itu.


____


"Daddy!!". Pekik Kirei kegirangan melihat Sam berada dimeja makan bersama yang lain.


Dev mencebik kesal melihat antusias putrinya bertemu dengan teman somplaknya itu.


"Kenapa kamu bahagia sekali bertemu dengan daddy mu?". Kesal Dev membuat Kirei yang sedang memeluk Sam menoleh.


"Padahal kalau ayah pulang, kamu tidak pernah seantusias itu". Nada suara Dev terdengar begitu kesal melihat keakraban buah hatinya dan sahabat lamanya.


"Kau cemburu?". Ledek Sam yang semakin mengeratkan pelukannya pada gadis yang memanggilnya daddy.


"Diamlah". Sengit Dev melirik kesal Sam yang terkekeh geli melihat Dev cemburu dengan kedekatannya dengan Kirei.


"Ayolah..ayah. Kirei bertemu dengan ayah setiap hari. Tapi daddy dan mommy jarang kesini. Aku sangat merindukan mereka". Kirei masih betah berada dalam pelukan Sam.


"Menyebalkan". Gumam Dev lalu meneruskan aktifitasnya makan.


"Ya..kau sangat merindukan daddy dan mommy mu itu. Karena mereka tidak pernah memarahimu dan selalu menuruti keinginanmu". Sindir Ara tepat sasaran.


"Buna benar..dia manja sekali. Padahal kalo disekolah dia sangat..." Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya, mulutnya sudah disumpal Kirei dengan paha ayam.


"Ya..mommy tidak pernah mengomeliku seperti buna dan mamah. Apalagi mami". Sahut Kirei cuek dan mulai duduk dengan benar untuk makan malam.

__ADS_1


"Yaaak. Dasar anak ini". Geram Putri membuat Kirei terkekeh.


Alma dapat merasakan kehangatan dalam keluarga besar Kirei. Betapa beruntungnya gadis itu dikelilingi orang-orang yang begitu tulus menyayanginya. Namun dirinya lebih beruntung menjadi sahabat dari gadis cantik yang ternyata begitu manis dan manja jika berada dirumah.


"Makanlah nak..jangan dengarkan perdebatan mereka. Tidak akan selesai sampai lusa". Tiba-tiba Raisya meletakkan piring lengkap dengan isinya dihadapan Alma yang langsung mengerjap.


"Eh..i..iya tante. Maaf merepotkan tante". Jawab Alma tak enak hati karena terus merepotkan keluarga Kirei.


Dev terus memperhatikan interaksi Sam dan putri semata wayangnya. Dirinya tak pernah menyangka, pria yang dulu selengean dan tak pernah serius itu kini bisa bersikap begitu bijak menyikapi segala sesuatu yang menimpa dirinya dan Raisya. Bahkan Sam bisa menjadi sosok ayah yang begitu membuat Kirei nyaman berada didekatnya.


"Makan sayang..kamu tidak akan kenyang hanya melihat Sam menyuapi anak manjamu itu". Ara mengelus pundak Dev sambil melirik Sam dan Kirei yang terlihat begitu dekat.


"Bilang saja buna iri padaku". Ledek Kirei sambil tersenyum manis pada sang ibu. Ara mencebik, kesal dengan kelakuan putrinya.


"Anakmu memang menyebalkan. Jadi terima saja". Ucap Dira yang sejak tadi hanya menyimak.


Makan malam itu dipenuhi dengan canda tawa yang membuat Alma bisa melupakan sejenak kepelikan hidupnya yang baru saja ditinggalkan olh satu-satunya keluarga yang ia miliki.


____***____


"Makasih ya Ki.." Kirei menghentikan gerakan tangannya membuka pintu mobil. Kini keduanya sudah sampai diparkiran sekolah. Kirei mengernyitkan dahinya menatap dalam mata Alma.


"Makasih buat semuanya. Buat tempat tinggal dan keluarga baru yang kamu kasih buat aku". Setetes kristal bening menetes membasahi pipi putihnya.


Kirei membuang nafasnya kasar, kesal dengan Alma yang terus meminta maaf dan berterima kasih padanya.


"Gue kan udah bilang ama lo. Stop minta maaf sama ngomong makasih ama gue. Cape nih gue dengernya. Udah ah, ayo turun. Lo mau dipanggang ama pak Joko dilapang?". Kirei memperingatkan Alma bahwa pagi ini jam pertama adalah pak Joko.


"Ujian lagi ya? Aku lupa". Alma menepuk keningnya, melupakan bahwa hari ini guru killer itu akan kembali menguji kemampuan belajar muridnya.


"Nah loh..belajar kaga lo?". Keduanya turun dari mobil bersamaan. Dari jauh Kirei melihat kakak sepupunya sudah bersandar pada tembok kelasnya.


"Dasar kadal, pepet terooss". Batin Kirei terkikik melihat kakak sepupunya yang seperti mendapat karma karena terlalu sering memberi harapan pada gadis lain. Kini saat pria itu mendekati Alma. Alma seolah menjaga jarak dengannya.


"Weeiiitss..udah disini aja lo bang". Kirei menaik turunkan alisnya, menggoda Arka yang mencebik kesal.


"Titipan dari mami buat lo berdua". Arka menyodorkan sebuah plastik yang didalamnya ada kue kesukaan Kirei.


"Yakin dari mami?". Kirei semakin gencar menggoda kakak sepupunya yang sudah terlihat salah tingkah, sementara Alma jangan ditanyakan lagi. Wajahnya sudah semerah tomat mendengar godaan Kirei.


"Berisik lo!". Arka memilih berlalu meninggalkan Kirei yang tertawa puas melihat kakak sepupunya salah tingkah.


"Dasar abg labil". Kirei terkikik geli, kemudian masuk kedalam kelas, meninggalkan Alma yang masih mematung didepan pintu memperhatikan punggung tegap pria yang sudah berhasil mengisi hatinya itu menjauh.


"Kejar kalo demen Al. Diliatin doang mah kaga bakal balik. Awas itu mata lo lompat lama-lama melototin itu kadal". Suara Kirei membuat Alma berjingkat. Wajahnya semakin memerah karena tertangkap basah memandangi Arka.


"A..apaan sih kamu. Orang aku enggak liatin apa-apa". Alma tergagap kemudian buru-buru masuk kedalam kelas.


"Dasar bucin". Ledek Kirei terbahak.


"Ssttt..udah ah. Kamu berisik..aku mau belajar, inget nanti ujian". Alma sibuk membaca bukunya walaupun nyatanya pikirannya masih terpatri pada wajah tampan Arka.

__ADS_1


"Fokus Alma..fokus. Kamu harus jadi orang sukses biar bisa balas kebaikan keluarga Kirei. Jangan pikirin cowo! Fokus!!". Alma mencoba memfokuskan dirinya pada buku didepannya.


__ADS_2