Cinta Kinara

Cinta Kinara
Ara vs Bapak


__ADS_3

Dev yang bingung melihat kondisi Ara yang sudah pucat dan berkeringat akhirnya memegang bahu Ara, niatnya ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Namun belum sempat sepatah katapun keluar dari mulut Dev, Ara sudah memeluk Dev erat dan menyembunyikan wajah cantiknya didada bidang Dev.


Sebenarnya Dev sangat terkejut dengan apa yang Ara lakukan saat ini, tapi melihat kondisi tubuh Ara yang gemetar ketakutan, akhirnya perlahan Dev balas memeluk tubuh Ara mencoba memberi ketenangan pada gadis itu.


"bawa gue keluar bang, pliiss". Ucap Ara memohon dengan posisi masih memeluk Dev.


Tanpa banyak bertanya, Dev langsung membantu Ara berdiri kemudian membawa gadis itu keluar dari dalam ruang bioskop.


Saat sudah sampai diluar bioskop, Dev meninggalkan Ara yang masih terlihat gemetar dengan keringan dingin yang masih membasahi pelipisnya.


Tak berselang lama Dev kembali dengan sebotol air mineral yang langsung ia sodorkan pada Ara.


"minum dulu ra biar tenang". Ucap Dev sambil membuka tutup botol air mineral itu.


Tanpa menjawab sepatah katapun Ara langsung mengambil air itu dan menenggaknya sampai hanya menyisakan setengahnya.


"makasih bang". Ara berkata pelan, dirinya masih merasa sedikit takut.


"hmm..udah baikan??" Dev menanyakan kondisi Ara.


"udah mendingan bang. Kita pulang ya bang". Ucap Ara memelas dan dibalas anggukan kepala oleh Dev.


Sepanjang perjalanan pulang hanya ada kebisuan didalam mobil. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara.


Dev yang masih bingung tentang apa yang menyebabkan Ara sampai setakut itu.


Dan Ara yang masih sedikit gemetar mengingat apa yang dirinya lihat didalam gedung bioskop tadi.


___


Tanpa terasa oleh keduanya, kini mereka sudah sampai dihalaman rumah megah itu. Dev memarkirkan mobilnya didepan rumah kemudian membuka seatbeltnya.


Ara juga melakukan hal yang sama, dirinya membuka seatbelt dan hendak membuka pintu. Namun dirinya menghentikan gerakan tangannya kemudian memutar tubuh menghadap sang pengemudi yang tak lain adalah Dev.


"makasih ya bang udah nganter gue check up, ama sorry, acara nonton elu jadi berantakan gara-gara gue". Ara merasa tidak enak pada Dev karena merusak acara nonton mereka.


"gak papa ra. Tapi kamu beneran udah gak papa?? Kamu masih keliatan pucet". Tangan Dev reflek mengelus pipi mulus Ara yang membuat jantung Ara kembali berdetak tidak normal.


"gue udah beneran baik-baik aja bang. Makasih bang". Ara buru-buru membuka pintu mobil dan langsung turun meninggalkan Dev yang masih bengong didalam mobilnya.


"lama-lama bisa mati berdiri gue kalo deket-deket ama itu orang. Ya Allah gusti, ampuni hambamu ini". Ara berjalan sambil mulutnya terus komat kamit seperti membaca mantra.


Saking gugupnya Ara, gadis itu sampai tidak mendengar suara panggilan dari sang komandan pleton yang sudah berulang kali memanggil namanya.


"Ara??".


"Neng!!".


"Ya Allah gusti, boga budak awewe digeroan ti tadi teu ngadenge. Bapakna geus jojorowokan oge teu kadenge kene". Logat sunda bapak saat mengomel langsung on.


( Ya Allah gusti, punya anak perempuan dipanggilin dari tadi gak ngedenger. Bapaknya udah teriak-teriak juga tetep gak kedengeran juga )


"ENEEEEEENG!!!". Teriakan maut raja hutan menggema membuat Ara berjingkat kaget mendengarnya.


"Astagfirullah". Ucap Ara sambil mengelus dadanya karena terkejut.


"Bapak rek nyieun eneng jantungan, geus bosen boga budak siga eneng bapak teh??". Oke, bapak anak mau pada gelut dulu pemirsah.


( Bapak mau bikin eneng jantungan, udah bosen punya anak kaya eneng bapak teh )


"Lah..ini anak satu malah balik nyemprot bapak. Bapak teh manggil kamu udah dari tadi neng, sama kamu ga dijawab-jawab. Tanya tu sama Pram sama Josh kalo ga percaya sama bapak mah".


"Pulang bukannya salam dulu apa dulu, main nyelonong aja". Ya Allah, ini kenapa bapak ama anak kerjaannya ribut mulu yak🤦

__ADS_1


"ya jangan ngagetin aku atuh bapak teh. Jantung aku udah mau copot barusan! Kalo beneran copot terus enggak punya jantung gimana?!". Ara masih dalam mode galak.


