
Kirei sudah siap dengan pakaian casualnya, celana jeans biru panjang dipadu dengan kaos berwarna navy dan sepatu putih kesukaannya sudah melekat sempurna ditubuh langsingnya. Sementara rambutnya ia ijat tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Dirinya sedang menunggu sepupu somplaknya yang berjanji akan menjemput dirinya pagi ini. Bahkan ia merelakan sang ayah pergi lebih dulu karena sudah berjanji pada dua sepupu somplaknya untuk pergi bersama, namun yang ditunggu tak kunjung datang, padahal waktunya sudah mepet.
Kirei terus mengomel membuat omanya tersenyum, tidak biasanya cucu kesayangannya itu seperti ibu-ibu komplek.
"Duduklah Ki. Nanti abangmu dan adikmu akan segera sampai". Mama Anika mencoba menenangkan gadis yang sejak tadi terus mondar-mandir tidak jelas dihadapannya.
"Ini udah mepet waktunya oma, tapi pada belum kesini. Kalo nyampe telat kan usaha aku buat ngalahin buna kemaren sia-sia". Keluh Kirei membuat mama Anika menggeleng gemas.
tin..tin..tin..
Kirei segera berlari keluar diikuti mama Anika dan Ara. Kirei sudah memasang tampang garang ketika melihat dua sepupunya yang nyengir memamerkan deretan giginya.
"Jangan ngamuk dulu Ki. Tadi ban mobil kita bocor. Iya kan bang?". Ucap Dirga membela diri sebelum macan betina mengamuk.
"Buna, oma..Ki jalan sekarang ya". Pamit Kirei pada dua wanita tercintanya. Ara hanya mengangguk setelah mencium kening putrinya dan berpesan untuk menjaga diri. Sementara mama Anika masih memeluk Kirei, enggan melepaskan cucunya pergi mengikuti acara sekolahnya selama 3hari.
"Nggak usah jadi pergi ya sayang. Nanti oma kesepian". Ucap mama Anika lebay.
"Kan ada buna, oma. Lagian Ki pergi cuma 3hari aja". Jelas Kirei mencoba melepaskan pelukan neneknya.
"3hari itu lama sayang..oma pasti kangen sama kamu. Nggak usah pergi ya??". Bujuk mama Anika.
"Cuma sebentar omaaaa..."
"Oma kalo ditinggal ama Kirei sedih banget. Giliran ditinggal kita aja, kaya diulang tahunin tiap hari senengnya". Kesal Dirga yang melihat drama tak berkesudahan.
"Kirei nurut sama oma. Kalo kalian ngeyel mulu. Nurutnya cuma pas ada maunya". Ketus mama Anika.
"Ki pergi dulu ya oma sayang..nanti Ki telpon kalo udah nyampe. Love u oma". Kirei mencium pipi oma nya kemudian lari dan duduk dibelakang kemudi. Oma hanya mendengus kesal karena gagal merayu cucunya.
"Hati-hati sayang". Ucap mama Anika dan Ara bersamaan.
"Turun kaga lu. Gue keplak pala lo kalo kaga turun". Ancam Arka, namun tak dihiraukan oleh Kirei.
"Lo mau tetep disini terus kaga jadi pergi, apa masuk sekarang?". Tanya Kirei sambil menghidupkan mesin mobilnya dan memasang seatbelt nya.
Arka mendengus kesal, namun kakinya tetap melangkah masuk kedalam kursi penumpang. Sementara Dirga sudah duduk dibangku belakang dan memasang seatbeltnya kuat-kuat. Dirinya masih sayang nyawa, akan berbahaya jika Kirei yang mengendarai mobilnya.
Ara hanya tersenyum geli melihat keponakannya yang sudah parno duluan mengetahui Kirei yang mengendarai kuda besinya itu.
"Kaga yakin masih kuat ikut tu acara gue". Gumam Arka yang sudah duduk dan sedang memasang sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Okeee...let's go!!! Bye oma, bye buna. Assalamu'alaikum". Teriak Kirei dari dalam mobil, kemudian ia menginjak gas dalam-dalam hingga menyebabkan bunyi berdecit.
"Allahuakbar!!" Teriak Arka dan Dirga bersamaan.
Inilah yang membuat Arka enggan membiarkan adik sepupunya itu mengendarai mobil. Sudah pasti jantungnya tidak akan baik-baik saja.
"Ki pelan-pelan Ki..kita kaga bakal telat kok. Yakin lah, percaya ama gue". Ucap Dirga, Kirei melirik kaca spionnya. Senyum geli tersungging dibibir seksinya ketika melihat sepupunya menutup mata rapat-rapat dengan mulut komat kamit persis seperti orang membaca mantra.