"ya matilah kalo gak punya jantung, sekolah pinter kok kaya gitu aja nanya ama bapak". Jawaban bapak sontak membuat Ara melotot horor ke Bapak. Yang dipelototi nampak cuek-cuek saja tanpa beban.


"Lu juga sih ra, udah tau bapaknya ngelebihin emak-emak galaknya. Dipanggil bukannya jawab malah main nyelonong aja lu". Ucap Josh setelah sekian lama mendengar perdebatan tak berujung antara bapak dan anak itu.


"kapan bapak manggilnya om? Kok Ara gak denger?". Ara menjawab dengan ekspresi wajah tanpa dosa dan langsung mendapat hadiah toyoran dari Pram.


"lah ini bocah emang bener-bener pengen dipanggang ama bapaknya kali ya, pita suara bapak lu udah mau putus manggil-manggil elu dari tadi bocah. Elu malah komat-kamit kaya dukun beranak jaman dulu lagi bacain mantra". Kini giliran Pram yang bersuara.


"iya gitu ya?? Kok aku bisa gak denger ya??". Sejak tadi Ara sudah duduk diantara Josh dan Pram.


Sementara bapak, kini sedang berdiri dihadapan Ara dengan bertolak pinggang. Sepertinya masih panjang ceramah yang akan Ara dapatkan siang sore ini.


Siang sore itu harus direlakan Ara serta Josh dan Pram mendengar ceramah bapak yang jadi merembet kemana-mana.


Saat sudah selesai dengan khutbah sorenya dan bapak berbalik badan.


"Astagfirullah, kaliaaaan...!!". Bapak hanya mampu mengelus dada mencoba bersabar melihat putri kesayangannya dan kedua kaki tangannya yang justru tertidur pulas saling bersandar satu sama lain seperti sedang dibacakan dongeng pengantar tidur.


"bangun..bangun..bangun! Udah sore ini, bebersih terus kita shalat berjamaah!! Bangun neng. Josh, Pram bangun. Kalian ini udah tua dibangunin kaya si eneng susah bener!!". Bapak menabok satu persatu orang yang sedang terbuai dialam mimpi mereka masing-masing.


"hmmmmm". Ketiganya hanya berdehem dengan mata tertutup rapat.


"kalian pada gak mau bangun, sama bapak sekarang dibanjur pake air kran, Bapak hitung sampe 3 ya!!". Bapak mengancam setelah usaha pertamanya membangunkan ketiga orang itu hanya dibalas deheman saja.


Bapak sudah bersiap mengambil selang panjang yang terletak tidak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.


"satu..."


"duaaaaaa.."


"tiga!"


"Bener-bener kedul kalian ya, jangan salahin bapak kalo kamu mandi disini neng". Setelah mengatakan itu bapak langsung menyalakan airnya dan diarahkan pada ketiga orang yang sekarang sedang kalang kabut karena terkena semburan air yang diberikan bapak.


"mana banjir om?? Cari tempat aman om!". Ara juga ikut panik karena kesadarannya belum sepenuhnya kembali.


Sementara bapak sedang tertawa terpingkal-pingkal melihat ketiga orang yang sejak tadi membuatnya kesal sekarang seperti cacing kepanasan.


Mendengar suara tawa bapak yang menggema, membuat ketiga orang itu mengusap wajah mereka yang basah agar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.


Dan betapa kesalnya mereka melihat bapak sedang tertawa sambil memegang selang air yang masih mengalirkan airnya.


"sore-sore pamali neng anak gadis tidur". Bapak berkata tanpa beban membuat Ara kesal setengah mati.


Dirinya pun bingung kenapa ia dan kedua kaki tangan ayahnya bisa tertidur begitu pulas.


Seingatnya dirinya tadi sedang mendengarkan ceramah bapak, tapi tiba-tiba dia lupa apa yang bapak katakan karena dirinya dan kedua kaki tangan ayahnya sudah berkelana dialam mimpi.


"sana bersih-bersih kalian bertiga, bapak tunggu di mushola, kita shalat berjamaah sebelum waktu shalatnya abis". Kali ini bapak berkata tegas tak ingin dibantah.


Ara bangun dari duduknya diikuti Josh dan Pram yang mukanya terlihat sama masamnya dengan Ara.


"ya kalo tadi bapak ga ceramah kan kita juga ga akan ketiduran, jadi aja kan kita mau keabisan waktu ashar".


Saat bangun Ara masib sempat menggerutu yang masih bisa didengar Josh dan Pram. Kedua lelaki dewasa itu hanya tersenyum mendengar gerutuan anak gadis pak Rahmat.


Walaupun kesal, ketiganya tetap berjalan menuju kamar masing-masing untuk mandi dan mengganti pakaian mereka yang basah.


Sedangkan dilantai dua dimana kamar Dev dan Dira berada, kini keduanya sedang tertawa terbahak-bahak melihat apa yang pak Rahmat lakukan pada anaknya serta kedua kaki tangannya itu.


_____


Jam menunjukkan pukul 5, saat pak rahmat dan Ara serta Josh dan Pram selesai melaksanakan shalat ashar berjamaah.

__ADS_1


Di rumah besar itu tersedia mushola yang cukup untuk menampung seluruh penghuni rumah utama dan para pembantu serta pengawalnya.


Sudah menjadi kebiasaan disana untuk shalat berjamaah diwaktu semua orang berada dirumah seperti saat weekend.


****


"besok lagi bapak kalo mau nyiram kita kaya tadi mah sediain sekalian sabun ama shampo nya. Sekalian ama odol plus sikat giginya. Jadi gak nanggung". Ara yang masih kesal karena disiram oleh bapak kembali mengibarkan bendera perangnya.


"bapak tadi sudah bangunin kalian pelan-pelan, tapi gerak juga enggak. Bapak kira kalian tadi sudah mau ditidurkan selamanya biar gak bangun-bangun lagi". Bapak meladeni kekesalan anaknya dengan menggoda Ara.


"amit-amit kang. Akang mah kalo ngomong suka sembarangan. Saya masih mau kawin kang, udah didoain jadi almarhum aja". Josh berucap sambil mengetuk-ngetukkan kepalan tangannya ke meja yang ada didepannya.


"nikah om..nikah". Ara membenarkan kata-kata Josh.


"Iya nikah maksudnya ra". Josh berkata sambil manggut-manggut.


"akang mah enak, udah nikah udah kawin..udah punya anak dua. Sepasang kumplit cowo cewe lagi. Lah kita main mau dijadiin almarhum aja". Pram pun tak mau kalah mengomel.


Sementara bapak hanya tertawa puas melihat ketiga orang dihadapannya itu kesal.


"jangan ketawa mulu pak. Mulutnya ngunci gak bisa nutup lagi nanti baru tau". Setelah mengatakan hal tersebut Ara langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan bapak yang segera menutup mulutnya dengan tangannya, sementara Josh dan Pram sedang berusaha menahan tawanya mendengar ucapan Ara.


Hari ini cukup banyak perdebatan lucu antara Bapak dan Ara. Ara bisa lupa dengan ketakutannya siang tadi. Kelakuan Bapak dan Ara benar-benar menghibur untuk orang-orang yang mendengar dan melihatnya.


****


Semua orang sudah selesai shalat magrib berjamaah, termasuk tuan dan nyonya Aryo beserta kedua anaknya.


Semua orang sudah mulai meninggalkan mushola, hanya tertinggal bapak dan Dev serta beberapa pengawal yang masih khusu' berdoa.


Saat bapak beranjak dari duduknya, Dev segera mengikuti Bapak untuk berdiri.


Dan saat keduanya sudah keluar dari dalam mushola, Dev memanggil bapak


"paman". Panggil Dev.


"ada apa tuan muda??". Jawab bapak.


"bisakah kita bicara berdua paman??". Dev bertanya sambil melihat sekeliling.


Sebenarnya Bapak sedikit bingung, kenapa tuan mudanya ingin berbicara hanya berdua.


Namun bapak tetap mengiyakan permintaan sang tuan muda.


Sementara saat ini Dira dan Ara sedang berada di kamar Dira untuk mengerjakan tugas mereka yang akan dikumpulkan besok.


***


Saat sudah berada di gazebo taman. Dev menanyakan sesuatu hal yang sejak tadi mengganjal dihatinya.


"paman, apakah Ara mempunyai phobia terhadap sesuatu hal??"


"maksud anda tuan muda??". Bapak bertanya balik.


"mungkin takut pada suatu hal, atau benda atau yang lainnya paman??". Dev kembali mengajukan pertanyaan.


"kenapa anda bertanya seperti itu tuan??". Bapak terus membalikkan pertanyaan Dev dengan pertanyaan.


Dev menghela nafas panjang, kemudian menceritakan yang terjadi saat didalam bioskop tadi. Semua Dev ceritakan tanpa terkecuali.


"padahal yang ada dilayar saat itu hanya kemeriahan pesta kembang api untuk tahun baru paman". Dev mengakhiri ceritanya.


Bapak menarik nafas panjang sebelum berkata


"sebenarnya Ara...."

__ADS_1


hallooo readers semua, jangan lupa kasih like sama komennya ya


Bantu aku biar.ceritanya bisa lebih menarik lagi🙏🙏


__ADS_2