Sementara Arka hanya diam, namun dalam diamnya itu ia terus merapalkan doa untuk keselamatannya. Kirei benar-benar seperti orang kesetanan jika membawa mobil.
"Awas Ki!!!" Teriak Arka dan Dirga bersamaan ketika mereka melihat truk nesar didepannya, dan Kirei tidak mengurangi kecepatan mobilnya. Keduanya sudah menutup mata rapat-rapat, bersiap mengalami benturan. Namun lama mereka menutup mata, tidak terasa apapun. Perlahan keduanya membuka mata, dan ternyata mereka sudah sampai digerbang sekolah.
"Lo..lo ya bener-bener. Pen gue gantung lo dipohon mangga rumah oma!". Kesal Arka membuat Kirei terkikik.
"Lama-lama beneran gue tuker tambah lo!". Imbuh Dirga membuat Kirei akhirnya tertawa puas melihat wajah tertekan dua sepupu somplaknya.
"Kag ngompol kan lo berdua??". Kirei melirik celana kedua lelaki itu yang reflek langsung menutup k*ma**annya dengan dua tangan.
"Lo ya, bener-bener.." Arga sudah kehabisan kata-kata untuk sekedar memarahi saudara perempuannya itu. Sementara tawa Kirei semakin nyaring, terdengar begitu menyebalkan ditelinga dua pemuda tampan itu.
"Hih..pen gue geplak pala lo!". Kesalnya kemudian membuka pintu dan keluar. Kirei keluar dari kursi kemudi dengan tawa yang masih setia menghiasi wajah cantiknya. Membuat beberapa pasang mata terkagum melihat kecantikan Kirei. Bagaimana tidak, selama ini tidak pernah ada yang bisa membuat gadis itu tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum saja begitu sulit rasanya.
Beberapa gadis memekik ketika melihat Kirei berada dalam satu mobil dengan dua pemuda tampan idola sekolah. Apalagi Arka yang terkenal playboy.
"Lepas kaga! Bisa-bisa gue dibunuh ama penggemar gila lo! Kaga liat lo mereka udah kaya mau nelen gue idup-idup". Bisik Kirei, namun tam sedikitpun membuat pemuda itu mengendurkan tangannya yang membelit leher Kirei.
"Bodo amat! Biar tau rasa lo dicakar ama fans gue". Jawab Arka santai. Sementara Dirga dengan baik hati membawakan tas milik kakak sepupunya yang sedang dihukum oleh abangnya itu.
"Makanya Ki, kalo lo mau mati tu sendiri aja. Jangan bawa kita berdua". Ledek Dirga yang sudah berjalan disamping keduanya.
"Kan kita masih hidup. Lepas napa bang..bisa mati beneran gue". Ucap Kirei memelas.
"Kaga bakal mati cuma gue piting gini doang mah". Sahut Arka masih cuek.
"Bukan mati dipiting elo!! Mati direbus ama fans lo yang pada gila itu". Geram Kirei sambil melirik kumpulan gadis yang sudah menatapnya seperti singa kelaparan.
Arka mengangkat wajahnya, kemudian melihat sekeliling. Benar saja, banyak gadis yang menatap mereka dengan tatapan menyeramkan. Namun Arka tetaplah Arka, pria itu tetap cuek dan terus berjalan dengan kepala Ara berada dibawah ketiaknya.
"Dirgaaaa.." Rengek Ara, namun sayang pemuda itu seperti menulikan pendengarannya. Pemuda itu justru berjalan mendahului Kirei dan Arka yang justru terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta jika dilihat dari kejauhan. Padahal jika mereka mendengar apa yang keduanya lakukan bukanlah sesuatu yang romantis. Dirga terkekeh geli melihat wajah kesal kakak sepupunya yang paling cantik itu.
"Lepas bang, ya Allah. Gue kaga mau mati muda". Pinta Kirei memohon, akhirnya Arka melepaskan kepala Kirei. Namun kini justru ia memeluk bahu adik sepupunya itu yang membuat siswi yang melihatnya menjerit tak karuan. Kirei menepuk dahinya berkali-kali sambil terus mengumpat dalam hati karena kelakuan kakak sepupunya.
__ADS_1
Tidak lama setelahnya, terdengar pengumuman dari guru yang akan mendampingi acara tersebut. Seluruh siswa diminta untuk masuk kedalam bus yang sudah disediakan sekolah. Dan sudah pasti, Kirei akan diikuti oleh dua bodyguard tampan yang sejak tadi tidak membiarkannya jauh dari mereka.
"Kalian pada mau kemana?! Sono jauh-jauh!". Usir Kirei ketika melihat Arka dan Dirga berjalan dibelakangnya.
"Kaga usah banyak protes dah. Kaga inget pesen oma sama buna?!". Peringat Dirga sambil mendorong tubuh Kirei memasuki bus yang akan mereka tumpangi. Arka sudah mendahului Kirei masuk kedalam bus dan sudah duduk manis disalah satu bangku penumpang.
Tubuh Kirei didorong untuk duduk disamping Arka, dan kemudian Dirga duduk disebelah Kirei. Jadilah Kirei diapit oleh dua sepupunya sablengnya itu.
"Gue pindah aja deh. Kaga nyaman gue dari tadi diliatin". Bisik Kirei namun tetap diacuhkan oleh Arka.
"Kalo lo berani pindah, gue aduin ama buna". Jawab Dirga berbisik. Sontak saja pemandangan itu membuat beberapa gadis geram sekaligus iri dengan keberuntungan Kirei. Bagaimana tidak, Kirei diapit oleh dua pria tampan yang memiliki cukup banyak penggemar disekolahnya.
Kirei hanya bisa mencebikkan bibirnya, namun akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan saudara sepupunya itu. Dirinya bagai makan buah simalakama, jika menurut pada Arka, maka dia akan dijadikan santapan para penggemar lelaki itu. Namun jika dirinya membantah, sudah pasti sang ibu akan mengamuk.
"Serah lo berdua deh". Kesal Ara kemudian mengeluarkan earphone nya dan memasangkannya dikedua telinganya. Ia tutup mata rapat-rapat agar tidak perlu melihat wajah menyeramkan gadis-gadis yang siap menerkam dirinya.
Sementara Dirga dan Arka hanya tersenyum tipis melihat Kirei hanya mampu pasrah dan menuruti kata-kata mereka. Kapan lagi bisa membuat macan betina menurut, pikir keduanya.
Arka mengeluarkan ponselnya, ia mengambil beberapa foto dirinya dan Dirga, jangan lupakan Kirei yang tertidur diantara mereka. Selama ini tidak ada yang mengetahui hubungan antara Kirei dan kedua pemuda itu. Karena biasanya, ketiganya akan bersikap saling tak mengenal ketika dilingkungan sekolah.
"Ngimpi apa si Kirei semalem, diapit ama dua cowo ganteng kaya gitu". Bisik penumpang yang ada dibelakang bangku Kirei.
"Iya..kaya ketiban durian runtuh tau. Nikmatnya nggak ada duanya". Timpal gadis yang ada disebelahnya.
"Ketiban durian mah sakit bege!! Mana ada ketiban durian nikmat!". Sungut temannya membuat Dirga dan Arka terkekeh geli.
Arka menarik kepala Kirei agar bersandar dipundaknya, sementara Dirga melepaskan jaketnya dan menutupi bagian depan tubuh kakak sepupunya. Keduanya benar-benar menjaga Kirei seperti perintah ibu ratu. Apa yang ia lakukan tidak luput dari pandangan para gadis yang menggilainya. Tentu saja pemandangan itu membuat mereka belingsatan karena melihat Arka dan Dirga yang begitu care pada Kirei.
"Bangun Ki. Perjalanan segini jauh, elo tidur kaya orang mati!". Arka menepuk pelan pipi Kirei yang masih terlihat nyaman dipundaknya.
"Bentar bang. Gue masih ngantuk". Gumam Kirei yang nyawanya masih melayang layang entah kemana.
"Bangun woy. Kaga mau turun lo? Udah nyampe ini". Dirga menggoyang tubuh Kirei. Perlaha Kirei membuka mata, kemudian meregangkan ototnya yang terasa kaku. Ia menggerakkan tangannya tanpa melihat kiri kanannya yang masih ada dua pria tampan itu. Tanpa sengaja tangan Kirei mengenai wajah Arka dan Dirga.
"Ni tangan lo kemana-mana koplak!!". Arka menggeplak tangan Kirei yang mengenai wajahnya.
"Eh..kaga sengaja bang. Gue kirain lo berdua udah turun". Kirei memberikan cengiran yang menampakkan gigi putihnya.
"Lo tidur apa mati sih heh? Heran gue, kaga bangun-bangun dari pergi. 3jam lo tidur kaga bangun-bangun". Kesal Arka membuat Kirei terkikik. Tubuhnya masih terasa sakit akibat pertarungannya dengan sang ibu beberapa hari lalu. Apalagi dirinya memang kurang tidur semalam.
"Waaah..udah nyampe ya. Turun hayu turun". Tanpa merasa bersalah Kirei mendorong Dirga yang menghalangi jalannya hingga hampir terjungkal.
__ADS_1
"Astagfirullah. Kita tukerin aja dah bang sepupu model begitu". Sungut Dirga sambil memandang punggung Kirei yang sudah menjauh.
"Kalo bisa dari dulu gue tukerin". Jawab Arka tak kalah kesal. Semua siswa sudah turun dari bus. Hanya tinggal mereka saja yang menunggu putri tidur mereka terbangun.